Dari Belajar Bersama hingga Runner-Up: Cerita Kami di CC CUP XLI

CANISIUS COLLEGE CUP (CC CUP) merupakan ajang perlombaan tahunan yang diselenggarakan oleh Kolese Kanisius Jakarta dan diikuti oleh siswa tingkat SMP hingga SMA dari berbagai sekolah di wilayah Jabodetabek. Tahun ini, CC CUP memasuki gelaran ke-41 atau CC CUP XLI. Sekolah kami, SMP IT Orenz, turut berpartisipasi dalam beberapa cabang perlombaan, yaitu Pencak Silat, Tenis Meja, Rubik, Catur, Short Movie, dan Cerdas Cermat. Saya sendiri mendapat kesempatan untuk mendampingi peserta dari sekolah kami dalam Lomba Cerdas Cermat.

Untuk Lomba Cerdas Cermat kali ini, saya memilih Mughni, Zaid, dan Afkar sebagai satu tim. Bagi Zaid dan Mughni, mengikuti lomba Cerdas Cermat bukanlah pengalaman pertama. Mereka sudah beberapa kali mengikuti perlombaan serupa. Namun, dalam beberapa perlombaan sebelumnya, anggota ketiga dalam tim mereka selalu berganti. Tahun lalu, Mughni dan Zaid berpasangan dengan kakak kelas mereka, Levi. Mereka berhasil meraih Juara 3 LCC di Ponpes Al Ghifari dan kembali meraih Juara 3 LCC di Markazul Quran. Kemudian, pada bulan Mei lalu, Mughni dan Zaid kembali berkompetisi, kali ini bersama Yusman. Mereka berhasil meraih Juara 2 LCC pada ajang Pentas PAI Bogor Barat.

Di CC CUP kali ini, saya mencoba memasangkan Mughni dan Zaid dengan Afkar, siswa kelas 9B. Sebuah komposisi baru yang tentunya membawa tantangan dan cerita tersendiri. Bagi Afkar, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti Lomba Cerdas Cermat. Namun, selama mengajar di kelas, saya melihat Afkar sebagai salah satu siswa yang cukup cepat dalam menangkap materi. Karena itu, saya tidak terlalu ragu menjadikannya sebagai bagian dari tim LCC kali ini.

Begitu mengetahui kisi-kisi materi yang akan dilombakan, saya langsung mulai mencarikan berbagai bahan untuk mereka pelajari. Selama hampir satu bulan, hampir setiap malam mereka belajar dari materi-materi yang sudah saya siapkan. Beberapa kali mereka juga mendapat izin untuk tidak mengikuti kegiatan kepondokan agar bisa lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi lomba. Cara belajar kami pun cukup santai. Tidak terlalu serius, justru lebih banyak diisi dengan diskusi bersama. Kami menggunakan smartboard untuk belajar, mencari berbagai soal, kemudian mereka mencoba menjawabnya. Jika ada materi yang belum dipahami, saya jelaskan dan kami berdiskusi bersama. Jika masih belum cukup, kami mencari referensi lain agar mereka bisa lebih cepat memahami materi tersebut. Selain belajar pada malam hari, kami juga memanfaatkan waktu pagi ketika tidak ada kegiatan sekolah atau siang hari ketika ada waktu luang.

Persiapan lomba bagi kami bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang bisa dikuasai. Setiap sebelum lomba, kami juga sepakat agar mereka selalu menjaga wudhu dan memperbanyak shalawat sebagai bagian dari ikhtiar agar segala urusan dimudahkan. Mereka juga tetap melaksanakan salat tahajud. Meskipun selama CC CUP berlangsung kami tidak berada di pondok dan menginap di rumah salah seorang wali santri, kebiasaan tersebut tetap kami jaga. Bagi saya, lomba bukan hanya tentang mendapatkan juara. Ada usaha yang harus dilakukan, ada doa yang harus dipanjatkan, dan ada sikap yang harus tetap dijaga.

Ketika sampai di lokasi lomba, saya bisa merasakan ketegangan yang berbeda. Peserta datang dari berbagai sekolah, termasuk sekolah-sekolah yang sudah cukup dikenal. Murid-murid saya pun tidak bisa menyembunyikan rasa grogi mereka. Melihat peserta lain dengan persiapan dan latar belakang sekolah masing-masing, rasa minder itu sempat muncul. Jujur, saya sendiri juga sempat pesimis di awal. Namun, saya berusaha meyakinkan mereka agar tidak terlalu memikirkan siapa lawannya. Saya hanya meminta mereka mengerjakan apa yang sudah kami pelajari selama hampir satu bulan.

Alhamdulillah, atas izin Allah, hasilnya justru jauh di luar dugaan kami. Sejak babak penyisihan grup hingga babak semifinal, Mughni, Zaid, dan Afkar mampu tampil dengan sangat baik. Mereka selalu berhasil mendapatkan poin tertinggi di setiap babak yang mereka lalui. Rasa grogi yang awalnya begitu terasa perlahan berubah menjadi kepercayaan diri. Sampai akhirnya, sesuatu yang sebelumnya bahkan tidak terlalu berani kami bayangkan terjadi. SMP IT Orenz berhasil masuk ke babak final CC CUP XLI.

Di babak final, mereka harus berhadapan dengan tiga sekolah lainnya, yaitu SMP Kanisius, SMP Saint Joseph, dan SMP Budi Mulia. Suasananya tentu berbeda. Tekanan semakin terasa karena setiap soal menjadi sangat berarti dan setiap poin bisa menentukan posisi akhir. Mughni, Zaid, dan Afkar sudah memberikan kemampuan terbaik mereka. Pada akhirnya, mereka harus puas berada di posisi kedua setelah perolehan poin mereka berada di bawah tuan rumah, SMP Kanisius.

Bagi saya, hasil ini tetap menjadi sesuatu yang patut disyukuri dan dibanggakan. Jujur, hasil ini bahkan melebihi ekspektasi kami. Satu bulan belajar bersama, malam-malam yang diisi dengan membahas soal, pagi dan siang yang kami manfaatkan untuk latihan, rasa grogi ketika melihat peserta dari sekolah lain, hingga keraguan yang sempat muncul, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya membawa kami sampai ke babak final. Terlebih bagi Afkar yang baru pertama kali mengikuti Lomba Cerdas Cermat. Ia datang sebagai peserta yang belum memiliki pengalaman di LCC, lalu pulang dengan pengalaman menjadi bagian dari tim yang berhasil menjadi runner-up di CC CUP XLI.

Dari lomba ini saya kembali belajar bahwa pendidikan tidak selalu terjadi di dalam kelas. Kadang, pendidikan hadir ketika seorang anak belajar mengelola rasa gugup, ketika ia harus bekerja sama dengan teman, ketika jawabannya salah dan ia harus mencoba lagi, ketika ia merasa minder melihat lawan tetapi tetap memilih untuk maju, dan ketika hasil akhirnya tidak sesuai dengan target lalu ia belajar menerima sekaligus mengevaluasinya. Bagi saya, itulah salah satu hal yang membuat pengalaman mendampingi anak-anak dalam perlombaan menjadi menyenangkan. Ada proses yang bisa dilihat, ada perkembangan yang bisa dirasakan, dan ada cerita yang nantinya akan mereka ingat.

Terima kasih untuk semua yang telah memberikan dukungan kepada kami selama mengikuti CC CUP XLI. Terima kasih kepada orang tua, guru, teman-teman, dan semua pihak yang telah mendoakan serta memberikan support kepada anak-anak kami. Terima kasih juga kepada Kolese Kanisius Jakarta yang telah menyelenggarakan CC CUP XLI. Bagi kami, mengikuti ajang ini bukan hanya tentang perlombaan. Kami datang untuk bertanding, tetapi juga untuk belajar. Belajar dari soal-soal yang diberikan, belajar dari peserta lain, belajar dari suasana kompetisi, dan belajar untuk berani tampil di tengah banyak sekolah dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Untuk Mughni, Zaid, dan Afkar, terima kasih sudah berjuang. Kalian sudah melakukan yang terbaik. Perjalanan belum selesai. Masih banyak hal yang perlu dipelajari, masih banyak pengalaman yang akan datang, dan masih banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik. Semoga dari setiap perlombaan, setiap kemenangan, bahkan setiap kekalahan, kalian selalu membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar piala: pengalaman, keberanian, kekompakan, dan kemauan untuk terus belajar. Semoga kami selalu bisa menjadi lebih baik.

Post a Comment

0 Comments