Showing posts with label LITERASI. Show all posts
Showing posts with label LITERASI. Show all posts

Wednesday, 1 April 2026

Malam ini, Rabu, 1 April 2026, dilaksanakan kegiatan Zoom Meeting bersama santri dan wali santri. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahim sekaligus mengontrol aktivitas santri selama masa liburan. Ini merupakan pertemuan kedua yang diadakan selama libur Lebaran tahun ini.


Acara dibuka oleh saya sebagai moderator. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan pondok, Bapak H. Romli Eko Wahyudi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kedisiplinan santri, khususnya dalam hal ketepatan waktu kembali ke pondok. Selain itu, santri juga diharapkan telah menyelesaikan seluruh tugas selama liburan serta menjaga kerapian, termasuk merapikan potongan rambut sebelum kembali ke pondok.


Selanjutnya, acara diisi dengan tausiyah dan nasihat dari Abi Rukiat selaku kepala pengasuh santri. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan makna mendalam dari momentum Idulfitri.


Idulfitri identik dengan saling memaafkan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Ini adalah kebiasaan baik yang perlu terus dijaga. Saat bertemu, dianjurkan untuk mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” kemudian saling bermaaf-maafan.


Di hari 1 Syawal ini, jangan sampai pahala puasa kita tertahan hanya karena ada orang yang tersakiti oleh ucapan kita atau karena adanya permusuhan yang belum diselesaikan.


Abi Rukiat juga menyampaikan perintah Nabi Muhammad SAW untuk menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskan hubungan dengan kita, dan mendatangi orang yang melarang kehadiran kita, serta memaafkan orang yang telah mendzalimi kita.


Beliau menegaskan bahwa silaturahim yang paling utama adalah ketika kita mendatangi orang yang justru pernah memutuskan hubungan dengan kita.


Kemudian beliau menceritakan kisah teladan Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan, Rasulullah pernah dilempari kotoran oleh seorang Yahudi ketika hendak berangkat sholat. Namun beliau tidak marah. Bahkan keesokan harinya, orang yang sama kembali mengencingi beliau. Hingga suatu hari, ketika orang tersebut tidak terlihat, Rasulullah justru bertanya siapa orang tersebut dan mencari tahu keberadaannya. Ternyata orang tersebut sedang sakit. Rasulullah pun datang menjenguk dan mendoakannya agar segera diberi kesembuhan.


Dari kisah tersebut, kita diajarkan untuk tetap berbuat baik, bahkan kepada orang yang menyakiti kita.


Abi Rukiat juga berpesan, setelah kegiatan ini, apabila ada orang yang pernah menyakiti kita datang dan meminta maaf, maka maafkanlah dengan lapang dada. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit hati, namun memaafkan adalah jalan terbaik.


Allah adalah Maha Pemaaf. Sebesar apapun dosa hamba-Nya, jika ia memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni. Maka sudah sepatutnya kita juga belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Silaturahim merupakan bagian penting dari proses penyucian diri. Puasa adalah bentuk penyucian diri kepada Allah, dan disempurnakan dengan penyucian diri kepada sesama manusia.


Setelah tausiyah dari Abi Rukiat, saya menunjuk tiga santri untuk menyampaikan kesimpulan dari kegiatan ini. Mereka adalah Azhar Sitorus, Fakhri Adhisyah, dan Alfi Rahman. Masing-masing menyampaikan kesimpulan dengan gaya dan pemahaman mereka sendiri.


Semoga kegiatan Zoom Meeting ini membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri, menjaga silaturahim, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Saturday, 28 September 2024

 

#Cerpen

Namaku Roby. Sejak pertama kali bertemu Alisa, aku tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kami. Dia adalah sosok yang ceria, dengan senyum yang selalu bisa membuat hariku lebih baik. Kami berjalan cukup lama, sering bertemu di kampus dan bercanda, hingga hubungan kami terasa lebih dari sekadar teman. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatiku—Alisa adalah seorang Kristen, sedangkan aku seorang Muslim.


Kami sering menghabiskan waktu bersama, dari belajar bareng hingga sekadar menikmati secangkir kopi di kafe favorit. Suatu malam, saat kami duduk di bawah cahaya bintang, Alisa dengan lugu bertanya, "Roby, kamu percaya sama cinta sejati, nggak?" Pertanyaan itu membuatku terdiam. Tentu saja, aku percaya. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan perasaanku yang rumit ini, di tengah perbedaan keyakinan yang mendasar?


Seiring waktu, rasa sayangku semakin dalam. Namun, rasa takut juga menghinggapi. Aku tidak berani untuk maju, namun tidak bisa juga mundur. Setiap tawa yang kami bagi, setiap cerita yang kami tukar, semakin memperkuat rasa nyaman itu. Namun, di balik semua kebahagiaan itu, aku tahu ada batasan yang tidak bisa kami lewati.


Hari-hari berlalu, dan ketegangan itu semakin nyata. Kami berdua menyadari bahwa perbedaan keyakinan ini bisa menjadi masalah di masa depan. Di satu sisi, aku ingin terus bersamanya, tetapi di sisi lain, aku juga tidak ingin membuatnya merasa tertekan dengan keyakinanku. Kami berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, meskipun dengan penuh kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kami ubah.


Akhirnya, momen itu tiba. Kami duduk di taman, di tempat yang selalu menjadi saksi bisu tawa dan canda kami. Alisa menatapku dengan mata yang penuh arti. "Roby, kita perlu bicara," katanya pelan. Hati ini berdebar kencang, merasakan ada sesuatu yang berat akan diungkapkan.


Dalam percakapan yang panjang itu, kami sama-sama mengerti tanpa harus mengedepankan ego. "Aku mencintaimu, tapi kita tidak bisa terus begini," ucap Alisa. Kata-katanya menusuk hati, namun aku tahu dia benar. Kami harus memilih jalan yang benar-benar terpaksa.


Perpisahan itu terjadi dengan baik-baik saja, namun rasa sakitnya tak terelakkan. Kami berpelukan, menyimpan semua kenangan indah yang telah kami bagi. Saat itu, aku merasa seolah separuh jiwaku hilang. Alisa adalah bagian dari diriku, dan sekarang aku harus melepaskannya.


Seiring waktu, aku belajar untuk menerima kenyataan. Meski perpisahan ini menyakitkan, aku tahu bahwa cinta kami tidak pernah sia-sia. Alisa dan aku adalah dua orang yang bertemu di saat yang tepat, meski dalam perjalanan yang berbeda. Dalam hatiku, dia akan selalu menjadi kenangan manis yang tak akan terlupakan.


Beberapa bulan setelah perpisahan itu, aku mendengar kabar bahwa Alisa telah menikah. Dengan siapa? Ternyata, dia menikah dengan tetanggaku sendiri. Rasa sakit itu kembali menghujam hatiku. Melihat mereka bersama, aku merasakan campuran rasa bahagia dan sedih. Di satu sisi, aku senang Alisa menemukan kebahagiaan, tapi di sisi lain, aku merasa hancur karena tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya.


Dan begitulah, perjalanan cinta kami berakhir di titik yang tak terduga. Meski jalan kami kini terpisah, aku akan selalu menghargai setiap detik yang kami lalui bersama. Cinta kami mungkin tidak bisa bersatu, tetapi rasa sayang itu akan selalu ada, terpatri dalam hati masing-masing. Sebagai seorang Muslim, aku yakin bahwa setiap hubungan memiliki tujuan, dan mungkin, hubungan kami adalah pelajaran berharga tentang cinta yang tulus, meskipun dalam batasan yang ada.

Friday, 28 May 2021

 


Di suatu Kamis yang panas banget, Ajat, salah satu temanku di Bogor, mengajakku untuk jalan-jalan keliling Bogor.

Karena kebetulan saat itu aku juga lagi gabut banget, akhirnya aku meng-iya-kan ajakannya. Padahal, Kabupaten Bogor yang luasnya empat kali negara Singapura mah, nggak bakal bisa kita puterin.

Aku tinggal di Kecamatan Leuwiliang, sedangkan Ajat tinggalnya di Kecamatan Cariu. Jaraknya antara Leuwiliang dengan Cariu kurang lebih 75 km. Bayangin, berapa lama aku nungguin dia? Belum lagi, macetnya Bogor tuh kan suka bikin esmosi naik.

Oh iya ... btw, Cariu ini letaknya sebelahan sama Jonggol. Tau Jonggol, kan? Itu tuh ... yang sering dinyanyiin sama trio ubur-ubur sama Si Wakwaw. Saking jauhnya Jonggol, akhirnya disebutlah nama itu di lagunya wakwaw. Nah, Cariu ada di deket Jonggol.

Setelah menunggu Ajat selama dua jam, akhirnya kami pun bergegas mengendarai motor.

Dari Leuwiliang, kami menuju ke arah kota. Sebenernya, niat awalnya kepengin ke bioskop. Mumpung ada film horor yang lagi tayang.

Tapi ... belum 5 km berjalan, mataku tiba-tiba galfok sama sebuah toko buku di pinggir jalanan daerah Cibungbulang. Klasik banget gitu keliatannya.


Kami kemudian mampir bentar ke toko itu. Nggak ada nama tokonya sih kalau dari luar, tapi orang-orang disitu nyebutnya 'Terminal Buku Jadul' alias TBJ.

TBJ lokasinya di daerah Cibatok, Cibungbulang. Tepatnya di dekat pertigaaan arah masuk Pondok Pesantren Al Bahjah Bogor.

Pas awal masuk ke tokonya, kami cuma berfirasat kalau harga buku disana pasti murah-murah. Dan ternyata bener ferguso! Banyak banget buku yang harganya di bawah 10ribuan.



Pemilik TBJ ini namanya Pak Iyan. Umurnya kurang lebih 55 tahun. Kecintaan beliau sama dunia literasi, duh ... mantep banget deh. Kalau aku punya seratus jempol, udah aku kasih lah ke Pak Iyan semuanya.

Buku yang ada di TBJ macem-macem, mulai dari buku agama, politik, ekonomi, sosial, sampai teknologi.

Nggak hanya jual buku bekas loh, TBJ juga jual kaset-kaset jama baheula. Yang seneng sama lagu lawas, harus banget meluncur ke TBJ.



Pak Iyan ini orangnya baik banget. Ramah, murah senyum, dan perhatian sama pengunjung. Kami sampai nyaman banget ngobrol sama beliau. *Kalau udah cocok mah pasti nyaman.

Oh iya, kalian tahu nggak, berapa aja harga rata-rata buku disana?



Waktu itu aku beli 5 buku. Pak Iyan ngasih harga 40.000. Berarti rata-rata buku yang aku beli harganya 8ribu. Tapi bukan berarti kebanyakan harganya segitu loh ya. Ini cuma gambaran aja dari yang aku beli.

Nah, setelah 5 buku udah dibungkus, eh ... Pak Iyan malah ngasih bonus 1 buku. Baik banget kan? Baik nggak? Baik lah ...



Area depan TBJ ini cukup luas. Hal itu yang kemudian membuat banyak banget mahasiswa tertarik berkunjung ke TBJ. Baik itu buat baca-baca, sharing informasi, sharing ilmu, atau bahkan hanya sekadar ngopi.

TBJ ternyata adalah satu-satunya toko buku lawas yang ada di Bogor Barat. Maka nggak heran kalau toko Pak Iyan ini selalu ramai dikunjungi orang.

Orang yang sudah tua mampir kesini karena ingin nostalgia dengan jaman dulu. Anak muda mampir kesini karena penasaran dengan tulisan-tulisan jaman dulu.
(Pak Iyan)

Saturday, 2 January 2021

 


Judul Buku : Mengutamakan yang Lebih Utama
Penulis : KH. Moch. Djamaluddin Ahmad
Penerbit : Pustaka Al-Muhibbin
Tebal Buku : 49 halaman
ISBN : 978-602-9253-43-6
Cetakan II : Rajab 1440 H/Maret 2019

Banyak hal baik yang bisa dikerjakan di dunia ini. Sungguh beruntung jika kita bisa mengerjakan semua hal baik tersebut. Namun jika disuruh memilih salah satu, apakah kita bisa menentukan mana yang paling baik?

Dalam beribadah, kita sering dihadapkan pada sebuah pilihan untuk diprioritaskan salah satunya. Kebenaran dalam pemilihan ini menjadi penentu atas keabsahan pada ibadah yang lain.

Mengutamakan yang Lebih Utama merupakan salah satu buku karangan KH. Moch. Djamaluddin Ahmad. Dalam buku ini, kita  diajak menelaah untuk mengambil sikap yang harus didahulukan antara dua hal yang sama-sama baiknya.

Salah satu contoh pembahasan dalam buku ini adalah perbandingan antara adab dengan ilmu. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa adab jauh lebih utama dibandingkan ilmu. Namun apakah semua orang tahu mengapa adab harus didahulukan? Penulis akan secara rinci menjawab pertanyaan tersebut.

Selain perbandingan antara adab dengan ilmu, dua hal utama lain yang ditulis dalam buku ini adalah Amal Sholeh dan Akhlak Karimah. Kira-kira manakah yang lebih utama?

Buku ini berukuran kecil dan tidak terlalu tebal, sehingga bisa diselesaikan dengan sekali duduk saja. Tidak perlu cemas, bahasa yang ditulis juga tidak terlalu berat. Hal ini membuat kita tidak usah terlalu berpikir berat dan memakan waktu yang lama dalam menyelesaikannya.

"Tidak cukup bagi orang alim hanya memiliki ilmu saja tanpa disertai akhlak (yang mulia) dan adab tata krama". (as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani)

Sunday, 2 August 2020


Judul Buku : Narasi Gurunda
Penulis : Jihan Mawaddah
Penerbit : Wadah Baca Masyarakat Sanggar Caraka
Tebal Buku : 162 halaman
ISBN : 978-623-92548-1-0
Cetakan Pertama : Desember 2019
Cetakan Kedua : Februari 2020

Dunia ini adalah tempat bersusah payah. Jika ingin istirahat, sebaik-baik tempat peristirahatan adalah akhirat yang kekal. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi. -Narasi Gurunda, halaman 159

Narasi Gurunda adalah sebuah buku biografi yang ditulis oleh Jihan Mawaddah. Dia tak lain adalah teman satu komunitas menulis saya yang bernama One Day One Post. Bagi saya, ada kepuasan tersendiri ketika membaca buku karya teman. Pertama, kita jadi punya semangat agar bisa memiliki karya seperti dia. Kedua, kita juga bisa belajar banyak darinya.

Sejak awal mengenalnya di komunitas, saya merasa bahwa Kak Jihan Mawaddah adalah seorang yang benar-benar tekun dalam dunia kepenulisan. Blog 'JEYJINGGA' yang rutin diisi tulisan olehnya adalah salah satu bukti bahwa dia adalah seorang yang tak pernah lupa untuk menulis, menulis, dan menulis. Anggapan saya tersebut semakin diperkuat dengan lahirnya Narasi Gurunda.

Pertama kali tahu Kak Jihan memulai pre-order untuk bukunya tersebut, yang ada di pikiran saya adalah, "Gila sih ... keren banget udah bisa nulis buku." Itu saja! Sama sekali saya tidak tertarik untuk membeli bukunya. Sebab, dari dulu saya bukanlah penikmat buku biografi.

Beberapa hari setelah masa pre-order ditutup, saya melihat banyak sekali ulasan positif dari pembaca Narasi Gurunda. Membaca ulasan-ulasan tersebut, saya pun ngiler kepengin baca juga. Karena ternyata, biografi dalam buku tersebut disuguhkan dalam bentuk novel.

Dua bulan setelah cetakan pertama, Narasi Gurunda pun naik cetak lagi. Kebayang dong gimana bagus dan larisnya buku ini? Beruntung, saya masih dapat slot untuk pesan.




Buku ini diterbitkan oleh Sanggar Caraka pertama kali pada bulan Desember 2019. Setelah membaca isi di dalamnya, saya baru tahu bahwa Gurunda yang dimaksud pada judul adalah ayah si penulis sendiri.

Narasi Gurunda menceritakan tentang sosok Taufiq yang memang sangat layak untuk dicontoh. Bagaimana beliau menerima segala kekurangan hidupnya, bagaimana beliau berjuang dalam menghadapi ujian Allah, dan masih banyak lagi.

Dua puluh halaman pertama buku ini berisi sambutan dan testimoni beberapa tokoh. Ini membuktikan bahwa banyak orang yang mengenal baik Sang Gurunda.

Saya sangat suka tulisan Kak Jihan dalam menceritakan sosok Taufiq. Bahasa yang dipakai sederhana dan tentu saja mudah dipahami. Kisah awal tentang sabar dan qonaahnya seorang Taufiq berhasil membuat saya terenyuh. Semakin ke belakang, Narasi Gurunda akan semakin membuat penasaran.

Meski disajikan dengan bahasa yang ringan dan sederhana, namun pesan yang disampaikan dalam buku ini kaya banget. Dari buku ini, saya belajar bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk kita mencapai mimpi. Buku ini cocok dibaca mulai dari usia remaja hingga dewasa.

Wednesday, 11 April 2018

Dokumen Pribadi

Sebagai orang yang masih baru dalam dunia kepenulisan, maka kesalahan adalah hal yang sering aku lakukan. Satu dari sekian banyak kesalahan tersebut adalah dalam penulisan partikel pun. Menurutku, penulisannya digabung dengan kata sebelumnya, misalnya: sedikitpun, siapapun, berapapun, kapanpun, dan lain sebagainya. Namun, ternyata yang benar adalah dipisah.

Kapanpun, yang benar adalah kapan pun. Begitu juga yang lain, dipisah.

Lalu saya bingung dalam penulisan kata walaupun. Dari dulu sering melihat kata tersebut disambung. Kalau yang benar dipisah, apa itu artinya semua orang salah?

Saya pun menanyakan hal ini ke Mas Wakhid alias Mas Suden melalui pesan whatsapp. Isi pesannya seperti pada gambar di atas. Sesuai jawaban dia, ternyata kata walaupun adalah digabung. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Setelah itu, dia menjelaskan lagi dengan singkat bahwa ada 12 kata partikel pun yang harus ditulis serangkai. Saya pun menunggu pesan selanjutnya, berharap itu adalah penjelasan yang lebih rinci. Ternyata, dia malah memberiku tugas untuk mencari dan menghafalkannya. Jumat depan ada tes. Entah, jumat yang mana.

Karena ini masih selasa, dan hari jumat masih banyak sisanya, maka saya akan mengerjakan PR tersebut di sini. Setelah membaca beberapa buku elektronik yang saya download, maka inilah jawabannya:

Ada dua belas kata partikel pun yang digabung, yakni:

1. Adapun
2. Andaipun
3. Ataupun
4. Bagaimanapun
5. Biarpun
6. Kalaupun
7. Kendatipun
8. Maupun
9. Meskipun
10. Sekalipun
11. Sungguhpun
12. Walaupun

Demikian jawaban dari saya, semoga benar ya.



Tulisan ini didedikasikan untuk Mas Suden Basayev. Eaaa ....

Terimakasih.