Showing posts with label pantai. Show all posts
Showing posts with label pantai. Show all posts

Monday, 4 November 2024

Hari itu, suasana di TK Cita Mandiri Bogor sangat ceria. Aku diminta untuk menemani siswa-siswa TK dalam rekreasi yang sudah ditunggu-tunggu. Bersama Rizqi, Jalu, dan Mbak Ella, kami bersiap-siap untuk petualangan seru menuju Pantai Ancol.


Kami naik bis yang sudah disewa oleh pihak sekolah. Yang paling menyenangkan, kami sebagai pendamping tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ya, gratis! Begitu bis melaju, suara riuh anak-anak memenuhi ruang, penuh tawa dan kegembiraan. Tidak sabar rasanya untuk sampai di pantai.

Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami tiba di Pantai Ancol. Saat melangkah turun dari bis, kami langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Pantai Ancol memang dikenal cukup estetik, meskipun secara kebersihan masih kalah dibandingkan pantai lain. Namun, pelayanan di sini patut diacungi jempol! Area yang ramai dengan banyak fasilitas membuat tempat ini sangat menarik.


Setelah membagi kelompok dan memberikan arahan kepada anak-anak, aku, Jalu, dan Mbak Ella langsung mulai mengabadikan momen-momen seru. Rizqi, si fotografer handal di antara kami, tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke segala arah. Dengan senyum ceria, anak-anak berlarian di sepanjang pantai, bermain air, dan berpose di tempat-tempat yang instagramable.

Salah satu hal yang paling menarik adalah fasilitas perahu yang ditawarkan di pantai ini. Dengan biaya hanya Rp15.000 per orang, kami sudah bisa berkeliling dan menikmati pemandangan dari tengah laut. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk menyewa perahu. Sambil berlayar, kami menikmati keindahan panorama laut yang memukau. Dengan latar belakang langit biru dan ombak yang berdebur, suasana menjadi semakin sempurna. Rizqi, yang tidak pernah ketinggalan momen, terus mengabadikan setiap detik perjalanan kami.


Setelah puas berkeliling, kami kembali ke pantai, di mana anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain pasir. Kami menghabiskan waktu dengan membuat istana pasir, berlari-lari, dan tertawa bersama. Momen-momen kecil ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Ketika hari mulai sore, kami pun bersiap untuk pulang. Meski lelah, wajah-wajah ceria anak-anak menunjukkan bahwa rekreasi ini sangat sukses. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali ke bis, siap untuk pulang ke TK. Hari itu benar-benar menjadi perjalanan yang seru dan tak terlupakan!

Thursday, 17 October 2024

  

Tenar sebagai Kota Proklamator, Blitar tak hanya memiliki tempat wisata yang sarat akan nilai kemerdekaan. Kota yang berada di bagian selatan Jawa Timur ini juga punya banyak banget wisata alam yang enggak kalah keren dengan kota-kota lainnya, loh.

Satu dari sekian banyak wisata yang ada di Blitar bernama Pantai Gondomayit. Serem banget sih memang kalau denger namanya. Mungkin itu juga yang membuat pantai berpasir putih ini masih sepi dari pengunjung asing. Padahal, pantai yang airnya jernih banget ini enggak kalah keren sama pantai-pantai yang ada di Bali.
Pantai Gondomayit terletak di desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pantai ini berlokasi enggak jauh dari Pantai Tambakrejo yang emang udah lebih terkenal.

Akses menuju Pantai Gondomayit memakan waktu cukup lama. Namun, pepohonan hijau dan perbukitan nan asri membuat sepanjang perjalanan yang terasa melelahkan menjadi terasa sangat nyaman.

Tidak ada angkutan umum di sana. Sehingga, harus membawa kendaraan pribadi atau sewaan.
Konon katanya, diberi nama Gondomayit karena pantai ini berbau mayat. Menurut cerita dari warga setempat, pada zaman penjajahan dulu, pantai ini digunakan sebagai tempat pembuangan mayat-mayat. Namun beberapa lagi menyebutkan kalau itu adalah bau dari Nyi Roro Kidul, sang penjaga laut selatan.

Tarif masuk menuju Pantai Gondomayit adalah gratis. Namun, untuk menuju kesana, harus melewati Pantai Tambakrejo terlebih dahulu, yang mana harus membayar tiket masuk sebesar Rp3.000,-

Pantai Gondomayit memiliki banyak banget spot yang instagramable kalau kata kids zaman now. Di tepi pantai, ada banyak pepohonan yang bisa dipakai buat berteduh.
Enggak perlu cemas kalau kelaparan pas lagi seneng-senengnya. Karena di sepanjang pantai ada banyak orang jualan dengan harga yang cukup terjangkau. 

Dekat dari pantai, ada mushola yang terletak di tengah pemukiman warga. Jadi, enggak perlu panik kalau mau berlama-lama di Gondomayit. Sebab semua kebutuhan sandang, pangan, dan papan sudah tersedia di sana. (Mau nikah kali ah)

   


Beberapa waktu lalu, aku dan teman-teman IRMA (Ikatan Remaja Masjid)  diajak oleh Pak RW untuk rapat. Katanya, beliau mau kasih hadiah karena kami telah berhasil mensukseskan kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di masjid. Hem ... mungkin makan-makan, pikirku waktu itu.

Oh tidak! ternyata, beliau mengajak kami untuk jalan-jalan ke pantai. Ada tiga opsi yang diberikan buat kami, yakni Pantai Sawarna, Pantai Anyer, dan Pantai Geopark Ciletuh. Akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar, kami memutuskan untuk memilih Pantai Ciletuh.


Rencananya kami berangkat pukul 15.30 WIB. Meski berangkat sore, tapi beberapa teman sudah berkumpul di rumahku dari pagi. Eh ... yang bener kontrakan.

Karena sepanjang sore hujan turun sangat deras, akhirnya kami baru bisa berangkat pukul 17.30. Ada dua sesi keberangkatan, yang pertama rombongan naik mobil bak terbuka (berangkat sore), yang kedua rombongan naik motor (berangkat malam). Karena kebetulan pajak motorku belum diurus, jadinya aku ikutan naik mobil. Rombongan pertama dipandu oleh Pak RW, sedangkan rombongan kedua dipandu oleh Pak Rahmat (Pembina IRMA).


Kawasan Geopark Ciletuh memiliki banyak destinasi wisata. Mulai dari pantai, curug, hingga bebatuan (ha? wisata bebatuan? Emang bener kok). Nah ... kebetulan yang kami kunjungi pertama adalah wisata pantai. Salah satu pantai paling terkenal yang akhirnya kami jadikan sebagai tujuan adalah Pantai Palangpang.

Pantai Palangpang terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.


Ada banyak jalur yang bisa dipakai untuk menuju kawasan Geopark Ciletuh.

Jika dari Bogor, maka bisa melalui jalur Cikidang. Namun jika lewat jalur ini, disarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali. Sebab jalanan di Cikidang sampai saat ini masih minim penerangan.


Selain minim penerangan, Jalur Cikidang juga berkelok dan menanjak. Sering terjadi kecelakaan di jalur ini.

Jika kepengin lebih aman, bisa lewat Kota Sukabumi. Hanya saja, jarak tempuhnya akan jauh lebih panjang.

Sebelum memasuki kawasan Geopark Ciletuh, tanjakan dini juga akan menemani perjalanan. Dari sekian tanjakan yang ada di lintasan jalan sepanjang 33 kilometer yang membentang mulai dari daerah Loji Kecamatan Simpenan hingga ke Pantai Palangpang, tanjakan ini adalah yang paling ekstrim.

Ternyata ada sejarah pahit di balik penamaan tanjakan dini tersebut. 

Sebelumnya, warga mengenalnya dengan nama tanjakan Legok. Namun suatu hari, ada seorang ibu muda yang sedang hamil mengalami kecelakaan di tanjakan tersebut hingga menewaskannya beserta jabang bayi dalam kandungan.

Meski sekarang tanjakan dini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya, namun tetap saja pengemudi harus ekstra berhati-hati.


Sampai saat ini, tidak ada biaya yang dipatok kepada pengunjung untuk memasuki kawasan Pantai Palangpang di Geopark Ciletuh. Hanya saja, selepas dari wilayah Plabuhanratu, biasanya akan ada orang-orang yang minta uang kepada pengunjung. Entah ini resmi atau tidak, sebab nominal yang diminta berbeda-beda. Kami yang naik mobil dikenakan biaya Rp10.000 per rombongan, sedangkan teman-teman kami yang naik motor dikenakan biaya Rp5.000 per motor.

Seperti di kawasan pantai selatan lainnya, Pantai Palangpang juga dihiasi dengan pemandangan gunung. Tak hanya itu, ada beberapa curug (air terjun) yang tampak mengalir di gunung-gunung tersebut.


Kawasan Geopark Ciletuh berada di Pantai Selatan. Salah satu mitos di Pantai Selatan adalah tidak boleh memakai pakaian berwarna hijau, karena nanti akan diculik Nyi Roro Kidul. Ehehe. Apakah kalian percaya dengan mitos ini?



Tapi yang lebih penting dari itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengunjungi pantai.

1. Menjaga kebersihan pantai
Ketika mengunjungi Pantai Palangpang kemarin, kami dikecewakan dengan tumpukan sampah yang ada di sana. Perjalanan jadi terasa sia-sia. Niat hati dari rumah ingin menikmati keindahan pantai selatan dengan keindahan gunung-gunungnya, sampai di lokasi malah disuguhi dengan sesampahan dimana-mana.

2. Tidak merusak fasilitas yang disediakan pantai
Saat ini, pengelola Pantai Palangpang menanam puluhan (atau mungkin ratusan) pohon kelapa di tepi pantai. Pengunjung diharapkan untuk menjaganya dan tidak merusak apalagi menginjaknya ketika sedang berwisata. Sebab beberapa tahun ke depan, pohon-pohon kelapa tersebut akan membuat pantai jauh lebih indah. Kira-kira apa lagi ya manfaat pohon kelapa di tepi pantai?

3. Menggunakan fasilitas di pantai sesuai dengan fungsinya

4. Saling menghormati antar sesama pengunjung dan tidak membuat keributan

5. Menjaga lisan dan ketertiban selama di pantai

  


Tahun lalu, salah satu komunitas daring yang kuikuti mengadakan kopdar nasional di Jogja. Ini merupakan kopdar akbar pertama yang mereka adakan. Coba deh bayangin, setelah sekian lama  ngobrol dan bersenda gurau hanya lewat grup whatsapp, akhirnya  kami dipertemukan di dunia nyata.

Aku terkejut saat pertama melihat wajah mereka. Ada yang biasanya banyak ngoceh, tiba-tiba jadi pendiam saat bertemu langsung. Ada yang pendiam di grup, tiba-tiba banyak bicara. Tapi memang begitu, kan? kepribadian di dunia maya dan dunia nyata tidak bisa disamakan. Bahkan tak sedikit yang bertolak belakang.

Wuehehe ... Baiklah, karena ini bukan blog yang membahas tentang kepribadian manusia, jadi kita lanjutkan lagi pembahasan tentang kopdar.

Aku bersama dengan Mas Fadhli, Irene, Alfian, Mas Tian, dan Mbak Sakifah sengaja datang satu hari sebelum kopdar dimulai. Kami berniat untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Aku, Irene, Mas Tian, dan Mas Fadhli berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta. Alfian berangkat dari Bandung. Sedangkan Mbak Sakifah sudah berada lama di Jogja.

Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Indrayanti. Kata orang, nama aslinya bukanlah Pantai Indrayanti, melainkan Pantai Pulang Syawal. Hmm ... lagi mudik kali ya? makanya pulang Syawal. Nah, karena ada nama Indrayanti terpampang di sebuah restoran pantai, akhirnya orang menyebut pantai tersebut dengan nama Pantai Indrayanti.

Pantai Indrayanti berada di Dusun Ngasem, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Oh iya, saat ini belum ada angkutan umum yang masuk ke wilayah tersebut. Jadi pengunjung diharuskan menaiki kendaraan pribadi atau mobil sewaan. Nah ... waktu itu kami naik mobil milik kerabat Mbak Sakifah. Aku yang tak tahan dengan aroma AC mobil, mati-matian menahan diri agar tidak mabuk kendaraan. Beberapa kali aku mencuri kesempatan agar kaca mobil terbuka dan angin jalanan bisa masuk, tetapi teman-teman yang lain meminta agar aku menutupnya. Baiklah ... akhirnya aku berusaha ikut ngobrol agar rasa mualku berkurang.

Biaya tiket masuk per orang adalah Rp10.000. Sepertinya ini belum termasuk biaya parkir. Wajar dong kalau aku enggak tahu, karena waktu itu kan kami ditraktir. Wehehehe ... 

Indrayanti merupakan salah satu pantai paling ramai di Jogja. Ini tak mengherankan, sebab Indrayanti punya daya tarik sendiri bagi pengunjung.


Pertama karena pasir di Pantai Indrayanti bersih banget. Kabarnya, ada denda sendiri bagi pengunjung yang buang sampah sembarangan. Keren banget, kan?

Nah ... karena putih dan bersih, pengunjung bisa bersantai-santai sambil tiduran di dekat pantai.


Minimnya sampah di Pantai Indrayanti membuat air jadi bersih dan tampak biru. Meski pengunjung berlimpah, namun kesadaran mereka untuk menjaga alam sangat tinggi.


Nah ... yang paling bikin nyaman ketika di pantai tentu saja makanan. Di Pantai Indrayanti, warung-warung dan tempat lesehan bisa dengan mudah ditemui di dekat pantai. Selain itu, pengelola juga menyediakan musholla.

***
Nah ... sepertinya segini dulu deh ceritanya. Kalau ada kesempatan, aku kepengin cerita lagi tentang tempat wisata yang kami kunjungi saat kopdar.

Monday, 27 May 2024

  

Liburan santri telah usai. Selama tiga pekan mereka menghabiskan masa liburan semester 1 di tempat tinggalnya masing-masing. Namun ada satu santri kelas 11 yang di liburan kali ini tidak pulang ke tempat tinggalnya. Santri ini bernama Khaleed. Ya ... santri dari Jambi ini adalah santri yang menyenangkan buatku. Kadang dia menjadi santri yang penurut, kadang juga bandel, kadang menjadi adik yang baik, kadang juga menjadi pendengar cerita yang menyenangkan, dan tentu saja menjadi teman jalan-jalan yang asyik.

Tiga minggu liburan ini dihabiskannya di pondok. Namun, ada kegiatan-kegiatan yang kemudian akhirnya membuat liburannya jadi terisi. Pekan pertama, dia full di pondok untuk bersih-bersih, potong rumput, dan tentu saja main game. Pekan kedua, dia diminta untuk menjaga toko frozen food milik pondok. Nah, pekan ketiga kebetulan dia ditunjuk oleh DKR (Dewan Kerja Ranting) untuk menjadi perwakilan dalam kegiatan di Kabupaten selama tiga hari. Masih ada sisa sehari liburan dia, akhirnya kuajak dia untuk mengunjungi salah satu kerabatku yang ada di Sukabumi.

Puluk 10.30 kami berangkat dari pondok. Dari Leuwiliang, kami mengambil arah Cianten untuk menuju ke Sukabumi.
Perjalanan terasa sangat melelahkan karena kami memilih jalur alternatif yang berkelok-kelok dan banyak bekas longsoran. Selain itu, hujan yang mengguyur sepanjang jalan membuat kami jadi lebih sering berhenti.

Khaleed sebenarnya mau menolak untuk ikut. Tapi, ya, akhirnya mau juga kupaksa. Meski kemudian di sepanjang jalan dia mengantuk dan kami harus mencari warung untuk beristirahat.
Karena kebetulan hari Jumat, jadi kami kemudian mencari masjid di daerah Cianten untuk melaksanakan sholat jumat.

Selesai melaksanakan sholat jumat, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Sukabumi. Karena temanku masih ada rapat di siang hari, jadi aku mengajak Khaleed untuk ke pantai dahulu. Dia sebenarnya udah mulai badmood karena kecapekan di sepanjang jalan. Tapi, ya, coba aja deh, karena barangkali dia butuh healing, jadi ke pantai dulu aja biar fresh. Ternyata setibanya di pantai, Khaleed malah makin pasang muka kusut. Haha ... emang enggak semua niat baik bisa diterima dengan baik.

Tiba di Pantai
Plabuan Ratu memiliki banyak pilihan pantai yang bisa dikunjungi. Salah satu pantai yang bisa dimasuki secara gratis berada di area Citepus.

Pantai Citepus memang tak seindah di pantai-pantai yang ada di Joga atau Pangandaran sana, tapi kalau kita dapat waktu yang pas, pantai ini terasa menyenangkan.

Di area pantai terdapat musholla, sehingga kita bisa sholat tepat waktu ketika lagi asyik-asyiknya bermanin di pantai.

Selepas dari pantai, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah temanku yang berada di daerah Parungkuda Sukabumi. Dari rumahnya, kami kemudian pulang menuju pondok pukul 20.00.
*penumpangnya tepar

Kami tiba di pondok pukul 22.30 WIB. Setibanya di pondok, Khaleed langsung tepar di kamarnya. Alhamdulillah, mumpung hari terakhir liburan, dimanfaatkan dulu dengan jalan-jalan ya, Led :) 

Tuesday, 7 June 2022

Warbiasaaaah ...
Satu kata untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Setelah melewati drama nggak bisa mudik tahun 2020 dan drama mudik disekat-sekat tahun 2021, akhirnya ... tara ...!!! tahun ini bisa mudik dengan tuma'ninah dan penuh kedamaian.

Seneng nggak? Seneng nggak? Seneng lah ... Masa Enggak ...

Kalian yang mudik pakek kendaraan pribadi, udah bisa banget lewat jalur mana aja. Nggak usah nyari jalan tikus buat menghindari penyekatan. Yang mau pakek kendaraan umum, yaaah ... ini agak ribet yeee buat kalian yang belum vaksin koronamaru. 

Fyi, kemaren tuh aku mudik naik kereta api. Karena aku baru vaksin dua kali, jadi aku harus ngasih hasil rappid tes ke petugas di stasiun. Tapi woles aja gess ... di tiap stasiun biasanya disiapin tempat buat rappid tes dan harganya mumer kok. Buat kelen yang udah vaksin tiga kali, nggak usah pakek rappid tes. Langsung pesen tiket, cusss berangkat.

Seminggu di rumah udah cukup buat ngobatin kangen sama keluarga. Apalagi buat aku yang nggak betahan banget duduk diam di rumah. Yang penting udah bisa pulang, pelukan sama keluarga, kangen-kangenan, pokoknya semua momen netes eluh cendol dawet udah dilakuin, ya berarti saatnya balik ke kenyataan hidup.

*ceritanya udah beres mudik
Beres mudik dari kampung, aku langsung balik ke Bogor untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Wekaweka *sokSibuk.

Nah ... karena aku datang sebelum hari masuk, akhirnya aku memutuskan untuk main dulu ke rumah temen yang ada di Banten. Aku ngajak temenku satu lagi. Namanya Yudha.

Aku dan Yudha ke Banten naik motor.
Rumah temenku ada di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak. Padahal kalau di peta, Kabupaten Lebak dan Bogor itu bersebelahan. Dari Bogor ke arah barat, udah langsung masuk Kabupaten Lebak. Tapi ternyata ... Lebak itu GEDEEEEEEE BANGEEEEEET.

Cerita Selama di Perjalanan
Kami berangkat dari Bogor jam 10 pagi. Enggak sampe satu jam, kami udah masuk di Kabupaten Lebak. Awalnya kami pikir lokasi rumah temen kami tinggal beberapa menit lagi. Tapi ... kami salah fergusoooo! Wellcome to the jungle. Kami ternyata baru memulai perjalanan

Jam 11 siang kami mampir sebentar ke warung buat makan siang dan sholat jumat sekalian. Kami nggak tau itu daerah mana, because tempatnya di kampung tengah hutan.  Yuda beli bakso, sementara aku beli bakso yang lebih gede. *mumpung ditraktir, jadi nanggung kalau ngambil yang kecil.
Jam 4 sore kami sampai di rumah temenku, Adang.
Rumah dia deket banget sama pantai. Depan rumah udah jalan raya , dan habis jalan raya udah bisa nyemplung ke pantai. Enak banget, kan?

Setibanya di rumah Adang, kami istirahat sebentar buat nyenderin kaki yang selama tujuh jam ngelipet di atas motor.

Orangtua Adang baik banget sama kami. Segala makanan dan minuman di rumah langsung disuguhin buat kami. Mulai dari pisang goreng, tahu bulat, es jeruk, sampai khong guan isi rengginang pun disuguhkan. Alhamdulillah, semoga makin sehat ya mereka.

Meluncur ke Pantai
Awalnya, kami berniat main ke Pantai Sawarna. Namun, karena pantai Sawarna udah ramai bangeeeet, jadi kami belok ke pantai lain yang tak kalah indah, Pantai Pulomanuk namanya.

Eh bentar ... bentar !!!

Sebelum ke pantai, mampir dulu ke jembatan yang ada di Bayah ini.


Jembatan ini berada di jalan menuju Pantai Pulomanuk *kalau kita berangkat dari Kecamatan Panggarangan.

Mayan lah ... buat kalian yang kecapekan di jalan, bisa istirahat sebentar di jembatan ini. 

Eits ... 

jembatan ini bukan buat tempat wisata ya. Tapi kalau buat ngelurusin kaki sebentar, bisa lah. Asalkan naruh motornya aman dan nggak di pinggir jalan, gaskeeuuun.

Sambil istirahat bentar, kita bisa menikmati hijaunya pepohonan dan pegunungan di tepi pantai, juga sambil menikmati para nelayan yang akan berlayar. Syahdu nggak tuh?? Syahdu lah ... masa enggak.

Dari jembatan tersebut, jarak ke Pantai Pulomanuk kurang lebih 5 menit dengan mengendarai motor.
Jalan menuju pantai banyak lubangnya loh. Jadi harus berhati-hati. Nek ngebut yooo ajor juuuum ...!!!

Meski melewati jalan yang grojal-grajul, tapi semua itu akan terbayar kontan dengan indahnya Pantai Pulomanuk.

Eng ... anu ...

Sebenernya kalau menurut aku, Pantai Pulomanuk nggak secantik pantai-pantai lain yang lebih terkenal kayak Parangtritis, Pantai Pangandaran, dan beberapa pantai selatan lainnya. 

Tapi bentar dulu deh ... 

buat kalian yang suka kedamaian, maka Pantai Pulomanuk adalah jawaban terbaik untuk itu.

Damai bukan berarti sepi loh ya. Damai yang aku maksud  adalah tenang., enggak seramai pantai wisata lainnya. Jadi meskipun sepi, kalian nggak usah takut sama penjahat. Karena dijamin ... keamanannya full service, gaes! Malahan plus plus!
Pantai Pulomanuk terletak berdekatan dengan pabrik yang akhrinya ketika di foto berasa kayak ala-ala luar negeri. Muehehehe.

Oh iya, ngomong-ngomong, harga tiket masuk ke Pantai Pulomanuk Rp5.000. Belum termasuk parkir. Nah ... biasanya kalau ada penjaga nakal, akan dikasih harga yang lebih tinggi.

Terlepas dari hal itu, Pantai Pulomanuk tetaplah recomended  banget.

Sunday, 23 May 2021

Sekilas Tentang Semarang.
Ngomongin Semarang emang nggak akan pernah ada habisnya. Kota yang dijuluki sebagai Kota Atlas ini ternyata memiliki beribu lokasi wisata yang sayang banget untuk dilewatkan. Mulai dari wisata pantai, gunung, danau, wisata gedung, wisata edukasi, wisata kuliner, semuanya sudah pasti ada di Semarang.

Ngomong-ngomong, udah tau apa belum, kenapa Semarang dijuluki sebagai Kota Atlas?

Julukan ini digencarkan pada masa pemerintahan Muhammad Ismail saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Atlas ternyata merupakan singkatan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat. Tentu saja, julukan itu sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Semarang yang 'ATLAS' banget.

Tak hanya sebagai kota atlas, Semarang pun pernah mendapat julukan sebagai Port of Java. Semarang mendapat julukan tersebut karena pada zaman dahulu, kota ini merupakan salah satu pelabuhan paling penting yang ada di Pulau Jawa. Pelabuhan umum di Semarang yang cukup terkenal sampai saat ini adalah Pelabuhan Tanjung Mas yang berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara.

Selain Pelabuhan, di Semarang juga terdapat bandara internasional yang cukup terkenal juga, yakni Bandara Ahmad Yani. Nah ... tak jauh dari bandara tersebut, ada sebuah tempat wisata yang lagi ngetrend saat ini, yaitu Hutan Mangrove.

Hutan Mangrove Semarang
Hutan Mangrove berada di dekat Pantai Maroon Semarang. Lokasinya di Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Hutan Mangrove Semarang sudah sangat viral lima tahunan terakhir ini. 

Tempat wisata ini memilik pemandangan yang sangat menarik, yakni pohon-pohon bakau yang hijau dan segar untuk dipandang.

Rute Menuju Hutan Mangrove
Rute menuju Hutan Mangrove adalah melalui bandara internasional Ahmad Yani. Selain karena yang paling mudah, wilayah ini tentu saja yang paling terkenal.

Dari bandara, kemudian masuk ke pos pintu masuk untuk umum, kemudian menuju area parkir motor yang ada di bandara. Lalu ikuti jalan aspal yang berada di samping parkir motor tersebut hingga berhadapan dengan rel kereta.

Mulai area tersebut, kita bisa mengikuti papan penunjuk jalan menuju Hutan Mangrove atau Pantai Maroon.

Jadi, setelah memanjakan mata di Hutan Mangrove, kita juga bisa melihat birunya Pantai Maroon Semarang.

Jalan menuju lokasi adalah tanah pasir dan bergelombang. Kalau lagi hujan, biasanya akan becek 'buanget'.

View Menarik di Hutan Mangrove
Berada di dekat bandara Internasional Ahmad Yani, membuat hutan mangrove sering dilintasi pesawat terbang. Bila bisa mengambil gambar dengan tepat, kita bisa mengambil gambar pesawat yang lagi terbang. Tentu saja, ini jadi daya tarik sendiri bagi pengunjung, terutama yang punya hobi berfoto.





Tiket Masuk ke Wisata Hutan Mangrove
Biaya yang harus dikeluarkan untuk memasuki area Hutan Mangrove hanya Rp5.000. Namun kemudian kita juga akan dapat tiket untuk parkir kendaraan sesuai dengan jenisnya. Saat itu, untuk motor, biaya parkirnya adalah Rp5.000. 

Yang ada di Hutan Mangrove
Dengan biaya masuk tersebut, kira-kira apa saja yang bisa kita dapatkan selama berwisata ke Hutan Mangrove Semarang?

Tentu saja, yang utama adalah kita bisa memanjakan mata dengan hijaunya tumbuhan bakau disana.

Setiap sudut tempat, sangat bagus untuk diabadikan, karena areanya sangat instragamable. Tak hanya tumbuhan bakau saja yang bisa kita lihat, kita juga bisa naik perahu yang telah disediakan oleh pengelola (tapi pada saat saya berkunjung, sayangnya udah penuh. Jadi nggak bisa naik :D)




Di lokasi wisata, terdapat tangga yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari tangga tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan dengan lebih luas.

Monday, 6 February 2017

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tempat wisata. Makanya ketika beberapa waktu lalu mudik dari Bogor ke Jombang mengendarai motor, aku tak ambil pusing ketika badan sudah mulai pegal. Lah wong di tempat mana pun, aku bisa istirahat sambil menikmati keindahan alamnya.

Pekalongan adalah salah satu tempat yang kulalui. Kota ini dilewati oleh jalur pantura. Maka tak heran, Pekalongan memiliki wisata alam berupa pantai.

Sebelum menuju ke pantai, kusempatkan diri untuk mampir ke salah satu teman yang tinggal di Pekalongan, Zayd namanya. Dia tinggal di Pondok Pesantren As-Salam yang berada tak jauh dari jalur pantura.

Pondok Pesantren yang ditempati Zayd sangat sejuk, meski tempatnya dekat dengan keramaian. Ada gazebo kecil yang bisa kugunakan untuk istirahat.
Setengah jam kemudian, Zayd mengajakku ke sebuah pantai yang berada sekitar 5 km dari pusat kota Pekalongan. Nama pantainya adalah Pantai Slamaran Indah. Aku hanya menyempatkan waktu sejam untuk istirahat di Pekalongan. Karena perjalanan ke Jombang masih sangat jauh.

Waktu itu Pekalongan baru saja diguyur hujan deras, sehingga banjir menggenangi jalan raya. Tak sulit untuk menemukan lokasi Pantai Slamaran, karena hampir setiap penunjuk jalan di Kota Pekalongan bertuliskan pantai ini.

Bau anyir menyambut kedatangan kami di Pantai Slamaran. Mungkin karena itu, Pantai Slamaran jadi sepi pengunjung. Aku tak peduli dengan bau anyir tersebut, karena yang penting bisa jalan-jalan dan menikmati ciptaan Tuhan.

Harga tiket masuk ke Pantai Slamaran adalah Rp5.500. Waktu itu kami menaiki 1 motor, jadi ada tambahan biaya Rp2.000 untuk parkir.

Pantai Slamaran berada dekat sekali dengan rumah penduduk. Di dekat pantai juga banyak pedagang dengan segala jenis dagangannya. Karena waktu itu bawa makanan sendiri, jadi kami makan bekal kami di tepi pantai.

Pantai Slamaran tak jauh beda dengan pantai-pantai lainnya. Hanya saja, tempat ini cocok banget bagi para pemudik jalur pantura yang ingin beristirahat sambil menikmati keindahan pantai utara.

Ada legenda yang terkenal di pantai ini. Konon, Pantai Slamaran merupakan tempat tinggal Ratu Laut Utara. Sebutan lain untuk Ratu Laut Utara adalah Dewi Lanjar. Lanjar berarti janda muda (sudah menikah namun perawan). Dinamakan demikian karena ketika baru menikah, Dewi Lanjar ditinggal mati oleh suaminya.

Banyak yang percaya terhadap legenda ini, sehingga menyebabkan Pantai Slamaran jadi sepi. Namun tak sedikit juga yang tertarik berkunjung ke Pantai Slamaran karena mendengar cerita ini.

Pantai Slamaran biasanya ramai ketika sore hari. Karena matahari akan tampak sangat indah ketika sedang tenggelam.