Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Monday, 16 December 2024

Pada tanggal 10 Desember 2024, saya melakukan kegiatan rihlah bersama para santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Rihlah sebelumnya diadakan di curug dan dipisah antara santri SMP dan SMK. Kali ini, saya mencoba untuk mengajak santri mengikuti hobi saya yang suka berpetualang, dengan mengadakan camping di alam terbuka. Melihat respon yang antusias dari para santri, saya semakin bersemangat untuk mewujudkan kegiatan ini.

Persiapan

Persiapan untuk kegiatan camping ini cukup panjang. Pertama, saya mulai dengan menghubungi teman-teman di wilayah Bogor dan beberapa siswa dari sekolah lain untuk memberikan rekomendasi tempat camping yang cocok untuk santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Dari berbagai rekomendasi yang saya terima, saya kemudian memutuskan untuk melakukan survei langsung ke lokasi-lokasi yang disarankan.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya saya jatuh hati pada sebuah lokasi bernama Seureuh Hejo. Meskipun fasilitas di sana lebih minim dibandingkan tempat lain, saya merasa tempat ini memiliki pesona tersendiri yang membuat saya yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk camping santri. Keputusan saya didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, seperti keamanan lokasi, akses air yang cukup, dan tentunya harga yang ramah di kantong. Oh iya, selain itu, adanya warung dengan harga yang standar juga memikat saya untuk memastikan Seureuh Hejo sebagai lokasi camping/

Setelah memastikan bahwa Seureuh Hejo aman digunakan untuk camping, saya langsung menemui pengelola tempat tersebut. Banyak hal yang saya pertimbangkan dalam memilih Seureuh Hejo, selain biaya sewa yang terjangkau, saya juga memastikan lokasi ini bebas dari ancaman bencana alam dan memiliki aksesibilitas yang baik. Setelah berdiskusi panjang dengan pengelola, saya langsung melakukan pemesanan untuk tanggal 10-11 Desember 2024.

Lokasi Seureuh Hejo

Seureuh Hejo adalah sebuah tempat camping yang terletak di Leuwisadeng, Bogor, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun fasilitas di sana tergolong sederhana, keindahan alamnya sangat memukau. Pemandangan dari Seureuh Hejo sangat menawan, terutama pada malam hari ketika city light Bogor tampak jelas dari atas sana. Keasrian alam, udara sejuk, dan ketenangan tempat ini menjadikannya pilihan yang sempurna untuk kegiatan rihlah ini.

Tenda-tenda camping sudah disiapkan oleh pengelola dan juga beberapa anggota OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap. Keberadaan mereka sangat membantu mengingat cuaca yang sempat hujan deras menjelang kedatangan kami. Namun, meskipun fasilitas minim, tempat ini sangat cocok untuk memberikan pengalaman alam yang berkesan bagi para santri.

Biaya yang Dikeluarkan

Biaya tiket masuk dan camping ke Seureuh Hejo adalah Rp15.000 per santri dan kami mendapat gratis masuk untuk 10 pendamping. Selain tiket masuk, beberapa pengeluaran lain yang saya siapkan adalah untuk kendaraan, sewa tenda, dan juga konsumsi, serta beberapa perlengkapan lain.

Kegiatan Hari H di Seureuh Hejo

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 10 Desember 2024, setelah sholat Dhuhur, kami berangkat menuju Seureuh Hejo menggunakan 15 angkot dan 1 mobil pondok. Jarak dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ke Seureuh Hejo sekitar 5 km. Para santri tampak bersemangat dan penuh kegembiraan.

Sebenarnya, sebelum berangkat, banyak pesan masuk dan peringatan yang datang. Mulai dari lokasi Seureuh Hejo yang katanya angker dan sering ada kesurupan di sana, cuaca hujan yang akan merusak acara, hingga ancaman pohon tumbang, semuanya sempat membuat saya down dan ingin membatalkan acara. Namun, semangat dan antusias santri sungguh membuat saya menjadi makin semangat dalam menyiapkan kagiatan camping ini.

Setibanya di lokasi, meskipun sempat turun hujan deras selama perjalanan, para santri tetap antusias melihat pemandangan alam yang begitu indah. Tenda-tenda sudah terpasang dengan baik, berkat bantuan pengurus OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap sebelum kedatangan kami. Para santri pun segera menuju tenda masing-masing.

Saya mengumpulkan santri dan memberikan pengarahan kepada mereka. Para santri memahami dan siap mengikuti kegiatan dengan baik.

Pada malam hari, kami merencanakan pentas seni dan pembagian hadiah classmeeting. Namun, hujan kembali turun, sehingga kami memutuskan untuk menunda kegiatan tersebut dan mengarahkan santri untuk beristirahat di tenda mereka. Saat hujan reda, sekitar pukul 10 malam, pemandangan city light dari atas Seureuh Hejo begitu mempesona. Meskipun tidak ada pentas seni, suasana malam yang dingin dan pemandangan indah membuat semua santri menikmati malam itu dengan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, saya membangunkan santri untuk sholat Subuh dan segera melanjutkan dengan pembagian hadiah classmeeting yang seharusnya dilakukan malam sebelumnya. Setelah itu, para santri bersiap-siap untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan outbond. Kegiatan outbond dibagi menjadi dua kelompok, yaitu santri SMP dan santri SMK. Berbagai permainan dan tantangan disediakan, dan para santri dengan antusias mengikuti setiap kegiatan yang ada.

Meskipun hujan sempat mengganggu, kebahagiaan dan kegembiraan para santri selama kegiatan berlangsung membuat semua perencanaan dan kerja keras kami terasa terbayar. Saya sangat bahagia melihat senyum mereka, dan saya tahu bahwa ini adalah momen yang saya harap akan mereka ingat selamanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari pengelola Seureuh Hejo hingga para pengurus OSIS yang telah bekerja keras agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Kegiatan camping ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa, baik bagi saya maupun para santri. Meskipun cuaca tidak selalu mendukung, semangat dan kebersamaan yang tercipta membuat semua rintangan terasa ringan. Kegiatan rihlah kali ini membuktikan bahwa berpetualang di alam terbuka tidak hanya memberikan pengalaman fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Berikut adalah Tips melakukan kegiatan camping di alam terbuka.

  • Persiapkan Peralatan dengan Matang: Pastikan semua peralatan, seperti tenda, matras, dan perlengkapan lainnya, dalam kondisi baik dan sesuai kebutuhan.
  • Periksa Cuaca: Sebelum berangkat, periksa ramalan cuaca untuk mengantisipasi kondisi ekstrem seperti hujan atau angin kencang.
  • Pilih Lokasi yang Aman: Tentukan lokasi camping yang bebas dari ancaman bencana alam, memiliki akses air, dan fasilitas darurat yang memadai.
  • Kenali Potensi Bahaya: Waspadai hewan liar, tanaman beracun, atau potensi bahaya alam lainnya, serta selalu ikuti petunjuk pengelola lokasi.
  • Buat Rencana Keamanan: Siapkan rencana evakuasi dan pastikan setiap peserta tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
  • Jaga Kebersihan dan Lingkungan: Selalu bersihkan area camping setelah selesai, serta hindari merusak alam dengan membuang sampah sembarangan.
  • Monday, 4 November 2024

    Malam itu, suasana di pondok terasa tenang dan damai setelah semua santri sedang bersiap istirahat Aku merasa butuh sedikit angin segar dan waktu bersantai, jadi aku memutuskan untuk mengajak pengurus pondok keluar. Adnan, Rizqi, dan Izzah adalah teman-temanku malam ini—mereka adalah santri pengabdian yang baru saja lulus dari pondok pesantren tempatku mengajar. Tahun lalu, mereka adalah murid-muridku, tetapi kini mereka sudah menjadi pengurus yang hebat.


    Setelah memastikan semua siap, kami berangkat menuju tempat makan yang sudah terkenal di kalangan kami: Sambal Bakar Indonesia di Dramaga. Tempat ini terletak di sebelah Mie Gacoan, dan kami semua sudah tak sabar mencicipi menu yang ditawarkan.


    Setibanya di Sambal Bakar Indonesia, kami langsung disambut aroma menggugah selera. Menu yang beragam membuat kami semakin bersemangat. Tanpa ragu, aku memesan kulit ayam dengan sambal bakar bawang yang terkenal. Adnan, Rizqi, dan Izzah memilih berbagai menu ikan yang terlihat menggoda. 


    Saat makanan datang, rasa tak sabar kami langsung terbayar. Kulit ayam yang garing dan sambal bakar bawang yang pedas berpadu sempurna, membuatku tak berhenti mengunyah dengan penuh kenikmatan. Meskipun harga makanan di sana cukup menguras kantong, kebersamaan kami dan makanan yang enak membuat segala sesuatunya terasa sangat berharga.



    Tips Menikmati Makan Enak Meskipun Harganya Mahal

    1. Pilih Tempat yang Tepat: Temukan restoran yang dikenal dengan menu spesial. Makanan berkualitas sering kali sebanding dengan harga yang dibayarkan.


    2. Bagi Porsi: Ajak teman untuk berbagi porsi. Dengan cara ini, kalian bisa mencicipi berbagai hidangan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


    3. Ciptakan Suasana: Nikmati suasana tempat makan. Diskusikan kenangan atau cerita menarik bersama teman-teman saat menikmati hidangan.


    4. Coba Menu Spesial: Jangan ragu untuk mencoba menu spesial restoran. Meskipun harganya lebih tinggi, pengalaman mencicipi makanan baru sangat berharga.


    5. Prioritaskan Kualitas: Ingat bahwa harga yang lebih tinggi sering kali mencerminkan kualitas. Makanan yang lezat dapat memberikan kepuasan tersendiri.


    6. Rencanakan Budget: Tetapkan anggaran sebelum pergi. Dengan anggaran yang jelas, kamu dapat memilih dengan lebih leluasa tanpa merasa khawatir.


    7. Fokus pada Kebersamaan: Nikmati momen bersama teman. Terkadang, pengalaman berbagi makanan enak lebih berharga daripada biaya yang dikeluarkan.


    Dengan semua kenangan indah dari malam itu, aku merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Adnan, Rizqi, dan Izzah. Makanan yang enak dan kebersamaan kami membuat malam itu semakin berarti!

    Hari itu, suasana di TK Cita Mandiri Bogor sangat ceria. Aku diminta untuk menemani siswa-siswa TK dalam rekreasi yang sudah ditunggu-tunggu. Bersama Rizqi, Jalu, dan Mbak Ella, kami bersiap-siap untuk petualangan seru menuju Pantai Ancol.


    Kami naik bis yang sudah disewa oleh pihak sekolah. Yang paling menyenangkan, kami sebagai pendamping tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ya, gratis! Begitu bis melaju, suara riuh anak-anak memenuhi ruang, penuh tawa dan kegembiraan. Tidak sabar rasanya untuk sampai di pantai.

    Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami tiba di Pantai Ancol. Saat melangkah turun dari bis, kami langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Pantai Ancol memang dikenal cukup estetik, meskipun secara kebersihan masih kalah dibandingkan pantai lain. Namun, pelayanan di sini patut diacungi jempol! Area yang ramai dengan banyak fasilitas membuat tempat ini sangat menarik.


    Setelah membagi kelompok dan memberikan arahan kepada anak-anak, aku, Jalu, dan Mbak Ella langsung mulai mengabadikan momen-momen seru. Rizqi, si fotografer handal di antara kami, tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke segala arah. Dengan senyum ceria, anak-anak berlarian di sepanjang pantai, bermain air, dan berpose di tempat-tempat yang instagramable.

    Salah satu hal yang paling menarik adalah fasilitas perahu yang ditawarkan di pantai ini. Dengan biaya hanya Rp15.000 per orang, kami sudah bisa berkeliling dan menikmati pemandangan dari tengah laut. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk menyewa perahu. Sambil berlayar, kami menikmati keindahan panorama laut yang memukau. Dengan latar belakang langit biru dan ombak yang berdebur, suasana menjadi semakin sempurna. Rizqi, yang tidak pernah ketinggalan momen, terus mengabadikan setiap detik perjalanan kami.


    Setelah puas berkeliling, kami kembali ke pantai, di mana anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain pasir. Kami menghabiskan waktu dengan membuat istana pasir, berlari-lari, dan tertawa bersama. Momen-momen kecil ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

    Ketika hari mulai sore, kami pun bersiap untuk pulang. Meski lelah, wajah-wajah ceria anak-anak menunjukkan bahwa rekreasi ini sangat sukses. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali ke bis, siap untuk pulang ke TK. Hari itu benar-benar menjadi perjalanan yang seru dan tak terlupakan!

    Sunday, 3 November 2024

    Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


    Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



    Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


    Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

    Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


    Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


    Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


    Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


    Thursday, 17 October 2024

     

    Menjadi seorang pengangguran adalah hal yang tak diinginkan oleh semua orang. Begitu juga denganku. Sejak memutuskan untuk mundur dari dunia perkuliahan, kegiatan yang sering kulakukan agar tidak terlihat nganggur adalah jalan-jalan. Setidaknya, tetangga di rumah tak membicarakanku karena sering duduk diam di depan rumah. Atau bermain handphone di dalam kamar. Atau makan gorengan di warung kopi ibuku.

    Gunung adalah salah satu tujuan utama bagi diriku dalam setiap perencanaan wisata. Menurutku, ketika berada di atas gunung, semua permasalahan yang dialami, seketika hilang. Mereka tertinggal di bawah. Mungkin ingin ikut naik, tapi tidak kuat.

    16 September 2018, bersama teman-teman di Rumah Muda Indonesia, aku mencoba untuk menaiki salah satu gunung yang menjadi ikon di Kecamatan Ciampea Bogor. Namanya adalah Gunung Kapur.

    Gunung Kapur memiliki tiga puncak yang terkenal. Mereka adalah Puncak Roti, Puncak Lalana, dan Puncak Galau. Tepat setahun yang lalu, aku telah berhasil naik hingga ke Puncak Roti. Tahun ini, aku mencoba untuk naik ke Puncak Galau.

    Aku sempat mengira-ngira diberikan nama Puncak Galau  karena jalan menuju ke atas sangat susah. Jalanan batu kapur yang licin ketika hujan membuat para pendaki semakin galau ketika menaiki. Belum lagi, luas jalan yang ada tidak cukup untuk dilewati dua orang. Sudah pasti, pasangan remaja yang tengah kasmaran semakin galau karena tidak bisa bergandengan.

    Baiklah, mari kita kabur dari imajinasiku yang ngawur itu ...

    Gunung Kapur berada tepat di belakang Pasar Ciampea Bogor. Sebenarnya aku lebih senang menyebutnya Bukit Kapur karena, tingginya hanya sekitar 350 meter di atas permukaan laut saja. Tapi, baiklah, orang lebih suka menyebutnya sebagai gunung. Mau bagaimana lagi?

    Akses menuju ke Gunung Kapur tidak terlalu susah. Bisa ditempuh dengan menggunakan angkot biru jurusan Ciampea atau Leuwiliang. Ketiga jalur menuju puncak juga saling berdekatan. Jadi kalau ada yang ingin mencoba ketiga puncaknya langsung, tidak perlu cemas.

    Pintu masuk menuju Puncak Galau berada di tengah perkampungan warga. Ada warung kopi yang menyambut perjalanan kami pagi itu. Sepasang suami istri berusia senja siap meracik minuman pesanan kita. Senyumnya yang ramah, mampu membuat kita duduk berlama-lama di sana.

    Jalan menuju ke Puncak Galau sangat terjal. Belum lagi, ketika musim hujan, sudah pasti medan yang ada lebih menyeramkan. Kita harus berpegangan ranting-ranting yang kuat jika ingin selamat.

    Di puncak, ada halaman luas yang masih dipakai untuk tempat pendaratan helikopter. 

    Walau terbilang pendek, pemandangan yang disajikan tidak kalah menarik dengan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Ciptaan Tuhan memang selalu indah. Dia tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya. Sebagai manusia, memang selayaknya kita selalu bersyukur.

     

    Gunung Kapur adalah sebuah bukit tinggi yang terletak di Kecamatan Ciampea, Bogor. Memiliki tiga puncak utama dengan karakter uniknya masing-masing. Puncak tertingginya adalah Puncak Galau, biasanya digunakan untuk berkemah. Kemudian yang kedua adalah Puncak Lalana, paling bagus dijadikan untuk tempat berfoto. Dan yang terendah adalah Puncak Roti, terkenal dengan bebatuannya yang berbentuk unik. Yups ... namanya memang Puncak Roti. Dinamakan puncak roti karena banyak batu-batu yang mirip potongan roti.

    Kali ini, aku bersama teman-teman naik ke Puncak Roti. Terletak di belakang Pasar Baru Ciampea.
    Harga tiket menuju Puncak Roti adalah Rp5.000. Harga ini belum termasuk biaya parkir motor. Kalau ingin parkir gratis, bisa titipkan kendaraan ke warga setempat.

    Karena tidak terlalu tinggi, jadi waktu yang dibutuhkan hanya berkisar antara 10-30 menit untuk menuju puncak.
    Pepohonan jati yang tumbuh di sepanjang jalan menyambut kedatangan kami menuju Puncak Roti. Biasanya jalur ini digunakan untuk berfoto, karena memang instagramable banget.
    Mendaki di Gunung Kapur tak perlu perlengkapan khusus. Jaket, sleeping bag, kaos kaki, sepertinya tak terlalu dibutuhkan. Di hari weekend, biasanya jumlah pengunjung Gunung Kapur meningkat tajam. Selain karena terbilang rendah, spot Gunung Kapur juga tak kalah indah dengan gunung-gunung tinggi lainnya.

      

    Tenar sebagai Kota Proklamator, Blitar tak hanya memiliki tempat wisata yang sarat akan nilai kemerdekaan. Kota yang berada di bagian selatan Jawa Timur ini juga punya banyak banget wisata alam yang enggak kalah keren dengan kota-kota lainnya, loh.

    Satu dari sekian banyak wisata yang ada di Blitar bernama Pantai Gondomayit. Serem banget sih memang kalau denger namanya. Mungkin itu juga yang membuat pantai berpasir putih ini masih sepi dari pengunjung asing. Padahal, pantai yang airnya jernih banget ini enggak kalah keren sama pantai-pantai yang ada di Bali.
    Pantai Gondomayit terletak di desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pantai ini berlokasi enggak jauh dari Pantai Tambakrejo yang emang udah lebih terkenal.

    Akses menuju Pantai Gondomayit memakan waktu cukup lama. Namun, pepohonan hijau dan perbukitan nan asri membuat sepanjang perjalanan yang terasa melelahkan menjadi terasa sangat nyaman.

    Tidak ada angkutan umum di sana. Sehingga, harus membawa kendaraan pribadi atau sewaan.
    Konon katanya, diberi nama Gondomayit karena pantai ini berbau mayat. Menurut cerita dari warga setempat, pada zaman penjajahan dulu, pantai ini digunakan sebagai tempat pembuangan mayat-mayat. Namun beberapa lagi menyebutkan kalau itu adalah bau dari Nyi Roro Kidul, sang penjaga laut selatan.

    Tarif masuk menuju Pantai Gondomayit adalah gratis. Namun, untuk menuju kesana, harus melewati Pantai Tambakrejo terlebih dahulu, yang mana harus membayar tiket masuk sebesar Rp3.000,-

    Pantai Gondomayit memiliki banyak banget spot yang instagramable kalau kata kids zaman now. Di tepi pantai, ada banyak pepohonan yang bisa dipakai buat berteduh.
    Enggak perlu cemas kalau kelaparan pas lagi seneng-senengnya. Karena di sepanjang pantai ada banyak orang jualan dengan harga yang cukup terjangkau. 

    Dekat dari pantai, ada mushola yang terletak di tengah pemukiman warga. Jadi, enggak perlu panik kalau mau berlama-lama di Gondomayit. Sebab semua kebutuhan sandang, pangan, dan papan sudah tersedia di sana. (Mau nikah kali ah)

     


    Wuhu ... setelah beberapa bulan rehat dari dunia pendakian, akhirnya pekan kemarin dikasih kesempatan lagi buat jalan-jalan lebih dekat dengan langit Tuhan.

    Seneng banget rasanya, karena akhirnya jiwaku bisa seger lagi setelah beberapa bulan dipanaskan dengan kabar pilpres yang kadang penting kadang enggak.

    Perkenalkan, namanya adalah Gunung Slamet. Pendakian kali ini aku lakukan bersama teman-teman komunitas Sahabat Alam Indonesia. Ini pendakian kedua yang aku lakukan bersama mereka. Pendakian sebelumnya kami lakukan di Gunung Gede.

    Gunung Slamet terletak di lima kabupaten, yaitu Brebes; Purbalingga; Banyumas; Tegal; dan Pemalang. Tingginya 3428 mdpl. Merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa.

    Gunung Slamet memiliki banyak jalur pendakian, diantaranya via Bambangan, Baturaden, Guci, Kaliwadas, Kaligua, dan Dukuhliwung. Kebetulan kami kemarin lewat melalui Bambangan.

    Jalur Bambangan terletak di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Purbalingga. Transportasi umum menuju sana cukup mudah. Selain itu, Bambangan merupakan jalur yang paling ramai di Gunung Slamet.

    Karena di Purbalingga tidak ada stasiun, jadi yang naik kereta api harus turun di Stasiun Purwokerto. Setelah itu bisa cari transportasi umum menuju Terminal Purbalingga. Lalu naik ojek menuju basecamp  Bambangan dengan biaya Rp100.000,-.

    Ada sembilan pos yang harus dilalui untuk menuju puncak Slamet. Pos ini tujuannya untuk tempat rehat sejenak bagi pendaki gunung.
    Perjalanan dari basecamp menuju puncak dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Itu perjalanan versi kami yang kena hujan lebat di perjalanan, sehingga memakan waktu yang lebih lama.

    Dari basecamp menuju pos 3 dibutuhkan waktu masing-masing sekitar 2 jam per pos. Mulai pos 4 hingga puncak, jaraknya tidak terlalu jauh. Masing-masing pos jaraknya bisa ditempuh satu jam.
    Setiap tempat memiliki kesulitannya masing-masing. Pos 1 sampai 9, struktur tanahnya adalah liat. Sehingga jika hujan, jalanan sangat licin. Saat turun, akan sering terpeleset jika tidak hati-hati. Dari pos 9 menuju puncak, jalanannya adalah pasir dan bebatuan. Kalau salah injak, batunya bisa jatuh dan mengenai pendaki yang berada di bawah. 
    Salah satu yang menjadi favorit para pendaki adalah saat sunrice. Kalau pengin dapat sunrice di Gunung Slamet, maka harus diperhitungkan waktunya saat mendaki. Berhubung kemarin kami kena hujan deres, jadi kami putuskan untuk pasang tenda di pos 3. Nah, kami mulai jalan lagi dari pos 3 menuju puncak jam 1 pagi. Sampai di puncak, pas banget dapat sunricenya.

    Oh iya, Gunung Slamet ini tidak disarankan buat pendaki pemula sepertiku loh. Kenapa? sebab:

    • sumber air sangat sedikit,
    • cuacanya sering berubah-ubah,
    • sering muncul kabut tebal yang bisa menghalangi jalan,
    • trek Gunung Slamet cukup membahayakan terutama saat mendekati puncak, dan
    • suhu di Gunung Slamet cukup dingin.
    Kecuali kalau punya keyakinan yang kuat buat sampai ke puncak.

    Tips pendakian Gunung Slamet via Bambangan:
    • gunakanlah peralatan mendaki yang lengkap, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain nantinya. Setidaknya, peralatan pribadi yang wajib dibawa adalah jaket, kaos kaki, sarung tangan, dan masker. Bawa sleeping bag kalau jaket tidak cukup menghangatkan saat tidur, 
    • karena sumber air hanya sedikit, jadi bawalah air minum yang cukup saat mendaki, 
    • pos yang strategis untuk mendirikan tenda adalah pos 3 dan pos 5, karena tempatnya cukup luas,
    • berhati-hati saat menaiki puncak, karena treknya berpasir dan berbatu,
    • jangan terlalu sering mengaktifkan handphone, karena sering terjadi cuaca buruk, dan
    • gunakan masker saat di puncak untuk mengatasi bau belerang.

      

    Gunung Lawu merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Indonesia. Terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung istirahat yang diperkirakan terakhir meletus pada tahun 1885.

    Gunung Lawu memiliki tiga puncak, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Dari ketiga tersebut, Hargo Dumilah adalah puncak yang tertinggi, yakni 3.265 mdpl (meter di atas permukaan laut).

    Jalur menuju Lawu
    Gunung Lawu memiliki beberapa jalur pendakian, diantaranya Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, dan Candi Cetho. Ketiganya merupakan jalur yang tak pernah sepi dengan para pendaki.

    Cemoro Sewu berada di Magetan, Jawa Timur. Lokasinya tak jauh dari wisata alam Telaga Sarangan. Ada banyak alternatif kendaraan yang bisa digunakan :

    Dari arah timur : dari Terminal Magetan bisa naik kendaraan arah Tawangmangu, kemudian mencari angkutan lokal menuju basecamp. Atau bisa langsung dari Terminal Maospati Magetan langsung mencari kendaraan arah basecamp Cemoro Sewu. Biayanya dari terminal berkisar, tergantung cara menawar. Biasanya antara 100.000 sampai 250.000 per mobil.

    Dari arah barat : dari Terminal Tirtonadi (Solo) langsung mencari kendaraan arah Tawangmangu. Kemudian naik angkutan lokal, bisa berupa mobil pick up atau ojek. Jika mau lebih hemat bisa mencari tumpangan mobil sayur warga yang melintas.

    Ada lima pos yang akan dilewati pendaki di Cemoro Sewu.

     Dari basecamp menuju pos 1 : Waktu yang dibutuhkan dari basecamp menuju pos 1 kira-kira 1,5-2 jam. Jalurnya mulai menanjak, namun belum terlalu ekstrim. 

    Dari pos 1 menuju pos 2 Waktu yang dibutuhkan kira-kira 2-3 jam, tergantung waktu istirahat dan kecepatan berjalan. Jalanan mulai berbatu dan lebih menanjak. 

    Dari pos 2 menuju pos 3 : Waktu yang dibutuhkan kira-kira 2-3 jam. Jalanan masih sama, batu bertingkat dan menanjak.
    Dari pos 3 menuju pos 4 : Waktu yang dibutuhkan hampir sama, kira-kira 2-3 jam. Pos 4 tak ditandai dengan gubuk, hanya ada tanda plang yang menunjukkan bahwa tempat itu merupakan pos 4.

    - Dari pos 4 menuju pos 5 : Jarak pos 4 menuju pos 5 tak terlalu jauh. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 30-75 menit.

    Dari pos 5 menuju puncak Hargo Dumilah : Dibutuhkan waktu sekitar 1,5-2,5 jam. Sebelum mencapai puncak Hargo Dumilah, pendaki Gunung Lawu bisa bersantai sambil menikmati kopi dan makanan di warung Mbok Yem yang terletak di Hargo Dalem. Dari Hargo Dalem, waktu yang dibutuhkan untuk menuju Hargo Dumilah antara 15-45 menit.
    Waktu yang dibutuhkan untuk turun biasanya jauh lebih singkat, karena tracknya menurun. Basecamp Cemoro Sewu terletak tak jauh dari Cemoro Kandang. Pendaki Cemoro Sewu (Magetan, Jawa Timur) bisa jalan kaki untuk menuju Cemoro Kandang (Karanganyar, Jawa Tengah).

    Pantangan saat mendaki Gunung Lawu
    Gunung Lawu merupakan salah satu gunung paling mistis yang berada di Indonesia. Selama pendakian, biasanya akan ditemui beberapa petilasan dan juga sesajen. 

    Ada beberapa pantangan yang berlaku di Gunung Lawu. Diantaranya adalah pantangan untuk memakai baju berwarna hijau saat mendaki. 

    Saat mendaki Gunung Lawu, dianjurkan untuk tidak mengeluh. Karena katanya, apabila mengeluh, maka stamina akan tiba-tiba menurun.

    Bila menemui burung jalak, pendaki dilarang mengganggunya. Konon katanya, burung tersebut adalah jelmaan dari Kyai Jalak yang merupakan abdi dalem setia Prabu Brawijaya V. Pendaki.

    Masih banyak pantangan-pantangan yang terkenal di Gunung Lawu. Meski banyak yang tidak percaya, namun ada baiknya sebagai pendatang meninggalkan larangan dan menaati peraturan yang berlaku di sana.

      

    Beberapa waktu lalu, asrama kami kedatangan anggota baru dari Yayasan BPL Foundation Jakarta. Mereka berjumlah 12 santri. Sebagai orang lama, aku kemudian memperkenalkan Bogor kepada mereka. Walaupun aku sendiri bukan asli dari Bogor, tapi setidaknya udah sering berkeliling dari pelosok sampai kotanya, meski belum keseluruhan.

    Karena tinggal di Jakarta, jadi aku rasa wisata mereka sebelumnya hanya di sekitaran gedung-gedung besar. Baiklah, akhirnya kuajak mereka meluncur ke Curug Ciampea. Curug adalah sebutan lain untuk air terjun.

    Curug Ciampea berlokasi di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Tidak terlalu jauh dari kampus IPB Dramaga. Aku sengaja mengajak mereka ke curug karena menurutku lebih hemat. Selain itu, memang aku lebih terbiasa travelling ke alam.
    Biaya masuk ke Curug Ciampea adalah Rp20.000 per orang. Namun waktu itu, kami hanya membayar Rp40.000 untuk lima orang. Jiwa tawar menawar kami selalu aktif ketika dompet menipis.

    Curug Ciampea biasa disebut orang dengan istilah Green Lagoon, karena pada waktu tertentu airnya sangat jernih dan tampak hijau. Tempat ini sering dipakai untuk berkemah.

    Sebelum masuk ke area curug, kita harus melewati jalan menanjak yang dikelilingi pepohonan pinus.

    Dari tempat parkir, jarak menuju curug kira-kira 20-45 menit, tergantung berapa kali beristirahat.
    Ada beberapa curug yang bisa dilihat di tempat ini. Oh iya, tak perlu cemas bermain lama di Curug Ciampea, karena banyak batu luas yang bisa digunakan untuk duduk bersantai atau bahkan salat.

    Curug 1

    Curug 2

    Nah ... buat kamu yang pengin main ke Curug Ciampea, jangan lupa bawa makanan. Walaupun ada warung di dekat curug, tapi akan lebih nikmat makan bersama dengan menu favorit masing-masing. 

    Jika berkunjung ketika weekdays, curug ini akan terasa seperti milik sendiri. Pastikan juga, cuaca saat berkunjung sedang baik. Tidak saat musim hujan, karena airnya kadang keruh. Ditambah lagi, debit air akan bertambah dan aliran air lebih deras. 

      


    Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan, Bogor tentu saja memiliki curug yang super banyak. Kalau kalian enggak tahu, curug adalah bahasa lain dari air terjun. Istilah curug banyak dipakai di wilayah Sunda dan Jawa Tengah, sedangkan untuk Jawa Timur biasanya memakai istilah coban.

    Di Bogor sendiri, ada puluhan curug yang tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya adalah Kecamatan Ciampea, Tenjolaya, Leuwiliang, Jasinga, Pamijahan, Nanggung, Sukamakmur, Babakan Madang, Caringin, dan Megamendung. Tiap curug punya keindahannya sendiri-sendiri. Salah satu curug di Bogor yang saat ini lagi viral adalah Curug Cikuluwung.

    Curug Cikuluwung berada di Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

    Jika dari arah Bogor Kota, IPB, atau Jakarta, rutenya adalah ke arah Ciampea. Kemudian menuju arah pertigaan Cemplang. Dari situ sudah banyak petujuk jalan, atau bisa bertanya ke warga sekitar. Perjalanan dari Ciampea memakan waktu sekitar 45 menit.

    Jika dari arah Jasinga atau Sukabumi, menuju pertigaan Karacak Leuwiliang. Dari pertigaan tersebut, lokasi Curug Cikuluwung sekitar 30 menitan.


    Akses menuju Curug Cikuluwung cukup mudah. Akan tetapi bagi pengguna roda empat, disarankan untuk bertanya kepada warga sekitar. Karena jika menginguti google maps, dikhawatirkan akan melewati jembatan yang hanya bisa dilalui oleh satu motor saja.

    Jalan dari parkiran kendaraan menuju pusat curugnya juga tidak terlalu melelahkan. Akan tetapi, anak-anak disarankan harus bersama orang tuanya. Karena bebatuan di sungainya sangat licin.
    Curug Cikuluwung terdiri dari tiga air terjun. Ada Curug Cikuluwung 1, Cikuluwung 2, dan Cikuluwung 3. Biaya masuknya adalah Rp10.000,- untuk ketiga curug tersebut. Tetapi biasanya ada pejaga tiket yang nakal, sehingga ketika berganti curug akan dimintai tambahan uang.

    Sedangkan untuk biaya parkir, rata-rata adalah Rp5.000,- untuk kendaraan beroda dua.

    Meski dalam satu aliran sungai yang sama, namun lokasi parkir ketiga curug tersebut berbeda. 
    Bagi para pecinta curug, pasti tidak akan asing lagi dengan keindahan yang ada di Curug Cikuluwung.  Karena memiliki bebatuan yang estetis, Curug Cikuluwung akhirnya dijuluki sebagai Little Green Canyon Bogor. Curug Cikuluwung juga sudah seringkali masuk ke layar kaca karena keindahannya.

    Saat sedang jernih, air di Cikuluwung akan berwarna biru dan tampak seperti kolam renang di bawah lembah. Dari ketiga curug di Cikuluwung, curug 1 adalah lokasi yang paling ramai dikunjungi. 

    Curug Cikuluwung 1

    Bagi yang ingin mengabadikan momen indah, maka curug 1 adalah lokasi yang tepat. Sedangkan untuk berenang, area air di curug 1 tidak terlalu luas. Namun, wajib memakai pelampung, sebab air di curug 1 sangat dalam.

    Bagi yang bertujuan untuk berenang saja, maka curug 3 adalah jawabannya. Selain area air yang lebih luas, kedalamannya pun bervariasi, mulai dari 1 hingga 4 meter. Sehingga bagi yang jago berenang ataupun tidak, ada tempatnya sendiri.


    Bagaimana dengan yang tidak bisa berenang sama sekali? Tenang! banyak bebatuan besar di Cikuluwung yang bisa dipakai sebagai tempat bersantai sambil menikmati segarnya alam Cikuluwung.


    Bebatuan ini berada di area curug 3. Ukuran batu yang berada di sana cukup besar, sehingga sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati suasana alam sekaligus makan siang. Tetapi tetap harus waspada, sebab jika air sedang tinggi, batu-batu tersebut akan menjadi licin.

    Tips bermain di Curug Cikuluwung:
    1. Jangan buang sampah sembarangan
    Alam adalah sahabat kita. Jangan sampai kita berbuat sembaragan kepadanya. Karena siapa lagi yang akan merawat kalau bukan kita.

    2. Gunakan alas kaki yang tidak licin
    Seperti yang sudah diulas di atas, bahwa bebatuan di Curug Cikuluwung akan sangat licin jika terkena air. Maka dari itu disarankan untuk memakai alas kaki yang tidak licin.

    3. Jangan sendirian saat ke curug
    Curug adalah tempat bebas di alam. Disarankan untuk mengajak teman. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akan ada yang siap membantu.

    4. Jangan pulang terlalu petang
    Karena berada di tengah hutan, maka disarankan untuk pulang sebelum gelap. Karena selama di perjalanan, akan minim penerangan. Curug Cikuluwung tutup pukul 17.00 WIB.