Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Monday, 16 December 2024

Pada tanggal 10 Desember 2024, saya melakukan kegiatan rihlah bersama para santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Rihlah sebelumnya diadakan di curug dan dipisah antara santri SMP dan SMK. Kali ini, saya mencoba untuk mengajak santri mengikuti hobi saya yang suka berpetualang, dengan mengadakan camping di alam terbuka. Melihat respon yang antusias dari para santri, saya semakin bersemangat untuk mewujudkan kegiatan ini.

Persiapan

Persiapan untuk kegiatan camping ini cukup panjang. Pertama, saya mulai dengan menghubungi teman-teman di wilayah Bogor dan beberapa siswa dari sekolah lain untuk memberikan rekomendasi tempat camping yang cocok untuk santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Dari berbagai rekomendasi yang saya terima, saya kemudian memutuskan untuk melakukan survei langsung ke lokasi-lokasi yang disarankan.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya saya jatuh hati pada sebuah lokasi bernama Seureuh Hejo. Meskipun fasilitas di sana lebih minim dibandingkan tempat lain, saya merasa tempat ini memiliki pesona tersendiri yang membuat saya yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk camping santri. Keputusan saya didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, seperti keamanan lokasi, akses air yang cukup, dan tentunya harga yang ramah di kantong. Oh iya, selain itu, adanya warung dengan harga yang standar juga memikat saya untuk memastikan Seureuh Hejo sebagai lokasi camping/

Setelah memastikan bahwa Seureuh Hejo aman digunakan untuk camping, saya langsung menemui pengelola tempat tersebut. Banyak hal yang saya pertimbangkan dalam memilih Seureuh Hejo, selain biaya sewa yang terjangkau, saya juga memastikan lokasi ini bebas dari ancaman bencana alam dan memiliki aksesibilitas yang baik. Setelah berdiskusi panjang dengan pengelola, saya langsung melakukan pemesanan untuk tanggal 10-11 Desember 2024.

Lokasi Seureuh Hejo

Seureuh Hejo adalah sebuah tempat camping yang terletak di Leuwisadeng, Bogor, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun fasilitas di sana tergolong sederhana, keindahan alamnya sangat memukau. Pemandangan dari Seureuh Hejo sangat menawan, terutama pada malam hari ketika city light Bogor tampak jelas dari atas sana. Keasrian alam, udara sejuk, dan ketenangan tempat ini menjadikannya pilihan yang sempurna untuk kegiatan rihlah ini.

Tenda-tenda camping sudah disiapkan oleh pengelola dan juga beberapa anggota OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap. Keberadaan mereka sangat membantu mengingat cuaca yang sempat hujan deras menjelang kedatangan kami. Namun, meskipun fasilitas minim, tempat ini sangat cocok untuk memberikan pengalaman alam yang berkesan bagi para santri.

Biaya yang Dikeluarkan

Biaya tiket masuk dan camping ke Seureuh Hejo adalah Rp15.000 per santri dan kami mendapat gratis masuk untuk 10 pendamping. Selain tiket masuk, beberapa pengeluaran lain yang saya siapkan adalah untuk kendaraan, sewa tenda, dan juga konsumsi, serta beberapa perlengkapan lain.

Kegiatan Hari H di Seureuh Hejo

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 10 Desember 2024, setelah sholat Dhuhur, kami berangkat menuju Seureuh Hejo menggunakan 15 angkot dan 1 mobil pondok. Jarak dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ke Seureuh Hejo sekitar 5 km. Para santri tampak bersemangat dan penuh kegembiraan.

Sebenarnya, sebelum berangkat, banyak pesan masuk dan peringatan yang datang. Mulai dari lokasi Seureuh Hejo yang katanya angker dan sering ada kesurupan di sana, cuaca hujan yang akan merusak acara, hingga ancaman pohon tumbang, semuanya sempat membuat saya down dan ingin membatalkan acara. Namun, semangat dan antusias santri sungguh membuat saya menjadi makin semangat dalam menyiapkan kagiatan camping ini.

Setibanya di lokasi, meskipun sempat turun hujan deras selama perjalanan, para santri tetap antusias melihat pemandangan alam yang begitu indah. Tenda-tenda sudah terpasang dengan baik, berkat bantuan pengurus OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap sebelum kedatangan kami. Para santri pun segera menuju tenda masing-masing.

Saya mengumpulkan santri dan memberikan pengarahan kepada mereka. Para santri memahami dan siap mengikuti kegiatan dengan baik.

Pada malam hari, kami merencanakan pentas seni dan pembagian hadiah classmeeting. Namun, hujan kembali turun, sehingga kami memutuskan untuk menunda kegiatan tersebut dan mengarahkan santri untuk beristirahat di tenda mereka. Saat hujan reda, sekitar pukul 10 malam, pemandangan city light dari atas Seureuh Hejo begitu mempesona. Meskipun tidak ada pentas seni, suasana malam yang dingin dan pemandangan indah membuat semua santri menikmati malam itu dengan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, saya membangunkan santri untuk sholat Subuh dan segera melanjutkan dengan pembagian hadiah classmeeting yang seharusnya dilakukan malam sebelumnya. Setelah itu, para santri bersiap-siap untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan outbond. Kegiatan outbond dibagi menjadi dua kelompok, yaitu santri SMP dan santri SMK. Berbagai permainan dan tantangan disediakan, dan para santri dengan antusias mengikuti setiap kegiatan yang ada.

Meskipun hujan sempat mengganggu, kebahagiaan dan kegembiraan para santri selama kegiatan berlangsung membuat semua perencanaan dan kerja keras kami terasa terbayar. Saya sangat bahagia melihat senyum mereka, dan saya tahu bahwa ini adalah momen yang saya harap akan mereka ingat selamanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari pengelola Seureuh Hejo hingga para pengurus OSIS yang telah bekerja keras agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Kegiatan camping ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa, baik bagi saya maupun para santri. Meskipun cuaca tidak selalu mendukung, semangat dan kebersamaan yang tercipta membuat semua rintangan terasa ringan. Kegiatan rihlah kali ini membuktikan bahwa berpetualang di alam terbuka tidak hanya memberikan pengalaman fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Berikut adalah Tips melakukan kegiatan camping di alam terbuka.

  • Persiapkan Peralatan dengan Matang: Pastikan semua peralatan, seperti tenda, matras, dan perlengkapan lainnya, dalam kondisi baik dan sesuai kebutuhan.
  • Periksa Cuaca: Sebelum berangkat, periksa ramalan cuaca untuk mengantisipasi kondisi ekstrem seperti hujan atau angin kencang.
  • Pilih Lokasi yang Aman: Tentukan lokasi camping yang bebas dari ancaman bencana alam, memiliki akses air, dan fasilitas darurat yang memadai.
  • Kenali Potensi Bahaya: Waspadai hewan liar, tanaman beracun, atau potensi bahaya alam lainnya, serta selalu ikuti petunjuk pengelola lokasi.
  • Buat Rencana Keamanan: Siapkan rencana evakuasi dan pastikan setiap peserta tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
  • Jaga Kebersihan dan Lingkungan: Selalu bersihkan area camping setelah selesai, serta hindari merusak alam dengan membuang sampah sembarangan.
  • Sunday, 3 November 2024

    Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


    Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



    Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


    Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

    Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


    Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


    Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


    Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


    Wednesday, 18 September 2024

    Saya adalah seorang pendamping santri di pesantren, dan pada tanggal 8 Mei, saya mendampingi santri kelas 7 untuk melaksanakan rihlah. Kali ini, para santri sangat antusias dan meminta agar rihlah dilaksanakan dalam bentuk camping. Tentu saja, saya sangat senang dengan ide ini! Setelah berpikir keras dan mencari ke sana ke sini referensi tempat camping, akhirnya saya memutuskan memilih tempat MOZAKKA yang berada di Cigudeg. Tempat ini saya pilih karena tidak terlalu berbahaya untuk anak-anak santri kelas 7.


    Dalam perjalanan ini, saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh pengurus pesantren lainnya, yaitu Kak Aslam, Bang Jalu, dan Kak Adnan. Selain mereka, ada juga salah satu santri kelas 11 bernama Khaleed yang akan membantu mendampingi kegiatan kami. Kami semua siap untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para santri.


    Kami berangkat dari pondok sekitar jam 5 sore. Perjalanan terasa menyenangkan, dan kami tiba di Mozakka menjelang maghrib. Para santri naik angkot sewaan menuju lokasi rihlah, sementara saya dan Kak Aslam menyusul dengan mengendarai motor. Sesampainya di lokasi, suasana sudah mulai gelap, tetapi semangat para santri tak terbendung.



    Begitu sampai, para santri langsung bergerak cepat untuk mendirikan tenda yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka bekerja sama dengan ceria, dan rasa kekeluargaan mulai terasa. Setelah sholat Isya, kami mengadakan acara bakar-bakar sosis dan makanan lainnya. Suara tawa dan ceria memenuhi malam itu, dan saya bisa melihat betapa senangnya mereka bisa camping dan menambah ikatan satu sama lain.


    Menjelang jam 10 malam, kami semua beristirahat dan tidur di dalam tenda. Suasana malam di Mozakka sangat tenang, hanya terdengar suara alam yang menenangkan. Setelah sholat Subuh, saya mengajak para santri untuk jalan-jalan di sekitar Mozakka yang dikelilingi pohon sawit yang tinggi. Pagi itu, segar sekali! Para santri tampak antusias, merasakan udara segar dan pemandangan yang menakjubkan.


    Setelah jalan pagi yang menyegarkan, kami menuju kolam renang yang ada di Mozakka. Selain area camping, tempat ini juga memiliki kolam renang dengan suasana yang masih asri. Para santri sangat senang bisa berenang dan bermain air, menambah keseruan rihlah kali ini. Tawa dan teriakan bahagia mereka menggema di sekeliling kami.



    Pukul 10 pagi, kami mulai berkemas untuk kembali ke pondok. Dengan hati yang penuh kenangan indah, kami bersiap pulang. Para santri tampak puas dengan rihlah kali ini, wajah mereka bersinar dengan kebahagiaan. Melihat mereka senang adalah hadiah terindah bagi saya. Rihlah ini bukan hanya tentang perjalanan, tetapi juga tentang ikatan yang semakin kuat di antara kami.

    Tuesday, 7 June 2022

    Warbiasaaaah ...
    Satu kata untuk menggambarkan kondisi saat ini.
    Setelah melewati drama nggak bisa mudik tahun 2020 dan drama mudik disekat-sekat tahun 2021, akhirnya ... tara ...!!! tahun ini bisa mudik dengan tuma'ninah dan penuh kedamaian.

    Seneng nggak? Seneng nggak? Seneng lah ... Masa Enggak ...

    Kalian yang mudik pakek kendaraan pribadi, udah bisa banget lewat jalur mana aja. Nggak usah nyari jalan tikus buat menghindari penyekatan. Yang mau pakek kendaraan umum, yaaah ... ini agak ribet yeee buat kalian yang belum vaksin koronamaru. 

    Fyi, kemaren tuh aku mudik naik kereta api. Karena aku baru vaksin dua kali, jadi aku harus ngasih hasil rappid tes ke petugas di stasiun. Tapi woles aja gess ... di tiap stasiun biasanya disiapin tempat buat rappid tes dan harganya mumer kok. Buat kelen yang udah vaksin tiga kali, nggak usah pakek rappid tes. Langsung pesen tiket, cusss berangkat.

    Seminggu di rumah udah cukup buat ngobatin kangen sama keluarga. Apalagi buat aku yang nggak betahan banget duduk diam di rumah. Yang penting udah bisa pulang, pelukan sama keluarga, kangen-kangenan, pokoknya semua momen netes eluh cendol dawet udah dilakuin, ya berarti saatnya balik ke kenyataan hidup.

    *ceritanya udah beres mudik
    Beres mudik dari kampung, aku langsung balik ke Bogor untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Wekaweka *sokSibuk.

    Nah ... karena aku datang sebelum hari masuk, akhirnya aku memutuskan untuk main dulu ke rumah temen yang ada di Banten. Aku ngajak temenku satu lagi. Namanya Yudha.

    Aku dan Yudha ke Banten naik motor.
    Rumah temenku ada di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak. Padahal kalau di peta, Kabupaten Lebak dan Bogor itu bersebelahan. Dari Bogor ke arah barat, udah langsung masuk Kabupaten Lebak. Tapi ternyata ... Lebak itu GEDEEEEEEE BANGEEEEEET.

    Cerita Selama di Perjalanan
    Kami berangkat dari Bogor jam 10 pagi. Enggak sampe satu jam, kami udah masuk di Kabupaten Lebak. Awalnya kami pikir lokasi rumah temen kami tinggal beberapa menit lagi. Tapi ... kami salah fergusoooo! Wellcome to the jungle. Kami ternyata baru memulai perjalanan

    Jam 11 siang kami mampir sebentar ke warung buat makan siang dan sholat jumat sekalian. Kami nggak tau itu daerah mana, because tempatnya di kampung tengah hutan.  Yuda beli bakso, sementara aku beli bakso yang lebih gede. *mumpung ditraktir, jadi nanggung kalau ngambil yang kecil.
    Jam 4 sore kami sampai di rumah temenku, Adang.
    Rumah dia deket banget sama pantai. Depan rumah udah jalan raya , dan habis jalan raya udah bisa nyemplung ke pantai. Enak banget, kan?

    Setibanya di rumah Adang, kami istirahat sebentar buat nyenderin kaki yang selama tujuh jam ngelipet di atas motor.

    Orangtua Adang baik banget sama kami. Segala makanan dan minuman di rumah langsung disuguhin buat kami. Mulai dari pisang goreng, tahu bulat, es jeruk, sampai khong guan isi rengginang pun disuguhkan. Alhamdulillah, semoga makin sehat ya mereka.

    Meluncur ke Pantai
    Awalnya, kami berniat main ke Pantai Sawarna. Namun, karena pantai Sawarna udah ramai bangeeeet, jadi kami belok ke pantai lain yang tak kalah indah, Pantai Pulomanuk namanya.

    Eh bentar ... bentar !!!

    Sebelum ke pantai, mampir dulu ke jembatan yang ada di Bayah ini.


    Jembatan ini berada di jalan menuju Pantai Pulomanuk *kalau kita berangkat dari Kecamatan Panggarangan.

    Mayan lah ... buat kalian yang kecapekan di jalan, bisa istirahat sebentar di jembatan ini. 

    Eits ... 

    jembatan ini bukan buat tempat wisata ya. Tapi kalau buat ngelurusin kaki sebentar, bisa lah. Asalkan naruh motornya aman dan nggak di pinggir jalan, gaskeeuuun.

    Sambil istirahat bentar, kita bisa menikmati hijaunya pepohonan dan pegunungan di tepi pantai, juga sambil menikmati para nelayan yang akan berlayar. Syahdu nggak tuh?? Syahdu lah ... masa enggak.

    Dari jembatan tersebut, jarak ke Pantai Pulomanuk kurang lebih 5 menit dengan mengendarai motor.
    Jalan menuju pantai banyak lubangnya loh. Jadi harus berhati-hati. Nek ngebut yooo ajor juuuum ...!!!

    Meski melewati jalan yang grojal-grajul, tapi semua itu akan terbayar kontan dengan indahnya Pantai Pulomanuk.

    Eng ... anu ...

    Sebenernya kalau menurut aku, Pantai Pulomanuk nggak secantik pantai-pantai lain yang lebih terkenal kayak Parangtritis, Pantai Pangandaran, dan beberapa pantai selatan lainnya. 

    Tapi bentar dulu deh ... 

    buat kalian yang suka kedamaian, maka Pantai Pulomanuk adalah jawaban terbaik untuk itu.

    Damai bukan berarti sepi loh ya. Damai yang aku maksud  adalah tenang., enggak seramai pantai wisata lainnya. Jadi meskipun sepi, kalian nggak usah takut sama penjahat. Karena dijamin ... keamanannya full service, gaes! Malahan plus plus!
    Pantai Pulomanuk terletak berdekatan dengan pabrik yang akhrinya ketika di foto berasa kayak ala-ala luar negeri. Muehehehe.

    Oh iya, ngomong-ngomong, harga tiket masuk ke Pantai Pulomanuk Rp5.000. Belum termasuk parkir. Nah ... biasanya kalau ada penjaga nakal, akan dikasih harga yang lebih tinggi.

    Terlepas dari hal itu, Pantai Pulomanuk tetaplah recomended  banget.

    Friday, 28 May 2021

     


    Di suatu Kamis yang panas banget, Ajat, salah satu temanku di Bogor, mengajakku untuk jalan-jalan keliling Bogor.

    Karena kebetulan saat itu aku juga lagi gabut banget, akhirnya aku meng-iya-kan ajakannya. Padahal, Kabupaten Bogor yang luasnya empat kali negara Singapura mah, nggak bakal bisa kita puterin.

    Aku tinggal di Kecamatan Leuwiliang, sedangkan Ajat tinggalnya di Kecamatan Cariu. Jaraknya antara Leuwiliang dengan Cariu kurang lebih 75 km. Bayangin, berapa lama aku nungguin dia? Belum lagi, macetnya Bogor tuh kan suka bikin esmosi naik.

    Oh iya ... btw, Cariu ini letaknya sebelahan sama Jonggol. Tau Jonggol, kan? Itu tuh ... yang sering dinyanyiin sama trio ubur-ubur sama Si Wakwaw. Saking jauhnya Jonggol, akhirnya disebutlah nama itu di lagunya wakwaw. Nah, Cariu ada di deket Jonggol.

    Setelah menunggu Ajat selama dua jam, akhirnya kami pun bergegas mengendarai motor.

    Dari Leuwiliang, kami menuju ke arah kota. Sebenernya, niat awalnya kepengin ke bioskop. Mumpung ada film horor yang lagi tayang.

    Tapi ... belum 5 km berjalan, mataku tiba-tiba galfok sama sebuah toko buku di pinggir jalanan daerah Cibungbulang. Klasik banget gitu keliatannya.


    Kami kemudian mampir bentar ke toko itu. Nggak ada nama tokonya sih kalau dari luar, tapi orang-orang disitu nyebutnya 'Terminal Buku Jadul' alias TBJ.

    TBJ lokasinya di daerah Cibatok, Cibungbulang. Tepatnya di dekat pertigaaan arah masuk Pondok Pesantren Al Bahjah Bogor.

    Pas awal masuk ke tokonya, kami cuma berfirasat kalau harga buku disana pasti murah-murah. Dan ternyata bener ferguso! Banyak banget buku yang harganya di bawah 10ribuan.



    Pemilik TBJ ini namanya Pak Iyan. Umurnya kurang lebih 55 tahun. Kecintaan beliau sama dunia literasi, duh ... mantep banget deh. Kalau aku punya seratus jempol, udah aku kasih lah ke Pak Iyan semuanya.

    Buku yang ada di TBJ macem-macem, mulai dari buku agama, politik, ekonomi, sosial, sampai teknologi.

    Nggak hanya jual buku bekas loh, TBJ juga jual kaset-kaset jama baheula. Yang seneng sama lagu lawas, harus banget meluncur ke TBJ.



    Pak Iyan ini orangnya baik banget. Ramah, murah senyum, dan perhatian sama pengunjung. Kami sampai nyaman banget ngobrol sama beliau. *Kalau udah cocok mah pasti nyaman.

    Oh iya, kalian tahu nggak, berapa aja harga rata-rata buku disana?



    Waktu itu aku beli 5 buku. Pak Iyan ngasih harga 40.000. Berarti rata-rata buku yang aku beli harganya 8ribu. Tapi bukan berarti kebanyakan harganya segitu loh ya. Ini cuma gambaran aja dari yang aku beli.

    Nah, setelah 5 buku udah dibungkus, eh ... Pak Iyan malah ngasih bonus 1 buku. Baik banget kan? Baik nggak? Baik lah ...



    Area depan TBJ ini cukup luas. Hal itu yang kemudian membuat banyak banget mahasiswa tertarik berkunjung ke TBJ. Baik itu buat baca-baca, sharing informasi, sharing ilmu, atau bahkan hanya sekadar ngopi.

    TBJ ternyata adalah satu-satunya toko buku lawas yang ada di Bogor Barat. Maka nggak heran kalau toko Pak Iyan ini selalu ramai dikunjungi orang.

    Orang yang sudah tua mampir kesini karena ingin nostalgia dengan jaman dulu. Anak muda mampir kesini karena penasaran dengan tulisan-tulisan jaman dulu.
    (Pak Iyan)