Wednesday, 25 February 2026



Dalam hidup, hampir semua orang pernah merasa tersakiti.

Dikecewakan.

Tidak dipahami.

Tidak dihargai.


Perasaan itu manusiawi. Luka itu nyata. Dan kita tidak sedang diminta untuk mengabaikannya.


Namun ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita:

Saat kita sibuk merasa menjadi orang yang paling terluka, bisa jadi tanpa sadar kita sedang menjadi luka bagi orang lain.


Izinkan saya bercerita sedikit.


Dulu, saya pernah hampir menikah dengan seorang perempuan. Hubungan kami sudah serius. Keluarga sudah saling mengenal. Rencana-rencana sudah mulai dibicarakan.


Namun pada akhirnya, kami tidak jadi menikah.


Beberapa waktu kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan laki-laki lain.


Saat itu, jujur, saya merasa sangat terluka.

Saya merasa dikhianati oleh keadaan.

Saya merasa menjadi orang yang paling tersakiti.

Saya bertanya-tanya, “Mengapa secepat itu?”


Perasaan itu memenuhi pikiran saya cukup lama.


Sampai suatu hari, saya berbicara dengan seorang teman. Ia juga teman dekatnya, tempat dia sering bercerita. Dari situlah saya mengetahui sesuatu yang membuat saya terdiam.


Ternyata dia sudah lama menunggu saya untuk melamarnya.

Dia berharap kepastian.

Dia ingin segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Sementara saya?

Saya merasa umur kami belum cukup.

Saya merasa finansial saya belum siap.

Saya merasa mental dan agama saya belum matang.


Bagi saya, itu adalah bentuk tanggung jawab.

Bagi saya, itu adalah kehati-hatian.


Tapi bagi dia…

Itu adalah penantian yang melelahkan.


Dia menunggu.

Dia bersabar.

Dia berharap.


Dan dia capek.


Di situlah saya sadar, mungkin saya bukan satu-satunya yang terluka.

Bisa jadi justru saya yang lebih dulu memberi luka.


Saya merasa ditinggalkan.

Padahal mungkin dia merasa digantungkan.


Saya merasa dikecewakan.

Padahal mungkin dia yang lebih dulu dikecewakan.


Dari situ saya belajar satu hal penting:

Kita sering melihat masalah dari sudut pandang luka kita sendiri, tanpa mau melihat luka orang lain.


Kita merasa sudah punya alasan yang baik.

Kita merasa sudah bersikap benar.

Tapi niat baik pun bisa melukai jika tidak disertai kejelasan dan keberanian mengambil keputusan.


Kadang kita terlalu lama menunda.

Terlalu lama menimbang.

Terlalu lama merasa “belum siap”.


Padahal dalam penantian yang panjang, ada hati yang sedang lelah.


Saya tidak menyesali kehati-hatian saya. Tapi saya belajar bahwa setiap keputusan—termasuk keputusan untuk menunda—tetap memiliki konsekuensi bagi orang lain.


Maka untuk kalian, para murid yang sedang belajar menjadi dewasa:


Jangan mudah merasa paling tersakiti.

Beranilah bertanya pada diri sendiri:

“Apakah ada bagian dari sikapku yang mungkin melukai?”


Kedewasaan bukan tentang siapa yang paling benar.

Kedewasaan adalah tentang siapa yang berani introspeksi.


Jika kalian berjanji, tepati.

Jika kalian belum siap, jujurlah dengan tegas.

Jika kalian ragu, jangan biarkan orang lain menggantung terlalu lama.


Karena ketidakjelasan sering kali lebih menyakitkan daripada penolakan.


Hari ini mungkin kalian belum memikirkan tentang pernikahan.

Tapi kalian sedang belajar tentang tanggung jawab, tentang komitmen, tentang keberanian mengambil keputusan.


Dan itu berlaku dalam banyak hal:

Dalam persahabatan.

Dalam organisasi.

Dalam amanah.

Dalam janji sekecil apa pun.


Jangan menjadi orang yang sibuk menuntut pengertian, tapi lupa memberi kepastian.

Jangan menjadi orang yang merasa paling terluka, tapi enggan melihat luka yang ia sebabkan.


Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya berhati lembut saat disakiti,

tetapi juga berhati-hati agar tidak menyakiti.


Karena orang besar bukan yang tidak pernah membuat orang lain kecewa,

melainkan yang mau belajar dari kesalahan dan menjadi lebih bertanggung jawab setelahnya.


Friday, 28 November 2025

Saya menuliskan kisah ini bukan untuk menjelekkan siapa pun, apalagi teman saya sendiri. Saya menuliskannya sebagai pengingat—bahwa hidup sering kali memberi kita pelajaran melalui orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kita.


Tahun 2017, saya mengikuti sebuah program di Bogor. Program itu menggabungkan dua hal yang sangat saya cintai: tahfidz dan bisnis. Saya tinggal di sebuah asrama kecil bersama tujuh teman dari berbagai daerah di Indonesia. Kami muda, penuh semangat, dan datang dengan harapan besar untuk memperbaiki diri.


Hari-hari kami padat. Pagi kami sibuk dengan hafalan Al-Qur’an, sore hingga malam kami belajar bisnis—baik offline maupun online. Kami pernah berjualan bubur ayam, es lilin yogurt, stiker dinding, buff, hingga susu sapi. Tidak ada yang mudah, tapi setiap usaha kecil itu mengajarkan kami arti perjuangan: mencari modal, membangun strategi, hingga mengelola uang seadanya.


Di bisnis online, kami belajar Facebook Ads, Google Ads, dan digital marketing lainnya. Semua terasa baru, tapi kami belajar bersama—bertumbuh bersama. Lambat laun, usaha kami menghasilkan sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan. Di usia 18 tahun, kami mampu mendapatkan omzet dan profit yang sangat besar, bahkan pernah mencapai seratus juta sebulan. Kami merasa bangga, bukan karena uangnya, tapi karena kami bisa bermanfaat untuk orang tua dan orang-orang di sekitar kami. Itu benar-benar di luar nalar kami.


Setelah program selesai, tersisa empat orang yang tetap melanjutkan perjuangan: saya, Roni, Adam, dan Aris (nama samaran). Aris adalah yang paling tua di antara kami. Karena kami percaya dia paling dewasa, kami sepakat menyimpan seluruh tabungan bisnis di satu rekening, rekening Aris. Setiap bulan kami hanya mengambil sedikit untuk keperluan pribadi, sisanya ditabung untuk masa depan.


Hingga bertahun-tahun, saldo itu terus bertambah. Bahkan tak pernah kurang dari lima ratus juta. Kami sering berbagi kepada orang lain, membantu teman, dan itu membuat kami bahagia. Kami merasa perjalanan kami diberkahi.


Akhir 2019, kami berniat membeli rumah bersama. Rasanya luar biasa bisa punya rumah di usia yang masih belasan. Aris yang mengurus DP rumah itu. Kami percaya penuh.


Awal 2020, muncul kesempatan umrah. Kami ingin pergi bersama, tapi Aris selalu punya alasan. Saat itu pandemi Covid-19 mulai muncul dan akhirnya umrah batal. Namun, di tengah semua itu, rasa curiga muncul pelan-pelan. Ada sesuatu yang terasa janggal.


Kami setiap bulan selalu membuat laporan keuangan kami. Mulai dari pengeluaran untuk keluar, kebutuhan kami bersama, dan lain sebagainya. Aris tak pernah mau memberi password untuk masuk ke mobile banking rekening yang isinya tabungan kami tersebut. Meski rekening tersebut atas nama Aris, tapi isi di dalamnya adalah uang kami bersama dan Aris memang sebelumnya bilang akan memberikan password ke kami.


Kami akhirnya meminta rekening koran untuk melihat tabungan terakhir. Rekening koran adalah laporan tertulis dari bank yang memuat ringkasan seluruh transaksi keuangan—pemasukan, pengeluaran, saldo awal, dan akhir. Aris sempat menolak, tapi akhirnya menyerah. Saat kami melihat angkanya, dunia serasa runtuh: saldo kami tinggal kurang dari lima puluh juta. Kemana larinya semua uang kami?


Air mata saya hampir keluar waktu itu. Bukan hanya uangnya yang hilang. Bukan itu. Yang lebih menyakitkan adalah kepercayaan yang patah.


Aris mengakui bahwa ia mengirim uang setiap minggu kepada keluarga dan calon istrinya, tanpa sepengatahuan kami. Ia membutuhkan dana besar untuk menikah di kampung halamannya. Kami terdiam. Antara marah, kecewa, namun juga iba. Kami berusaha menahan nafsu selama ini untuk masa depan, namun ia justru menggunakannya dengan seenaknya.


Saat kami sibuk mengurus pondok yang baru kami kelola bersama yayasan, Aris tetap tinggal di tempat lama. Hingga suatu hari, saat kami datang ke sana… dia sudah pergi. Pulang ke Sumatera. Membawa semua sisa uang kami.


Awalnya kami ingin menuntut kembali uang itu, tapi lama-kelamaan, rasa marah itu berubah menjadi diam. Kami memutuskan mengikhlaskan. Bukan karena kami kaya, tapi karena kami tahu hidup harus terus berjalan. Kami mulai semuanya dari nol. Trauma itu ada, luka itu ada, tapi hidup tidak memberi kita pilihan selain melangkah lagi.


Dan di situlah pelajaran besar itu tertanam:

Kepercayaan adalah anugerah yang mahal.
Tidak semua orang mampu menjaganya, bahkan orang yang paling dekat sekalipun.
Tapi bukan berarti kita harus membenci mereka. Kadang, manusia melakukan kesalahan karena tekanan, kebutuhan, atau ketidakmampuan menghadapi hidup.

Dari kejadian itu, saya belajar:

Percayalah kepada orang lain, tapi jangan percayakan semuanya.
Belajarlah bersikap baik, tapi tetap berhati-hati.
Ikhlas itu berat, tapi selalu membuat langkah menjadi ringan.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa dalam hidup, kita bisa kehilangan uang, kehilangan barang, bahkan kehilangan teman.
Tapi jangan sampai kita kehilangan hati yang ikhlas, dan niat baik untuk terus menjadi manusia yang lebih baik.

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Tuesday, 14 October 2025

Aku adalah wali kelas XI di SMK IT Cyber Global Orenz. Sekaligus itu, aku juga menjadi pendamping mereka di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Ini adalah kali kedua aku membersamai mereka—angkatan yang sejak awal begitu dekat dengan proses belajarku sebagai seorang pendidik. Sebelumnya, aku sudah menjadi wali kelas mereka saat mereka masih duduk di kelas X.


Waktu itu, aku masih baru belajar memahami peran ini. Baru belajar menahan diri, belajar memahami, belajar mendengar tanpa harus selalu menanggapi. Dari mereka aku banyak belajar, bahwa menjadi wali kelas bukan hanya tentang mengatur dan menegur, tapi juga tentang berusaha memahami isi hati manusia yang sedang tumbuh.


Usia kami tak terpaut jauh—sekitar sepuluh tahun saja. Kadang kami seperti abang dan adik. Kadang aku harus menenangkan mereka yang sedang marah, padahal aku sendiri masih belajar menenangkan diri. Kadang aku menasihati mereka dengan sungguh-sungguh, lalu diam-diam menasihati diriku sendiri setelahnya. Aku belum bisa menjadi wali kelas yang sempurna, tapi aku berusaha untuk selalu hadir, sekecil apa pun kehadiran itu.


Kini, mereka sudah di kelas XI. Tahun ini tidak mudah bagi mereka. Seluruhnya menjadi pengurus OSIS—memikul tanggung jawab besar yang menuntut kedewasaan lebih cepat. Ada yang dikritik karena tegas, ada yang disalahpahami karena diam, ada yang kelelahan karena ingin melakukan segalanya dengan baik. Di antara tekanan itu, aku berusaha hadir di sela-sela waktu mereka, sekadar untuk mengatakan: kalian tidak sendiri.


Aku mencoba menjadi abang bagi mereka. Menyapa dengan tenang di tengah riuhnya kegiatan. Mendengarkan cerita panjang mereka tanpa terburu-buru memberi solusi. Menenangkan ketika semangat mereka mulai retak. Karena aku tahu, kadang yang paling dibutuhkan bukan nasihat, tapi keberadaan seseorang untuk mendengarkan.


Melihat mereka sekarang, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Anak-anak yang dulu masih kikuk menulis laporan, kini bisa berdiri di depan forum, memimpin rapat, mengambil keputusan, dan menanggung kritik. Mereka tumbuh, pelan-pelan tapi nyata.


Aku sadar, aku bukan wali kelas terbaik. Aku masih sering salah menilai, kadang terlalu keras, kadang terlalu lembut. Tapi dari mereka, aku belajar sesuatu yang tak diajarkan oleh buku mana pun: bahwa mendampingi bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang hadir dengan hati yang tulus.


Suatu hari nanti, ketika mereka melangkah pergi, aku tahu yang tertinggal bukan hanya nama di daftar presensi. Tapi jejak langkah, tawa, dan perjuangan yang pernah hidup di ruang ini. Semuanya akan tetap tinggal—sebagai kenangan, sebagai doa, dan sebagai pengingat bahwa aku pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka menuju dewasa.

Friday, 18 July 2025


doc. pribadi - Santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah


Pagi itu, langit pondok tampak biasa saja. Matahari belum muncul sepenuhnya, namun ruang masjid sudah penuh sesak dengan barisan putih yang khusyuk mendengarkan nasihat. Deretan kopiah putih dan sorban kecil tampak rapi, seakan menyatu dalam satu irama perjuangan. Tidak semua dari mereka tersenyum. Beberapa tampak lelah. Dan di sudut-sudut ruangan itu, ada mata-mata yang mulai basah.


Air mata yang jatuh bukan tanpa sebab. Rindu pada rumah yang tak kunjung dikunjungi, rasa lelah yang menumpuk karena bangun dini hari, beban pelajaran yang belum terselesaikan, atau hati yang lelah karena merasa tidak dipahami. Ada kalanya semua itu menjadi gelombang yang sulit dihadapi oleh jiwa muda yang sedang belajar menjadi kuat.


Namun, wahai santri...
Air matamu terlalu mahal,
jangan biarkan ia tumpah hanya karena lelah yang sifatnya sesaat.


Air mata itu adalah saksi keikhlasanmu. Jangan biarkan ia jatuh sia-sia hanya karena hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Tahanlah sebentar saja. Sebab seringkali, keajaiban datang tepat setelah batas terakhirmu diuji.


Ingatkah kau, untuk apa kau datang ke pondok ini?
Bukan sekadar untuk bisa membaca kitab atau menghafal ayat.
Tapi untuk membentuk jiwamu agar kuat dalam sabar, matang dalam berpikir, dan halus dalam hati.


Hidup di pesantren memang tak menawarkan kemewahan.
Tidak ada kasur empuk, tidak ada makanan mewah, dan terkadang tidak ada peluk hangat saat kau menangis. Tapi justru di balik semua kesederhanaan itulah, Allah sedang menempa dirimu menjadi seseorang yang kelak akan dimuliakan oleh ilmu dan perjuangan.


Setiap langkahmu menuju masjid dicatat.
Setiap hafalan yang kau ulang meski kau lupa, diberi ganjaran.
Setiap rasa sabar yang kau tahan saat temanmu menyakiti hatimu, semua dihitung oleh Allah.
Kau tidak sendirian. Meski tidak semua orang melihat perjuanganmu, langit selalu mencatatnya dengan detail yang tak kau duga.


Dan kelak, saat hidup sudah berjalan lebih jauh,
kau akan menoleh ke masa-masa ini dengan bangga.
Kau akan berkata dalam hati,
"Aku pernah hampir menyerah, tapi aku memilih bertahan."


Santri bukan sekadar gelar.
Ia adalah panggilan jiwa yang siap mengabdi.
Menjadi santri berarti siap ditempa oleh sabar, diuji oleh waktu, dan dipahat oleh doa-doa panjang di sepertiga malam.
Bukan kehidupan yang mudah, tapi pasti penuh berkah.


Maka, jika hari ini kau menangis, tidak apa.
Tapi biarlah air mata itu jatuh dalam sujud, bukan karena ingin pulang, tapi karena ingin dikuatkan.
Bukan karena tak sanggup, tapi karena sedang ingin dipeluk oleh doa-doa langit.


Ingatlah,
Air matamu terlalu mahal.
Ia bukan untuk dibayar dengan rasa lelah sesaat.
Tapi untuk dibayar dengan kemenangan besar di masa depan—di dunia dan terutama di akhirat.


Karena boleh jadi, di antara sekian banyak manusia yang berjalan di bumi,
kamulah yang paling diperhatikan oleh langit hari ini.