Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Monday, 16 December 2024

Pada tanggal 10 Desember 2024, saya melakukan kegiatan rihlah bersama para santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Rihlah sebelumnya diadakan di curug dan dipisah antara santri SMP dan SMK. Kali ini, saya mencoba untuk mengajak santri mengikuti hobi saya yang suka berpetualang, dengan mengadakan camping di alam terbuka. Melihat respon yang antusias dari para santri, saya semakin bersemangat untuk mewujudkan kegiatan ini.

Persiapan

Persiapan untuk kegiatan camping ini cukup panjang. Pertama, saya mulai dengan menghubungi teman-teman di wilayah Bogor dan beberapa siswa dari sekolah lain untuk memberikan rekomendasi tempat camping yang cocok untuk santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Dari berbagai rekomendasi yang saya terima, saya kemudian memutuskan untuk melakukan survei langsung ke lokasi-lokasi yang disarankan.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya saya jatuh hati pada sebuah lokasi bernama Seureuh Hejo. Meskipun fasilitas di sana lebih minim dibandingkan tempat lain, saya merasa tempat ini memiliki pesona tersendiri yang membuat saya yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk camping santri. Keputusan saya didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, seperti keamanan lokasi, akses air yang cukup, dan tentunya harga yang ramah di kantong. Oh iya, selain itu, adanya warung dengan harga yang standar juga memikat saya untuk memastikan Seureuh Hejo sebagai lokasi camping/

Setelah memastikan bahwa Seureuh Hejo aman digunakan untuk camping, saya langsung menemui pengelola tempat tersebut. Banyak hal yang saya pertimbangkan dalam memilih Seureuh Hejo, selain biaya sewa yang terjangkau, saya juga memastikan lokasi ini bebas dari ancaman bencana alam dan memiliki aksesibilitas yang baik. Setelah berdiskusi panjang dengan pengelola, saya langsung melakukan pemesanan untuk tanggal 10-11 Desember 2024.

Lokasi Seureuh Hejo

Seureuh Hejo adalah sebuah tempat camping yang terletak di Leuwisadeng, Bogor, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun fasilitas di sana tergolong sederhana, keindahan alamnya sangat memukau. Pemandangan dari Seureuh Hejo sangat menawan, terutama pada malam hari ketika city light Bogor tampak jelas dari atas sana. Keasrian alam, udara sejuk, dan ketenangan tempat ini menjadikannya pilihan yang sempurna untuk kegiatan rihlah ini.

Tenda-tenda camping sudah disiapkan oleh pengelola dan juga beberapa anggota OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap. Keberadaan mereka sangat membantu mengingat cuaca yang sempat hujan deras menjelang kedatangan kami. Namun, meskipun fasilitas minim, tempat ini sangat cocok untuk memberikan pengalaman alam yang berkesan bagi para santri.

Biaya yang Dikeluarkan

Biaya tiket masuk dan camping ke Seureuh Hejo adalah Rp15.000 per santri dan kami mendapat gratis masuk untuk 10 pendamping. Selain tiket masuk, beberapa pengeluaran lain yang saya siapkan adalah untuk kendaraan, sewa tenda, dan juga konsumsi, serta beberapa perlengkapan lain.

Kegiatan Hari H di Seureuh Hejo

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 10 Desember 2024, setelah sholat Dhuhur, kami berangkat menuju Seureuh Hejo menggunakan 15 angkot dan 1 mobil pondok. Jarak dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ke Seureuh Hejo sekitar 5 km. Para santri tampak bersemangat dan penuh kegembiraan.

Sebenarnya, sebelum berangkat, banyak pesan masuk dan peringatan yang datang. Mulai dari lokasi Seureuh Hejo yang katanya angker dan sering ada kesurupan di sana, cuaca hujan yang akan merusak acara, hingga ancaman pohon tumbang, semuanya sempat membuat saya down dan ingin membatalkan acara. Namun, semangat dan antusias santri sungguh membuat saya menjadi makin semangat dalam menyiapkan kagiatan camping ini.

Setibanya di lokasi, meskipun sempat turun hujan deras selama perjalanan, para santri tetap antusias melihat pemandangan alam yang begitu indah. Tenda-tenda sudah terpasang dengan baik, berkat bantuan pengurus OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap sebelum kedatangan kami. Para santri pun segera menuju tenda masing-masing.

Saya mengumpulkan santri dan memberikan pengarahan kepada mereka. Para santri memahami dan siap mengikuti kegiatan dengan baik.

Pada malam hari, kami merencanakan pentas seni dan pembagian hadiah classmeeting. Namun, hujan kembali turun, sehingga kami memutuskan untuk menunda kegiatan tersebut dan mengarahkan santri untuk beristirahat di tenda mereka. Saat hujan reda, sekitar pukul 10 malam, pemandangan city light dari atas Seureuh Hejo begitu mempesona. Meskipun tidak ada pentas seni, suasana malam yang dingin dan pemandangan indah membuat semua santri menikmati malam itu dengan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, saya membangunkan santri untuk sholat Subuh dan segera melanjutkan dengan pembagian hadiah classmeeting yang seharusnya dilakukan malam sebelumnya. Setelah itu, para santri bersiap-siap untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan outbond. Kegiatan outbond dibagi menjadi dua kelompok, yaitu santri SMP dan santri SMK. Berbagai permainan dan tantangan disediakan, dan para santri dengan antusias mengikuti setiap kegiatan yang ada.

Meskipun hujan sempat mengganggu, kebahagiaan dan kegembiraan para santri selama kegiatan berlangsung membuat semua perencanaan dan kerja keras kami terasa terbayar. Saya sangat bahagia melihat senyum mereka, dan saya tahu bahwa ini adalah momen yang saya harap akan mereka ingat selamanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari pengelola Seureuh Hejo hingga para pengurus OSIS yang telah bekerja keras agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Kegiatan camping ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa, baik bagi saya maupun para santri. Meskipun cuaca tidak selalu mendukung, semangat dan kebersamaan yang tercipta membuat semua rintangan terasa ringan. Kegiatan rihlah kali ini membuktikan bahwa berpetualang di alam terbuka tidak hanya memberikan pengalaman fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Berikut adalah Tips melakukan kegiatan camping di alam terbuka.

  • Persiapkan Peralatan dengan Matang: Pastikan semua peralatan, seperti tenda, matras, dan perlengkapan lainnya, dalam kondisi baik dan sesuai kebutuhan.
  • Periksa Cuaca: Sebelum berangkat, periksa ramalan cuaca untuk mengantisipasi kondisi ekstrem seperti hujan atau angin kencang.
  • Pilih Lokasi yang Aman: Tentukan lokasi camping yang bebas dari ancaman bencana alam, memiliki akses air, dan fasilitas darurat yang memadai.
  • Kenali Potensi Bahaya: Waspadai hewan liar, tanaman beracun, atau potensi bahaya alam lainnya, serta selalu ikuti petunjuk pengelola lokasi.
  • Buat Rencana Keamanan: Siapkan rencana evakuasi dan pastikan setiap peserta tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
  • Jaga Kebersihan dan Lingkungan: Selalu bersihkan area camping setelah selesai, serta hindari merusak alam dengan membuang sampah sembarangan.
  • Monday, 4 November 2024

    Malam itu, suasana di pondok terasa tenang dan damai setelah semua santri sedang bersiap istirahat Aku merasa butuh sedikit angin segar dan waktu bersantai, jadi aku memutuskan untuk mengajak pengurus pondok keluar. Adnan, Rizqi, dan Izzah adalah teman-temanku malam ini—mereka adalah santri pengabdian yang baru saja lulus dari pondok pesantren tempatku mengajar. Tahun lalu, mereka adalah murid-muridku, tetapi kini mereka sudah menjadi pengurus yang hebat.


    Setelah memastikan semua siap, kami berangkat menuju tempat makan yang sudah terkenal di kalangan kami: Sambal Bakar Indonesia di Dramaga. Tempat ini terletak di sebelah Mie Gacoan, dan kami semua sudah tak sabar mencicipi menu yang ditawarkan.


    Setibanya di Sambal Bakar Indonesia, kami langsung disambut aroma menggugah selera. Menu yang beragam membuat kami semakin bersemangat. Tanpa ragu, aku memesan kulit ayam dengan sambal bakar bawang yang terkenal. Adnan, Rizqi, dan Izzah memilih berbagai menu ikan yang terlihat menggoda. 


    Saat makanan datang, rasa tak sabar kami langsung terbayar. Kulit ayam yang garing dan sambal bakar bawang yang pedas berpadu sempurna, membuatku tak berhenti mengunyah dengan penuh kenikmatan. Meskipun harga makanan di sana cukup menguras kantong, kebersamaan kami dan makanan yang enak membuat segala sesuatunya terasa sangat berharga.



    Tips Menikmati Makan Enak Meskipun Harganya Mahal

    1. Pilih Tempat yang Tepat: Temukan restoran yang dikenal dengan menu spesial. Makanan berkualitas sering kali sebanding dengan harga yang dibayarkan.


    2. Bagi Porsi: Ajak teman untuk berbagi porsi. Dengan cara ini, kalian bisa mencicipi berbagai hidangan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


    3. Ciptakan Suasana: Nikmati suasana tempat makan. Diskusikan kenangan atau cerita menarik bersama teman-teman saat menikmati hidangan.


    4. Coba Menu Spesial: Jangan ragu untuk mencoba menu spesial restoran. Meskipun harganya lebih tinggi, pengalaman mencicipi makanan baru sangat berharga.


    5. Prioritaskan Kualitas: Ingat bahwa harga yang lebih tinggi sering kali mencerminkan kualitas. Makanan yang lezat dapat memberikan kepuasan tersendiri.


    6. Rencanakan Budget: Tetapkan anggaran sebelum pergi. Dengan anggaran yang jelas, kamu dapat memilih dengan lebih leluasa tanpa merasa khawatir.


    7. Fokus pada Kebersamaan: Nikmati momen bersama teman. Terkadang, pengalaman berbagi makanan enak lebih berharga daripada biaya yang dikeluarkan.


    Dengan semua kenangan indah dari malam itu, aku merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Adnan, Rizqi, dan Izzah. Makanan yang enak dan kebersamaan kami membuat malam itu semakin berarti!

    Sunday, 3 November 2024

    Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


    Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



    Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


    Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

    Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


    Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


    Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


    Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


    Wednesday, 18 September 2024

     


    Mungkin nama Gancik Hill Top masih asing di telingamu. Tempat ini memang belum begitu terkenal karena baru saja dibuka sebagai objek wisata. Meski begitu, keindahan alam yang ditawarkan sangat menawan.


    Terletak di lereng Gunung Merbabu, Gancik Hill Top menjadi salah satu jalur pendakian baru yang menarik untuk dijelajahi. Jalur ini sering disebut sebagai jalur Gancik, dan semakin populer di kalangan para pendaki.


    Bagi kamu yang suka berpetualang atau hanya ingin menikmati pemandangan alam, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat. Gancik Hill Top sangat cocok untuk liburan, mendaki, atau bahkan keduanya.


    Salah satu daya tarik utama di sini adalah keindahan alamnya yang Instagramable. Tempat ini sangat cocok untuk berfoto dan mengisi feed media sosialmu dengan pemandangan yang menakjubkan.


    Lokasi Gancik Hill Top berada di Kecamatan Selo, Boyolali, hanya sekitar 2 kilometer dari New Selo. Jika kamu pernah mendaki Gunung Merbabu lewat jalur Selo, pasti sudah melewati daerah ini.


    Selo menjadi perbatasan antara Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Tempat ini juga terletak di antara dua gunung terkenal, yaitu Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.


    Untuk mencapai Selo, kamu bisa lewat dua jalur yang berbeda. Jika kamu datang dari timur Boyolali, kamu bisa melewati ibu kota kabupaten dan menuju Selo/Magelang.


    Jalur ini cukup mudah meski menanjak. Jalanannya sudah diperbaiki, jadi nyaman untuk dilalui. Pemandangan di sepanjang jalan juga sangat memanjakan mata.


    Sebaliknya, jika kamu datang dari barat lewat Magelang, jalurnya masih cukup sulit. Banyak jalan rusak dan truk pengangkut pasir yang berlalu-lalang, sehingga bisa mengganggu perjalananmu.


    Setelah tiba di Selo, kamu harus melewati kebun warga yang ditanami tembakau dan sayuran untuk sampai ke Gancik Hill Top. Sebelumnya, tempat ini hanyalah hamparan tanaman pinus di lahan pertanian.


    Namun, beberapa tahun terakhir, warga mengubahnya menjadi tempat wisata yang memesona. Perjalanan menuju Gancik Hill Top memerlukan sedikit usaha karena jalannya cukup menanjak.


    Meski menantang, jalanan sudah disemen sehingga lebih mudah dilalui. Kelelahan selama perjalanan pasti terbayar saat kamu sampai di puncak.


    Sesampainya di puncak Gancik Hill Top, kamu akan dimanjakan oleh pemandangan indah dari tiga gunung: Merapi, Merbabu, dan Lawu. Keindahan ini pas banget untuk menghiasi feed media sosialmu.


    Jika kamu ingin merasakan sensasi mendaki tanpa harus mencapai puncak, Gancik Hill Top bisa jadi pilihan ideal. Jalurnya cukup menanjak, dan pemandangannya sudah mirip dengan di puncak Gunung Andong.


    Perjalanan selama sekitar 30 menit pasti akan membuatmu merasa lelah, jadi jangan lupa mampir dan nikmati keindahan di Gancik Hill Top!

    Saya adalah seorang pendamping santri di pesantren, dan pada tanggal 8 Mei, saya mendampingi santri kelas 7 untuk melaksanakan rihlah. Kali ini, para santri sangat antusias dan meminta agar rihlah dilaksanakan dalam bentuk camping. Tentu saja, saya sangat senang dengan ide ini! Setelah berpikir keras dan mencari ke sana ke sini referensi tempat camping, akhirnya saya memutuskan memilih tempat MOZAKKA yang berada di Cigudeg. Tempat ini saya pilih karena tidak terlalu berbahaya untuk anak-anak santri kelas 7.


    Dalam perjalanan ini, saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh pengurus pesantren lainnya, yaitu Kak Aslam, Bang Jalu, dan Kak Adnan. Selain mereka, ada juga salah satu santri kelas 11 bernama Khaleed yang akan membantu mendampingi kegiatan kami. Kami semua siap untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para santri.


    Kami berangkat dari pondok sekitar jam 5 sore. Perjalanan terasa menyenangkan, dan kami tiba di Mozakka menjelang maghrib. Para santri naik angkot sewaan menuju lokasi rihlah, sementara saya dan Kak Aslam menyusul dengan mengendarai motor. Sesampainya di lokasi, suasana sudah mulai gelap, tetapi semangat para santri tak terbendung.



    Begitu sampai, para santri langsung bergerak cepat untuk mendirikan tenda yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka bekerja sama dengan ceria, dan rasa kekeluargaan mulai terasa. Setelah sholat Isya, kami mengadakan acara bakar-bakar sosis dan makanan lainnya. Suara tawa dan ceria memenuhi malam itu, dan saya bisa melihat betapa senangnya mereka bisa camping dan menambah ikatan satu sama lain.


    Menjelang jam 10 malam, kami semua beristirahat dan tidur di dalam tenda. Suasana malam di Mozakka sangat tenang, hanya terdengar suara alam yang menenangkan. Setelah sholat Subuh, saya mengajak para santri untuk jalan-jalan di sekitar Mozakka yang dikelilingi pohon sawit yang tinggi. Pagi itu, segar sekali! Para santri tampak antusias, merasakan udara segar dan pemandangan yang menakjubkan.


    Setelah jalan pagi yang menyegarkan, kami menuju kolam renang yang ada di Mozakka. Selain area camping, tempat ini juga memiliki kolam renang dengan suasana yang masih asri. Para santri sangat senang bisa berenang dan bermain air, menambah keseruan rihlah kali ini. Tawa dan teriakan bahagia mereka menggema di sekeliling kami.



    Pukul 10 pagi, kami mulai berkemas untuk kembali ke pondok. Dengan hati yang penuh kenangan indah, kami bersiap pulang. Para santri tampak puas dengan rihlah kali ini, wajah mereka bersinar dengan kebahagiaan. Melihat mereka senang adalah hadiah terindah bagi saya. Rihlah ini bukan hanya tentang perjalanan, tetapi juga tentang ikatan yang semakin kuat di antara kami.

    Tuesday, 17 September 2024

    Saya merasa sangat senang karena pendakian kali ini bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga kesempatan untuk berbagi momen berharga bersama teman-teman. Saya mengajak tiga orang: Dicky, teman SMA saya; Jalu, teman SMP saya; dan Rizqi, murid saya. Momen ini sangat berarti karena saya bisa mengajak murid, teman SMP, dan teman SMA secara bersamaan. Tidak hanya itu, mereka akhirnya saling kenal dan menjadi akrab berkat pendakian ini.

    Kami memulai perjalanan dari Bogor dengan naik bis dari Terminal Leuwiliang. Dari situ, bis membawa kami menuju Terminal Bandung. Di Bandung, kami menjemput Dicky yang baru saja selesai wisuda di UIN Bandung, dan kami berangkat bersama menuju Majalengka, tempat basecamp Gunung Ciremai berada. Perjalanan dari Bandung ke Majalengka dilakukan di malam hari dan kami tiba di Majalengka sekitar pukul 3 pagi.

    Setibanya di Majalengka, kami turun di Terminal Maja dan melanjutkan perjalanan ke basecamp pendakian dengan menaiki mobil colt sewaan. Biaya untuk mobil tersebut adalah 300.000 rupiah untuk empat orang, dan basecamp yang kami pilih adalah Basecamp Apuy. Sesampainya di basecamp, kami harus menunggu hingga pukul 8 pagi untuk melakukan registrasi dan tes kesehatan.

    Pada pukul 8 pagi, kami menjalani tes kesehatan dan membayar biaya simaksi sebesar 75.000 rupiah. Biaya tersebut termasuk satu kali makan gratis, yang menjadi tambahan yang menyenangkan di tengah perjalanan. Setelah selesai dengan administrasi dan kesehatan, kami memulai pendakian dengan penuh semangat.

    Sepanjang perjalanan, kami menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Jalu dan Rizqi, yang baru pertama kali melakukan pendakian, sangat antusias meskipun mereka menghadapi tantangan. Rizqi, murid saya, memulai pendakian di Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, yang menambah makna perjalanan ini. Kami juga bertemu dengan empat pendaki dari Jakarta bernama Adam, Viar, Rama, dan Alvin, yang kemudian bergabung dengan rombongan kami hingga puncak.

    Sebelum tiba di puncak, kami mendirikan tenda di Pos 9 dekat shelter. Pukul 3 pagi, kami memulai perjalanan menuju puncak. Cuaca sangat dingin dan tantangannya semakin berat. Dicky mengalami muntah-muntah karena tidak tahan dengan suhu dingin yang ekstrem, sementara Jalu merasa kedinginan hingga harus menumpuk jaketnya. Suhu yang sangat rendah membuat kami khawatir tidak akan mampu sampai ke puncak.

    Namun, dengan semangat saling mendukung dan memberi dorongan, kami akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Ciremai. Perasaan haru dan bangga menyelimuti kami saat menikmati pemandangan menakjubkan dari puncak. Setelah puas menikmati momen di puncak, kami memutuskan untuk turun.

    Setibanya di bawah, kami beristirahat sejenak sebelum memutuskan untuk pulang. Kami berpisah dengan rombongan pendaki dari Jakarta dan menyewa mobil colt yang sama untuk kembali ke basecamp. Dari basecamp, kami naik bis ke arah Bandung. Dicky turun di terminal Bandung dan menuju tempat kosnya, sementara saya, Jalu, dan Rizqi melanjutkan perjalanan.

    Karena tidak ada bis menuju Bogor, kami akhirnya menginap di masjid dekat terminal Bandung. Saya, Jalu, dan Rizqi tinggal di Pondok Pesantren di Bogor, dengan Jalu dan saya bekerja di sana, sedangkan Rizqi adalah murid kami. Pendakian ini menjadi pengalaman yang tidak hanya mempererat persahabatan tetapi juga memberikan kenangan indah yang akan selalu kami hargai.

    Friday, 28 May 2021

     


    Di suatu Kamis yang panas banget, Ajat, salah satu temanku di Bogor, mengajakku untuk jalan-jalan keliling Bogor.

    Karena kebetulan saat itu aku juga lagi gabut banget, akhirnya aku meng-iya-kan ajakannya. Padahal, Kabupaten Bogor yang luasnya empat kali negara Singapura mah, nggak bakal bisa kita puterin.

    Aku tinggal di Kecamatan Leuwiliang, sedangkan Ajat tinggalnya di Kecamatan Cariu. Jaraknya antara Leuwiliang dengan Cariu kurang lebih 75 km. Bayangin, berapa lama aku nungguin dia? Belum lagi, macetnya Bogor tuh kan suka bikin esmosi naik.

    Oh iya ... btw, Cariu ini letaknya sebelahan sama Jonggol. Tau Jonggol, kan? Itu tuh ... yang sering dinyanyiin sama trio ubur-ubur sama Si Wakwaw. Saking jauhnya Jonggol, akhirnya disebutlah nama itu di lagunya wakwaw. Nah, Cariu ada di deket Jonggol.

    Setelah menunggu Ajat selama dua jam, akhirnya kami pun bergegas mengendarai motor.

    Dari Leuwiliang, kami menuju ke arah kota. Sebenernya, niat awalnya kepengin ke bioskop. Mumpung ada film horor yang lagi tayang.

    Tapi ... belum 5 km berjalan, mataku tiba-tiba galfok sama sebuah toko buku di pinggir jalanan daerah Cibungbulang. Klasik banget gitu keliatannya.


    Kami kemudian mampir bentar ke toko itu. Nggak ada nama tokonya sih kalau dari luar, tapi orang-orang disitu nyebutnya 'Terminal Buku Jadul' alias TBJ.

    TBJ lokasinya di daerah Cibatok, Cibungbulang. Tepatnya di dekat pertigaaan arah masuk Pondok Pesantren Al Bahjah Bogor.

    Pas awal masuk ke tokonya, kami cuma berfirasat kalau harga buku disana pasti murah-murah. Dan ternyata bener ferguso! Banyak banget buku yang harganya di bawah 10ribuan.



    Pemilik TBJ ini namanya Pak Iyan. Umurnya kurang lebih 55 tahun. Kecintaan beliau sama dunia literasi, duh ... mantep banget deh. Kalau aku punya seratus jempol, udah aku kasih lah ke Pak Iyan semuanya.

    Buku yang ada di TBJ macem-macem, mulai dari buku agama, politik, ekonomi, sosial, sampai teknologi.

    Nggak hanya jual buku bekas loh, TBJ juga jual kaset-kaset jama baheula. Yang seneng sama lagu lawas, harus banget meluncur ke TBJ.



    Pak Iyan ini orangnya baik banget. Ramah, murah senyum, dan perhatian sama pengunjung. Kami sampai nyaman banget ngobrol sama beliau. *Kalau udah cocok mah pasti nyaman.

    Oh iya, kalian tahu nggak, berapa aja harga rata-rata buku disana?



    Waktu itu aku beli 5 buku. Pak Iyan ngasih harga 40.000. Berarti rata-rata buku yang aku beli harganya 8ribu. Tapi bukan berarti kebanyakan harganya segitu loh ya. Ini cuma gambaran aja dari yang aku beli.

    Nah, setelah 5 buku udah dibungkus, eh ... Pak Iyan malah ngasih bonus 1 buku. Baik banget kan? Baik nggak? Baik lah ...



    Area depan TBJ ini cukup luas. Hal itu yang kemudian membuat banyak banget mahasiswa tertarik berkunjung ke TBJ. Baik itu buat baca-baca, sharing informasi, sharing ilmu, atau bahkan hanya sekadar ngopi.

    TBJ ternyata adalah satu-satunya toko buku lawas yang ada di Bogor Barat. Maka nggak heran kalau toko Pak Iyan ini selalu ramai dikunjungi orang.

    Orang yang sudah tua mampir kesini karena ingin nostalgia dengan jaman dulu. Anak muda mampir kesini karena penasaran dengan tulisan-tulisan jaman dulu.
    (Pak Iyan)

    Sunday, 23 May 2021

    Sekilas Tentang Semarang.
    Ngomongin Semarang emang nggak akan pernah ada habisnya. Kota yang dijuluki sebagai Kota Atlas ini ternyata memiliki beribu lokasi wisata yang sayang banget untuk dilewatkan. Mulai dari wisata pantai, gunung, danau, wisata gedung, wisata edukasi, wisata kuliner, semuanya sudah pasti ada di Semarang.

    Ngomong-ngomong, udah tau apa belum, kenapa Semarang dijuluki sebagai Kota Atlas?

    Julukan ini digencarkan pada masa pemerintahan Muhammad Ismail saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Atlas ternyata merupakan singkatan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat. Tentu saja, julukan itu sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Semarang yang 'ATLAS' banget.

    Tak hanya sebagai kota atlas, Semarang pun pernah mendapat julukan sebagai Port of Java. Semarang mendapat julukan tersebut karena pada zaman dahulu, kota ini merupakan salah satu pelabuhan paling penting yang ada di Pulau Jawa. Pelabuhan umum di Semarang yang cukup terkenal sampai saat ini adalah Pelabuhan Tanjung Mas yang berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara.

    Selain Pelabuhan, di Semarang juga terdapat bandara internasional yang cukup terkenal juga, yakni Bandara Ahmad Yani. Nah ... tak jauh dari bandara tersebut, ada sebuah tempat wisata yang lagi ngetrend saat ini, yaitu Hutan Mangrove.

    Hutan Mangrove Semarang
    Hutan Mangrove berada di dekat Pantai Maroon Semarang. Lokasinya di Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

    Hutan Mangrove Semarang sudah sangat viral lima tahunan terakhir ini. 

    Tempat wisata ini memilik pemandangan yang sangat menarik, yakni pohon-pohon bakau yang hijau dan segar untuk dipandang.

    Rute Menuju Hutan Mangrove
    Rute menuju Hutan Mangrove adalah melalui bandara internasional Ahmad Yani. Selain karena yang paling mudah, wilayah ini tentu saja yang paling terkenal.

    Dari bandara, kemudian masuk ke pos pintu masuk untuk umum, kemudian menuju area parkir motor yang ada di bandara. Lalu ikuti jalan aspal yang berada di samping parkir motor tersebut hingga berhadapan dengan rel kereta.

    Mulai area tersebut, kita bisa mengikuti papan penunjuk jalan menuju Hutan Mangrove atau Pantai Maroon.

    Jadi, setelah memanjakan mata di Hutan Mangrove, kita juga bisa melihat birunya Pantai Maroon Semarang.

    Jalan menuju lokasi adalah tanah pasir dan bergelombang. Kalau lagi hujan, biasanya akan becek 'buanget'.

    View Menarik di Hutan Mangrove
    Berada di dekat bandara Internasional Ahmad Yani, membuat hutan mangrove sering dilintasi pesawat terbang. Bila bisa mengambil gambar dengan tepat, kita bisa mengambil gambar pesawat yang lagi terbang. Tentu saja, ini jadi daya tarik sendiri bagi pengunjung, terutama yang punya hobi berfoto.





    Tiket Masuk ke Wisata Hutan Mangrove
    Biaya yang harus dikeluarkan untuk memasuki area Hutan Mangrove hanya Rp5.000. Namun kemudian kita juga akan dapat tiket untuk parkir kendaraan sesuai dengan jenisnya. Saat itu, untuk motor, biaya parkirnya adalah Rp5.000. 

    Yang ada di Hutan Mangrove
    Dengan biaya masuk tersebut, kira-kira apa saja yang bisa kita dapatkan selama berwisata ke Hutan Mangrove Semarang?

    Tentu saja, yang utama adalah kita bisa memanjakan mata dengan hijaunya tumbuhan bakau disana.

    Setiap sudut tempat, sangat bagus untuk diabadikan, karena areanya sangat instragamable. Tak hanya tumbuhan bakau saja yang bisa kita lihat, kita juga bisa naik perahu yang telah disediakan oleh pengelola (tapi pada saat saya berkunjung, sayangnya udah penuh. Jadi nggak bisa naik :D)




    Di lokasi wisata, terdapat tangga yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari tangga tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan dengan lebih luas.

    Monday, 17 May 2021

    Mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama bagi yang pernah melakukannya berulang kali. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pendakian. Mulai dari persiapan materi, fisik, waktu, bahkan mental.

    Fisik dan mental adalah hal paling penting yang harus disiapkan. Sebab, ketika di gunung, bukan hanya badan kita yang diuji, namun juga hati.

    Ada banyak ujian mental yang akan datang selama mendaki. Seberapa egois kita, akan diuji saat melakukan pendakian. Kemampuan memilih mana yang baik dan tidak baik pun akan teruji.

    Nah, bagi pendaki pemula, sangat penting memahami segala hal yang berkaitan tentang pendakian. Kira-kira, apa saja yang harus diketahui bagi para pendaki pemula sebelum melakukan pendakian? Berikut ini akan saya tulis beberapa hal yang harus disiapkan. Tentu saja ini berdasarkan pengalaman pribadi.

    1. Memahami Kemampuan Diri
    Sangat penting bagi para pendaki pemula untuk memahami kemampuan diri. Dengan memahami kemampuan diri, pendaki pemula bisa mempersiapkan diri dengan berlatih agar kemampuan meningkat.

    Apabila kondisi fisik masih belum siap dengan tantangan yang berat, maka jangan pernah memaksa diri untuk tetap melakukan pendakian.

    Ada banyak hal yang bisa dilakukan pendaki pemula untuk bisa meningkatkan kemampuan. Salah satunya adalah dengan berolahraga secara rutin. Tidak perlu olahraga berat, yang penting rutin.

    Selain melatih kemampuan fisik, kemampuan mental juga perlu dilatih. Apabila masih memiliki sifat egois yang tinggi, maka jangan harap dapat melakukan pendakian dengan lancar.

    Untuk meningkatkan kemampuan mental ini, maka kita bisa berlatih dengan meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan. Selama pendakian, kerja sama tim adalah resep paling penting yang harus ada dalam perjalanan.


    2. Cari Teman yang Memahami Dunia Pendakian
    Pertama kali saya ikut dalam pendakian, saya bergabung dengan teman yang sudah paham dengan dunia mendaki. Sebut saja namanya Satria. Satri sudah lima kali mendaki sebelumnya. Maka dari itu, saya bisa dengan leluasa bertanya seputar pendakian kepadanya.

    Selain itu, mereka yang telah memahami dunia pendakian, biasanya dengan tangan terbuka akan membantu kita apabila mengalami kendala dan kesusahan selama pendakian.

    3. Ajak Teman yang Juga Pendaki Pemula
    Bagian ketiga ini sebenarnya nggak terlalu penting banget sih. Tapi ternyata sangat berpengaruh. 

    Setidaknya harus ada teman mendaki kita yang juga masuk dalam kategori pemula. Sebab kalau hanya ada satu pendaki pemula di sebuah tim, biasanya dia akan 'sungkan' untuk meminta bantuan. 

    Harus diketahui, perasaan dan sifat manusia biasanya akan berubah ketika mendaki gunung. Yang biasanya nggak pernah malu, bisa saja akan tetiba berubah jadi pemalu. Begitu juga sebaliknya. 

    4. Memahami Bahwa Mendaki Berbeda dengan Kemah Wisata
    Banyak pendaki pemula yang beranggapan bahwa mendaki itu sama seperti berkemah wisata. Padahal itu salah besar.

    Kemah wisata adalah kegiatan berkemah yang dilakukan di tempat wisata. Ini biasanya diadakan oleh sekolah untuk para siswa. Kalau kemah wisata, kita bisa bebas membawa jumlah baju berapapun sesuai dengan ketentuan. Ini tentunya sangat berbeda dengan mendaki.

    Saat mendaki gunung, memang ada kegiatan berkemah dan bermalam. Namun, kondisi lingkungan tempat berkemah saat mendaki tidak bisa diprediksi. Ada kalanya cerah, ada kalanya hujan deras.

    Pada pendakian pertama saya, saya belum mehami perbedaan di atas. Akhirnya, saya kemudian membawa lima pasang pakaian. Khawatir pakaian yang dipakai akan basah. Namun ternyata, selama di medan, kita biasanya hanya akan pakai satu setel pakaian saja sampai turun, atau mungkin dua pakaian jika memang sempat mandi. Sisa pakaian yang saya bawa pun sia-sia. Malah itu hanya menjadi beban selama mendaki. Pundak makin sakit, sementara yang dibawa tidak terpakai.

    5. Jangan Jadikan Puncak Sebagai Tujuan Utama
    Mencapai puncak gunung adalah impian terbesar bagi para pendaki. Namun jangan sampai itu menjadi tujuan utama. Tujuan utama mendaki gunung adalah mencintai alam dan juga melatih kemampuan diri. Puncak hanyalah bonus saja.

    Kalau puncak gunung sudah menjadi tujuan utama, maka biasanya hal lain yang jauh lebih penting akan dikesampingkan. Misalnya cuaca dan juga medan.

    Kadang kala ketika cuaca sedang tidak baik, bagi pendaki yang memili tujuan utama puncak, akan mengabaikan keadaan ini. Atau ketika sedang ada longsor di tengah jalan, sudah pasti akan dianggap biasa saja dan dengan gampangnya diabaikan.

    Tujuan terakhir bagi pendaki adalah sampai kembali dengan selamat, dengan membawa cerita yang mengesankan.


    Nah, Teman-teman, selain lima tips di atas, ada satu tips terakhir yang harus dilakukan, yakni berdoa kepada Allah agar selama perjalanan diberikan keselamatan.

    Tetap semangat, mari cintai alam kita. Jangan lupa tetap patuh dengan protokol kesehatan ya ^_^

    Sunday, 16 May 2021

     


    Jombang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki banyak sekali keistimewaan. Keistimewaan tersebut beragam, mulai dari budaya, wisata alam, bahkan sampai wisata kuliner.

    Kalian sudah pernah ke Jombang atau belum?
    Kalau belum, segera main ke Jombang deh!

    Nah, buat kalian yang suka berwisata kuliner, kebetulan banget! di postingan kali ini, aku akan meracuni kalian buat mampir ke salah satu tempat wisata kuliner yang ada di Jombang.

    Tempat yang akan aku ulas ini, pastinya akan memanjakan kalian banget yang lagi mampir kesana. Lokasinya berada tak jauh dari titik 0 Kabupaten Jombang, sehingga sangat mudah untuk ditemukan. Wisata kuliner ini bernama Kolam Pancing 'Rumah Gurame'. Letaknya di Daerah Sambong, Kabupaten Jombang.


    Wisata kuliner ini memberikan beberapa fasilitas untuk pengunjung. Apa saja, Cak? Pastinya mulai dari fasilitas pemancingan, bakar ikan, sampai fasilitas buat lesehan, ada semua!

    Apa yang Membuat Kolam Pancing 'Rumah Gurame' Menarik?

    Kolam Pancing Rumah Gurame ini menarik karena kita bisa memancing sepuasnya di kolam yang telah disediakan.

    Ada beberapa pilihan kolam yang bisa kita buat untuk memancing. Pilihan pertama adalah berdasarkan berat ikan yang kita pancing, pilihan kedua adalah berdasarkan durasi harian.

    Untuk pilihan pertama, uang yang harus dikeluarkan pengunjung hanyalah Rp35.000 untuk setiap kg ikan gurame yang didapat.

    Sedangkan untuk pilihan kedua, uang yang cukup dikeluarkan adalah Rp20.000 utnuk sehari dia memancing.

    Apabila tidak memiliki alat pancing, maka kita bisa menyewa alat pancing seharga Rp5.000 saja

    Setelah memancing, kita bisa menikmati ikan yang telah didapat. Biaya masak dan bakar ikannya hanya Rp15.000 untuk setiap kg-nya. Nah, sedangkan harga nasinya adalah Rp3.000 untuk setiap porsinya. Wow! Murah banget, kan?

    Keunggulan Kolam Pancing 'Rumah Gurame'

    Setiap tempat pasti memiliki keunggulannya masing-masing. Termasuk di Kolam Pancing Rumah Gurame Sambong. Namun, aku memiliki kesan tersendiri saat berada di Kolam Pancing Rumah Gurame Jombang, diantaranya adalah :


    1. Lokasinya Strategis
    Kolam Pancing Rumah Gurame ini lokasinya sangat strategis, sehingga mudah ditemukan. Jarak dari titik 0 Kabupaten Jombang kurang lebih hanya 2 km. Kolam Pancing Rumah Gurame ini berada di kawasan Sambongdukuh, tak jauh dari Rumah Sakit Islam Jombang.

    2. Pelayanan Ramah
    Nah, meski terkadang pengunjung di tempat ini banyak, namun pemilik tempat tak pernah mengabaikan permintaan dari pengunjung. Karena setiap spot ada penanggung jawabnya sendiri. Mulai dari pemancingan sampai tempat makannya.

    Misalkan kemarin ketika aku dan teman-teman kesusahan ketika melepas kail pancing dari mulut ikan, pemilik siap membantu untuk melepaskannya. Selain itu, semua pertanyaan kami, dengan ramah dijawab oleh mereka.

    3. Berada di Lingkungan yang Asri
    Salah satu yang menarik pengunjung adalah, tempat ini berada di lingkungan yang asri. Kolam Pancing Rumah Gurame berada di dekat persawahan yang sangat sejuk. Sehingga, sambil menunggu ikan selesai dibakar, kita bisa menikmati sejuknya sawah sambil berfoto-foto di sana.

    Tak hanya lingkungan sekitarnya, di dalam area wisatanya pun, disediakan pula gazebo untuk beristirahat dan juga makan. Yang pasti, tidak ada biaya tambahan lagi untuk fasilitas tersebut.



    4. Harga yang Ramah Kantong
    Seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya, harga segala fasilitas di Kolam Pancing ini sangatlah terjangkau. Mulai dari fasilitas memancing, penyewannya, sampai makannya. Bahkan, toilet dan parkir pun gratis.


    5. Rasa Makanan Enak Bangeeet
    Meski harganya sangat murah, namun rasanya nggak boleh dibilang murahan. Sebab, sekali suap saja, sudah pasti membuat kita ketagihan untuk datang ke tempat ini lagi.

    Ada dua jenis masakan ikan yang bisa dipilih oleh pengunjung. Pertama adalah digoreng, dan yang kedua adalah dibakar. Tentu saja, kalau aku lebih suka dibakar. Selain lebih menggoda, aromanya juga lebih kecium banget.


    By the way, selain keunggulan di atas, kira-kira ada kekurangannya apa enggak ya? tentu saja ada! Menurutku, tempat ini ada satu yang kurang, yaitu fasilitas free WiFi. Tak boleh dibohongi, fasilitas WiFi tentu saja menjadi nilai lebih juga untuk setiap tempat wisata, terutama wisata kuliner. :-)

    Nah, Teman-teman .... gimana? Sudah mulai tertarik dengan wisata kuliner yang ada di Jombang ini? Yuk, buruan atur jadwal kalian buat berkunjung ke tempat ini ^_^