Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts

Sunday, 6 July 2025

Libur kenaikan kelas di pondok kali ini terasa berbeda. Liburan kali ini aku melakukan pendakian bersama para santri. Dan bukan sembarang pendakian—karena aku akan mendaki bersama 9 santri dan 2 santri pengabdian yang dulu pernah menjadi muridku.


Mereka adalah: Igo, Amzar, Fathir, Ammar, Ahlam, Eshan, Iyar, Adelva, dan Dzaky. Sementara dua pendampingnya: Khaleed dan Aslam, adalah alumni pondok yang sedang menjalani masa pengabdian.


Ide pendakian ini datang dari Ammar. Awalnya dia mengajak ke Gunung Ciremai—gunung tertinggi di Jawa Barat. Tapi jujur, aku belum siap untuk bertarung dengan ketinggian itu bersama rombongan yang sebagian besar belum pernah naik gunung. Maka, aku arahkan ke Gunung Gede saja. Lebih bersahabat dan relatif ramai pendaki. Kalau terjadi sesuatu di tengah jalur, setidaknya masih bisa minta tolong.


Awalnya aku menolak. Tapi setelah mereka izin ke orang tua dan ternyata didukung penuh, aku tak bisa lagi menolak. Beberapa orang tua bahkan membelikan perlengkapan mahal. Dukungan itu jadi amanah yang harus aku jaga baik-baik.


Kami sepakat bertemu di Stasiun Bogor, 28 Juni 2025, selepas Ashar.

Aku, Aslam, dan Khaleed sudah tiba lebih awal. Tapi seperti biasa… santri datang mendekati Maghrib, dengan napas ngos-ngosan dan ransel lebih besar dari badan mereka. Kami berangkat dengan angkot sewaan. Hujan turun deras. Air menyusup masuk dari celah kaca. Jaketku basah, tapi wajah para santri tetap bersinar—semangatnya melebihi matahari yang hari itu absen.


Kami tiba di basecamp Wayang Bolang sekitar pukul 9 malam. Sholat, makan sedikit, lalu istirahat. Esok pagi, petualangan sesungguhnya dimulai.


29 Juni 2025, pukul 05.30

Setelah sholat Subuh, kami mulai mendaki via jalur Cibodas. Jalur panjang yang penuh kejutan. Baru beberapa menit berjalan, rombongan terpisah. Ternyata Ammar minta izin buang hajat. Kami tunggu sekitar 15 menit. Dari situ, perjalanan terus berlanjut.


Anak-anak luar biasa. Mereka seperti punya baterai cadangan yang tak habis-habis. Sementara aku... baru satu tanjakan, sudah harus tarik napas panjang dan pura-pura foto-foto biar bisa istirahat diam-diam.


Kami tiba di Kandang Badak jam 2 siang. Di situlah rencana berubah.


Anak-anak meminta ingin melihat Alun-Alun Surya Kencana. Padang sabana luas dengan hamparan edelweiss yang memesona. Itu artinya… kami harus lintas jalur dan lanjut ke atas. Aku pikir-pikir, akhirnya setuju. Kami lanjutkan pendakian jam 4 sore, menyusuri tanjakan yang lebih curam: Tanjakan Setan.


Pegangan tali, tanjakan hampir vertikal, napas sesak, kaki gemetar. Tapi mereka tetap semangat. Kenapa malah aku yang lemas? pikirku.


Sebenarnya, sepanjang jalan aku overthingking dan berfikir macam-macam. Khawatir ada yang kena hipotermia, khawatir ada yang kelelahan, khawatir badai turun, dan berbagai kecemasan lain menghantui hingga membuatku masuk angin.


Pukul 8 malam, kami mendirikan tenda dekat puncak—meskipun sebenarnya tidak disarankan. Aku masuk angin, ingin muntah, tapi tak ingin membuat khawatir. Aku diam-diam minum teh hangat sambil berdoa dalam hati: “Ya Allah… kuatkan aku. Ini amanah.”


Khaleed sibuk mendirikan tenda. Aslam menyeduh minuman hangat dan memasak mie untuk semua. Anak-anak masuk ke tenda masing-masing. Aku sekamar dengan Ammar dan Adelva. Suasana tenang. Dingin. Tapi hangat karena kebersamaan.


Sampai... jam 3 dini hari.

Aku terbangun karena tenda roboh. Panik luar biasa. Kupikir ada badai. Ternyata kaki Adelva yang menendang tenda dari dalam. Aku tertawa keras—dan anehnya, masuk angin itu langsung sembuh seketika.


Pagi jam 5.

Kami sholat, beres-beres, angkat sampah, dan lanjut ke puncak. Hanya setengah jam dari tempat camp.



Saat tiba di puncak, wajah mereka berubah. Tak ada lagi canda berisik. Mereka terdiam, menatap kabut dan langit biru yang berselimut awan. Aku tahu, dalam hati mereka sedang bersyukur. Aku sendiri nyaris menangis. Itu adalah pendakian pertama mereka—dan mereka berhasil. Semua. Sampai atas.


Kami turun lewat jalur Putri.

Istirahat di Surya Kencana, padang sabana luas yang seperti potongan surga jatuh di bumi. Aku diam, duduk di antara mereka yang bermain dan bercanda. Mengamati. Menyimpan momen ini dalam kenangan.

Setibanya di bawah, kami istirahat di masjid warga sambil menunggu jemputan. Mereka lelah. Tapi bahagia. Aku lelah. Tapi lega.


Pendakian ini mungkin hanya berlangsung dua hari. Tapi kenangannya akan menempel sepanjang hidup. Aku tidak hanya mendaki bersama santri. Tapi aku juga menyaksikan transformasi mereka—dari anak-anak biasa menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan penuh syukur.


Dan di antara semua tawa dan letih, aku belajar satu hal penting:

Kadang, bukan kita yang mendidik santri. Tapi justru mereka yang mendidik kita—tentang semangat, ketulusan, dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.


Terima kasih, Gunung Gede.

Terima kasih, anak-anak.

Kita tidak hanya mendaki gunung. Kita sedang mendaki hidup. Dan kali ini... kita sudah selangkah lebih tinggi dari sebelumnya.



Monday, 16 December 2024

Pada tanggal 10 Desember 2024, saya melakukan kegiatan rihlah bersama para santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Rihlah sebelumnya diadakan di curug dan dipisah antara santri SMP dan SMK. Kali ini, saya mencoba untuk mengajak santri mengikuti hobi saya yang suka berpetualang, dengan mengadakan camping di alam terbuka. Melihat respon yang antusias dari para santri, saya semakin bersemangat untuk mewujudkan kegiatan ini.

Persiapan

Persiapan untuk kegiatan camping ini cukup panjang. Pertama, saya mulai dengan menghubungi teman-teman di wilayah Bogor dan beberapa siswa dari sekolah lain untuk memberikan rekomendasi tempat camping yang cocok untuk santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Dari berbagai rekomendasi yang saya terima, saya kemudian memutuskan untuk melakukan survei langsung ke lokasi-lokasi yang disarankan.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya saya jatuh hati pada sebuah lokasi bernama Seureuh Hejo. Meskipun fasilitas di sana lebih minim dibandingkan tempat lain, saya merasa tempat ini memiliki pesona tersendiri yang membuat saya yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk camping santri. Keputusan saya didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, seperti keamanan lokasi, akses air yang cukup, dan tentunya harga yang ramah di kantong. Oh iya, selain itu, adanya warung dengan harga yang standar juga memikat saya untuk memastikan Seureuh Hejo sebagai lokasi camping/

Setelah memastikan bahwa Seureuh Hejo aman digunakan untuk camping, saya langsung menemui pengelola tempat tersebut. Banyak hal yang saya pertimbangkan dalam memilih Seureuh Hejo, selain biaya sewa yang terjangkau, saya juga memastikan lokasi ini bebas dari ancaman bencana alam dan memiliki aksesibilitas yang baik. Setelah berdiskusi panjang dengan pengelola, saya langsung melakukan pemesanan untuk tanggal 10-11 Desember 2024.

Lokasi Seureuh Hejo

Seureuh Hejo adalah sebuah tempat camping yang terletak di Leuwisadeng, Bogor, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun fasilitas di sana tergolong sederhana, keindahan alamnya sangat memukau. Pemandangan dari Seureuh Hejo sangat menawan, terutama pada malam hari ketika city light Bogor tampak jelas dari atas sana. Keasrian alam, udara sejuk, dan ketenangan tempat ini menjadikannya pilihan yang sempurna untuk kegiatan rihlah ini.

Tenda-tenda camping sudah disiapkan oleh pengelola dan juga beberapa anggota OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap. Keberadaan mereka sangat membantu mengingat cuaca yang sempat hujan deras menjelang kedatangan kami. Namun, meskipun fasilitas minim, tempat ini sangat cocok untuk memberikan pengalaman alam yang berkesan bagi para santri.

Biaya yang Dikeluarkan

Biaya tiket masuk dan camping ke Seureuh Hejo adalah Rp15.000 per santri dan kami mendapat gratis masuk untuk 10 pendamping. Selain tiket masuk, beberapa pengeluaran lain yang saya siapkan adalah untuk kendaraan, sewa tenda, dan juga konsumsi, serta beberapa perlengkapan lain.

Kegiatan Hari H di Seureuh Hejo

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 10 Desember 2024, setelah sholat Dhuhur, kami berangkat menuju Seureuh Hejo menggunakan 15 angkot dan 1 mobil pondok. Jarak dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ke Seureuh Hejo sekitar 5 km. Para santri tampak bersemangat dan penuh kegembiraan.

Sebenarnya, sebelum berangkat, banyak pesan masuk dan peringatan yang datang. Mulai dari lokasi Seureuh Hejo yang katanya angker dan sering ada kesurupan di sana, cuaca hujan yang akan merusak acara, hingga ancaman pohon tumbang, semuanya sempat membuat saya down dan ingin membatalkan acara. Namun, semangat dan antusias santri sungguh membuat saya menjadi makin semangat dalam menyiapkan kagiatan camping ini.

Setibanya di lokasi, meskipun sempat turun hujan deras selama perjalanan, para santri tetap antusias melihat pemandangan alam yang begitu indah. Tenda-tenda sudah terpasang dengan baik, berkat bantuan pengurus OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap sebelum kedatangan kami. Para santri pun segera menuju tenda masing-masing.

Saya mengumpulkan santri dan memberikan pengarahan kepada mereka. Para santri memahami dan siap mengikuti kegiatan dengan baik.

Pada malam hari, kami merencanakan pentas seni dan pembagian hadiah classmeeting. Namun, hujan kembali turun, sehingga kami memutuskan untuk menunda kegiatan tersebut dan mengarahkan santri untuk beristirahat di tenda mereka. Saat hujan reda, sekitar pukul 10 malam, pemandangan city light dari atas Seureuh Hejo begitu mempesona. Meskipun tidak ada pentas seni, suasana malam yang dingin dan pemandangan indah membuat semua santri menikmati malam itu dengan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, saya membangunkan santri untuk sholat Subuh dan segera melanjutkan dengan pembagian hadiah classmeeting yang seharusnya dilakukan malam sebelumnya. Setelah itu, para santri bersiap-siap untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan outbond. Kegiatan outbond dibagi menjadi dua kelompok, yaitu santri SMP dan santri SMK. Berbagai permainan dan tantangan disediakan, dan para santri dengan antusias mengikuti setiap kegiatan yang ada.

Meskipun hujan sempat mengganggu, kebahagiaan dan kegembiraan para santri selama kegiatan berlangsung membuat semua perencanaan dan kerja keras kami terasa terbayar. Saya sangat bahagia melihat senyum mereka, dan saya tahu bahwa ini adalah momen yang saya harap akan mereka ingat selamanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari pengelola Seureuh Hejo hingga para pengurus OSIS yang telah bekerja keras agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Kegiatan camping ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa, baik bagi saya maupun para santri. Meskipun cuaca tidak selalu mendukung, semangat dan kebersamaan yang tercipta membuat semua rintangan terasa ringan. Kegiatan rihlah kali ini membuktikan bahwa berpetualang di alam terbuka tidak hanya memberikan pengalaman fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Berikut adalah Tips melakukan kegiatan camping di alam terbuka.

  • Persiapkan Peralatan dengan Matang: Pastikan semua peralatan, seperti tenda, matras, dan perlengkapan lainnya, dalam kondisi baik dan sesuai kebutuhan.
  • Periksa Cuaca: Sebelum berangkat, periksa ramalan cuaca untuk mengantisipasi kondisi ekstrem seperti hujan atau angin kencang.
  • Pilih Lokasi yang Aman: Tentukan lokasi camping yang bebas dari ancaman bencana alam, memiliki akses air, dan fasilitas darurat yang memadai.
  • Kenali Potensi Bahaya: Waspadai hewan liar, tanaman beracun, atau potensi bahaya alam lainnya, serta selalu ikuti petunjuk pengelola lokasi.
  • Buat Rencana Keamanan: Siapkan rencana evakuasi dan pastikan setiap peserta tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
  • Jaga Kebersihan dan Lingkungan: Selalu bersihkan area camping setelah selesai, serta hindari merusak alam dengan membuang sampah sembarangan.
  • Thursday, 17 October 2024

     

    Menjadi seorang pengangguran adalah hal yang tak diinginkan oleh semua orang. Begitu juga denganku. Sejak memutuskan untuk mundur dari dunia perkuliahan, kegiatan yang sering kulakukan agar tidak terlihat nganggur adalah jalan-jalan. Setidaknya, tetangga di rumah tak membicarakanku karena sering duduk diam di depan rumah. Atau bermain handphone di dalam kamar. Atau makan gorengan di warung kopi ibuku.

    Gunung adalah salah satu tujuan utama bagi diriku dalam setiap perencanaan wisata. Menurutku, ketika berada di atas gunung, semua permasalahan yang dialami, seketika hilang. Mereka tertinggal di bawah. Mungkin ingin ikut naik, tapi tidak kuat.

    16 September 2018, bersama teman-teman di Rumah Muda Indonesia, aku mencoba untuk menaiki salah satu gunung yang menjadi ikon di Kecamatan Ciampea Bogor. Namanya adalah Gunung Kapur.

    Gunung Kapur memiliki tiga puncak yang terkenal. Mereka adalah Puncak Roti, Puncak Lalana, dan Puncak Galau. Tepat setahun yang lalu, aku telah berhasil naik hingga ke Puncak Roti. Tahun ini, aku mencoba untuk naik ke Puncak Galau.

    Aku sempat mengira-ngira diberikan nama Puncak Galau  karena jalan menuju ke atas sangat susah. Jalanan batu kapur yang licin ketika hujan membuat para pendaki semakin galau ketika menaiki. Belum lagi, luas jalan yang ada tidak cukup untuk dilewati dua orang. Sudah pasti, pasangan remaja yang tengah kasmaran semakin galau karena tidak bisa bergandengan.

    Baiklah, mari kita kabur dari imajinasiku yang ngawur itu ...

    Gunung Kapur berada tepat di belakang Pasar Ciampea Bogor. Sebenarnya aku lebih senang menyebutnya Bukit Kapur karena, tingginya hanya sekitar 350 meter di atas permukaan laut saja. Tapi, baiklah, orang lebih suka menyebutnya sebagai gunung. Mau bagaimana lagi?

    Akses menuju ke Gunung Kapur tidak terlalu susah. Bisa ditempuh dengan menggunakan angkot biru jurusan Ciampea atau Leuwiliang. Ketiga jalur menuju puncak juga saling berdekatan. Jadi kalau ada yang ingin mencoba ketiga puncaknya langsung, tidak perlu cemas.

    Pintu masuk menuju Puncak Galau berada di tengah perkampungan warga. Ada warung kopi yang menyambut perjalanan kami pagi itu. Sepasang suami istri berusia senja siap meracik minuman pesanan kita. Senyumnya yang ramah, mampu membuat kita duduk berlama-lama di sana.

    Jalan menuju ke Puncak Galau sangat terjal. Belum lagi, ketika musim hujan, sudah pasti medan yang ada lebih menyeramkan. Kita harus berpegangan ranting-ranting yang kuat jika ingin selamat.

    Di puncak, ada halaman luas yang masih dipakai untuk tempat pendaratan helikopter. 

    Walau terbilang pendek, pemandangan yang disajikan tidak kalah menarik dengan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Ciptaan Tuhan memang selalu indah. Dia tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya. Sebagai manusia, memang selayaknya kita selalu bersyukur.

     

    Gunung Kapur adalah sebuah bukit tinggi yang terletak di Kecamatan Ciampea, Bogor. Memiliki tiga puncak utama dengan karakter uniknya masing-masing. Puncak tertingginya adalah Puncak Galau, biasanya digunakan untuk berkemah. Kemudian yang kedua adalah Puncak Lalana, paling bagus dijadikan untuk tempat berfoto. Dan yang terendah adalah Puncak Roti, terkenal dengan bebatuannya yang berbentuk unik. Yups ... namanya memang Puncak Roti. Dinamakan puncak roti karena banyak batu-batu yang mirip potongan roti.

    Kali ini, aku bersama teman-teman naik ke Puncak Roti. Terletak di belakang Pasar Baru Ciampea.
    Harga tiket menuju Puncak Roti adalah Rp5.000. Harga ini belum termasuk biaya parkir motor. Kalau ingin parkir gratis, bisa titipkan kendaraan ke warga setempat.

    Karena tidak terlalu tinggi, jadi waktu yang dibutuhkan hanya berkisar antara 10-30 menit untuk menuju puncak.
    Pepohonan jati yang tumbuh di sepanjang jalan menyambut kedatangan kami menuju Puncak Roti. Biasanya jalur ini digunakan untuk berfoto, karena memang instagramable banget.
    Mendaki di Gunung Kapur tak perlu perlengkapan khusus. Jaket, sleeping bag, kaos kaki, sepertinya tak terlalu dibutuhkan. Di hari weekend, biasanya jumlah pengunjung Gunung Kapur meningkat tajam. Selain karena terbilang rendah, spot Gunung Kapur juga tak kalah indah dengan gunung-gunung tinggi lainnya.

     


    Wuhu ... setelah beberapa bulan rehat dari dunia pendakian, akhirnya pekan kemarin dikasih kesempatan lagi buat jalan-jalan lebih dekat dengan langit Tuhan.

    Seneng banget rasanya, karena akhirnya jiwaku bisa seger lagi setelah beberapa bulan dipanaskan dengan kabar pilpres yang kadang penting kadang enggak.

    Perkenalkan, namanya adalah Gunung Slamet. Pendakian kali ini aku lakukan bersama teman-teman komunitas Sahabat Alam Indonesia. Ini pendakian kedua yang aku lakukan bersama mereka. Pendakian sebelumnya kami lakukan di Gunung Gede.

    Gunung Slamet terletak di lima kabupaten, yaitu Brebes; Purbalingga; Banyumas; Tegal; dan Pemalang. Tingginya 3428 mdpl. Merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa.

    Gunung Slamet memiliki banyak jalur pendakian, diantaranya via Bambangan, Baturaden, Guci, Kaliwadas, Kaligua, dan Dukuhliwung. Kebetulan kami kemarin lewat melalui Bambangan.

    Jalur Bambangan terletak di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Purbalingga. Transportasi umum menuju sana cukup mudah. Selain itu, Bambangan merupakan jalur yang paling ramai di Gunung Slamet.

    Karena di Purbalingga tidak ada stasiun, jadi yang naik kereta api harus turun di Stasiun Purwokerto. Setelah itu bisa cari transportasi umum menuju Terminal Purbalingga. Lalu naik ojek menuju basecamp  Bambangan dengan biaya Rp100.000,-.

    Ada sembilan pos yang harus dilalui untuk menuju puncak Slamet. Pos ini tujuannya untuk tempat rehat sejenak bagi pendaki gunung.
    Perjalanan dari basecamp menuju puncak dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Itu perjalanan versi kami yang kena hujan lebat di perjalanan, sehingga memakan waktu yang lebih lama.

    Dari basecamp menuju pos 3 dibutuhkan waktu masing-masing sekitar 2 jam per pos. Mulai pos 4 hingga puncak, jaraknya tidak terlalu jauh. Masing-masing pos jaraknya bisa ditempuh satu jam.
    Setiap tempat memiliki kesulitannya masing-masing. Pos 1 sampai 9, struktur tanahnya adalah liat. Sehingga jika hujan, jalanan sangat licin. Saat turun, akan sering terpeleset jika tidak hati-hati. Dari pos 9 menuju puncak, jalanannya adalah pasir dan bebatuan. Kalau salah injak, batunya bisa jatuh dan mengenai pendaki yang berada di bawah. 
    Salah satu yang menjadi favorit para pendaki adalah saat sunrice. Kalau pengin dapat sunrice di Gunung Slamet, maka harus diperhitungkan waktunya saat mendaki. Berhubung kemarin kami kena hujan deres, jadi kami putuskan untuk pasang tenda di pos 3. Nah, kami mulai jalan lagi dari pos 3 menuju puncak jam 1 pagi. Sampai di puncak, pas banget dapat sunricenya.

    Oh iya, Gunung Slamet ini tidak disarankan buat pendaki pemula sepertiku loh. Kenapa? sebab:

    • sumber air sangat sedikit,
    • cuacanya sering berubah-ubah,
    • sering muncul kabut tebal yang bisa menghalangi jalan,
    • trek Gunung Slamet cukup membahayakan terutama saat mendekati puncak, dan
    • suhu di Gunung Slamet cukup dingin.
    Kecuali kalau punya keyakinan yang kuat buat sampai ke puncak.

    Tips pendakian Gunung Slamet via Bambangan:
    • gunakanlah peralatan mendaki yang lengkap, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain nantinya. Setidaknya, peralatan pribadi yang wajib dibawa adalah jaket, kaos kaki, sarung tangan, dan masker. Bawa sleeping bag kalau jaket tidak cukup menghangatkan saat tidur, 
    • karena sumber air hanya sedikit, jadi bawalah air minum yang cukup saat mendaki, 
    • pos yang strategis untuk mendirikan tenda adalah pos 3 dan pos 5, karena tempatnya cukup luas,
    • berhati-hati saat menaiki puncak, karena treknya berpasir dan berbatu,
    • jangan terlalu sering mengaktifkan handphone, karena sering terjadi cuaca buruk, dan
    • gunakan masker saat di puncak untuk mengatasi bau belerang.

      

    Gunung Lawu merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Indonesia. Terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung istirahat yang diperkirakan terakhir meletus pada tahun 1885.

    Gunung Lawu memiliki tiga puncak, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Dari ketiga tersebut, Hargo Dumilah adalah puncak yang tertinggi, yakni 3.265 mdpl (meter di atas permukaan laut).

    Jalur menuju Lawu
    Gunung Lawu memiliki beberapa jalur pendakian, diantaranya Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, dan Candi Cetho. Ketiganya merupakan jalur yang tak pernah sepi dengan para pendaki.

    Cemoro Sewu berada di Magetan, Jawa Timur. Lokasinya tak jauh dari wisata alam Telaga Sarangan. Ada banyak alternatif kendaraan yang bisa digunakan :

    Dari arah timur : dari Terminal Magetan bisa naik kendaraan arah Tawangmangu, kemudian mencari angkutan lokal menuju basecamp. Atau bisa langsung dari Terminal Maospati Magetan langsung mencari kendaraan arah basecamp Cemoro Sewu. Biayanya dari terminal berkisar, tergantung cara menawar. Biasanya antara 100.000 sampai 250.000 per mobil.

    Dari arah barat : dari Terminal Tirtonadi (Solo) langsung mencari kendaraan arah Tawangmangu. Kemudian naik angkutan lokal, bisa berupa mobil pick up atau ojek. Jika mau lebih hemat bisa mencari tumpangan mobil sayur warga yang melintas.

    Ada lima pos yang akan dilewati pendaki di Cemoro Sewu.

     Dari basecamp menuju pos 1 : Waktu yang dibutuhkan dari basecamp menuju pos 1 kira-kira 1,5-2 jam. Jalurnya mulai menanjak, namun belum terlalu ekstrim. 

    Dari pos 1 menuju pos 2 Waktu yang dibutuhkan kira-kira 2-3 jam, tergantung waktu istirahat dan kecepatan berjalan. Jalanan mulai berbatu dan lebih menanjak. 

    Dari pos 2 menuju pos 3 : Waktu yang dibutuhkan kira-kira 2-3 jam. Jalanan masih sama, batu bertingkat dan menanjak.
    Dari pos 3 menuju pos 4 : Waktu yang dibutuhkan hampir sama, kira-kira 2-3 jam. Pos 4 tak ditandai dengan gubuk, hanya ada tanda plang yang menunjukkan bahwa tempat itu merupakan pos 4.

    - Dari pos 4 menuju pos 5 : Jarak pos 4 menuju pos 5 tak terlalu jauh. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 30-75 menit.

    Dari pos 5 menuju puncak Hargo Dumilah : Dibutuhkan waktu sekitar 1,5-2,5 jam. Sebelum mencapai puncak Hargo Dumilah, pendaki Gunung Lawu bisa bersantai sambil menikmati kopi dan makanan di warung Mbok Yem yang terletak di Hargo Dalem. Dari Hargo Dalem, waktu yang dibutuhkan untuk menuju Hargo Dumilah antara 15-45 menit.
    Waktu yang dibutuhkan untuk turun biasanya jauh lebih singkat, karena tracknya menurun. Basecamp Cemoro Sewu terletak tak jauh dari Cemoro Kandang. Pendaki Cemoro Sewu (Magetan, Jawa Timur) bisa jalan kaki untuk menuju Cemoro Kandang (Karanganyar, Jawa Tengah).

    Pantangan saat mendaki Gunung Lawu
    Gunung Lawu merupakan salah satu gunung paling mistis yang berada di Indonesia. Selama pendakian, biasanya akan ditemui beberapa petilasan dan juga sesajen. 

    Ada beberapa pantangan yang berlaku di Gunung Lawu. Diantaranya adalah pantangan untuk memakai baju berwarna hijau saat mendaki. 

    Saat mendaki Gunung Lawu, dianjurkan untuk tidak mengeluh. Karena katanya, apabila mengeluh, maka stamina akan tiba-tiba menurun.

    Bila menemui burung jalak, pendaki dilarang mengganggunya. Konon katanya, burung tersebut adalah jelmaan dari Kyai Jalak yang merupakan abdi dalem setia Prabu Brawijaya V. Pendaki.

    Masih banyak pantangan-pantangan yang terkenal di Gunung Lawu. Meski banyak yang tidak percaya, namun ada baiknya sebagai pendatang meninggalkan larangan dan menaati peraturan yang berlaku di sana.

      

    Rasane kepengin nangis yen kelingan Parangtritis
    Ning ati koyo diiris
    Naliko udan gerimis rebo wengi malem kemis
    Ra nyono ra ngiro janjimu jebul mung lamis

    Ada yang pernah dengar lirik lagu di atas? Yups ... itu adalah lirik lagu Didi Kempot yang berjudul 'Parangtritis'. Eits ... lagu itu udah ada lama sebelum cendol dawet tenar loh.

    Siapa sih yang enggak tahu Parangtritis? Begitu istimewanya pantai ini, sampai seorang Didi Kempot mengangkatnya menjadi sebuah lagu. Liburan ke Jogja rasanya kurang komplit deh kalau enggak berkunjung ke Parangtritis.

    Parangtritis memiliki pemandangan yang sangat indah, apalagi jika dinikmati ketika pagi atau sore hari. Pantai ini merupakan pantai paling ramai yang berada di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena lokasinya yang tak terlalu jauh dari kota.

    Rute dan Lokasi
    Pantai Parangtritis berlokasi di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 28 km dari pusat kota Yogyakarta.

    Dari luar daerah, pengunjung bisa langsung mencari jalan menuju daerah Kretek, Bantul. Lalu tinggal mengikuti Jl Parangtritis ke arah selatan hingga mencapai lokasi pantai.

    Harga Tiket Masuk
    Untuk dapat memasuki kawaasan Pantai Parangtritis, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar Rp10.000,-/orang. Harga ini bisa berubah sewaktu-waktu.

    Selain itu, pengunjung juga dikenai biaya parkir sebesar Rp2.000,-/motor dan Rp4.000,-/kendaraan beroda empat.

    Apa saja Yang Istimewa?
    Tentu saja, setiap pengunjung punya alasan tersendiri kenapa menjadikan Parangtritis sebagai tempat tujuan berwisata. Selain karena deburan ombaknya yang indah, beberapa hal ini tentu saja menjadi alasan mereka.

    1. Pengunjung bisa berkeliling sambil naik delman
    Pasir di sisi pantai Parangtritis sangat luas. Tempat itu biasanya dipakai pengunjung untuk bermain layang-layang atau sepak bola pantai. Selain itu, pengunjung juga bisa naik delman dan berkeliling pantai dengan santai.

    Biaya naik delman untuk sekali putaran adalah Rp35.000. Satu putaran delman kurang lebih durasinya adalah 15 menit. Tentu ini merupakan fasilitas romantis yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung.

    2. Banyak penjual di tepi pantai
    Pengunjung tak perlu takut kelaparan saat bermain di Pantai Parangtritis. Di sekitar pantai, banyak sekali pedagang kaki lima yang bisa dinikmati dagangannya. Mulai dari siomay, es kelapa muda, hingga teh tarik, semuanya ada.

    3. Sunrice dan Sunset yang Indah
    Nah ... pengunjung disarankan untuk datang saat pagi atau sore hari, sebab pemandangan langit saat matahari terbit dan tenggelam sangat indah.


    4. Pemandangan gunung yang indah di siang hari
    Tak usah khawatir kalau terlambat menikmati sunrice. Karena di Parangtritis, pengunjung juga bisa menikmati indahnya pegunungan yang berjajar di sepanjang wilayah selatan Jogja ini.

    Selain hal-hal di atas, ternyata banyak pengunjung yang datang ke Parangtritis karena penasaran dengan mitos Nyi Roro Kidul yang melegenda. Salah satu larangan yang paling terkenal di kalangan pengunjung pantai selatan adalah tidak boleh memakai baju warna hijau. Bagaimana dengan kalian? Percaya atau tidak dengan mitos ini?

    Oh iya ... ada yang ketinggalan. Beberapa fasilitas yang telah disediakan di Parangtritis adalah penginapan, toilet, musholla, dan warung makan.

    Nah ... jadi kapan kalian berencana liburan ke Parangtritis?

      


    Suatu pagi yang pagi banget, aku sudah mandi dan pakai pakaian rapi. Tumben pagi, Fi? Eitss jangan salah, ada empat orang di rumah yang nyalain alarm biar bisa bangun pagi. Apalagi, aku emang berniat mau pergi ke Sukabumi buat mendaki ke Gunung Gede.

    Jadi ceritanya, di awal Agustus kemarin aku ikut rombongan salah satu komunitas pendaki gunung yang ada di Bogor. Namanya Sahabat Alam Indonesia (SAI).

    Jujur sih, awalnya aku canggung berkomunikasi dengan mereka. Apalagi logat berbicara kami jauh berbeda. Aku dengan logat medok Jawa lokal, sedang mereka dengan logat Sunda Bogor yang kental.

    Sebelum berangkat, aku persiapkan dulu peralatan wajib untuk mendaki.
    • Tas/carrier
    • Air mineral
    • Sepatu
    • Lampu kepala
    • Jaket
    • Sarung tangan dan kaos kaki
    • Masker
    • Jas hujan
    • Konsumsi seperlunya
    setidaknya peralatan dasar itu yang harus dibawa ketika mendaki gunung. Jaket, masker, sarung tangan, dan kaos kaki, merupakan alat pelindung dari hawa dingin yang kadang diabaikan oleh para pendaki. Padahal peran mereka justru yang paling penting.

    Kami berangkat bada Ashar dari terminal Baranangsiang Bogor. Sebenarnya niat awalnya adalah naik kereta api. Sayangnya kami kehabisan tiket. Jadi kami putuskan untuk sewa mobil.

    Perjalanan dari Bogor ke Sukabumi dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam. 

    Ada tiga jalur yang bisa dipilih oleh para pendaki untuk naik ke puncak Gunung Gede. Jalur teramai adalah via Cibodas. Hanya saja, Cibodas memiliki jalur yang cukup panjang. Jika ingin yang lebih pendek, bisa pilih via Putri. Namun, jalur ini lebih menanjak. Sedangkan jalur yang ketiga adalah via Selabintana. Jalur Selabintana jauh lebih panjang dari Cibodas maupun Putri. Kebetulan rombongan kami memilih via Selabintana.

    Untuk saat ini, pendaftaran ke Gunung Gede harus dilakukan jauh hari sebelum dimulai pendakian. Sebab, pendaki yang datang makin lama makin banyak. Maka pihak pengelola harus memberi kuota setiap harinya.

    Ada biaya Rp25.000 yang dibebankan kepada tiap pendaki sebagai ganti surat kesehatan. Selain itu, ada juga biaya tiket masuk sebesar Rp35.000. Jadi, biaya minimal yang harus disiapkan untuk mendaki ke Gunung Gede via Selabintana adalah Rp60.000. Itu pun belum termasuk transportasi. Jika beruntung mendapat tumpangan, maka transportasi sudah tak perlu dipikirkan lagi. 

    Pukul 11.00 WIB, aku bersama 13 teman lainnya dari SAI memulai pendakian. Pertama diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua regu. Kami memanggilnya Bang Doet. Perlu kalian tahu, Bang Doet ini sudah melakukan pendakian puluhan kali. Ke Gunung Gede saja, katanya sudah 16 kali.

    Kesan yang kudapatkan ketika melewati jalur Selabintana adalah:
    • Seram
    • Sepi
    • Terjal
    Maka seharusnya, bagi pendaki pemula sepertiku, jalur ini sangat tidak disarankan. Hanya ada sedikit pendaki yang kami temui selama perjalanan.



    Sepanjang perjalanan, kami tidak menemukan adanya sumber air. Atau, bisa jadi ada, tapi kami melewatinya. Sebab, kami baru menemukannya setelah melakukan 14 jam perjalanan. Itu pun, untuk mendapatkannya, kami harus turun melewati bebatuan yang licin. Apalagi, itu malam hari!

    Salah satu yang kusenangi ketika naik gunung adalah 'nilai kebersamaan' yang jarang sekali bisa didapat di tempat lain. Ketika naik gunung, aku bisa lebih cepat mengenali karakter orang sekalipun baru kukenal.

    Rombongan kami bertemu dengan rombongan lain yang berjumlah empat orang. Mereka kemudian memutuskan untuk bergabung bersama kami sepanjang perjalanan.

    Setelah 16 jam perjalanan, atau sekitar pukul 3 pagi, akhirnya kami sampai di Savana Surya Kencana (biasa disebut Surken). Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana. Surken merupakan tempat yang paling nyaman untuk mendirikan tenda selama melakukan pendakian ke Gunung Gede. Di Surken juga sangat ramai pendaki. Apalagi, Surken merupakan titik pertemuan jalur Cibodas, Putri, dan Selabintana.



    Aku setenda dengan Adang dan Dahlan. Sedangkan yang lain mencari pasangan sendiri-sendiri.

    Tidur di alam bebas tak seburuk apa yang ada di bayangan setiap orang. Justru ketika tidur di alam bebas, ada kenikmatan sendiri yang tak bisa didapatkan ketika tidur di kasur yang empuk.


    Surken itu istimewa. Berbeda dengan savana yang pernah kutemui di gunung-gunung lainnya. Surken merupakan surga bagi bunga-bunga Edeilweiss. Sejauh mata memandang, bunga langka yang dilindungi ini tertanam dengan indah.

    Jarak dari Surken ke puncak hanya satu jam. Mulai dari Surken menuju puncak, kita bisa menjumpai pendaki lain dengan jumlah yang sangat banyak. Ada ratusan pendaki yang mengunjungi Gunung Gede setiap harinya.


    Puncak Gunung Gede cukup luas. Di dekat Gunung ini, tampak Gunung Pangrango berdiri dengan kokoh. Tak sedikit para pendaki Gunung Gede melanjutkan perjalanan ke Gunung Pangrango.

    Salah satu yang mengecewakanku ketika mendaki Gunung Gede adalah jumlah orang yang sangat banyak. Jumlah pendaki selalu melebihi kuota. Karena bukan hanya tiket kereta dan nonton bola saja yang punya calo, tiket masuk pendakian juga ternyata punya. Karena terlalu banyak pendaki, waktu untuk menikmati keindahan puncak jadi terbatas. 

    Bukan hal yang mengherankan jika jumlah pendaki Gunung Gede selalu melebihi kuota. Sebab Gunung Gede merupakan salah satu gunung yang paling dekat dengan daerah Jakarta.

    Baiklah, itu saja sedikit pengalamanku ketika mendaki Gunung Gede. Saran saja buat kalian yang ingin berkunjung ke sana, jangan coba lewat jalur Selabintana jika merasa masih pemula seperti diriku.

    Pendakian pertamaku ke Gunung Butak bersama delapan temanku adalah pengalaman yang akan selalu teringat, bukan hanya karena pemandangannya, tetapi juga karena kejadian konyol yang menimpa diriku. Kami berangkat dari Jombang, semua tampak ceria seperti baru lepas dari sekolah. Aku naik motor bareng Faisal, bergantian nyetir sambil nyanyi lagu rock yang kami ingat dari zaman SMP. Dua jam perjalanan terasa seperti dua tahun ketika kamu bersama teman-teman yang super heboh!


    Sesampainya di lokasi awal pendakian, kami semua berkumpul untuk berdoa. Kami berdoa agar pendakian lancar dan tidak ada yang terjatuh, terutama aku yang baru pertama kali mendaki. Saat kami mulai mendaki, semua berjalan lancar—aku bahkan merasa seperti pahlawan pegunungan! Berjalan santai sambil sesekali berhenti selfie, semua tampak sempurna.


    Namun, tiba-tiba perutku berulah. Rasanya seperti ada yang berteriak dari dalam, "Ayo, kita harus cepat!" Keringat dingin mengalir di dahi, dan aku mulai berpikir, "Apakah ada toilet di sini?" Malu untuk mengakui hal ini, aku berbisik ke Faisal, "Bro, aku butuh toilet!" Dengan gaya khasnya, Faisal langsung teriak, “Woy, dia mau mencret!” Semua teman langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi yang campur aduk antara bingung dan terpingkal-pingkal.

    Kondisi air kami juga minim, jadi teman-teman memberi saran yang membuatku semakin merah padam. "Setelah mencret, kamu bisa bersihin dengan batu, bro!" seru Satria sambil ngakak. Dengan semangat yang sudah mulai menguap, aku pun mencari tempat tersembunyi, melangkah sejauh seratus meter dengan harapan tidak ada yang melihatku.


    Akhirnya, aku menemukan pohon besar yang seolah menyambutku dengan pelukan hangat. Aku segera menggali lubang kecil di tanah. "Semoga kotoranku bisa terurai dan tidak ditemukan oleh arkeolog di masa depan," batinku sambil mulai beraksi. Setelah menyelesaikan “tugas mulia” itu, aku membersihkan diri dengan batu kering yang ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan. Kuambil buff pelindung kepala dan dengan penuh semangat membersihkan diri. Rasanya lega seperti baru saja mengeluarkan beban 100 kg dari punggungku.

    Dari kiri ke kanan : Humam, Bang Sat, aku, dan Aldi

    Ketika aku kembali ke teman-teman, mereka sudah menunggu dengan senyum-senyum jahil. "Kamu dari mana, bro? Nggak ada yang menghilang dari jangkauan radar!" seru Aldi sambil tertawa. Kami semua pun tertawa terbahak-bahak, dan aku merasa lebih baik meski sedikit merasa malu. Pendakian dilanjutkan, dan aku merasa lebih ringan, seolah bagaikan burung terbang bebas.

    Bagi kalian yang ingin mencoba mendaki, berikut beberapa tips dan trik untuk menghadapi situasi saat ingin buang air besar di gunung:


    1. Perencanaan: BAB dulu di toilet sebelum berangkat. Jangan sampai kamu jadi superstar di belakang pohon! Tapi kalau kebeletnya pas di tengah perjalanan, ya mau gimana lagi ... hehehe.


    2. Bawa Perlengkapan: Tisu, kantong plastik, dan hand sanitizer adalah sahabat terbaikmu. Jangan sampai ketinggalan!


    3. Cari Tempat Terpencil: Saat mules melanda, cari tempat yang jauh dari keramaian. Ingat, ini bukan ajang reality show!


    4. Lubang Kecil: Karena di gunung tidak ada toilet, gali lubang kecil. Pastikan kotoranmu bisa terurai dan tidak menjadi artefak bagi generasi mendatang.


    5. Bersihkan dengan Baik: Gunakan batu kering atau tisu, dan jangan lupa untuk membuang semuanya ke dalam kantong plastik. Jangan biarkan jejakmu di sana!

    Wednesday, 18 September 2024

     


    Mungkin nama Gancik Hill Top masih asing di telingamu. Tempat ini memang belum begitu terkenal karena baru saja dibuka sebagai objek wisata. Meski begitu, keindahan alam yang ditawarkan sangat menawan.


    Terletak di lereng Gunung Merbabu, Gancik Hill Top menjadi salah satu jalur pendakian baru yang menarik untuk dijelajahi. Jalur ini sering disebut sebagai jalur Gancik, dan semakin populer di kalangan para pendaki.


    Bagi kamu yang suka berpetualang atau hanya ingin menikmati pemandangan alam, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat. Gancik Hill Top sangat cocok untuk liburan, mendaki, atau bahkan keduanya.


    Salah satu daya tarik utama di sini adalah keindahan alamnya yang Instagramable. Tempat ini sangat cocok untuk berfoto dan mengisi feed media sosialmu dengan pemandangan yang menakjubkan.


    Lokasi Gancik Hill Top berada di Kecamatan Selo, Boyolali, hanya sekitar 2 kilometer dari New Selo. Jika kamu pernah mendaki Gunung Merbabu lewat jalur Selo, pasti sudah melewati daerah ini.


    Selo menjadi perbatasan antara Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Tempat ini juga terletak di antara dua gunung terkenal, yaitu Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.


    Untuk mencapai Selo, kamu bisa lewat dua jalur yang berbeda. Jika kamu datang dari timur Boyolali, kamu bisa melewati ibu kota kabupaten dan menuju Selo/Magelang.


    Jalur ini cukup mudah meski menanjak. Jalanannya sudah diperbaiki, jadi nyaman untuk dilalui. Pemandangan di sepanjang jalan juga sangat memanjakan mata.


    Sebaliknya, jika kamu datang dari barat lewat Magelang, jalurnya masih cukup sulit. Banyak jalan rusak dan truk pengangkut pasir yang berlalu-lalang, sehingga bisa mengganggu perjalananmu.


    Setelah tiba di Selo, kamu harus melewati kebun warga yang ditanami tembakau dan sayuran untuk sampai ke Gancik Hill Top. Sebelumnya, tempat ini hanyalah hamparan tanaman pinus di lahan pertanian.


    Namun, beberapa tahun terakhir, warga mengubahnya menjadi tempat wisata yang memesona. Perjalanan menuju Gancik Hill Top memerlukan sedikit usaha karena jalannya cukup menanjak.


    Meski menantang, jalanan sudah disemen sehingga lebih mudah dilalui. Kelelahan selama perjalanan pasti terbayar saat kamu sampai di puncak.


    Sesampainya di puncak Gancik Hill Top, kamu akan dimanjakan oleh pemandangan indah dari tiga gunung: Merapi, Merbabu, dan Lawu. Keindahan ini pas banget untuk menghiasi feed media sosialmu.


    Jika kamu ingin merasakan sensasi mendaki tanpa harus mencapai puncak, Gancik Hill Top bisa jadi pilihan ideal. Jalurnya cukup menanjak, dan pemandangannya sudah mirip dengan di puncak Gunung Andong.


    Perjalanan selama sekitar 30 menit pasti akan membuatmu merasa lelah, jadi jangan lupa mampir dan nikmati keindahan di Gancik Hill Top!