Showing posts with label Pokoknya Wisata. Show all posts
Showing posts with label Pokoknya Wisata. Show all posts

Monday, 4 November 2024

Malam itu, suasana di pondok terasa tenang dan damai setelah semua santri sedang bersiap istirahat Aku merasa butuh sedikit angin segar dan waktu bersantai, jadi aku memutuskan untuk mengajak pengurus pondok keluar. Adnan, Rizqi, dan Izzah adalah teman-temanku malam ini—mereka adalah santri pengabdian yang baru saja lulus dari pondok pesantren tempatku mengajar. Tahun lalu, mereka adalah murid-muridku, tetapi kini mereka sudah menjadi pengurus yang hebat.


Setelah memastikan semua siap, kami berangkat menuju tempat makan yang sudah terkenal di kalangan kami: Sambal Bakar Indonesia di Dramaga. Tempat ini terletak di sebelah Mie Gacoan, dan kami semua sudah tak sabar mencicipi menu yang ditawarkan.


Setibanya di Sambal Bakar Indonesia, kami langsung disambut aroma menggugah selera. Menu yang beragam membuat kami semakin bersemangat. Tanpa ragu, aku memesan kulit ayam dengan sambal bakar bawang yang terkenal. Adnan, Rizqi, dan Izzah memilih berbagai menu ikan yang terlihat menggoda. 


Saat makanan datang, rasa tak sabar kami langsung terbayar. Kulit ayam yang garing dan sambal bakar bawang yang pedas berpadu sempurna, membuatku tak berhenti mengunyah dengan penuh kenikmatan. Meskipun harga makanan di sana cukup menguras kantong, kebersamaan kami dan makanan yang enak membuat segala sesuatunya terasa sangat berharga.



Tips Menikmati Makan Enak Meskipun Harganya Mahal

1. Pilih Tempat yang Tepat: Temukan restoran yang dikenal dengan menu spesial. Makanan berkualitas sering kali sebanding dengan harga yang dibayarkan.


2. Bagi Porsi: Ajak teman untuk berbagi porsi. Dengan cara ini, kalian bisa mencicipi berbagai hidangan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


3. Ciptakan Suasana: Nikmati suasana tempat makan. Diskusikan kenangan atau cerita menarik bersama teman-teman saat menikmati hidangan.


4. Coba Menu Spesial: Jangan ragu untuk mencoba menu spesial restoran. Meskipun harganya lebih tinggi, pengalaman mencicipi makanan baru sangat berharga.


5. Prioritaskan Kualitas: Ingat bahwa harga yang lebih tinggi sering kali mencerminkan kualitas. Makanan yang lezat dapat memberikan kepuasan tersendiri.


6. Rencanakan Budget: Tetapkan anggaran sebelum pergi. Dengan anggaran yang jelas, kamu dapat memilih dengan lebih leluasa tanpa merasa khawatir.


7. Fokus pada Kebersamaan: Nikmati momen bersama teman. Terkadang, pengalaman berbagi makanan enak lebih berharga daripada biaya yang dikeluarkan.


Dengan semua kenangan indah dari malam itu, aku merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Adnan, Rizqi, dan Izzah. Makanan yang enak dan kebersamaan kami membuat malam itu semakin berarti!

Hari itu, suasana di TK Cita Mandiri Bogor sangat ceria. Aku diminta untuk menemani siswa-siswa TK dalam rekreasi yang sudah ditunggu-tunggu. Bersama Rizqi, Jalu, dan Mbak Ella, kami bersiap-siap untuk petualangan seru menuju Pantai Ancol.


Kami naik bis yang sudah disewa oleh pihak sekolah. Yang paling menyenangkan, kami sebagai pendamping tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ya, gratis! Begitu bis melaju, suara riuh anak-anak memenuhi ruang, penuh tawa dan kegembiraan. Tidak sabar rasanya untuk sampai di pantai.

Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami tiba di Pantai Ancol. Saat melangkah turun dari bis, kami langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Pantai Ancol memang dikenal cukup estetik, meskipun secara kebersihan masih kalah dibandingkan pantai lain. Namun, pelayanan di sini patut diacungi jempol! Area yang ramai dengan banyak fasilitas membuat tempat ini sangat menarik.


Setelah membagi kelompok dan memberikan arahan kepada anak-anak, aku, Jalu, dan Mbak Ella langsung mulai mengabadikan momen-momen seru. Rizqi, si fotografer handal di antara kami, tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke segala arah. Dengan senyum ceria, anak-anak berlarian di sepanjang pantai, bermain air, dan berpose di tempat-tempat yang instagramable.

Salah satu hal yang paling menarik adalah fasilitas perahu yang ditawarkan di pantai ini. Dengan biaya hanya Rp15.000 per orang, kami sudah bisa berkeliling dan menikmati pemandangan dari tengah laut. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk menyewa perahu. Sambil berlayar, kami menikmati keindahan panorama laut yang memukau. Dengan latar belakang langit biru dan ombak yang berdebur, suasana menjadi semakin sempurna. Rizqi, yang tidak pernah ketinggalan momen, terus mengabadikan setiap detik perjalanan kami.


Setelah puas berkeliling, kami kembali ke pantai, di mana anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain pasir. Kami menghabiskan waktu dengan membuat istana pasir, berlari-lari, dan tertawa bersama. Momen-momen kecil ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Ketika hari mulai sore, kami pun bersiap untuk pulang. Meski lelah, wajah-wajah ceria anak-anak menunjukkan bahwa rekreasi ini sangat sukses. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali ke bis, siap untuk pulang ke TK. Hari itu benar-benar menjadi perjalanan yang seru dan tak terlupakan!

Sunday, 3 November 2024

Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


Monday, 14 October 2024

Rihlah merupakan salah satu program menyenangkan yang ditunggu-tunggu oleh santri di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Setelah melewati ujian yang melelahkan, kegiatan ini menjadi penyegar semangat bagi mereka. Kali ini, kami berkesempatan untuk melakukan rihlah ke Curug Pangeran yang terletak di Pamijahan, Bogor. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya sebagai pendamping, bersama dengan teman-teman pengurus lainnya, Aslam, Adnan, dan Bang Jalu.


Kami berkumpul di halaman pondok dengan penuh antusias. Setelah membagi santri menjadi tiga angkot, kami pun berangkat. Masing-masing angkot berisi 13 santri yang ceria, semua berbicara dengan penuh semangat tentang rihlah ini. Perjalanan menuju Curug Pangeran berlangsung seru, penuh canda tawa. Tak jarang kami menyanyikan lagu-lagu favorit yang membuat suasana semakin meriah.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami akhirnya tiba di lokasi yang dituju. Begitu melihat Curug Pangeran, semua kelelahan seakan hilang seketika. Keindahan alam di sekelilingnya, dengan suara gemericik air yang jatuh dan udara segar, membuat hati kami bergetar. Semua santri langsung berlari menuju air terjun, tak sabar merasakan kesegaran airnya yang dingin.


Tak lama setelah itu, beberapa santri mulai beraksi. Sisco, Fathir, Ahlam, dan Azka, berani terjun dari tepi curug. Ketinggiannya memang tidak terlalu tinggi, tetapi adrenalin mereka memuncak saat melompat ke dalam kolam alami di bawahnya. Teriakan kegembiraan dan rasa takut bercampur aduk, namun semua tampak senang. Melihat keberanian mereka, santri lainnya pun bersemangat untuk ikut mencoba.


Setelah sesi terjun yang seru, kami mengadakan sesi masak-masak di area sekitar curug. Dengan bahan-bahan yang kami bawa, kami menyiapkan hidangan sederhana namun lezat. Suasana semakin ceria ketika aroma masakan mulai tercium, dan santri berkumpul untuk menikmati hasil karya mereka. Tawa dan cerita mengalir bebas di antara kami, menambah kehangatan momen itu.

Makan bersama di tengah alam terbuka menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Melihat para santri berbagi makanan dan cerita, saya merasakan kebahagiaan yang mendalam. Mereka seakan melupakan semua beban ujian yang baru saja dilalui. Momen ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik, jauh dari rutinitas belajar sehari-hari.


Setelah makan siang, kami melanjutkan eksplorasi di sekitar curug. Beberapa santri mengambil foto untuk mengabadikan kenangan ini, sementara yang lain memilih untuk duduk santai menikmati pemandangan. Keindahan alam di sekitar Curug Pangeran memang luar biasa, dan semua berusaha untuk menangkap momen tersebut dengan cara masing-masing.


Menjelang siang, kami berkumpul untuk melaksanakan sholat dhuhur bersama. Setelah beribadah, kami merasakan kedamaian yang menambah kebahagiaan hari itu. Rihlah ini bukan hanya sekadar refreshing, tetapi juga memperkuat ikatan antar santri dan pengurus. Rasanya, momen kebersamaan seperti ini sangat berharga.


Ketika waktu pulang tiba, semua santri tampak puas dan bersemangat. Mereka mengungkapkan rasa syukur dan harapan agar bisa melakukan rihlah seperti ini selanjutnya. Kami kembali naik angkot dengan membawa banyak kenangan indah dari Curug Pangeran. Dalam perjalanan pulang, tawa dan cerita pengalaman seru kami terus mengalir.


Kegiatan rihlah ke Curug Pangeran benar-benar menjadi penyegar yang sempurna. Kami pulang dengan hati yang gembira dan penuh semangat baru untuk menghadapi kegiatan belajar di pondok. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga pengingat betapa pentingnya menjalin kebersamaan dan menikmati keindahan alam.



Wednesday, 18 September 2024

 


Mungkin nama Gancik Hill Top masih asing di telingamu. Tempat ini memang belum begitu terkenal karena baru saja dibuka sebagai objek wisata. Meski begitu, keindahan alam yang ditawarkan sangat menawan.


Terletak di lereng Gunung Merbabu, Gancik Hill Top menjadi salah satu jalur pendakian baru yang menarik untuk dijelajahi. Jalur ini sering disebut sebagai jalur Gancik, dan semakin populer di kalangan para pendaki.


Bagi kamu yang suka berpetualang atau hanya ingin menikmati pemandangan alam, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat. Gancik Hill Top sangat cocok untuk liburan, mendaki, atau bahkan keduanya.


Salah satu daya tarik utama di sini adalah keindahan alamnya yang Instagramable. Tempat ini sangat cocok untuk berfoto dan mengisi feed media sosialmu dengan pemandangan yang menakjubkan.


Lokasi Gancik Hill Top berada di Kecamatan Selo, Boyolali, hanya sekitar 2 kilometer dari New Selo. Jika kamu pernah mendaki Gunung Merbabu lewat jalur Selo, pasti sudah melewati daerah ini.


Selo menjadi perbatasan antara Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang. Tempat ini juga terletak di antara dua gunung terkenal, yaitu Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.


Untuk mencapai Selo, kamu bisa lewat dua jalur yang berbeda. Jika kamu datang dari timur Boyolali, kamu bisa melewati ibu kota kabupaten dan menuju Selo/Magelang.


Jalur ini cukup mudah meski menanjak. Jalanannya sudah diperbaiki, jadi nyaman untuk dilalui. Pemandangan di sepanjang jalan juga sangat memanjakan mata.


Sebaliknya, jika kamu datang dari barat lewat Magelang, jalurnya masih cukup sulit. Banyak jalan rusak dan truk pengangkut pasir yang berlalu-lalang, sehingga bisa mengganggu perjalananmu.


Setelah tiba di Selo, kamu harus melewati kebun warga yang ditanami tembakau dan sayuran untuk sampai ke Gancik Hill Top. Sebelumnya, tempat ini hanyalah hamparan tanaman pinus di lahan pertanian.


Namun, beberapa tahun terakhir, warga mengubahnya menjadi tempat wisata yang memesona. Perjalanan menuju Gancik Hill Top memerlukan sedikit usaha karena jalannya cukup menanjak.


Meski menantang, jalanan sudah disemen sehingga lebih mudah dilalui. Kelelahan selama perjalanan pasti terbayar saat kamu sampai di puncak.


Sesampainya di puncak Gancik Hill Top, kamu akan dimanjakan oleh pemandangan indah dari tiga gunung: Merapi, Merbabu, dan Lawu. Keindahan ini pas banget untuk menghiasi feed media sosialmu.


Jika kamu ingin merasakan sensasi mendaki tanpa harus mencapai puncak, Gancik Hill Top bisa jadi pilihan ideal. Jalurnya cukup menanjak, dan pemandangannya sudah mirip dengan di puncak Gunung Andong.


Perjalanan selama sekitar 30 menit pasti akan membuatmu merasa lelah, jadi jangan lupa mampir dan nikmati keindahan di Gancik Hill Top!

Tahun 2018 menjadi salah satu tahun yang penuh kenangan bagiku, terutama saat kami, rombongan dari Jombang, memutuskan untuk mendaki Gunung Welirang. Keputusan ini muncul dari obrolan santai kami semasa di sekolah, dan tak lama kemudian, kami sepakat untuk menjadikan petualangan ini kenyataan. Dalam rombongan ini, aku bersama sahabat-sahabatku: Thoriq, Faisal, Faroq, Friday, dan Nizar.


Faisal adalah teman sekelasku di MAN Jombang, sedangkan Faroq, Thoriq, dan Friday adalah teman-temanku dari SMAN 3 Jombang. Nizar pun merupakan teman dari SMAN 2 Jombang. Rombongan ini terdiri dari sahabat-sahabat yang penuh semangat, siap menjelajahi keindahan alam bersama. Kami semua berboncengan dengan sepeda motor, dan saat itu, aku berboncengan dengan Faisal, sementara Thoriq berboncengan dengan Faroq, dan Nizar dengan Friday.


Kami memilih jalur pendakian via Tretes, yang terkenal dengan keindahannya. Perjalanan menuju titik awal pendakian terasa sangat menyenangkan, dikelilingi oleh hamparan alam yang hijau dan udara segar. Namun, di tengah kebahagiaan kami, ada beberapa kejadian mistis yang kami alami. Sebenarnya, ada momen-momen aneh yang membuat bulu kuduk merinding, tetapi kami sepakat untuk tidak membicarakannya selama perjalanan. Mungkin kami terlalu takut untuk membahasnya, atau mungkin kami ingin menjaga suasana tetap ceria.


Meski perjalanan terasa horor dan menyeramkan, kami tetap menikmati setiap langkah yang kami ambil. Tawa dan canda di antara kami membuat perjalanan terasa lebih ringan. Semangat kami tidak surut, meskipun terkadang kami harus melewati jalur yang curam dan berbatu. Kami saling mendukung, memberi semangat satu sama lain, dan itu membuat kami semakin dekat sebagai teman.


Setelah berjam-jam mendaki, akhirnya kami mencapai puncak Gunung Welirang. Keindahan yang tersaji di depan mata sangat luar biasa. Pemandangan dari atas benar-benar menakjubkan; lautan awan yang putih berarak-arak di bawah kami. Kami menghabiskan waktu di sana, mengagumi keindahan alam sambil berbagi momen berharga. Kami berfoto dan menikmati snack yang kami bawa.


Di dekat puncak, kami melihat banyak petani belerang yang berjuang mencari rupiah. Pemandangan ini mengingatkan kami akan perjuangan mereka yang tidak kenal lelah. Kami berusaha menghormati kerja keras mereka, sekaligus terinspirasi untuk selalu bersyukur atas setiap pencapaian yang kami raih.


Setelah puas menikmati puncak, kami mulai turun dengan hati yang penuh kenangan indah. Perjalanan ini bukan hanya tentang mendaki gunung, tetapi juga tentang persahabatan dan pengalaman yang kami bagi. Meski ada momen-momen mistis yang menyelimuti perjalanan kami, semuanya menambah warna tersendiri dalam cerita ini.


Akhirnya, kami tiba kembali di titik awal dengan senyum lebar dan hati yang bahagia. Gunung Welirang telah menjadi saksi perjalanan kami, sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga kisah persahabatan yang akan selalu kami ingat. Kami pulang dengan penuh cerita, siap untuk berbagi kepada teman-teman di Jombang tentang petualangan yang tak terlupakan ini.


Saya adalah seorang pendamping santri di pesantren, dan pada tanggal 8 Mei, saya mendampingi santri kelas 7 untuk melaksanakan rihlah. Kali ini, para santri sangat antusias dan meminta agar rihlah dilaksanakan dalam bentuk camping. Tentu saja, saya sangat senang dengan ide ini! Setelah berpikir keras dan mencari ke sana ke sini referensi tempat camping, akhirnya saya memutuskan memilih tempat MOZAKKA yang berada di Cigudeg. Tempat ini saya pilih karena tidak terlalu berbahaya untuk anak-anak santri kelas 7.


Dalam perjalanan ini, saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh pengurus pesantren lainnya, yaitu Kak Aslam, Bang Jalu, dan Kak Adnan. Selain mereka, ada juga salah satu santri kelas 11 bernama Khaleed yang akan membantu mendampingi kegiatan kami. Kami semua siap untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para santri.


Kami berangkat dari pondok sekitar jam 5 sore. Perjalanan terasa menyenangkan, dan kami tiba di Mozakka menjelang maghrib. Para santri naik angkot sewaan menuju lokasi rihlah, sementara saya dan Kak Aslam menyusul dengan mengendarai motor. Sesampainya di lokasi, suasana sudah mulai gelap, tetapi semangat para santri tak terbendung.



Begitu sampai, para santri langsung bergerak cepat untuk mendirikan tenda yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka bekerja sama dengan ceria, dan rasa kekeluargaan mulai terasa. Setelah sholat Isya, kami mengadakan acara bakar-bakar sosis dan makanan lainnya. Suara tawa dan ceria memenuhi malam itu, dan saya bisa melihat betapa senangnya mereka bisa camping dan menambah ikatan satu sama lain.


Menjelang jam 10 malam, kami semua beristirahat dan tidur di dalam tenda. Suasana malam di Mozakka sangat tenang, hanya terdengar suara alam yang menenangkan. Setelah sholat Subuh, saya mengajak para santri untuk jalan-jalan di sekitar Mozakka yang dikelilingi pohon sawit yang tinggi. Pagi itu, segar sekali! Para santri tampak antusias, merasakan udara segar dan pemandangan yang menakjubkan.


Setelah jalan pagi yang menyegarkan, kami menuju kolam renang yang ada di Mozakka. Selain area camping, tempat ini juga memiliki kolam renang dengan suasana yang masih asri. Para santri sangat senang bisa berenang dan bermain air, menambah keseruan rihlah kali ini. Tawa dan teriakan bahagia mereka menggema di sekeliling kami.



Pukul 10 pagi, kami mulai berkemas untuk kembali ke pondok. Dengan hati yang penuh kenangan indah, kami bersiap pulang. Para santri tampak puas dengan rihlah kali ini, wajah mereka bersinar dengan kebahagiaan. Melihat mereka senang adalah hadiah terindah bagi saya. Rihlah ini bukan hanya tentang perjalanan, tetapi juga tentang ikatan yang semakin kuat di antara kami.

Tuesday, 17 September 2024

Saya merasa sangat senang karena pendakian kali ini bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga kesempatan untuk berbagi momen berharga bersama teman-teman. Saya mengajak tiga orang: Dicky, teman SMA saya; Jalu, teman SMP saya; dan Rizqi, murid saya. Momen ini sangat berarti karena saya bisa mengajak murid, teman SMP, dan teman SMA secara bersamaan. Tidak hanya itu, mereka akhirnya saling kenal dan menjadi akrab berkat pendakian ini.

Kami memulai perjalanan dari Bogor dengan naik bis dari Terminal Leuwiliang. Dari situ, bis membawa kami menuju Terminal Bandung. Di Bandung, kami menjemput Dicky yang baru saja selesai wisuda di UIN Bandung, dan kami berangkat bersama menuju Majalengka, tempat basecamp Gunung Ciremai berada. Perjalanan dari Bandung ke Majalengka dilakukan di malam hari dan kami tiba di Majalengka sekitar pukul 3 pagi.

Setibanya di Majalengka, kami turun di Terminal Maja dan melanjutkan perjalanan ke basecamp pendakian dengan menaiki mobil colt sewaan. Biaya untuk mobil tersebut adalah 300.000 rupiah untuk empat orang, dan basecamp yang kami pilih adalah Basecamp Apuy. Sesampainya di basecamp, kami harus menunggu hingga pukul 8 pagi untuk melakukan registrasi dan tes kesehatan.

Pada pukul 8 pagi, kami menjalani tes kesehatan dan membayar biaya simaksi sebesar 75.000 rupiah. Biaya tersebut termasuk satu kali makan gratis, yang menjadi tambahan yang menyenangkan di tengah perjalanan. Setelah selesai dengan administrasi dan kesehatan, kami memulai pendakian dengan penuh semangat.

Sepanjang perjalanan, kami menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Jalu dan Rizqi, yang baru pertama kali melakukan pendakian, sangat antusias meskipun mereka menghadapi tantangan. Rizqi, murid saya, memulai pendakian di Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, yang menambah makna perjalanan ini. Kami juga bertemu dengan empat pendaki dari Jakarta bernama Adam, Viar, Rama, dan Alvin, yang kemudian bergabung dengan rombongan kami hingga puncak.

Sebelum tiba di puncak, kami mendirikan tenda di Pos 9 dekat shelter. Pukul 3 pagi, kami memulai perjalanan menuju puncak. Cuaca sangat dingin dan tantangannya semakin berat. Dicky mengalami muntah-muntah karena tidak tahan dengan suhu dingin yang ekstrem, sementara Jalu merasa kedinginan hingga harus menumpuk jaketnya. Suhu yang sangat rendah membuat kami khawatir tidak akan mampu sampai ke puncak.

Namun, dengan semangat saling mendukung dan memberi dorongan, kami akhirnya berhasil mencapai puncak Gunung Ciremai. Perasaan haru dan bangga menyelimuti kami saat menikmati pemandangan menakjubkan dari puncak. Setelah puas menikmati momen di puncak, kami memutuskan untuk turun.

Setibanya di bawah, kami beristirahat sejenak sebelum memutuskan untuk pulang. Kami berpisah dengan rombongan pendaki dari Jakarta dan menyewa mobil colt yang sama untuk kembali ke basecamp. Dari basecamp, kami naik bis ke arah Bandung. Dicky turun di terminal Bandung dan menuju tempat kosnya, sementara saya, Jalu, dan Rizqi melanjutkan perjalanan.

Karena tidak ada bis menuju Bogor, kami akhirnya menginap di masjid dekat terminal Bandung. Saya, Jalu, dan Rizqi tinggal di Pondok Pesantren di Bogor, dengan Jalu dan saya bekerja di sana, sedangkan Rizqi adalah murid kami. Pendakian ini menjadi pengalaman yang tidak hanya mempererat persahabatan tetapi juga memberikan kenangan indah yang akan selalu kami hargai.


Pada tanggal 29 Juni 2024, kami memulai petualangan mendaki Gunung Gede dengan semangat yang tinggi. Rombongan kami terdiri dari murid-murid dan teman-teman dekat, yang membuat perjalanan ini menjadi lebih istimewa.

Saya mengajak dua murid dari pondok pesantren tempat saya mengajar, yaitu Khaleed dan Rais. Saya ingin memberikan pengalaman mendaki yang akan menjadi kenangan berharga bagi mereka. Selain mereka, saya juga mengundang dua teman baik saya, Heru dan Alex. Tak lama kemudian, Alex mengajak temannya, Adit, sehingga total rombongan kami menjadi lima orang.

Kami memilih jalur Putri untuk pendakian ini. Jalur Putri dikenal cukup ramai dan menanjak terus menerus, tetapi kami siap menghadapi tantangan tersebut. Selama mendaki, saya berada di posisi paling belakang, tertinggal cukup jauh dari teman-teman. Meskipun demikian, saya memanfaatkan waktu tersebut untuk berkenalan dengan banyak pendaki lain yang saya temui di sepanjang jalan. Interaksi dengan pendaki-pendaki lain menambah warna dalam perjalanan ini dan memberikan kesempatan untuk berbagi cerita serta pengalaman.

Cuaca selama pendakian kurang bersahabat. Kami diguyur hujan deras yang membuat perjalanan semakin menantang. Saat kami akhirnya mencapai savana yang dikenal sebagai Alun-Alun Surya Kencana, kami segera mendirikan tenda. Hujan yang terus menerus turun membuat suhu di sekitar tenda sangat dingin, sehingga kami harus mengenakan jaket tebal untuk menghangatkan diri.

Meskipun kondisi cuaca yang kurang ideal, semangat kami tetap membara. Pada pukul 4 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede. Momen sunrise di puncak gunung ini sangat menakjubkan dan memuaskan. Kami dapat menikmati pemandangan matahari terbit yang spektakuler dari ketinggian, yang merupakan hadiah luar biasa setelah perjalanan yang melelahkan.

Di puncak, kami mendapati bahwa tempat tersebut cukup ramai, terutama karena akhir pekan libur. Meskipun keramaian sedikit mengurangi kesan eksklusif, kami tetap bersyukur bisa merasakan keindahan alam dan kebersamaan.

Secara keseluruhan, pendakian kali ini sangat memuaskan dan penuh makna. Saya merasa bersyukur bisa berbagi pengalaman ini dengan murid-murid dan teman-teman saya. Pengalaman mendaki gunung, terutama bersama Khaleed yang sudah saya anggap seperti adik sendiri, adalah salah satu kenangan berharga yang akan selalu saya hargai. Semoga perjalanan ini hanya menjadi awal dari banyak petualangan luar biasa lainnya di masa depan!

Tuesday, 7 June 2022

Warbiasaaaah ...
Satu kata untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Setelah melewati drama nggak bisa mudik tahun 2020 dan drama mudik disekat-sekat tahun 2021, akhirnya ... tara ...!!! tahun ini bisa mudik dengan tuma'ninah dan penuh kedamaian.

Seneng nggak? Seneng nggak? Seneng lah ... Masa Enggak ...

Kalian yang mudik pakek kendaraan pribadi, udah bisa banget lewat jalur mana aja. Nggak usah nyari jalan tikus buat menghindari penyekatan. Yang mau pakek kendaraan umum, yaaah ... ini agak ribet yeee buat kalian yang belum vaksin koronamaru. 

Fyi, kemaren tuh aku mudik naik kereta api. Karena aku baru vaksin dua kali, jadi aku harus ngasih hasil rappid tes ke petugas di stasiun. Tapi woles aja gess ... di tiap stasiun biasanya disiapin tempat buat rappid tes dan harganya mumer kok. Buat kelen yang udah vaksin tiga kali, nggak usah pakek rappid tes. Langsung pesen tiket, cusss berangkat.

Seminggu di rumah udah cukup buat ngobatin kangen sama keluarga. Apalagi buat aku yang nggak betahan banget duduk diam di rumah. Yang penting udah bisa pulang, pelukan sama keluarga, kangen-kangenan, pokoknya semua momen netes eluh cendol dawet udah dilakuin, ya berarti saatnya balik ke kenyataan hidup.

*ceritanya udah beres mudik
Beres mudik dari kampung, aku langsung balik ke Bogor untuk menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Wekaweka *sokSibuk.

Nah ... karena aku datang sebelum hari masuk, akhirnya aku memutuskan untuk main dulu ke rumah temen yang ada di Banten. Aku ngajak temenku satu lagi. Namanya Yudha.

Aku dan Yudha ke Banten naik motor.
Rumah temenku ada di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak. Padahal kalau di peta, Kabupaten Lebak dan Bogor itu bersebelahan. Dari Bogor ke arah barat, udah langsung masuk Kabupaten Lebak. Tapi ternyata ... Lebak itu GEDEEEEEEE BANGEEEEEET.

Cerita Selama di Perjalanan
Kami berangkat dari Bogor jam 10 pagi. Enggak sampe satu jam, kami udah masuk di Kabupaten Lebak. Awalnya kami pikir lokasi rumah temen kami tinggal beberapa menit lagi. Tapi ... kami salah fergusoooo! Wellcome to the jungle. Kami ternyata baru memulai perjalanan

Jam 11 siang kami mampir sebentar ke warung buat makan siang dan sholat jumat sekalian. Kami nggak tau itu daerah mana, because tempatnya di kampung tengah hutan.  Yuda beli bakso, sementara aku beli bakso yang lebih gede. *mumpung ditraktir, jadi nanggung kalau ngambil yang kecil.
Jam 4 sore kami sampai di rumah temenku, Adang.
Rumah dia deket banget sama pantai. Depan rumah udah jalan raya , dan habis jalan raya udah bisa nyemplung ke pantai. Enak banget, kan?

Setibanya di rumah Adang, kami istirahat sebentar buat nyenderin kaki yang selama tujuh jam ngelipet di atas motor.

Orangtua Adang baik banget sama kami. Segala makanan dan minuman di rumah langsung disuguhin buat kami. Mulai dari pisang goreng, tahu bulat, es jeruk, sampai khong guan isi rengginang pun disuguhkan. Alhamdulillah, semoga makin sehat ya mereka.

Meluncur ke Pantai
Awalnya, kami berniat main ke Pantai Sawarna. Namun, karena pantai Sawarna udah ramai bangeeeet, jadi kami belok ke pantai lain yang tak kalah indah, Pantai Pulomanuk namanya.

Eh bentar ... bentar !!!

Sebelum ke pantai, mampir dulu ke jembatan yang ada di Bayah ini.


Jembatan ini berada di jalan menuju Pantai Pulomanuk *kalau kita berangkat dari Kecamatan Panggarangan.

Mayan lah ... buat kalian yang kecapekan di jalan, bisa istirahat sebentar di jembatan ini. 

Eits ... 

jembatan ini bukan buat tempat wisata ya. Tapi kalau buat ngelurusin kaki sebentar, bisa lah. Asalkan naruh motornya aman dan nggak di pinggir jalan, gaskeeuuun.

Sambil istirahat bentar, kita bisa menikmati hijaunya pepohonan dan pegunungan di tepi pantai, juga sambil menikmati para nelayan yang akan berlayar. Syahdu nggak tuh?? Syahdu lah ... masa enggak.

Dari jembatan tersebut, jarak ke Pantai Pulomanuk kurang lebih 5 menit dengan mengendarai motor.
Jalan menuju pantai banyak lubangnya loh. Jadi harus berhati-hati. Nek ngebut yooo ajor juuuum ...!!!

Meski melewati jalan yang grojal-grajul, tapi semua itu akan terbayar kontan dengan indahnya Pantai Pulomanuk.

Eng ... anu ...

Sebenernya kalau menurut aku, Pantai Pulomanuk nggak secantik pantai-pantai lain yang lebih terkenal kayak Parangtritis, Pantai Pangandaran, dan beberapa pantai selatan lainnya. 

Tapi bentar dulu deh ... 

buat kalian yang suka kedamaian, maka Pantai Pulomanuk adalah jawaban terbaik untuk itu.

Damai bukan berarti sepi loh ya. Damai yang aku maksud  adalah tenang., enggak seramai pantai wisata lainnya. Jadi meskipun sepi, kalian nggak usah takut sama penjahat. Karena dijamin ... keamanannya full service, gaes! Malahan plus plus!
Pantai Pulomanuk terletak berdekatan dengan pabrik yang akhrinya ketika di foto berasa kayak ala-ala luar negeri. Muehehehe.

Oh iya, ngomong-ngomong, harga tiket masuk ke Pantai Pulomanuk Rp5.000. Belum termasuk parkir. Nah ... biasanya kalau ada penjaga nakal, akan dikasih harga yang lebih tinggi.

Terlepas dari hal itu, Pantai Pulomanuk tetaplah recomended  banget.

Monday, 31 May 2021


Seperti yang sudah aku tulis di postingan sebelumnya, bahwa Semarang adalah kota yang dipenuhi dengan tempat wisata. Mulai dari wisata laut, gunung, museum, semuanya ada di Semarang.

Salah satu wisata terkenal yang ada di Kota Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong. 


Mengenal Sam Poo Kong
Sam Poo Kong  merupakan tempat persinggahan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Laksamana Cheng Ho.

Pada abad ke-15, Laksamana Ceng Ho sedang melakukan pelayaran dengan tujuan  untuk menyusuri lautan jawa dan berakhir hingga di sebuah semenanjung. Namun sayangnya, banyak awak kapal yang menderita sakit. Karena hal itu, Laksamana Ceng Ho meminta nahkoda untuk menepikan kapal dan melakukan pendaratan.


Lokasi Sam Poo Kong
Sam Poo Kong berlokasi di Jalan Simongan, Bongasari, Kota Semarang.

Untuk menuju ke Sam Poo Kong, kita bisa menaiki bus Trans Semarang (atau orang Semarang biasa menyebut Bis BRT). Biayanya hanya Rp3.500 untuk warga umum, dan Rp1.000 untuk pelajar. Murah banget, kan?

Namun jika ingin memakai kendaraan pribadi, jarak dari Stasiun Tawang kurang lebih hanya 6 km. Rutenya adalah melalui jalan pemuda, kemudian menuju Jalan Merak dan Jalan Branjangan, lalu ke arah Jalan Letjen Suprapto.


Biaya masuk Sam Poo Kong
Biaya masuk ke Sam Po Kong ini hanya 8ribu rupiah saja. Tetapi, kalau ingin menjelajah seluruh kawasan ini maka Anda akan dikenakan tiket terusan sebesar 28ribu rupiah.


Sam Poo Kong Menurutku
Klenteng Sam Poo Kong didominasi oleh warna merah, dimana warna ini merupakan warna yang sangat terang. Melambangkan ketegasan dan keberanian.

Saat menyusuri tiap sudut di Sam Poo Kong, aku berasa sedang berada di negara Cina. Mulai dari desain bangunannya, warna, sampai suasana lingkungan yang ada benar-benar seperti di Cina.

Karena Sam Poo Kong berada dekat dengan jalan raya, wisata ini akhirnya jadi ramai oleh pengunjung. Tentu saja, buatku yang kurang suka keramaian di tempat wisata, hal ini kurang menyenangkan. Namun, beda orang, beda perasaan. Hehehe.

Sunday, 23 May 2021

Sekilas Tentang Semarang.
Ngomongin Semarang emang nggak akan pernah ada habisnya. Kota yang dijuluki sebagai Kota Atlas ini ternyata memiliki beribu lokasi wisata yang sayang banget untuk dilewatkan. Mulai dari wisata pantai, gunung, danau, wisata gedung, wisata edukasi, wisata kuliner, semuanya sudah pasti ada di Semarang.

Ngomong-ngomong, udah tau apa belum, kenapa Semarang dijuluki sebagai Kota Atlas?

Julukan ini digencarkan pada masa pemerintahan Muhammad Ismail saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Atlas ternyata merupakan singkatan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat. Tentu saja, julukan itu sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Semarang yang 'ATLAS' banget.

Tak hanya sebagai kota atlas, Semarang pun pernah mendapat julukan sebagai Port of Java. Semarang mendapat julukan tersebut karena pada zaman dahulu, kota ini merupakan salah satu pelabuhan paling penting yang ada di Pulau Jawa. Pelabuhan umum di Semarang yang cukup terkenal sampai saat ini adalah Pelabuhan Tanjung Mas yang berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara.

Selain Pelabuhan, di Semarang juga terdapat bandara internasional yang cukup terkenal juga, yakni Bandara Ahmad Yani. Nah ... tak jauh dari bandara tersebut, ada sebuah tempat wisata yang lagi ngetrend saat ini, yaitu Hutan Mangrove.

Hutan Mangrove Semarang
Hutan Mangrove berada di dekat Pantai Maroon Semarang. Lokasinya di Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Hutan Mangrove Semarang sudah sangat viral lima tahunan terakhir ini. 

Tempat wisata ini memilik pemandangan yang sangat menarik, yakni pohon-pohon bakau yang hijau dan segar untuk dipandang.

Rute Menuju Hutan Mangrove
Rute menuju Hutan Mangrove adalah melalui bandara internasional Ahmad Yani. Selain karena yang paling mudah, wilayah ini tentu saja yang paling terkenal.

Dari bandara, kemudian masuk ke pos pintu masuk untuk umum, kemudian menuju area parkir motor yang ada di bandara. Lalu ikuti jalan aspal yang berada di samping parkir motor tersebut hingga berhadapan dengan rel kereta.

Mulai area tersebut, kita bisa mengikuti papan penunjuk jalan menuju Hutan Mangrove atau Pantai Maroon.

Jadi, setelah memanjakan mata di Hutan Mangrove, kita juga bisa melihat birunya Pantai Maroon Semarang.

Jalan menuju lokasi adalah tanah pasir dan bergelombang. Kalau lagi hujan, biasanya akan becek 'buanget'.

View Menarik di Hutan Mangrove
Berada di dekat bandara Internasional Ahmad Yani, membuat hutan mangrove sering dilintasi pesawat terbang. Bila bisa mengambil gambar dengan tepat, kita bisa mengambil gambar pesawat yang lagi terbang. Tentu saja, ini jadi daya tarik sendiri bagi pengunjung, terutama yang punya hobi berfoto.





Tiket Masuk ke Wisata Hutan Mangrove
Biaya yang harus dikeluarkan untuk memasuki area Hutan Mangrove hanya Rp5.000. Namun kemudian kita juga akan dapat tiket untuk parkir kendaraan sesuai dengan jenisnya. Saat itu, untuk motor, biaya parkirnya adalah Rp5.000. 

Yang ada di Hutan Mangrove
Dengan biaya masuk tersebut, kira-kira apa saja yang bisa kita dapatkan selama berwisata ke Hutan Mangrove Semarang?

Tentu saja, yang utama adalah kita bisa memanjakan mata dengan hijaunya tumbuhan bakau disana.

Setiap sudut tempat, sangat bagus untuk diabadikan, karena areanya sangat instragamable. Tak hanya tumbuhan bakau saja yang bisa kita lihat, kita juga bisa naik perahu yang telah disediakan oleh pengelola (tapi pada saat saya berkunjung, sayangnya udah penuh. Jadi nggak bisa naik :D)




Di lokasi wisata, terdapat tangga yang bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari tangga tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan dengan lebih luas.

Monday, 17 May 2021

Mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama bagi yang pernah melakukannya berulang kali. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pendakian. Mulai dari persiapan materi, fisik, waktu, bahkan mental.

Fisik dan mental adalah hal paling penting yang harus disiapkan. Sebab, ketika di gunung, bukan hanya badan kita yang diuji, namun juga hati.

Ada banyak ujian mental yang akan datang selama mendaki. Seberapa egois kita, akan diuji saat melakukan pendakian. Kemampuan memilih mana yang baik dan tidak baik pun akan teruji.

Nah, bagi pendaki pemula, sangat penting memahami segala hal yang berkaitan tentang pendakian. Kira-kira, apa saja yang harus diketahui bagi para pendaki pemula sebelum melakukan pendakian? Berikut ini akan saya tulis beberapa hal yang harus disiapkan. Tentu saja ini berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Memahami Kemampuan Diri
Sangat penting bagi para pendaki pemula untuk memahami kemampuan diri. Dengan memahami kemampuan diri, pendaki pemula bisa mempersiapkan diri dengan berlatih agar kemampuan meningkat.

Apabila kondisi fisik masih belum siap dengan tantangan yang berat, maka jangan pernah memaksa diri untuk tetap melakukan pendakian.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan pendaki pemula untuk bisa meningkatkan kemampuan. Salah satunya adalah dengan berolahraga secara rutin. Tidak perlu olahraga berat, yang penting rutin.

Selain melatih kemampuan fisik, kemampuan mental juga perlu dilatih. Apabila masih memiliki sifat egois yang tinggi, maka jangan harap dapat melakukan pendakian dengan lancar.

Untuk meningkatkan kemampuan mental ini, maka kita bisa berlatih dengan meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan. Selama pendakian, kerja sama tim adalah resep paling penting yang harus ada dalam perjalanan.


2. Cari Teman yang Memahami Dunia Pendakian
Pertama kali saya ikut dalam pendakian, saya bergabung dengan teman yang sudah paham dengan dunia mendaki. Sebut saja namanya Satria. Satri sudah lima kali mendaki sebelumnya. Maka dari itu, saya bisa dengan leluasa bertanya seputar pendakian kepadanya.

Selain itu, mereka yang telah memahami dunia pendakian, biasanya dengan tangan terbuka akan membantu kita apabila mengalami kendala dan kesusahan selama pendakian.

3. Ajak Teman yang Juga Pendaki Pemula
Bagian ketiga ini sebenarnya nggak terlalu penting banget sih. Tapi ternyata sangat berpengaruh. 

Setidaknya harus ada teman mendaki kita yang juga masuk dalam kategori pemula. Sebab kalau hanya ada satu pendaki pemula di sebuah tim, biasanya dia akan 'sungkan' untuk meminta bantuan. 

Harus diketahui, perasaan dan sifat manusia biasanya akan berubah ketika mendaki gunung. Yang biasanya nggak pernah malu, bisa saja akan tetiba berubah jadi pemalu. Begitu juga sebaliknya. 

4. Memahami Bahwa Mendaki Berbeda dengan Kemah Wisata
Banyak pendaki pemula yang beranggapan bahwa mendaki itu sama seperti berkemah wisata. Padahal itu salah besar.

Kemah wisata adalah kegiatan berkemah yang dilakukan di tempat wisata. Ini biasanya diadakan oleh sekolah untuk para siswa. Kalau kemah wisata, kita bisa bebas membawa jumlah baju berapapun sesuai dengan ketentuan. Ini tentunya sangat berbeda dengan mendaki.

Saat mendaki gunung, memang ada kegiatan berkemah dan bermalam. Namun, kondisi lingkungan tempat berkemah saat mendaki tidak bisa diprediksi. Ada kalanya cerah, ada kalanya hujan deras.

Pada pendakian pertama saya, saya belum mehami perbedaan di atas. Akhirnya, saya kemudian membawa lima pasang pakaian. Khawatir pakaian yang dipakai akan basah. Namun ternyata, selama di medan, kita biasanya hanya akan pakai satu setel pakaian saja sampai turun, atau mungkin dua pakaian jika memang sempat mandi. Sisa pakaian yang saya bawa pun sia-sia. Malah itu hanya menjadi beban selama mendaki. Pundak makin sakit, sementara yang dibawa tidak terpakai.

5. Jangan Jadikan Puncak Sebagai Tujuan Utama
Mencapai puncak gunung adalah impian terbesar bagi para pendaki. Namun jangan sampai itu menjadi tujuan utama. Tujuan utama mendaki gunung adalah mencintai alam dan juga melatih kemampuan diri. Puncak hanyalah bonus saja.

Kalau puncak gunung sudah menjadi tujuan utama, maka biasanya hal lain yang jauh lebih penting akan dikesampingkan. Misalnya cuaca dan juga medan.

Kadang kala ketika cuaca sedang tidak baik, bagi pendaki yang memili tujuan utama puncak, akan mengabaikan keadaan ini. Atau ketika sedang ada longsor di tengah jalan, sudah pasti akan dianggap biasa saja dan dengan gampangnya diabaikan.

Tujuan terakhir bagi pendaki adalah sampai kembali dengan selamat, dengan membawa cerita yang mengesankan.


Nah, Teman-teman, selain lima tips di atas, ada satu tips terakhir yang harus dilakukan, yakni berdoa kepada Allah agar selama perjalanan diberikan keselamatan.

Tetap semangat, mari cintai alam kita. Jangan lupa tetap patuh dengan protokol kesehatan ya ^_^