Showing posts with label wisata lain. Show all posts
Showing posts with label wisata lain. Show all posts

Sunday, 3 November 2024

Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


Thursday, 17 October 2024

   


Basa-Basi Dulu
Perjalanan kali ini kayaknya jadi perjalanan paling melelahkan buatku. Nggak kayak tahun sebelumnya, mudik mengendarai motor kali ini sungguh terasa melelahkan. Entah itu disebabkan karena berat badanku yang mulai naik, atau karena tulang-tulangku yang sudah mulai menua. Rasanya perjalanan panjang kali ini kerasa beraaaaat banget. *lebay

Tanggal 19 kemarin, aku memutuskan untuk balik ke Bogor. Kali ini aku balik ke Bogor mengendarai motor dari Jombang. Sebenernya waktu rundingan sama teman-teman buat mudik naik motor, aku antara setuju dan tidak. Soalnya pas dibayangin, kayaknya tuh rasanya bakal capek banget. Tapi kalau dipikir-pikir, naik motor tuh seru juga. Akhirnya, kita ketok palu, mudik kali ini kita naik motor!

Sebenarnya, pemerintah udah ngeluarin aturan tentang larangan mudik. Tapi, anu, kita kayaknya masih belum bisa jadi warga negara yang baik, deh. Bukan berarti juga kita nggak sayang sama keluarga, tapi insyaAllah, kita udah memastikan kalau kita udah bebas dari virus. Soalnya, kita pun sebelumnya juga udah swab test. *ke depannya mah kita serahin sama Allah.

Perjalanan Jombang-Bogor
Aku berangkat dari Jombang bareng sama temanku menuju ke Batang. Di Batang, kami menemui teman kami yang tinggal di sana, kemudian kami berangkat bertiga menuju Bogor.

Perjalanan dari Jombang menuju Batang kurang lebih menghabiskan waktu 8 jam. Kami memilih rute pantura, yakni dari Jombang, menuju Lamongan, kemudian ke Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, kemudian Batang.

Sebenarnya ada jalur yang lebih dekat, yakni lewat jalur tengah, melalui Nganjuk, Madiun, Solo, Semarang, lanjut Batang. Namun rasanya jiwa jalan-jalan kami meronta-ronta, jadi lah, kami kemudian memilih jalur panjang.

Perjalanan ini membuat tulang ekorku terasa sakit. Semua badan seperti diremas-remas. Entah karena apa itu, padahal kami pun sering berhenti untuk istirahat.

Memutuskan Bermalam di Cirebon
Pukul 23.00 WIB, kami tiba di Kabupaten Cirebon, wilayah pertama yang menyapa saat mulai memasuki Provinsi Jawa Barat. Kami kemudian memutuskan untuk bermalam di Cirebon saja.

Biasanya, kami menginap di SPBU, masjid, kantor polisi, atau supermarket (yang sudah tutup). Namun entah kenapa tadi semua badan capek banget. Rasanya kepengin nempel di kasur. Apalagi, kami juga bawa tiga buah laptop. Khawatir terjadi apa-apa kalau bermalam di keramaian, akhirnya kami iseng cari penginapan murah di wilayah Cirebon.

Nah, awal mulanya, aku nggak paham gimana caranya cari penginapan. Akhirnya, aku googling pakai kata kunci 'Penginapan Murah Terdekat', Eh ... dapet dong! Sengaja pakai kata 'murah', biar lebih hemat. Hahaha.

Pas pertama buka web-nya, ada banyak banget tulisan yang bikin bingung. Single bed itu apa, double itu apa, terus ada simbol ini, simbol itu.

Akhirnya, sambil cari hotel, aku sekalian belajar maksud dari tulisan-tulisan itu. Oh ... ternyata single bed itu kasur yang ukurannya cuma buat satu orang. Kalau double bed, itu satu kasur yang bisa dipakai buat dua orang.

Terus ada tulisan 'PARKIR', ini maksudnya apa sih? Parkir gratis, atau disediakan tempat parkir?

Dapat Tempat Penginapan Sesuai Harapan
Setelah googling, akhirnya muncul beberapa pilihan. Kami kemudian diskusi panjang lebar dan akhirnya ada satu hotel yang menarik perhatian kami. Namanya adalah The Lima Guest House Syariah. Alasan kami memilihnya adalah :

1. Harganya murah
2. Jaraknya sangat dekat dari Pantura
3. Fasilitasnya banyak

Tiga hal itu pun jadi alasan kuat kami untuk memilih tempat tersebut. Jarak dari pantura kurang lebih 3 km. Cukup dekat. Hanya butuh waktu 5 menit untuk menjangkau lokasi. Lokasinya berada di  Jl. Rajawali Timur II No.15 Larangan, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon Jawa Barat. Bagi kami yang udah capek dan ngantuk banget, tentu saja ini sangat menarik.


Harga untuk satu kamarnya adalah Rp109.000, di mana dalam satu kamar itu ada dua kasur. Satu kasur adalah single bed, dan satunya lagi adalah double bed. Ini sesuai harapan kami, karena kami kan bertiga. Dari harga tersebut, aku dan teman-teman udah dapat fasilitas yang menurutku bagus banget.


Ternyata, di The Lima GH Syariah ini disediakan tempat parkir dan gratis. Tentu saja ini membuat hati kami tenang. Apalagi kami bawa oleh-oleh banyak dari kampung. Kalau motor diparkir di luar dan tanpa dipantau, bisa lari kemana oleh-oleh itu?


Oh iya, untungnya hotel ini melayani tamu selama 24 jam. Jadi, karena kami datang tepat jam 12 malam, mereka tetap melayani kami dengan ramah.


Bagi para perokok tak perlu cemas. The Lima GS Syariah menyediakan ruang khusus bagi perokok. Jadi bagi yang merokok, ada ruang tersendiri. Sehingga, mereka yang tidak merokok dapat tetap terjaga dari asap rokok.


Meski harganya murah, namun fasilitas di hotel ini nggak murahan loh. Kamarnya bersih banget, ada Wifi gratis, TV, kamar mandi yang bersih, dan tentu saja AC. 

Pas mau ke kamar mandi, ternyata di hotel tuh disediain sandal juga ya. Sayangnya nggak bisa dibawa pulang sih.


Nah ... gimana gaes? Udah tertarik buat nginap di The Lima Guest House, belum? Kalau kamu lagi mudik lewat pantura, cobain mampir deh. Pasti mimpi tidur kalian bakal nyenyak.

  

Lebaran merupakan momen paling berharga untuk bisa berkumpul bersama orang-orang tersayang. Entah itu keluarga, sahabat, atau bahkan musuh. Ha? Musuh? Hehe, iya dong ... kan momen bermaaf-maafan juga.

Lebaran kemarin, aku memanfaatkan waktu untuk bisa berkumpul bersama teman-teman di Semarang. Sebenernya bukan waktu lebaran banget, sih. Kami kumpul beberapa hari sebelum lebaran, jadi masih bulan puasa.

Pukul dua dini hari aku sampai di Semarang. Ata, salah seorang teman di sana, menjemputku di Stasiun Poncol. Kami pun bergegas menuju kosnya. Sambil mencari makan sahur di tengah jalan, aku menghubungi teman-teman untuk mengajak mereka jalan-jalan esok hari. Tampaknya, mereka memang sudah menungguku karena ingin mengajak jalan-jalan juga.


Pukul 1 siang, kami berkumpul di musala yang tak jauh dari kos Ata. Ternyata sudah banyak anak di sana. Ada Anwar, Novita, Danu, dan Tria. Hanya mereka yang tersisa karena yang lain sudah mulai mudik ke kampung halaman masing-masing. Oh iya, ngomong-omong mereka adalah teman kuliahku dulu.

Baiklah, tempat tujuan kami siang itu adalah Kebun Teh Medini. Jaraknya kurang lebih 50 km dari Kota Semarang. Kebun Teh Medini berada di kaki Gunung Ungaran sebelah utara, tepatnya di daerah Limbangan, Kabupaten Kendal.

Rute Menuju Kebun Teh Medini
Dari kota Semarang, kami kendarai motor menuju arah Boja, Kabupaten Kendal. Ada pertigaan sebelum masuk Pasar Boja. Kami mengambil yang kiri. Ada banyak petunjuk jalan menuju arah Medini.

Jalan menuju Medini sangat mengerikan. Jalanannya tak semulus wajah yang diolesi skincare. Oh iya ... karena Medini berada di area pegunungan, jadi kami melewati jalan yang naik turun. Ya ... begitulah kehidupan. Sesekali kami harus menuntun motor karena tanjakan yang terlalu curam.
Makin menuju ke daerah Limbangan, jalanan yang kami lewati makin tidak mulus. Kondisi seperti ini kurang lebih kami tempuh selama 40 menit. Tapi, meski cukup lama, rasa lelah terbayar dengan pemandangan yang kami lihat. Di tengah jalan, kami bertemu dengan rumah kayu yang bagus banget buat diambil gambar.
Aku kira, Kebun Teh Medini berada di dekat tempat itu. Tapi ternyata .... masih jauh banget! Perjuangan belum selesai. Kami masih harus melewati jalanan menanjak dan sempit.

Nah ... jika sudah mulai melihat perkebunan teh, artinya tujuan sudah di depan mata. Langkah selanjutnya adalah mencari gerbang masuk dan parkir.

Tiket Masuk
Banyak yang bilang, berkunjung ke Kebun Teh Medini itu gratis. Tetapi waktu itu kami melewati pintu masuk dan diminta bayar tiket seharga Rp2.500 untuk per orangnya.

Luas Kebun Teh Medini adalah 386 hektare. Sangat cukup kalau ada yang mau bangun istana di atas kebun teh. Aroma harum sangat tercium saat berada di dalam area pepohonan teh.
Nah ... gimana teman-teman? Kira-kira kapan kalian mau datang ke Kebun Teh Medini? Lumayan loh, *bikin capek.

  


Selepas waktu magrib, aku keluar sebentar untuk mencari cemilan ke supermarket. Eh ... tiba-tiba mulut pengin ketawa aja pas lihat ada minyak goreng mereknya 'Sovia'. Oh ... ternyata Sovia itu minyak goreng ya? pantesan kok dia jago banget menggoreng hatiku. Ea .... #apaanSih! 


Nah, sepulang beli cemilan, Karim tiba-tiba mengajak kami untuk jalan-jalan ke Kota Lama. What? Kan besok aku balik Bogor! uangku makin nipis dong! Sejurus kemudian aku mencari informasi mengenai biaya masuk ke Kota Lama. 

Asik ... ternyata gratis! cuma perlu bayar buat parkir motor. Santuy ... paling juga enggak sampai 10.000, kan? ehehehe. Langsung saja, Ata mengajak Burhan, teman kosnya, untuk ikut.

Oke ... sekarang kita kenalan dulu sama teman-temanku.


Dari yang paling kiri, dengan senyum yang paling lebar, namanya Karim. Geser ke kanan, yang pakai kaca mata bernama Tria. Sedangkan cowok berkemeja yang katanya mirip Azof Rangga bernama Burhan. Sebelahnya lagi yang paling imut bernama Ata.

Aku heran kenapa Karim mengajak kami ke Kota Lama. Padahal, masih banyak tempat di sekitar kos yang bisa dikunjungi. Warung kopi misalnya. Ehehehe, kan bisa sekalian ngobrol sambil ngisi perut.


Kawasan Kota Lama Semarang berada di Jalan Gelatik No. 35, Purwodinatan, Kecamatan semarang tengah, Kota Semarang, jawa Tengah. Lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Tawang dan tak begitu jauh dari Stasiun Poncol.


Dari Stasiun Tawang, Kota Lama hanya berjarak sekitar 1,5 km. Jarak segitu sih ... kalau mau hemat, bisa jalan kaki saja. Iya, kan?


Hem ... sebenarnya, di Semarang juga sudah ada Bus Trans atau yang lebih dikenal dengan nama BRT. Hanya dengan Rp3.500 saja, kita sudah bisa berkeliling Semarang. Nah, dari mana pun arahnya, kita bisa  naik BRT, lalu bilang ke kondektur kalau mau ke Kota Lama. Beres!


Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, sebelum berangkat menuju Kota Lama, aku browsing terlebih dahulu untuk melihat harga tiket. Ternyata yang dikatakan oleh Mbah Gugel memang benar, masuk Kota Lama GRATIS.

Meskipun biaya masuknya gratis, namun kita masih dibebankan untuk bayar parkir. Hehehe.



Menyusuri setiap sudut di Kota Lama, kita berasa sedang hidup di masa lalu dan merasakan suasana Kota Semarang pada zaman dulu. 

Selama 24 jam, Kawasan Kota Lama tak pernah sepi dengan pengunjung. Ini membuktikan bahwa ternyata masih banyak masyarakat yang mencintai sejarah (meskipun hanya untuk berfoto). Beberapa komunitas juga selalu hadir untuk meramaikan kawasan Kota Lama. Mulai dari komunitas pecinta anime, komunitas cosplay, komunitas musik, hingga komunitas literasi, mereka tak pernah absen meramaikan kota lama.


Kawasan Kota Lama memiliki luas +30
  hektare. Pada abad 19-20, kawasan ini menjadi pusat perdagangan. Kawasan Kota Lama memiliki banyak perbedaan dengan lingkungan di sekitarnya, sehingga akan terlihat sekali perbedaan suasana Semarang tempo dulu dengan masa kini.

Salah satu ikon Kota Lama adalah GPIB Immanuel Semarang atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Gereja Blenduk merupakan Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda  pada tahun 1753, dengan bentuk oktagonal.


Setiap sudut di Kota Lama sebenarnya sangat keren untuk diambil gambar.  Berasa klasik banget. 


Nah ... bagaimana? sudahkah kalian berkunjung ke Kota Lama Semarang? Buka 24 jam loh! sayang banget kalau enggak dikunjungi. Ehehehe.

Wednesday, 18 September 2024

Saya adalah seorang pendamping santri di pesantren, dan pada tanggal 8 Mei, saya mendampingi santri kelas 7 untuk melaksanakan rihlah. Kali ini, para santri sangat antusias dan meminta agar rihlah dilaksanakan dalam bentuk camping. Tentu saja, saya sangat senang dengan ide ini! Setelah berpikir keras dan mencari ke sana ke sini referensi tempat camping, akhirnya saya memutuskan memilih tempat MOZAKKA yang berada di Cigudeg. Tempat ini saya pilih karena tidak terlalu berbahaya untuk anak-anak santri kelas 7.


Dalam perjalanan ini, saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh pengurus pesantren lainnya, yaitu Kak Aslam, Bang Jalu, dan Kak Adnan. Selain mereka, ada juga salah satu santri kelas 11 bernama Khaleed yang akan membantu mendampingi kegiatan kami. Kami semua siap untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para santri.


Kami berangkat dari pondok sekitar jam 5 sore. Perjalanan terasa menyenangkan, dan kami tiba di Mozakka menjelang maghrib. Para santri naik angkot sewaan menuju lokasi rihlah, sementara saya dan Kak Aslam menyusul dengan mengendarai motor. Sesampainya di lokasi, suasana sudah mulai gelap, tetapi semangat para santri tak terbendung.



Begitu sampai, para santri langsung bergerak cepat untuk mendirikan tenda yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka bekerja sama dengan ceria, dan rasa kekeluargaan mulai terasa. Setelah sholat Isya, kami mengadakan acara bakar-bakar sosis dan makanan lainnya. Suara tawa dan ceria memenuhi malam itu, dan saya bisa melihat betapa senangnya mereka bisa camping dan menambah ikatan satu sama lain.


Menjelang jam 10 malam, kami semua beristirahat dan tidur di dalam tenda. Suasana malam di Mozakka sangat tenang, hanya terdengar suara alam yang menenangkan. Setelah sholat Subuh, saya mengajak para santri untuk jalan-jalan di sekitar Mozakka yang dikelilingi pohon sawit yang tinggi. Pagi itu, segar sekali! Para santri tampak antusias, merasakan udara segar dan pemandangan yang menakjubkan.


Setelah jalan pagi yang menyegarkan, kami menuju kolam renang yang ada di Mozakka. Selain area camping, tempat ini juga memiliki kolam renang dengan suasana yang masih asri. Para santri sangat senang bisa berenang dan bermain air, menambah keseruan rihlah kali ini. Tawa dan teriakan bahagia mereka menggema di sekeliling kami.



Pukul 10 pagi, kami mulai berkemas untuk kembali ke pondok. Dengan hati yang penuh kenangan indah, kami bersiap pulang. Para santri tampak puas dengan rihlah kali ini, wajah mereka bersinar dengan kebahagiaan. Melihat mereka senang adalah hadiah terindah bagi saya. Rihlah ini bukan hanya tentang perjalanan, tetapi juga tentang ikatan yang semakin kuat di antara kami.

Monday, 27 May 2024

  

Sabtu, 25 November 2023 aku mendapatkan tugas dari pondok untuk menemani santri SMP jalan-jalan, kami menyebutnya rihlah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tiap tiga bulan sekali bagi para santri untuk jalan-jalan. Kali ini, destinasi yang dituju adalah Kebun Raya Bogor.

Aku ditemani oleh Jalu, Pohan, dan Aslam untuk mendampingi santri SMP.

Lokasi Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor (KRB) terletak di Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Lokasi ini sangat dekat dengan Stasiun Bogor Kota. 

Kebun Raya yang berdiri sejak 1817 ini memiliki 4 buah gerbang masuk yang ada di 4 penjuru mata angin, Utara, Timur, Selatan, Barat.

Pintu utara, Letaknya berada di sebelah Utara tepatnya di ujung Jalan Juanda. Lokasinya tepat di pertigaan pertemuan jalan tersebut dengan Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan Suryakencana. Bagi yang membawa kendaraan, pintu utara adalah pilihan yang tepat untuk masuk ke KRB.

Pintu 2 Kebun Raya Bogor terletak di sebelah Barat, masih di Jalan Juanda Bogor. Letaknya berada di samping Kantor Pos Bogor yang juga sebuah cagar budaya.

Pintu ketiga Terletak di seberang Taman Perlintasan Bogor, di pertemuan antara Jalan Pajajaran dengan Jalan Jalak Harupat. Pintu ini buka Senin hingga Minggu bagi pengunjung yang berjalan kaki.

Pintu keempat Letaknya di Jalan Pajajaran dan berseberangan dengan Kampus IPB Baranangsiang. Lokasinya dekat dengan Tugu Kujang.

Selain itu, pintu ini juga terhubung dengan Terowongan Penyeberangan Orang yang melintasi Jalan Pajajaran di bagian bawah. Pintu 4 adalah Pintu Khusus Pejalan Kaki.

Harga Tiket Masuk
Karena waktu itu kami berkunjung ke KRB pada hari weekend, maka kami dikenakan tiket seharga Rp25.500. Jika di hari biasa, harga tiket hanya sebesar Rp15.500.

Harga tiket tersebut sudah bisa digunakan untuk mengelilingi semua yang ada di dalam KRB, kecuali museum zoologi.

Di dalam Kebun Raya Bogor terdapat banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi.

Salah satu spot foto menarik di KRB tentu saja adalah Istana Presiden. Bangunan yang khas menjadikannya sebagai salah satu spot andalan pengunjung Kebun Raya Bogor.

Selain spot istana presiden, ada tempat namanya Taman Aquatik. Banyak area estetik yang instagramable di taman ini.
Tak jauh dari taman aquatik, ada taman meksiko yang akan menyambut para pengunjung. Di taman meksiko ini, terdapat pepohonan kaktus yang banyak, yang membuat pengunjung berasa seperti di Meksiko. *entahlah, belum pernah kesana juga :')
Yarla Stable adalah tempat latihan berkuda yang berada di Cicadas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Kamis (15/02/24), TK Cita Mandiri Bogor menawariku untuk menjadi pendamping kegiatan anak-anak TK berlatih kuda di Yarla Stable.

Ibu Echa, selaku kepala sekolah memintaku untuk tiba di sekolah pada pukul 07.00 WIB. Namun karena berbagai kendala, aku baru tiba di TK Cita Mandiri pukul 07.30 WIB. Pada agenda kali ini, aku mengajak salah satu santri bernama Khaleed. Hahaha ... Khaleed lagi sih yang diajak.
Khaleed kali ini kuajak karena dia bisa mengemudi mobil, jadilah perjalanan kali ini dinahkodai olehnya. Selain itu, kuajak Khaleed karena memang dia sangat mudah dikasih arahan.

Setibanya di TK Cita Mandiri, kami langsung memulai perjalanan.

Ciampea merupakan kecamatan yang bersebelahan dengan Dramaga, tempat kampus IPB University.

"Om Guru, nanti aku mau berkuda sambil lari-lari kudanya," ucap salah seorang siswa TK yang menyambut kegiatan dengan riang gembira.

Senyum ramah pengelola menyambut kedatangan kami saat memasuki pintu gerbang Yarla Stable. Suasana sejuk terasa, meski pagi itu matahari bersinar sempurna. Sejumlah anak-anak dan orang dewasa sedang menyimak serius penjelasan instruktur pelatihan berkuda di pinggir lapangan.

Di Yarla Stable, katanya, tidak dipatok biaya tertentu untuk belajar berkuda. Peserta cukup membayar infaq pemeliharaan semampunya. Untuk sampai mahir berkuda, biasanya dibutuhkan 15 kali pertemuan praktik, begitu ucap pengelola di sana.
Saat memasuki area Yarla Stable, kami disambut oleh pengelola, "Silakan menunggu dulu ya pak," begitu ucapnya.

Kami pun menunggu di warung tak jauh dari lapangan tempat latihan berkuda. Selain kami, ada beberapa siswa sekolah lain yang sedang menanti giliran untuk latihan berkuda.

Anak-anak TK bergiliran untuk dapat menaiki kuda, karena kebetulan kami mendapatkan jatah 3 ekor kuda untuk digunakan berlatih. Sebenarnya kami ke sana bukan untuk berlatih sampai mahir, melainkan hanya untuk menyenangkan anak-anak yang merupakan agenda bulanan TK Cita Mandiri.
Oh iya, Bagi yang sudah mahir dan selesai menjalani program pelatihan, jika ingin berkuda, Yarla Satble mematok biaya tergantung durasi. Berkisar antara Rp50 ribu dan Rp250 ribu. Untuk paket berkuda di alam bebas, menyusuri perkampungan ataupun jalan umum selama sejam lebih, penyewa cukup merogoh kocek Rp250 ribu. Penyewa biasanya ditemani oleh instruktur agar mudah ditangani jika ada masalah selama menempuh rute berkuda.
Setelah hampir beberapa jam menghabiskan waktu di sana, kami pun mengkhiri agenda berkuda tersebut dan segera kembali ke TK Cita Mandiri.

Hore ... anak-anak cukup senang dan banyak cerita pada kegiatan tersebut.
Oh iya, buat teman-teman yang mau mengunjungi Yarla Stable, bisa booking melalui instagramnya langsung ya @yarlastable@yarlastable .

Monday, 31 May 2021


Seperti yang sudah aku tulis di postingan sebelumnya, bahwa Semarang adalah kota yang dipenuhi dengan tempat wisata. Mulai dari wisata laut, gunung, museum, semuanya ada di Semarang.

Salah satu wisata terkenal yang ada di Kota Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong. 


Mengenal Sam Poo Kong
Sam Poo Kong  merupakan tempat persinggahan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Laksamana Cheng Ho.

Pada abad ke-15, Laksamana Ceng Ho sedang melakukan pelayaran dengan tujuan  untuk menyusuri lautan jawa dan berakhir hingga di sebuah semenanjung. Namun sayangnya, banyak awak kapal yang menderita sakit. Karena hal itu, Laksamana Ceng Ho meminta nahkoda untuk menepikan kapal dan melakukan pendaratan.


Lokasi Sam Poo Kong
Sam Poo Kong berlokasi di Jalan Simongan, Bongasari, Kota Semarang.

Untuk menuju ke Sam Poo Kong, kita bisa menaiki bus Trans Semarang (atau orang Semarang biasa menyebut Bis BRT). Biayanya hanya Rp3.500 untuk warga umum, dan Rp1.000 untuk pelajar. Murah banget, kan?

Namun jika ingin memakai kendaraan pribadi, jarak dari Stasiun Tawang kurang lebih hanya 6 km. Rutenya adalah melalui jalan pemuda, kemudian menuju Jalan Merak dan Jalan Branjangan, lalu ke arah Jalan Letjen Suprapto.


Biaya masuk Sam Poo Kong
Biaya masuk ke Sam Po Kong ini hanya 8ribu rupiah saja. Tetapi, kalau ingin menjelajah seluruh kawasan ini maka Anda akan dikenakan tiket terusan sebesar 28ribu rupiah.


Sam Poo Kong Menurutku
Klenteng Sam Poo Kong didominasi oleh warna merah, dimana warna ini merupakan warna yang sangat terang. Melambangkan ketegasan dan keberanian.

Saat menyusuri tiap sudut di Sam Poo Kong, aku berasa sedang berada di negara Cina. Mulai dari desain bangunannya, warna, sampai suasana lingkungan yang ada benar-benar seperti di Cina.

Karena Sam Poo Kong berada dekat dengan jalan raya, wisata ini akhirnya jadi ramai oleh pengunjung. Tentu saja, buatku yang kurang suka keramaian di tempat wisata, hal ini kurang menyenangkan. Namun, beda orang, beda perasaan. Hehehe.

Friday, 28 May 2021

 


Di suatu Kamis yang panas banget, Ajat, salah satu temanku di Bogor, mengajakku untuk jalan-jalan keliling Bogor.

Karena kebetulan saat itu aku juga lagi gabut banget, akhirnya aku meng-iya-kan ajakannya. Padahal, Kabupaten Bogor yang luasnya empat kali negara Singapura mah, nggak bakal bisa kita puterin.

Aku tinggal di Kecamatan Leuwiliang, sedangkan Ajat tinggalnya di Kecamatan Cariu. Jaraknya antara Leuwiliang dengan Cariu kurang lebih 75 km. Bayangin, berapa lama aku nungguin dia? Belum lagi, macetnya Bogor tuh kan suka bikin esmosi naik.

Oh iya ... btw, Cariu ini letaknya sebelahan sama Jonggol. Tau Jonggol, kan? Itu tuh ... yang sering dinyanyiin sama trio ubur-ubur sama Si Wakwaw. Saking jauhnya Jonggol, akhirnya disebutlah nama itu di lagunya wakwaw. Nah, Cariu ada di deket Jonggol.

Setelah menunggu Ajat selama dua jam, akhirnya kami pun bergegas mengendarai motor.

Dari Leuwiliang, kami menuju ke arah kota. Sebenernya, niat awalnya kepengin ke bioskop. Mumpung ada film horor yang lagi tayang.

Tapi ... belum 5 km berjalan, mataku tiba-tiba galfok sama sebuah toko buku di pinggir jalanan daerah Cibungbulang. Klasik banget gitu keliatannya.


Kami kemudian mampir bentar ke toko itu. Nggak ada nama tokonya sih kalau dari luar, tapi orang-orang disitu nyebutnya 'Terminal Buku Jadul' alias TBJ.

TBJ lokasinya di daerah Cibatok, Cibungbulang. Tepatnya di dekat pertigaaan arah masuk Pondok Pesantren Al Bahjah Bogor.

Pas awal masuk ke tokonya, kami cuma berfirasat kalau harga buku disana pasti murah-murah. Dan ternyata bener ferguso! Banyak banget buku yang harganya di bawah 10ribuan.



Pemilik TBJ ini namanya Pak Iyan. Umurnya kurang lebih 55 tahun. Kecintaan beliau sama dunia literasi, duh ... mantep banget deh. Kalau aku punya seratus jempol, udah aku kasih lah ke Pak Iyan semuanya.

Buku yang ada di TBJ macem-macem, mulai dari buku agama, politik, ekonomi, sosial, sampai teknologi.

Nggak hanya jual buku bekas loh, TBJ juga jual kaset-kaset jama baheula. Yang seneng sama lagu lawas, harus banget meluncur ke TBJ.



Pak Iyan ini orangnya baik banget. Ramah, murah senyum, dan perhatian sama pengunjung. Kami sampai nyaman banget ngobrol sama beliau. *Kalau udah cocok mah pasti nyaman.

Oh iya, kalian tahu nggak, berapa aja harga rata-rata buku disana?



Waktu itu aku beli 5 buku. Pak Iyan ngasih harga 40.000. Berarti rata-rata buku yang aku beli harganya 8ribu. Tapi bukan berarti kebanyakan harganya segitu loh ya. Ini cuma gambaran aja dari yang aku beli.

Nah, setelah 5 buku udah dibungkus, eh ... Pak Iyan malah ngasih bonus 1 buku. Baik banget kan? Baik nggak? Baik lah ...



Area depan TBJ ini cukup luas. Hal itu yang kemudian membuat banyak banget mahasiswa tertarik berkunjung ke TBJ. Baik itu buat baca-baca, sharing informasi, sharing ilmu, atau bahkan hanya sekadar ngopi.

TBJ ternyata adalah satu-satunya toko buku lawas yang ada di Bogor Barat. Maka nggak heran kalau toko Pak Iyan ini selalu ramai dikunjungi orang.

Orang yang sudah tua mampir kesini karena ingin nostalgia dengan jaman dulu. Anak muda mampir kesini karena penasaran dengan tulisan-tulisan jaman dulu.
(Pak Iyan)