Showing posts with label Air Terjun. Show all posts
Showing posts with label Air Terjun. Show all posts

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Thursday, 17 October 2024



Hari Ahad, 13 Oktober 2024, adalah hari yang penuh semangat bagi kami, wali kelas dan santri kelas X di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kami merencanakan rihlah ke Curug Cigamea sebagai hadiah setelah ujian tengah semester yang melelahkan. Kami menyewa dua angkot yang masing-masing berisi 14 santri. Suasana ceria langsung terasa ketika kami semua berkumpul di halaman pondok, siap untuk memulai petualangan.


Perjalanan dimulai sekitar pukul 7 pagi, dan kami tahu bahwa jalan menuju Curug cukup menanjak dan berkelok. Setelah beberapa menit, beberapa santri mulai merasakan mabuk kendaraan. Untuk mengatasi hal ini, kami berhenti beberapa kali, memberi mereka kesempatan untuk beristirahat dan menghirup udara segar. Meskipun ada sedikit kesulitan, tawa dan obrolan tetap menghangatkan suasana, menjadikan perjalanan terasa lebih menyenangkan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, kami akhirnya tiba di parkiran Curug Cigamea. Dari sana, kami harus berjalan kaki selama sekitar 10 menit untuk mencapai lokasi air terjun. Di sepanjang jalan, suara gemuruh air terjun semakin jelas, dan keindahan alam yang kami lihat membuat rasa lelah seakan sirna. Semangat para santri meningkat, dan mereka tidak sabar untuk segera merasakan kesegaran air.


Sesampainya di Curug, kami langsung terpana oleh keindahan alam yang memukau. Air jernih yang mengalir dari pegunungan Halimun dikelilingi oleh pohon-pohon rindang yang sejuk. Kami tidak berkemah, tetapi kami segera mencari tempat yang nyaman untuk mengatur perlengkapan memasak. Faza, Jagat, Ahza, dan Ghani mengambil alih tugas memasak dengan semangat, sementara Dzaka, Faza, dan Ollo bersiap untuk membakar bakso.

Meskipun terlihat mudah, menyalakan arang menjadi tantangan tersendiri karena angin kencang yang membuat api sulit menyala. Namun, dengan usaha dan kerjasama, mereka berhasil menghidupkan api dan bakso pun mulai dipanggang. Aroma yang menggoda segera memenuhi udara, dan semua orang tidak sabar untuk mencicipi hasil masakan mereka.


Sementara itu, beberapa santri lainnya tidak sabar untuk merasakan kesegaran air di Curug. Mereka segera berlari ke kolam alami di bawah air terjun, melompat dan bermain air dengan penuh keceriaan. Teriakan kegembiraan dan tawa mereka membuat suasana semakin hidup. Keindahan alam yang menakjubkan menambah semangat mereka untuk menikmati hari itu.


Setelah puas bermain air, kami semua berkumpul untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Bakso yang dibakar dengan sempurna disajikan dengan sambal pedas, dan semua orang tampak menikmati makanan dengan lahap. Di tengah kebersamaan itu, cerita dan canda mengalir, membuat suasana semakin hangat dan akrab di antara kami. Rasanya, semua kepenatan setelah ujian menjadi tidak berarti ketika melihat senyuman di wajah santri.

Usai makan, kami menyempatkan diri untuk berkeliling dan menikmati keindahan sekitar. Beberapa santri mengambil foto bersama, mengabadikan momen indah di depan air terjun. Momen-momen ini semakin menguatkan ikatan di antara kami, membuat semua orang merasa lebih dekat. Dalam hati, aku bersyukur bisa mendampingi mereka dalam pengalaman yang begitu berarti.


Sebelum pulang, kami melakukan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan. Semua santri berkumpul dengan senyum lebar di depan air terjun yang megah. Melihat kebahagiaan di wajah mereka, aku merasa bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Momen ini adalah pengingat bahwa kebersamaan dan pengalaman adalah hal terpenting dalam hidup.


Perjalanan pulang terasa lebih cepat, meski beberapa santri masih merasakan efek mabuk. Namun, suasana tetap ceria, dengan banyak yang membicarakan pengalaman seru dan kenangan lucu sepanjang hari. Ketika kami tiba kembali di Pondok Pesantren, kami pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan dan kenangan indah dari rihlah ke Curug Cigamea.


  

Beberapa waktu lalu, asrama kami kedatangan anggota baru dari Yayasan BPL Foundation Jakarta. Mereka berjumlah 12 santri. Sebagai orang lama, aku kemudian memperkenalkan Bogor kepada mereka. Walaupun aku sendiri bukan asli dari Bogor, tapi setidaknya udah sering berkeliling dari pelosok sampai kotanya, meski belum keseluruhan.

Karena tinggal di Jakarta, jadi aku rasa wisata mereka sebelumnya hanya di sekitaran gedung-gedung besar. Baiklah, akhirnya kuajak mereka meluncur ke Curug Ciampea. Curug adalah sebutan lain untuk air terjun.

Curug Ciampea berlokasi di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Tidak terlalu jauh dari kampus IPB Dramaga. Aku sengaja mengajak mereka ke curug karena menurutku lebih hemat. Selain itu, memang aku lebih terbiasa travelling ke alam.
Biaya masuk ke Curug Ciampea adalah Rp20.000 per orang. Namun waktu itu, kami hanya membayar Rp40.000 untuk lima orang. Jiwa tawar menawar kami selalu aktif ketika dompet menipis.

Curug Ciampea biasa disebut orang dengan istilah Green Lagoon, karena pada waktu tertentu airnya sangat jernih dan tampak hijau. Tempat ini sering dipakai untuk berkemah.

Sebelum masuk ke area curug, kita harus melewati jalan menanjak yang dikelilingi pepohonan pinus.

Dari tempat parkir, jarak menuju curug kira-kira 20-45 menit, tergantung berapa kali beristirahat.
Ada beberapa curug yang bisa dilihat di tempat ini. Oh iya, tak perlu cemas bermain lama di Curug Ciampea, karena banyak batu luas yang bisa digunakan untuk duduk bersantai atau bahkan salat.

Curug 1

Curug 2

Nah ... buat kamu yang pengin main ke Curug Ciampea, jangan lupa bawa makanan. Walaupun ada warung di dekat curug, tapi akan lebih nikmat makan bersama dengan menu favorit masing-masing. 

Jika berkunjung ketika weekdays, curug ini akan terasa seperti milik sendiri. Pastikan juga, cuaca saat berkunjung sedang baik. Tidak saat musim hujan, karena airnya kadang keruh. Ditambah lagi, debit air akan bertambah dan aliran air lebih deras. 

  


Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan, Bogor tentu saja memiliki curug yang super banyak. Kalau kalian enggak tahu, curug adalah bahasa lain dari air terjun. Istilah curug banyak dipakai di wilayah Sunda dan Jawa Tengah, sedangkan untuk Jawa Timur biasanya memakai istilah coban.

Di Bogor sendiri, ada puluhan curug yang tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya adalah Kecamatan Ciampea, Tenjolaya, Leuwiliang, Jasinga, Pamijahan, Nanggung, Sukamakmur, Babakan Madang, Caringin, dan Megamendung. Tiap curug punya keindahannya sendiri-sendiri. Salah satu curug di Bogor yang saat ini lagi viral adalah Curug Cikuluwung.

Curug Cikuluwung berada di Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Jika dari arah Bogor Kota, IPB, atau Jakarta, rutenya adalah ke arah Ciampea. Kemudian menuju arah pertigaan Cemplang. Dari situ sudah banyak petujuk jalan, atau bisa bertanya ke warga sekitar. Perjalanan dari Ciampea memakan waktu sekitar 45 menit.

Jika dari arah Jasinga atau Sukabumi, menuju pertigaan Karacak Leuwiliang. Dari pertigaan tersebut, lokasi Curug Cikuluwung sekitar 30 menitan.


Akses menuju Curug Cikuluwung cukup mudah. Akan tetapi bagi pengguna roda empat, disarankan untuk bertanya kepada warga sekitar. Karena jika menginguti google maps, dikhawatirkan akan melewati jembatan yang hanya bisa dilalui oleh satu motor saja.

Jalan dari parkiran kendaraan menuju pusat curugnya juga tidak terlalu melelahkan. Akan tetapi, anak-anak disarankan harus bersama orang tuanya. Karena bebatuan di sungainya sangat licin.
Curug Cikuluwung terdiri dari tiga air terjun. Ada Curug Cikuluwung 1, Cikuluwung 2, dan Cikuluwung 3. Biaya masuknya adalah Rp10.000,- untuk ketiga curug tersebut. Tetapi biasanya ada pejaga tiket yang nakal, sehingga ketika berganti curug akan dimintai tambahan uang.

Sedangkan untuk biaya parkir, rata-rata adalah Rp5.000,- untuk kendaraan beroda dua.

Meski dalam satu aliran sungai yang sama, namun lokasi parkir ketiga curug tersebut berbeda. 
Bagi para pecinta curug, pasti tidak akan asing lagi dengan keindahan yang ada di Curug Cikuluwung.  Karena memiliki bebatuan yang estetis, Curug Cikuluwung akhirnya dijuluki sebagai Little Green Canyon Bogor. Curug Cikuluwung juga sudah seringkali masuk ke layar kaca karena keindahannya.

Saat sedang jernih, air di Cikuluwung akan berwarna biru dan tampak seperti kolam renang di bawah lembah. Dari ketiga curug di Cikuluwung, curug 1 adalah lokasi yang paling ramai dikunjungi. 

Curug Cikuluwung 1

Bagi yang ingin mengabadikan momen indah, maka curug 1 adalah lokasi yang tepat. Sedangkan untuk berenang, area air di curug 1 tidak terlalu luas. Namun, wajib memakai pelampung, sebab air di curug 1 sangat dalam.

Bagi yang bertujuan untuk berenang saja, maka curug 3 adalah jawabannya. Selain area air yang lebih luas, kedalamannya pun bervariasi, mulai dari 1 hingga 4 meter. Sehingga bagi yang jago berenang ataupun tidak, ada tempatnya sendiri.


Bagaimana dengan yang tidak bisa berenang sama sekali? Tenang! banyak bebatuan besar di Cikuluwung yang bisa dipakai sebagai tempat bersantai sambil menikmati segarnya alam Cikuluwung.


Bebatuan ini berada di area curug 3. Ukuran batu yang berada di sana cukup besar, sehingga sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati suasana alam sekaligus makan siang. Tetapi tetap harus waspada, sebab jika air sedang tinggi, batu-batu tersebut akan menjadi licin.

Tips bermain di Curug Cikuluwung:
1. Jangan buang sampah sembarangan
Alam adalah sahabat kita. Jangan sampai kita berbuat sembaragan kepadanya. Karena siapa lagi yang akan merawat kalau bukan kita.

2. Gunakan alas kaki yang tidak licin
Seperti yang sudah diulas di atas, bahwa bebatuan di Curug Cikuluwung akan sangat licin jika terkena air. Maka dari itu disarankan untuk memakai alas kaki yang tidak licin.

3. Jangan sendirian saat ke curug
Curug adalah tempat bebas di alam. Disarankan untuk mengajak teman. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akan ada yang siap membantu.

4. Jangan pulang terlalu petang
Karena berada di tengah hutan, maka disarankan untuk pulang sebelum gelap. Karena selama di perjalanan, akan minim penerangan. Curug Cikuluwung tutup pukul 17.00 WIB.

Monday, 14 October 2024

Rihlah merupakan salah satu program menyenangkan yang ditunggu-tunggu oleh santri di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Setelah melewati ujian yang melelahkan, kegiatan ini menjadi penyegar semangat bagi mereka. Kali ini, kami berkesempatan untuk melakukan rihlah ke Curug Pangeran yang terletak di Pamijahan, Bogor. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya sebagai pendamping, bersama dengan teman-teman pengurus lainnya, Aslam, Adnan, dan Bang Jalu.


Kami berkumpul di halaman pondok dengan penuh antusias. Setelah membagi santri menjadi tiga angkot, kami pun berangkat. Masing-masing angkot berisi 13 santri yang ceria, semua berbicara dengan penuh semangat tentang rihlah ini. Perjalanan menuju Curug Pangeran berlangsung seru, penuh canda tawa. Tak jarang kami menyanyikan lagu-lagu favorit yang membuat suasana semakin meriah.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami akhirnya tiba di lokasi yang dituju. Begitu melihat Curug Pangeran, semua kelelahan seakan hilang seketika. Keindahan alam di sekelilingnya, dengan suara gemericik air yang jatuh dan udara segar, membuat hati kami bergetar. Semua santri langsung berlari menuju air terjun, tak sabar merasakan kesegaran airnya yang dingin.


Tak lama setelah itu, beberapa santri mulai beraksi. Sisco, Fathir, Ahlam, dan Azka, berani terjun dari tepi curug. Ketinggiannya memang tidak terlalu tinggi, tetapi adrenalin mereka memuncak saat melompat ke dalam kolam alami di bawahnya. Teriakan kegembiraan dan rasa takut bercampur aduk, namun semua tampak senang. Melihat keberanian mereka, santri lainnya pun bersemangat untuk ikut mencoba.


Setelah sesi terjun yang seru, kami mengadakan sesi masak-masak di area sekitar curug. Dengan bahan-bahan yang kami bawa, kami menyiapkan hidangan sederhana namun lezat. Suasana semakin ceria ketika aroma masakan mulai tercium, dan santri berkumpul untuk menikmati hasil karya mereka. Tawa dan cerita mengalir bebas di antara kami, menambah kehangatan momen itu.

Makan bersama di tengah alam terbuka menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Melihat para santri berbagi makanan dan cerita, saya merasakan kebahagiaan yang mendalam. Mereka seakan melupakan semua beban ujian yang baru saja dilalui. Momen ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik, jauh dari rutinitas belajar sehari-hari.


Setelah makan siang, kami melanjutkan eksplorasi di sekitar curug. Beberapa santri mengambil foto untuk mengabadikan kenangan ini, sementara yang lain memilih untuk duduk santai menikmati pemandangan. Keindahan alam di sekitar Curug Pangeran memang luar biasa, dan semua berusaha untuk menangkap momen tersebut dengan cara masing-masing.


Menjelang siang, kami berkumpul untuk melaksanakan sholat dhuhur bersama. Setelah beribadah, kami merasakan kedamaian yang menambah kebahagiaan hari itu. Rihlah ini bukan hanya sekadar refreshing, tetapi juga memperkuat ikatan antar santri dan pengurus. Rasanya, momen kebersamaan seperti ini sangat berharga.


Ketika waktu pulang tiba, semua santri tampak puas dan bersemangat. Mereka mengungkapkan rasa syukur dan harapan agar bisa melakukan rihlah seperti ini selanjutnya. Kami kembali naik angkot dengan membawa banyak kenangan indah dari Curug Pangeran. Dalam perjalanan pulang, tawa dan cerita pengalaman seru kami terus mengalir.


Kegiatan rihlah ke Curug Pangeran benar-benar menjadi penyegar yang sempurna. Kami pulang dengan hati yang gembira dan penuh semangat baru untuk menghadapi kegiatan belajar di pondok. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga pengingat betapa pentingnya menjalin kebersamaan dan menikmati keindahan alam.



Monday, 27 May 2024

  


Lagi-lagi, kita akan ngobrol tentang wisata alam yang ada di Indonesia. Nah, kali ini yang akan kita bahas adalah Curug Cimarinjung. Curug merupakan sebutan lain dari air terjun. Jika di daerah Jawa Timur air terjun biasa dikenal dengan nama coban, maka curug adalah sebutan untuk daerah Jawa Barat dan beberapa daerah Jawa Tengah.

Curug Cimarinjung merupakan salah satu wisata alam yang berada di Kabupaten Sukabumi. Lokasinya masih dalam kawasan Geopark Ciletuh. Dinamakan Curug Cimarinjung karena curug ini berada di Kampung Cimarinjung, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.

Dibandingkan kawasan wisata lain yang berada di Geopark Ciletuh, Curug Cimarinjung merupakan salah satu yang paling mudah diakses, sebab tak begitu jauh dari jalan utama. Dari arah Plabuhanratu, Curug Cimarinjung berada sebelum Pantai Palangpang.

Sejak diliput oleh acara televisi MTMA (My Trip My Adventure), kawasan ini jadi ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Curug Cimarinjung adalah ketika debit air cukup tinggi. Karena pemandangan indah dari curug akan terlihat sangat cantik. Meski begitu, pengunjung harus tetap berhati-hati apabila berendam dalam air, sebab ketika debit air tinggi, arusnya juga akan lebih deras.
Berbeda dengan Pantai Palangpang yang gratis, pengunjung  Curug Cimarinjung diharuskan membayar untuk biaya kebersihan curug. Hanya saja, besarnya tarif tidak ditentukan oleh pihak pengelola. Jadi, pengunjung hanya membayar seikhlasnya.

Tips Agar Main di Curug Cimarinjung Tetap Seru dan Aman
Meski menyenangkan, tapi alangkah baiknya kita selalu berhati-hati ketika tengah bermain di curug. Beberapa tips yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Patuhi peraturan yang telah dibuat
Ini bukan hanya berlaku untuk curug saja, melainkan semua tempat wisata. Sebagai pengunjung yang baik, kita memang sudah seharusnya menaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak pengelola wisata.

2. Jangan bermain sendirian
Karena biasanya curug berada di tengah hutan, maka sebaiknya jangan bermain sendirian. Sebab bila ada hal yang tak diinginkan terjadi, teman kita bisa menolong. Hal ini tentunya untuk keselamatan kita.

3. Jangan mandi tepat di bawah air terjun
Banyak pengunjung yang mengabaikan hal ini. Padahal mandi di bawah air terjun sangat membahayakan. Bebatuan yang terbawa oleh aliran air, baik yang kecil atau besar, akan sangat berbahaya apabila mengenai kepala orang yang berada di bawah.

4. Pulang sebelum sore
Lagi-lagi karena alasannya adalah karena sebagian besar air terjun lokasinya di tengah hutan, maka disarankan untuk pulang sebelum sore. 

5. Jangan buang sampah sembarangan
Ini tentu saja tidak boleh dilakukan dimana pun. Tak hanya sampah, pengunjung juga tidak diperbolehkan untuk kencing di dalam air.

6. Bawa pakaian ganti
Nah ... akan lebih seru kalau kita membawa baju ganti. Karena sayang sekali rasanya main ke curug kalau tidak sekalian berendam dalam air.

Thursday, 7 December 2023

 


Hari itu, saya mendampingi santri kelas 10 untuk melaksanakan rihlah ke Curug Cigamea. Kami semua sangat bersemangat, terutama setelah mendengar banyak cerita tentang keindahan tempat ini. Curug Cigamea terletak di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang terkenal dengan alamnya yang asri dan segar. Suara gemericik air terjun dan hijaunya pepohonan membuat kami tidak sabar untuk sampai di sana.

Dalam perjalanan kali ini, saya tidak sendiri. Saya ditemani oleh Bu Lita, wali kelas 10 yang penuh semangat, Thoriq, pendamping kamar kelas 10, dan Mas Toni, yang selalu siap membantu. Keceriaan mereka membuat suasana perjalanan semakin hidup. Kami semua berbagi cerita dan tawa di dalam angkot sewaan yang kami gunakan untuk menuju Curug Cigamea.

Sesampainya di Curug Cigamea, kami langsung disambut oleh udara segar yang memanjakan paru-paru. Keindahan alam yang ada di sekitar membuat kami terpesona. Air terjun yang tinggi dan jernih memancarkan keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kami berkeliling sebentar, menikmati setiap sudut tempat ini sambil mengambil foto untuk mengabadikan momen indah.

Setelah puas berkeliling, kami memutuskan untuk ngegrill di area yang sudah disediakan. Kami menyiapkan bahan-bahan yang telah dibawa dan segera mulai membakar sosis serta makanan lainnya. Aroma makanan yang dibakar bercampur dengan udara segar menambah kenikmatan suasana. Para santri terlihat sangat senang, tawa dan suara obrolan riang memenuhi area kami.

Sambil menunggu makanan matang, kami semua duduk bersama, bercengkerama dan berbagi cerita. Ada banyak kenangan yang kami ceritakan, mulai dari pengalaman lucu di kelas hingga rencana masa depan. Momen kebersamaan ini membuat ikatan kami semakin kuat. Di tengah keindahan alam, kami merasakan kehangatan yang tidak tergantikan.

Setelah selesai makan, kami melanjutkan petualangan dengan bermain air di dekat curug. Suara air yang jatuh dari ketinggian menambah semangat para santri. Mereka tak ragu untuk berlari dan bermain air, tertawa lepas tanpa beban. Melihat mereka bahagia adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya dan semua pendamping.

Saat matahari mulai condong ke barat, kami mulai berkemas untuk kembali. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali menuju angkot. Selama perjalanan pulang, semua orang tampak lelah, tetapi wajah mereka bersinar dengan kebahagiaan. Rihlah ini bukan hanya sekadar perjalanan, tetapi juga tentang kenangan yang akan selalu kami simpan.

Sesampainya di pondok, kami mengucapkan terima kasih satu sama lain atas pengalaman yang luar biasa ini. Curug Cigamea telah memberikan kami lebih dari sekadar keindahan alam; ia memberikan kami momen berharga yang akan dikenang selamanya. Rihlah kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi semua.

Wednesday, 3 February 2021

 


Liburan memang menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Hmmm ... pasti pada kangen liburan, kan? Hayo ... setelah pandemi selesai, enaknya mau liburan kemana, nih? Kalau aku sih maunya ke Bali, Jogja, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, NTB, NTT. Haha, kepengin ke semua tempat deh pokoknya. Duitnya mah entar, mudah-mudahan dikasih sama Allah. Dikasih banyak gak apa-apa, yang penting halal dan berkah.

Sama halnya dengan santri di ORENZ Islamic Boarding School Bogor. Mereka pun sangat menggemari sesuatu yang bernama liburan.

Tanggal 13 Januari kemarin, aku bersama para santri berlibur ke sebuah tempat yang sempat viral di Bogor. Dia adalah Curug Cikuluwung. Curug Cikuluwung berlokasi di Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Baca juga : CURUG CIKULUWUNG : WISATA YANG LAGI VIRAL DI BOGOR

Berdasarkan informasi yang kami terima, pada saat itu kondisi Curug Cikuluwung memang sedang sepi. Makanya, tempat itu kemudian menjadi tujuan yang menggiurkan buat kami.

Sepi Pengunjung Ketika Pandemi

Nah ... ini sangat penting diperhatikan saat masa pandemi seperti ini. Dikarenakan Curug Cikuluwung sempat tutup selama beberala bulan, maka sampai saat ini kondisi di sana pun masih sepi dari pengunjung.

Ketika kemarin kami berkunjung ke Cikuluwung, pengunjungnya hanya kami dan dua orang lain. Maka, Curug Cikuluwung pada hari itu berasa milik kami sendiri.


Selain karena jauh dari kerumunan, lokasi wisata yang sepi pun pasti menjadi idaman bagi setiap pengunjung wisata. Apalagi buat manusia seperti kita, mau foto sesuka hati jadi bebas.

Lokasinya Mudah dijangkau

Curug Cikuluwung tidak berada di lokasi yang cukup tinggi. Biasanya jika mau ke curug, kita harus melakukan service penuh terhadap kendaraan kita supaya kuat nanjak. But, Curug Cikuluwung tidak.

Curug Cikuluwung masih berada di dekat perkampungan warga. Tak jauh juga dari jalan utama Leuwiliang.

Biaya Masuk Terjangkau

Meski sempat viral hingga banyak diliput oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia, namun biaya masuk ke Curug Cikuluwung cukup terjangkau. Per orang hanya dipatok biaya Rp25.000 saja. 


View yang Aesthetic

Buat kita kaum milenial dan generasi Z, pasti butuh banget spot wisata yang asthetic, kan? Pasti lah. Secara ... tujuan utama berlibur bagi kaum kayak kita kan supaya feed di instagram dan postingan di tik tok lebih berwarna.

View yang tersedia di Cikuluwung sangat luar biasa. Selain karena memiliki air yang jernih berwarna biru, dinding di curug ini pun tampak berkilai saat dialiri oleh air.


Fasilitas yang Tersedia

Pengelola Curug Cikuluwung menyediakan beberapa fasilitas yang bisa dipakai oleh pengunjung di sana. Beberapa fasilitas tersebut adalah :
- Tempat makan/warung
Banyak sekali stand warung yang berdiri di lokasi wisata Cikuluwung. Harga yang tersedia pun bukan harga tempat wisata pada umumnya. Pemilik warung kebanyakan mematok harga sesuai dengan standar yang beredar.
- Kamar Mandi
Jika mau pipis, pengunjung dilarang pipis di wilayah curug. Pihak pengelola telah menyediakan kamar mandi lengkap dengan airnya (haha, ya jelas lah!)
- Spot foto bertuliskan Curug Cikuluwung
Nah, ini dia yang jadi bukti penting bahwa kita telah berkunjung ke Curug Cikuluwung. 

Thursday, 30 July 2020

Dikenal sebagai gudangnya pesantren, Jombang ternyata juga memiliki tempat wisata yang keren-keren. Salah satu yang baru ngehits adalah Kedung Cinet. Kedung Cinet merupakan sebuah sungai di tengah hutan yang dinding-dindinya terbentuk dari bebatuan kapur yang sangat indah.

Kedung Cinet sempat beberapa kali ditutup karena sering ada pengunjung yang tenggelam di sana. Meski begitu, banyak pengunjung 'nakal' yang mengabaikan penutupan tersebut. Karena itu, akhirnya saat ini Kedung Cinet dibuka kembali.
Air di Kedung Cinet berwarna hijau dan jernih. Sesekali, warna sungainya keruh karena memang tempat ini masih cukup sepi dan belum terawat. Belum banyak yang tahu tentang wisata ini karena memang tempatnya berada di tengah hutan.

Akses Menuju Lokasi
Wisata Kedung Cinet berada di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Dari Ringin Contong (titik nol Kabupaten Jombang) ambil arah menuju Ploso. Sampai di jembatan Ploso, kemudian belok ke arah kiri sekitar 3 km hingga bertemu dengan kantor Polsek Plandaan. Kemudian belok kanan arah Pojok Klitih yang tak lain merupakan lokasi Kedung Cinet.

Sebelum masuk area Kedung Cinet, akan ada jembatan gantung yang menyambut kedatangan pengunjung. Jembatan ini hanya mampu dilewati satu motor saja. Sehingga jika ada motor lain dari arah berlawanan, salah satunya harus mengalah.
Dari jembatan tersebut, pengunjung bisa bertanya langsung ke warga setempat mengenai lokasi Kedung Cinet.

Biaya Masuk
Untuk bisa menikmati keindahan Kedung Cinet, pengunjung tak perlu mengeluarkan biaya alias gratis. Pengunjung hanya perlu menyiapkan uang Rp2.000 karena sesekali akan ada warga setempat yang menjaga motor supaya lebih aman.

Spot Foto
Kedung Cinet memang berada di tengah hutan, tetapi spot untuk berfoto bukan cuma pepohonan. Pertama, tentu saja jembatan gantung yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kedua, ada kolam cinta yang bisa digunakan untuk foto romantis dengan pasangan. Tapi kolam ini hanya muncul pada saat-saat tertentu. Kalau musim hujan, kolamnya tidak akan berbentuk love. Begitupun saat kemarau, tidak akan ada air yang membentuk hati di kolam tersebut.
Ketiga, dinding cinet yang tentu saja menjadi spot andalan pengunjung. 
Tak perlu gaya macam-macam kalau mau berfoto dengan background dinding cinet, karena dengan gaya apapun, hasilnya tetap akan bagus.
Selain berfoto dengan background dindingnya, pengunjung juga bisa mengambil foto dengan background aliran air cinet. Jika waktunya tepat, maka airnya akan tampak seperti air terjun mini. Tetapi harus berhati-hati, karena jalanan yang dilewati air akan licin.
Saat ini juga sudah ada panggung yang bisa digunakan untuk berfoto.
Suasana Kedung Cinet juga makin romantis sejak dipasangnya bingkai cinta bertuliskan 'Kedung Cinet'.

Berkunjung ke Kedung Cinet sebaiknya bukan saat musim kemarau, karena sungai di sana sering kekeringan. Namun juga tidak disarankan saat musim hujan besar, karena jalanan akan licin dan berlumpur. Disarankan saat musim hujan normal, karena air akan mengalir dengan normal.

____________________
Lutfi Yulianto