Showing posts with label Asal Nulis. Show all posts
Showing posts with label Asal Nulis. Show all posts

Wednesday, 1 April 2026

Malam ini, Rabu, 1 April 2026, dilaksanakan kegiatan Zoom Meeting bersama santri dan wali santri. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahim sekaligus mengontrol aktivitas santri selama masa liburan. Ini merupakan pertemuan kedua yang diadakan selama libur Lebaran tahun ini.


Acara dibuka oleh saya sebagai moderator. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari pimpinan pondok, Bapak H. Romli Eko Wahyudi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kedisiplinan santri, khususnya dalam hal ketepatan waktu kembali ke pondok. Selain itu, santri juga diharapkan telah menyelesaikan seluruh tugas selama liburan serta menjaga kerapian, termasuk merapikan potongan rambut sebelum kembali ke pondok.


Selanjutnya, acara diisi dengan tausiyah dan nasihat dari Abi Rukiat selaku kepala pengasuh santri. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan makna mendalam dari momentum Idulfitri.


Idulfitri identik dengan saling memaafkan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Ini adalah kebiasaan baik yang perlu terus dijaga. Saat bertemu, dianjurkan untuk mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” kemudian saling bermaaf-maafan.


Di hari 1 Syawal ini, jangan sampai pahala puasa kita tertahan hanya karena ada orang yang tersakiti oleh ucapan kita atau karena adanya permusuhan yang belum diselesaikan.


Abi Rukiat juga menyampaikan perintah Nabi Muhammad SAW untuk menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskan hubungan dengan kita, dan mendatangi orang yang melarang kehadiran kita, serta memaafkan orang yang telah mendzalimi kita.


Beliau menegaskan bahwa silaturahim yang paling utama adalah ketika kita mendatangi orang yang justru pernah memutuskan hubungan dengan kita.


Kemudian beliau menceritakan kisah teladan Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan, Rasulullah pernah dilempari kotoran oleh seorang Yahudi ketika hendak berangkat sholat. Namun beliau tidak marah. Bahkan keesokan harinya, orang yang sama kembali mengencingi beliau. Hingga suatu hari, ketika orang tersebut tidak terlihat, Rasulullah justru bertanya siapa orang tersebut dan mencari tahu keberadaannya. Ternyata orang tersebut sedang sakit. Rasulullah pun datang menjenguk dan mendoakannya agar segera diberi kesembuhan.


Dari kisah tersebut, kita diajarkan untuk tetap berbuat baik, bahkan kepada orang yang menyakiti kita.


Abi Rukiat juga berpesan, setelah kegiatan ini, apabila ada orang yang pernah menyakiti kita datang dan meminta maaf, maka maafkanlah dengan lapang dada. Setiap orang pasti pernah merasakan sakit hati, namun memaafkan adalah jalan terbaik.


Allah adalah Maha Pemaaf. Sebesar apapun dosa hamba-Nya, jika ia memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni. Maka sudah sepatutnya kita juga belajar memaafkan kesalahan orang lain.


Silaturahim merupakan bagian penting dari proses penyucian diri. Puasa adalah bentuk penyucian diri kepada Allah, dan disempurnakan dengan penyucian diri kepada sesama manusia.


Setelah tausiyah dari Abi Rukiat, saya menunjuk tiga santri untuk menyampaikan kesimpulan dari kegiatan ini. Mereka adalah Azhar Sitorus, Fakhri Adhisyah, dan Alfi Rahman. Masing-masing menyampaikan kesimpulan dengan gaya dan pemahaman mereka sendiri.


Semoga kegiatan Zoom Meeting ini membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri, menjaga silaturahim, dan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Monday, 30 March 2026


Hari ini, saya membaca beberapa ungkapan dari anak-anak tentang sekolah. Saya tidak marah. Saya juga tidak tersinggung. Justru saya mencoba memahami—bahwa di balik setiap kalimat, ada rasa yang ingin disampaikan.


Mungkin ada lelah yang tidak terucap.
Mungkin ada kecewa yang belum menemukan tempatnya.
Atau mungkin hanya sekadar ingin didengar.

Dan itu manusiawi.


Namun, ada satu hal yang pelan-pelan ingin saya ajak kita semua renungkan…


Bahwa setiap kata yang kita tulis, setiap kalimat yang kita bagikan, bukan hanya sekadar tulisan. Ia membawa makna. Ia membawa citra. Ia membawa cerminan diri kita sendiri.


Sekolah ini—pondok ini—mungkin belum sempurna.
Fasilitasnya mungkin belum seperti yang diimpikan.
Cara mengajar guru mungkin belum selalu sesuai dengan harapan kalian.

Tapi di tempat inilah kalian bangun pagi, menahan kantuk untuk belajar.
Di tempat ini kalian bertemu teman, tertawa, bercanda, bahkan kadang bertengkar lalu berbaikan lagi.
Di tempat ini pula, ada guru-guru yang mungkin terlihat tegas, kadang terasa “menyindir”, tapi sesungguhnya sedang berusaha mendidik dengan caranya.

Tidak semua bentuk perhatian selalu terasa nyaman.


Ada nasihat yang lembut, ada juga yang terasa keras.
Ada yang disampaikan dengan senyum, ada yang lewat teguran.

Namun seringkali, yang terasa tidak enak justru yang paling membekas dan paling membentuk kita di kemudian hari.


Menyampaikan perasaan itu tidak salah. Mengkritik juga bukan hal yang dilarang. Bahkan itu tanda bahwa kalian peduli.

Tapi ada perbedaan besar antara menyampaikan dengan niat memperbaiki dan menyampaikan dengan cara yang melukai.


Ketika sesuatu disampaikan di ruang publik dengan kalimat yang menjatuhkan, tanpa kita sadari, kita bukan hanya sedang berbicara tentang sekolah…
tapi juga sedang membangun cara orang lain melihat tempat kita belajar.

Padahal, di balik semua kekurangan itu, ada banyak kebaikan yang mungkin belum sempat kita hitung.


Ada orang tua yang dengan penuh harap menitipkan kalian di sini.
Ada guru yang setiap hari datang, mengajar, menegur, bahkan memikirkan kalian lebih dari yang kalian bayangkan.

Ada doa-doa yang mungkin tidak pernah kalian dengar, tapi terus dipanjatkan untuk kebaikan kalian.

Maka, jika ada yang terasa kurang, mari belajar menyampaikannya dengan cara yang lebih baik. Datang, berbicara, berdiskusi. Sampaikan dengan adab. Dengan niat memperbaiki.

Karena pada akhirnya, yang sedang kita bangun bukan hanya ilmu…
tapi juga akhlak.

Bukan hanya kecerdasan…
tapi juga kedewasaan.

Kita ingin kalian bukan hanya menjadi orang yang pintar,
tapi juga menjadi pribadi yang tahu bagaimana bersikap.

Yang tetap mampu menjaga kata-kata, bahkan ketika sedang kecewa.
Yang tetap mampu menghormati, bahkan ketika belum sepenuhnya setuju.

Dan percayalah…
suatu hari nanti, ketika kalian sudah berada di luar sana, kalian akan melihat kembali tempat ini dengan cara yang berbeda.

Yang dulu terasa berat, akan terasa berarti.
Yang dulu terasa biasa, akan terasa berharga.

Dan mungkin saat itu, kalian akan tersenyum…
karena pernah menjadi bagian dari tempat ini.

Wednesday, 25 February 2026



Dalam hidup, hampir semua orang pernah merasa tersakiti.

Dikecewakan.

Tidak dipahami.

Tidak dihargai.


Perasaan itu manusiawi. Luka itu nyata. Dan kita tidak sedang diminta untuk mengabaikannya.


Namun ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita:

Saat kita sibuk merasa menjadi orang yang paling terluka, bisa jadi tanpa sadar kita sedang menjadi luka bagi orang lain.


Izinkan saya bercerita sedikit.


Dulu, saya pernah hampir menikah dengan seorang perempuan. Hubungan kami sudah serius. Keluarga sudah saling mengenal. Rencana-rencana sudah mulai dibicarakan.


Namun pada akhirnya, kami tidak jadi menikah.


Beberapa waktu kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan laki-laki lain.


Saat itu, jujur, saya merasa sangat terluka.

Saya merasa dikhianati oleh keadaan.

Saya merasa menjadi orang yang paling tersakiti.

Saya bertanya-tanya, “Mengapa secepat itu?”


Perasaan itu memenuhi pikiran saya cukup lama.


Sampai suatu hari, saya berbicara dengan seorang teman. Ia juga teman dekatnya, tempat dia sering bercerita. Dari situlah saya mengetahui sesuatu yang membuat saya terdiam.


Ternyata dia sudah lama menunggu saya untuk melamarnya.

Dia berharap kepastian.

Dia ingin segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Sementara saya?

Saya merasa umur kami belum cukup.

Saya merasa finansial saya belum siap.

Saya merasa mental dan agama saya belum matang.


Bagi saya, itu adalah bentuk tanggung jawab.

Bagi saya, itu adalah kehati-hatian.


Tapi bagi dia…

Itu adalah penantian yang melelahkan.


Dia menunggu.

Dia bersabar.

Dia berharap.


Dan dia capek.


Di situlah saya sadar, mungkin saya bukan satu-satunya yang terluka.

Bisa jadi justru saya yang lebih dulu memberi luka.


Saya merasa ditinggalkan.

Padahal mungkin dia merasa digantungkan.


Saya merasa dikecewakan.

Padahal mungkin dia yang lebih dulu dikecewakan.


Dari situ saya belajar satu hal penting:

Kita sering melihat masalah dari sudut pandang luka kita sendiri, tanpa mau melihat luka orang lain.


Kita merasa sudah punya alasan yang baik.

Kita merasa sudah bersikap benar.

Tapi niat baik pun bisa melukai jika tidak disertai kejelasan dan keberanian mengambil keputusan.


Kadang kita terlalu lama menunda.

Terlalu lama menimbang.

Terlalu lama merasa “belum siap”.


Padahal dalam penantian yang panjang, ada hati yang sedang lelah.


Saya tidak menyesali kehati-hatian saya. Tapi saya belajar bahwa setiap keputusan—termasuk keputusan untuk menunda—tetap memiliki konsekuensi bagi orang lain.


Maka untuk kalian, para murid yang sedang belajar menjadi dewasa:


Jangan mudah merasa paling tersakiti.

Beranilah bertanya pada diri sendiri:

“Apakah ada bagian dari sikapku yang mungkin melukai?”


Kedewasaan bukan tentang siapa yang paling benar.

Kedewasaan adalah tentang siapa yang berani introspeksi.


Jika kalian berjanji, tepati.

Jika kalian belum siap, jujurlah dengan tegas.

Jika kalian ragu, jangan biarkan orang lain menggantung terlalu lama.


Karena ketidakjelasan sering kali lebih menyakitkan daripada penolakan.


Hari ini mungkin kalian belum memikirkan tentang pernikahan.

Tapi kalian sedang belajar tentang tanggung jawab, tentang komitmen, tentang keberanian mengambil keputusan.


Dan itu berlaku dalam banyak hal:

Dalam persahabatan.

Dalam organisasi.

Dalam amanah.

Dalam janji sekecil apa pun.


Jangan menjadi orang yang sibuk menuntut pengertian, tapi lupa memberi kepastian.

Jangan menjadi orang yang merasa paling terluka, tapi enggan melihat luka yang ia sebabkan.


Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya berhati lembut saat disakiti,

tetapi juga berhati-hati agar tidak menyakiti.


Karena orang besar bukan yang tidak pernah membuat orang lain kecewa,

melainkan yang mau belajar dari kesalahan dan menjadi lebih bertanggung jawab setelahnya.


Friday, 28 November 2025

Saya menuliskan kisah ini bukan untuk menjelekkan siapa pun, apalagi teman saya sendiri. Saya menuliskannya sebagai pengingat—bahwa hidup sering kali memberi kita pelajaran melalui orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kita.


Tahun 2017, saya mengikuti sebuah program di Bogor. Program itu menggabungkan dua hal yang sangat saya cintai: tahfidz dan bisnis. Saya tinggal di sebuah asrama kecil bersama tujuh teman dari berbagai daerah di Indonesia. Kami muda, penuh semangat, dan datang dengan harapan besar untuk memperbaiki diri.


Hari-hari kami padat. Pagi kami sibuk dengan hafalan Al-Qur’an, sore hingga malam kami belajar bisnis—baik offline maupun online. Kami pernah berjualan bubur ayam, es lilin yogurt, stiker dinding, buff, hingga susu sapi. Tidak ada yang mudah, tapi setiap usaha kecil itu mengajarkan kami arti perjuangan: mencari modal, membangun strategi, hingga mengelola uang seadanya.


Di bisnis online, kami belajar Facebook Ads, Google Ads, dan digital marketing lainnya. Semua terasa baru, tapi kami belajar bersama—bertumbuh bersama. Lambat laun, usaha kami menghasilkan sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan. Di usia 18 tahun, kami mampu mendapatkan omzet dan profit yang sangat besar, bahkan pernah mencapai seratus juta sebulan. Kami merasa bangga, bukan karena uangnya, tapi karena kami bisa bermanfaat untuk orang tua dan orang-orang di sekitar kami. Itu benar-benar di luar nalar kami.


Setelah program selesai, tersisa empat orang yang tetap melanjutkan perjuangan: saya, Roni, Adam, dan Aris (nama samaran). Aris adalah yang paling tua di antara kami. Karena kami percaya dia paling dewasa, kami sepakat menyimpan seluruh tabungan bisnis di satu rekening, rekening Aris. Setiap bulan kami hanya mengambil sedikit untuk keperluan pribadi, sisanya ditabung untuk masa depan.


Hingga bertahun-tahun, saldo itu terus bertambah. Bahkan tak pernah kurang dari lima ratus juta. Kami sering berbagi kepada orang lain, membantu teman, dan itu membuat kami bahagia. Kami merasa perjalanan kami diberkahi.


Akhir 2019, kami berniat membeli rumah bersama. Rasanya luar biasa bisa punya rumah di usia yang masih belasan. Aris yang mengurus DP rumah itu. Kami percaya penuh.


Awal 2020, muncul kesempatan umrah. Kami ingin pergi bersama, tapi Aris selalu punya alasan. Saat itu pandemi Covid-19 mulai muncul dan akhirnya umrah batal. Namun, di tengah semua itu, rasa curiga muncul pelan-pelan. Ada sesuatu yang terasa janggal.


Kami setiap bulan selalu membuat laporan keuangan kami. Mulai dari pengeluaran untuk keluar, kebutuhan kami bersama, dan lain sebagainya. Aris tak pernah mau memberi password untuk masuk ke mobile banking rekening yang isinya tabungan kami tersebut. Meski rekening tersebut atas nama Aris, tapi isi di dalamnya adalah uang kami bersama dan Aris memang sebelumnya bilang akan memberikan password ke kami.


Kami akhirnya meminta rekening koran untuk melihat tabungan terakhir. Rekening koran adalah laporan tertulis dari bank yang memuat ringkasan seluruh transaksi keuangan—pemasukan, pengeluaran, saldo awal, dan akhir. Aris sempat menolak, tapi akhirnya menyerah. Saat kami melihat angkanya, dunia serasa runtuh: saldo kami tinggal kurang dari lima puluh juta. Kemana larinya semua uang kami?


Air mata saya hampir keluar waktu itu. Bukan hanya uangnya yang hilang. Bukan itu. Yang lebih menyakitkan adalah kepercayaan yang patah.


Aris mengakui bahwa ia mengirim uang setiap minggu kepada keluarga dan calon istrinya, tanpa sepengatahuan kami. Ia membutuhkan dana besar untuk menikah di kampung halamannya. Kami terdiam. Antara marah, kecewa, namun juga iba. Kami berusaha menahan nafsu selama ini untuk masa depan, namun ia justru menggunakannya dengan seenaknya.


Saat kami sibuk mengurus pondok yang baru kami kelola bersama yayasan, Aris tetap tinggal di tempat lama. Hingga suatu hari, saat kami datang ke sana… dia sudah pergi. Pulang ke Sumatera. Membawa semua sisa uang kami.


Awalnya kami ingin menuntut kembali uang itu, tapi lama-kelamaan, rasa marah itu berubah menjadi diam. Kami memutuskan mengikhlaskan. Bukan karena kami kaya, tapi karena kami tahu hidup harus terus berjalan. Kami mulai semuanya dari nol. Trauma itu ada, luka itu ada, tapi hidup tidak memberi kita pilihan selain melangkah lagi.


Dan di situlah pelajaran besar itu tertanam:

Kepercayaan adalah anugerah yang mahal.
Tidak semua orang mampu menjaganya, bahkan orang yang paling dekat sekalipun.
Tapi bukan berarti kita harus membenci mereka. Kadang, manusia melakukan kesalahan karena tekanan, kebutuhan, atau ketidakmampuan menghadapi hidup.

Dari kejadian itu, saya belajar:

Percayalah kepada orang lain, tapi jangan percayakan semuanya.
Belajarlah bersikap baik, tapi tetap berhati-hati.
Ikhlas itu berat, tapi selalu membuat langkah menjadi ringan.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya.
Bahwa dalam hidup, kita bisa kehilangan uang, kehilangan barang, bahkan kehilangan teman.
Tapi jangan sampai kita kehilangan hati yang ikhlas, dan niat baik untuk terus menjadi manusia yang lebih baik.

Tuesday, 14 October 2025

Aku adalah wali kelas XI di SMK IT Cyber Global Orenz. Sekaligus itu, aku juga menjadi pendamping mereka di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Ini adalah kali kedua aku membersamai mereka—angkatan yang sejak awal begitu dekat dengan proses belajarku sebagai seorang pendidik. Sebelumnya, aku sudah menjadi wali kelas mereka saat mereka masih duduk di kelas X.


Waktu itu, aku masih baru belajar memahami peran ini. Baru belajar menahan diri, belajar memahami, belajar mendengar tanpa harus selalu menanggapi. Dari mereka aku banyak belajar, bahwa menjadi wali kelas bukan hanya tentang mengatur dan menegur, tapi juga tentang berusaha memahami isi hati manusia yang sedang tumbuh.


Usia kami tak terpaut jauh—sekitar sepuluh tahun saja. Kadang kami seperti abang dan adik. Kadang aku harus menenangkan mereka yang sedang marah, padahal aku sendiri masih belajar menenangkan diri. Kadang aku menasihati mereka dengan sungguh-sungguh, lalu diam-diam menasihati diriku sendiri setelahnya. Aku belum bisa menjadi wali kelas yang sempurna, tapi aku berusaha untuk selalu hadir, sekecil apa pun kehadiran itu.


Kini, mereka sudah di kelas XI. Tahun ini tidak mudah bagi mereka. Seluruhnya menjadi pengurus OSIS—memikul tanggung jawab besar yang menuntut kedewasaan lebih cepat. Ada yang dikritik karena tegas, ada yang disalahpahami karena diam, ada yang kelelahan karena ingin melakukan segalanya dengan baik. Di antara tekanan itu, aku berusaha hadir di sela-sela waktu mereka, sekadar untuk mengatakan: kalian tidak sendiri.


Aku mencoba menjadi abang bagi mereka. Menyapa dengan tenang di tengah riuhnya kegiatan. Mendengarkan cerita panjang mereka tanpa terburu-buru memberi solusi. Menenangkan ketika semangat mereka mulai retak. Karena aku tahu, kadang yang paling dibutuhkan bukan nasihat, tapi keberadaan seseorang untuk mendengarkan.


Melihat mereka sekarang, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Anak-anak yang dulu masih kikuk menulis laporan, kini bisa berdiri di depan forum, memimpin rapat, mengambil keputusan, dan menanggung kritik. Mereka tumbuh, pelan-pelan tapi nyata.


Aku sadar, aku bukan wali kelas terbaik. Aku masih sering salah menilai, kadang terlalu keras, kadang terlalu lembut. Tapi dari mereka, aku belajar sesuatu yang tak diajarkan oleh buku mana pun: bahwa mendampingi bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang hadir dengan hati yang tulus.


Suatu hari nanti, ketika mereka melangkah pergi, aku tahu yang tertinggal bukan hanya nama di daftar presensi. Tapi jejak langkah, tawa, dan perjuangan yang pernah hidup di ruang ini. Semuanya akan tetap tinggal—sebagai kenangan, sebagai doa, dan sebagai pengingat bahwa aku pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka menuju dewasa.

Friday, 18 July 2025


doc. pribadi - Santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah


Pagi itu, langit pondok tampak biasa saja. Matahari belum muncul sepenuhnya, namun ruang masjid sudah penuh sesak dengan barisan putih yang khusyuk mendengarkan nasihat. Deretan kopiah putih dan sorban kecil tampak rapi, seakan menyatu dalam satu irama perjuangan. Tidak semua dari mereka tersenyum. Beberapa tampak lelah. Dan di sudut-sudut ruangan itu, ada mata-mata yang mulai basah.


Air mata yang jatuh bukan tanpa sebab. Rindu pada rumah yang tak kunjung dikunjungi, rasa lelah yang menumpuk karena bangun dini hari, beban pelajaran yang belum terselesaikan, atau hati yang lelah karena merasa tidak dipahami. Ada kalanya semua itu menjadi gelombang yang sulit dihadapi oleh jiwa muda yang sedang belajar menjadi kuat.


Namun, wahai santri...
Air matamu terlalu mahal,
jangan biarkan ia tumpah hanya karena lelah yang sifatnya sesaat.


Air mata itu adalah saksi keikhlasanmu. Jangan biarkan ia jatuh sia-sia hanya karena hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Tahanlah sebentar saja. Sebab seringkali, keajaiban datang tepat setelah batas terakhirmu diuji.


Ingatkah kau, untuk apa kau datang ke pondok ini?
Bukan sekadar untuk bisa membaca kitab atau menghafal ayat.
Tapi untuk membentuk jiwamu agar kuat dalam sabar, matang dalam berpikir, dan halus dalam hati.


Hidup di pesantren memang tak menawarkan kemewahan.
Tidak ada kasur empuk, tidak ada makanan mewah, dan terkadang tidak ada peluk hangat saat kau menangis. Tapi justru di balik semua kesederhanaan itulah, Allah sedang menempa dirimu menjadi seseorang yang kelak akan dimuliakan oleh ilmu dan perjuangan.


Setiap langkahmu menuju masjid dicatat.
Setiap hafalan yang kau ulang meski kau lupa, diberi ganjaran.
Setiap rasa sabar yang kau tahan saat temanmu menyakiti hatimu, semua dihitung oleh Allah.
Kau tidak sendirian. Meski tidak semua orang melihat perjuanganmu, langit selalu mencatatnya dengan detail yang tak kau duga.


Dan kelak, saat hidup sudah berjalan lebih jauh,
kau akan menoleh ke masa-masa ini dengan bangga.
Kau akan berkata dalam hati,
"Aku pernah hampir menyerah, tapi aku memilih bertahan."


Santri bukan sekadar gelar.
Ia adalah panggilan jiwa yang siap mengabdi.
Menjadi santri berarti siap ditempa oleh sabar, diuji oleh waktu, dan dipahat oleh doa-doa panjang di sepertiga malam.
Bukan kehidupan yang mudah, tapi pasti penuh berkah.


Maka, jika hari ini kau menangis, tidak apa.
Tapi biarlah air mata itu jatuh dalam sujud, bukan karena ingin pulang, tapi karena ingin dikuatkan.
Bukan karena tak sanggup, tapi karena sedang ingin dipeluk oleh doa-doa langit.


Ingatlah,
Air matamu terlalu mahal.
Ia bukan untuk dibayar dengan rasa lelah sesaat.
Tapi untuk dibayar dengan kemenangan besar di masa depan—di dunia dan terutama di akhirat.


Karena boleh jadi, di antara sekian banyak manusia yang berjalan di bumi,
kamulah yang paling diperhatikan oleh langit hari ini.

Thursday, 26 December 2024

Tanggal 21-22 Desember kemarin, para santri di Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ikut berlaga di turnamen silat KIBAR PADJADJARAN CUP 2 yang diadakan di GOR Depok. Sebagai pengurus di pesantren, aku merasa excited banget buat ikutan dukung mereka, walaupun akhirnya aku datang di hari kedua. Di hari pertama, aku udah dapet banyak kabar dari WhatsApp tentang pencapaian mereka. Ternyata, beberapa santri udah berhasil membawa pulang medali, mulai dari perunggu, perak, sampai emas.


Salah satu yang bikin aku bangga banget adalah Faathir, salah satu santri yang dapet medali emas. Tahun lalu, dia juga bawa pulang medali emas di ajang yang sama. Tapi, cerita perjalanan Faathir gak semulus itu loh. Tahun lalu, dia hampir gak bisa ikut karena tangannya infeksi bernanah akibat scabies. Bayangin aja, sempet hampir batal bertanding gara-gara kondisi tersebut, tapi dia tetep ngotot buat ikut dan akhirnya berhasil bawa emas.


Tahun ini, kisah Faathir gak jauh beda. Di semifinal, dia sempet cidera di tangannya pas lawan Fhajar, sesama santri Ponpes Orenz. Cidera itu cukup parah, sampai-sampai dia hampir disuruh mundur dari pertandingan. Tapi, Faathir dengan penuh semangat pilih untuk lanjut ke final, dan akhirnya dia berhasil meraih medali emas untuk kedua kalinya. Bangga banget liat semangat juangnya yang gak pernah padam!


Setelah pertandingan selesai, Faathir langsung dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok buat dapetin penanganan atas cideranya. Baru tanggal 22 Desember, aku dateng ke GOR Depok buat nyaksiin sisa pertandingan yang ada. Setelah itu, aku langsung meluncur ke rumah sakit buat jenguk Faathir. Sampai di sana, Faathir keliatan happy banget, meskipun tangannya masih agak bengkak. Tapi yang jelas, medali emasnya masih terkalung dengan bangga di lehernya.


Walaupun Faathir udah dua hari dirawat, dia dan keluarganya masih harus nunggu hasil rontgen buat ngeliat kondisi tangan yang cidera itu. Di sana, aku ketemu sama ayah, bunda, kakak, dan adiknya Faathir. Keluarganya keliatan banget ngedukung dan bangga dengan apa yang udah Faathir capai. Sambil ngobrol, aku mendoakan semoga Faathir cepat sembuh dan bisa menikmati liburannya di rumah.


Akhirnya, aku pamitan buat pulang setelah ngobrol dan mendoakan Faathir. Rasanya seneng banget bisa liat semangat juang dan ketekunan Faathir yang akhirnya berbuah manis. Semoga dia segera pulih dan bisa terus berprestasi, gak cuma di silat, tapi juga di kehidupan sehari-hari.

Tuesday, 29 October 2024

Menjadi pendamping santri adalah perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat pertama kali memasuki pondok pesantren, aku merasa antusias dan penuh semangat. Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa tugas ini lebih dari sekadar mengajar atau membimbing mereka dalam belajar. Ada banyak hal yang bisa aku pelajari dari mereka, terutama tentang kehidupan dan perasaan yang sering kali tersembunyi.


Awalnya, aku fokus pada materi yang harus diajarkan. Namun, setelah beberapa minggu, aku melihat betapa pentingnya mendengarkan mereka. Banyak santri yang datang padaku dengan cerita-cerita yang tak terduga—tentang rindu keluarga, kebingungan apabila mereka tak mampu memenuhi harapan orang tua, hingga perasaan tidak percaya diri. Aku mulai memahami bahwa mereka bukan hanya muridku, tetapi juga individu yang memiliki beban emosional yang perlu dibagikan.


Aku bukan hanya menjadi guru untuk mereka. Terkadang aku harus bisa menjadikan diriku sebagai teman curhat mereka. Terkadang aku harus siap menjadi dokter ketika mereka sedang sakit. Bahkan, aku harus berusaha menjadi orangtua yang selalu memenuhi kebutuhan mereka.


Saat aku menyediakan telinga untuk mereka bercerita, aku merasakan betapa besar dampak dari perhatian yang sederhana ini. Mendengarkan ceritanya membuatku sadar bahwa seringkali, yang mereka butuhkan bukanlah nasihat, tetapi hanya seseorang yang mau mendengar dan memahami.


Dalam momen-momen itu, aku merasa terhubung dengan mereka. Aku belajar bahwa kehadiranku sebagai pendamping bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang membangun ruang aman untuk berbagi. Ada saat-saat ketika seorang santri bisa tersenyum lebar setelah bercerita, dan aku tahu betapa berartinya hal itu bagi mereka. Rasanya seperti bisa menghapus beban yang mereka bawa, meski hanya untuk sejenak.


Pengalaman ini mengajarkan aku arti empati yang sesungguhnya. Menjadi guru bukan hanya tentang menjadi sosok yang lebih tua atau lebih tahu, tetapi juga tentang berusaha memahami perasaan dan perspektif mereka. Terkadang, santri hanya ingin tahu bahwa ada seseorang yang peduli, seseorang yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Dan aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka.


Kini, aku semakin yakin bahwa hal sesimpel menyediakan telinga untuk santri bercerita adalah hal yang berarti besar bagi mereka. Mungkin, dalam perjalanan ini, kita tidak selalu bisa memberikan jawaban yang tepat. Namun, kehadiran dan perhatian kita bisa menjadi pelipur lara. Dan itu adalah salah satu hal terindah yang bisa kita lakukan sebagai pendamping.




Bogor, 29 Oktober 2024

@lutfiiyan28

Saturday, 28 September 2024

 

#Cerpen

Namaku Roby. Sejak pertama kali bertemu Alisa, aku tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kami. Dia adalah sosok yang ceria, dengan senyum yang selalu bisa membuat hariku lebih baik. Kami berjalan cukup lama, sering bertemu di kampus dan bercanda, hingga hubungan kami terasa lebih dari sekadar teman. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatiku—Alisa adalah seorang Kristen, sedangkan aku seorang Muslim.


Kami sering menghabiskan waktu bersama, dari belajar bareng hingga sekadar menikmati secangkir kopi di kafe favorit. Suatu malam, saat kami duduk di bawah cahaya bintang, Alisa dengan lugu bertanya, "Roby, kamu percaya sama cinta sejati, nggak?" Pertanyaan itu membuatku terdiam. Tentu saja, aku percaya. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan perasaanku yang rumit ini, di tengah perbedaan keyakinan yang mendasar?


Seiring waktu, rasa sayangku semakin dalam. Namun, rasa takut juga menghinggapi. Aku tidak berani untuk maju, namun tidak bisa juga mundur. Setiap tawa yang kami bagi, setiap cerita yang kami tukar, semakin memperkuat rasa nyaman itu. Namun, di balik semua kebahagiaan itu, aku tahu ada batasan yang tidak bisa kami lewati.


Hari-hari berlalu, dan ketegangan itu semakin nyata. Kami berdua menyadari bahwa perbedaan keyakinan ini bisa menjadi masalah di masa depan. Di satu sisi, aku ingin terus bersamanya, tetapi di sisi lain, aku juga tidak ingin membuatnya merasa tertekan dengan keyakinanku. Kami berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, meskipun dengan penuh kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kami ubah.


Akhirnya, momen itu tiba. Kami duduk di taman, di tempat yang selalu menjadi saksi bisu tawa dan canda kami. Alisa menatapku dengan mata yang penuh arti. "Roby, kita perlu bicara," katanya pelan. Hati ini berdebar kencang, merasakan ada sesuatu yang berat akan diungkapkan.


Dalam percakapan yang panjang itu, kami sama-sama mengerti tanpa harus mengedepankan ego. "Aku mencintaimu, tapi kita tidak bisa terus begini," ucap Alisa. Kata-katanya menusuk hati, namun aku tahu dia benar. Kami harus memilih jalan yang benar-benar terpaksa.


Perpisahan itu terjadi dengan baik-baik saja, namun rasa sakitnya tak terelakkan. Kami berpelukan, menyimpan semua kenangan indah yang telah kami bagi. Saat itu, aku merasa seolah separuh jiwaku hilang. Alisa adalah bagian dari diriku, dan sekarang aku harus melepaskannya.


Seiring waktu, aku belajar untuk menerima kenyataan. Meski perpisahan ini menyakitkan, aku tahu bahwa cinta kami tidak pernah sia-sia. Alisa dan aku adalah dua orang yang bertemu di saat yang tepat, meski dalam perjalanan yang berbeda. Dalam hatiku, dia akan selalu menjadi kenangan manis yang tak akan terlupakan.


Beberapa bulan setelah perpisahan itu, aku mendengar kabar bahwa Alisa telah menikah. Dengan siapa? Ternyata, dia menikah dengan tetanggaku sendiri. Rasa sakit itu kembali menghujam hatiku. Melihat mereka bersama, aku merasakan campuran rasa bahagia dan sedih. Di satu sisi, aku senang Alisa menemukan kebahagiaan, tapi di sisi lain, aku merasa hancur karena tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya.


Dan begitulah, perjalanan cinta kami berakhir di titik yang tak terduga. Meski jalan kami kini terpisah, aku akan selalu menghargai setiap detik yang kami lalui bersama. Cinta kami mungkin tidak bisa bersatu, tetapi rasa sayang itu akan selalu ada, terpatri dalam hati masing-masing. Sebagai seorang Muslim, aku yakin bahwa setiap hubungan memiliki tujuan, dan mungkin, hubungan kami adalah pelajaran berharga tentang cinta yang tulus, meskipun dalam batasan yang ada.

Wednesday, 18 September 2024

 

Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, meski aku tidak mahir mengucapkan terima kasih langsung kepadamu. Kadang-kadang, kata-kata terasa sulit keluar, dan perasaanku terjebak dalam ruang hampa. Tapi hari ini, aku ingin mencoba untuk berbagi apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku.


Terkadang sikapku tampak dingin, terasa acuh, dan tak peduli padamu, padahal aku sangat perhatian denganmu. Mungkin kamu mengira aku tidak peduli, tapi sebenarnya aku selalu mengawasi dan memikirkanmu. Setiap senyummu dan setiap kesedihanmu mengisi hari-hariku, meski aku sering kali tidak bisa menunjukkan betapa pentingnya dirimu bagiku.


Terima kasih sudah menjadi orang yang selalu mendengarkan curhatanku. Kamu selalu ada ketika aku butuh tempat untuk bersandar, memberikan dukungan tanpa syarat. Setiap kali kita berbincang, hatiku merasa lebih ringan. Kamu mampu menangkap setiap emosi yang kuungkapkan, dan itu adalah hal yang sangat berharga.


Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menemaniku selama 13 tahun. Dalam waktu yang panjang itu, kita telah berbagi banyak kenangan—tertawa, berduka, dan belajar satu sama lain. Kamu adalah bagian dari perjalanan hidupku yang tak akan pernah terlupakan, dan aku bersyukur untuk setiap momen yang kita lewati bersama.


Meski kini kamu telah menikah dan memiliki suami, aku akan bahagia melihatmu bahagia. Kebahagiaanmu adalah prioritas bagiku, dan melihatmu tersenyum membuat hatiku tenang. Meskipun status kita telah berubah, cinta dan rasa sayangku padamu akan selalu ada, dalam bentuk yang berbeda.


Kamu adalah mantan kekasihku yang akan selalu berkesan untukku. Setiap kenangan kita terukir dalam ingatan, membawa rasa nostalgia yang tak bisa aku lupakan. Kita mungkin tidak lagi bersama, tapi perasaan itu tidak akan pernah pudar. Kamu telah mengajarkan aku tentang cinta dan arti dari sebuah hubungan yang tulus.


Aku berharap kita bisa tetap terhubung, meski dalam cara yang berbeda. Walau jalan hidup kita kini membawa kita pada haluan yang berbeda, aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu mendukungmu. Kenangan indah kita akan selalu menjadi bagian dari diriku, dan aku ingin kamu tahu bahwa kamu selalu spesial bagiku.


Terakhir, aku ingin mengulangi rasa syukurku. Terima kasih untuk semua kenangan, semua tawa, dan semua pelajaran yang telah kau berikan. Kamu adalah bagian penting dari hidupku, dan aku berharap kebahagiaan selalu menyertaimu, di mana pun kamu berada.

Sunday, 4 June 2023


Pagi ini, seperti biasa, aku memulai hidupku dengan mengucap syukur, sebuah kebiasaan yang diajarkan oleh bapakku sejak aku masih bau kencur.

"Kita hidup harus selalu bersyukur. Kalau terbiasa, kita juga harus bersyukur karena terbiasa bersyukur," begitu katanya.

Aku selalu bersyukur karena dipilih menjadi salah satu manusia di muka bumi ini sebagai manusia yang tidak mudah mengeluh. Aku bersyukur karena oleh Allah, diberikan takdir hidup yang begitu indah, walau kadang tak masuk ke akalku.

Sebuah Curhatan yang tak perlu dibaca
Aku bukanlah orang yang suka bercerita hal sedih kepada orang lain. Bisaku hanya membuat orang-orang di sekitarku senang dan memberikan cerita menyenangkan pada mereka. Maka dari itu, tulisan ini kubuat, sebagai tempat meluapkan kesedihan dan kekecewaan, karena kuyakin, tak akan ada yang membaca tulisan ini.

Aku di dunia nyata dan dunia maya adalah dua orang yang berseberangan sifatnya. Di dunia nyata, aku adalah orang yang selalu ingin tertawa dan bahagia. Di dunia maya, sifatku berubah menjadi orang yang hatinya mudah teriris, melankolis, dan gampang menangis.

Meski aku adalah orang yang suka mendengarkan orang lain bercerita, aku sebenarnya adalah orang yang pemalu. Malu untuk bercerita lisan tentang hal gundah yang sedang terjadi.

...

Sudah tiga hari ini aku tak merasa nyaman dengan suasana hati. Hal ini aku rasakan sejak aku kembali menjalin komunikasi kembali dengan seorang perempuan yang sejak kelas 1 SMP menemani hari-hariku dahulu. Ada rasa senang ketika dia merespon baik komunikasi kami. Namun, ada rasa yang tak dapat dituliskan ketika mengingat bahwa dia saat ini telah sah menjadi milik orang lain.

Ada kenangan mendalam di setiap tulisan yang dikirim olehnya. Sejak 2010 hingga 2022, dia adalah penyemangat yang hadir dalam hidupku. Sebenarnya, hingga saat ini dia masih menjadi penyemangatku, namun ada pagar yang harus kubangun untuk membatasi diri terhadap hal-hal yang tidak wajar.

Aku sudah berusaha memblokir nomornya. Namun rasanya selalu ada rasa penasaran terhadap dia. Rasa penasaran dengan hal yang dilakukannya di setiap menit. Rasa penasaran akan status barunya sebagai istri orang. Rasa penasaran itulah yang kemudian membuatku menonaktifkan keputusanku untuk memblokirnya. Aku tahu itu adalah tindakan yang salah.

Setiap teman memintaku agar segera move on dari dia. Namun sudah empat bulan sejak pernikahannya ini, bayangannya belum bisa hilang sepenuhnya.

Dia benar-benar menghilangkan konsentrasiku beberapa hari ini. 

...

Jam 3 pagi, seperti biasa, aku membangunkan anak-anak santri untuk melaksanakan ibadah sholat tahajud. Pertama, aku membangunkan beberapa santri kelas 3 yang saat ini telah masuk ke masa pengabdian. Ketika memasuki ruang kamar mereka, hanya kudapati beberapa santri yang terbaring lelap di kasur. Sisanya, aku yakin mereka tidur di ruang perpustakaan gedung 2 pondok.

Aku kemudian bergegas menuju ruang perpustakaan. Tubuh menggigil masih menyertaiku sejak semalam terguyur hujan lebat setelah pulang dari kondangan dari tempat salah satu ustadz.

Di ruang perpustakaan, kudapati beberapa santri kelas 3 masih tertidur nyenyak. Aku kemudian membangunkan mereka dengan nada yang cukup keras, tak seperti biasanya. Mereka lalu kuminta untuk menjalankan tugasnya, membangunkan santri kelas 1 dan 2 di asrama.

Aku mengontrol mereka agar tugas dijalankan dengan baik. Sebenarnya mereka menjalankan tugas seperti biasanya. Hanya saja, karena kondisi hati ini sedang kurang baik, mereka lalu kumarahi karena kurasa tadi mereka kurang tegas dalam menjalankan tugas.

Setiap bangun, aku pasti mampir ke kantin dan membeli dua makanan ringan. Satu bungkus untuk aku makan sendiri, satu bungkus lagi kuberikan ke salah satu santri. Tapi tidak untuk beberapa hari ini. Sebagai salah satu santri yang paling aku percaya, ku rasa dia sudah membuat kecewa. Menghilangkan kepercayaan yang diberikan. 

Sebenarnya tidak terlalu mengecewakan, hanya saja, lagi-lagi karena kondisi hati yang sedang tidak baik, membuat kesalahan kecil berasa sangat besar.

Orangtuaku pagi ini menelfon. Sudah beberapa hari ini ternyata aku tak mengirim kabar ke mereka. 

...

Empat bulan. Entah berapa lama lagi aku harus menghilangkan luka ini dari hati. Apakah lelaki boleh serapuh ini dalam urusan hati? 

Sunday, 11 September 2022



Di era yang serba menggunakan teknologi ini, pembelajaran daring mulai gencar dilaksanakan. Pada program pembelajaran daring tersebut, penggunaan google form semakin meningkat. Layanan google form ini dapat digunakan untuk membuat formulir, membuat soal ujian, pemungutan suara, hingga kuisioner.

Cara Membuat Soal Ujian di Google Form
Langkah membuat soal ujian menggunakan google form cukup mudah, berikut adalah langkah-langkahnya : 

1. Pastikan memiliki handphone dan laptop
2. Masuk ke akun google atau gmail
3. Buka halaman docs.google.com/forms
4. Pada halaman google form tersebut, pilih 'Kosong' atau 'Blank'

5. Ubah menjadi judul soal pada gambar yang dilingkari merah


6.  Pada pilihan menu atas, pilih menu 'Setelan' atau 'Setting'

7. Aktifkan pilihan 'Jadikan ini sebagai kuis'

8. Kembali ke menu 'Pertanyaan' dan mulai membuat soal
9. Tulis opsi 'nama' dan pastikan pilihan pengisiannya adalah 'Jawaban Singkat'. Aktifkan 'Wajib diisi' agar ketika siswa lupa mengisi, soal belum bisa terkirim dan akan muncul peringatan

10. Tekan tool 'Tambahkan Pertanyaan' yang diwakili oleh icon plus (+)

11. Tulis pertanyaan dan opsi pilihan jawaban, dan pastikan memilih 'pilihan ganda' pada opsi pengisian jawaban.


12. Pilih jawaban yang benar dan poin yang akan didapat dari setiap jawaban benar.  Pilih 'Kunci Jawaban' untuk menentukan kunci jawaban/jawaban yang benar

untuk pemberian poin, tergantung dari jumlah soal yang diberikan atau kesepakatan dewan guru. Misalkan jumlah soal adalah 25 butir, maka poin yang diberikan pada setiap nomor adalah 4 poin.

Pemberian poin berada di bagian kanan atas setiap soal.      

Selanjutnya, tekan 'done'.

Ulangi lagi sampai jumlah soal terpenuhi.

13. Jika sudah selesai, pencet tombol 'Kirim';  kemudian salin link form.



14. Untuk melihat hasil nilai yang sudah dikerjakan oleh siswa, pilih menu 'Jawaban', pada bagian tersebut, akan muncul jawaban yang diisi oleh siswa lengkap dengan nilai yang tercapai sesuai dengan poin yang diberikan.



15. Google Form diap digunakan.

Naah, itu tadi adalah langkah-langkah menulis soal melalui google form. Semoga bermanfaat.