Bagi seorang guru, tidak ada kebahagiaan dan kebanggaan yang lebih besar daripada melihat anak-anak didiknya tumbuh, menemukan jalan mereka, dan meraih prestasi.
Rasanya baru kemarin saya mengenali tiga wajah asing di kelas 10 SMK, tiga anak santri bernama Rakha, Faiq, dan Dzaka.
Jujur, di awal perjalanan mereka di sekolah dan pondok, keadaannya tidak langsung berjalan mulus. Saat kelas 10, mereka sempat berada di titik terendah: merasa tidak betah mondok dan berulang kali menyampaikan keinginan untuk keluar atau pindah sekolah. Sebagai guru, ada rasa cemas melihat keraguan dan kegelisahan di mata mereka kala itu.
Namun, dunia selalu punya cara ajaib untuk membimbing seseorang menemukan tempatnya. Di tengah proses pencarian diri itu, perlahan namun pasti, ketiganya menemukan satu hal yang menyalakan semangat mereka: dunia perfilman.
Dari yang tadinya ragu dan ingin menyerah, mereka mulai mengalihkan fokus dan energi untuk berkarya melalui film pendek. Dan siapa sangka, passion yang ditempa dengan ketekunan itu berbuah manis dalam bentuk prestasi yang luar biasa:
- Juara 3 Lomba Film Pendek Se-Jabodetabek yang diselenggarakan oleh SMAN 22 Jakarta.
- Juara 2 Lomba Film Pendek Nasional pada Festival Ilmiah Santri 2026 yang diadakan oleh Ponpes Al-Hikam Malang.
- 15 Film Terpilih Festival Film Kabupaten Bogor 2025, di mana karya film pendek mereka berhasil lulus sensor dan mendapat hak untuk ditayangkan langsung di CGV Cinema Sentul City.
Jujur, saya bukanlah orang yang mengajari mereka dari nol tentang seluk-beluk videografi atau pembuatan film. Namun, bisa hadir di samping mereka, memberikan semangat, serta menemani perjalanan dan proses tumbuh mereka adalah sebuah kehormatan besar bagi saya sebagai seorang guru.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Tiga anak yang dulu sempat ingin angkat kaki dari pondok kini sudah duduk di kelas 12. Mereka sedang fokus menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan bersiap menyambut kelulusan. Sungguh rasanya masih tidak sangka melihat transformasi luar biasa ini.
Dari perjalanan Rakha, Faiq, dan Dzaka, ada hikmah mendalam yang saya petik sebagai pendidik:
- Rasa "Tidak Betah" Bisa Jadi Awal Pencarian DiriTerkadang, rasa tidak nyaman atau dorongan untuk menyerah di awal bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa seseorang sedang mencari ruang yang tepat untuk dirinya. Ketika energi ketidakbetahan itu dialihkan ke wadah yang positif, hasilnya bisa luar biasa.
- Tugas Guru Bukan Hanya Mengajar, Tapi MenemaniKita tidak harus menjadi orang yang paling ahli untuk membantu murid sukses. Tugas utama guru sering kali sederhana: percaya pada potensi mereka ketika mereka sendiri sedang ragu, dan setia menemani prosesnya hingga mereka menemukan pijakan sendiri.
- Santri dan Karya KreatifStatus sebagai santri sama sekali tidak membatasi ruang gerak untuk mengekspresikan diri. Rakha, Faiq, dan Dzaka membuktikan bahwa nilai-nilai kesantrian dan kreativitas seni modern justru bisa berpadu indah menghasilkan karya yang diakui secara luas.
Untuk Rakha, Faiq, dan Dzaka, terima kasih sudah memberi Bapak/Ibu guru pelajaran berharga tentang arti pantang menyerah dan berproses. Sukses untuk PKL-nya, lancar sampai kelulusan, dan teruslah berkarya mengejar mimpi kalian!

0 Comments