Pendakian pertama saya ke Gunung Butak bersama delapan orang teman seharusnya menjadi pengalaman yang penuh cerita tentang pemandangan, perjuangan mencapai puncak, dan indahnya persahabatan.
Ternyata, ada satu cerita lain yang justru paling saya ingat sampai sekarang.
Bukan soal puncak.
Bukan soal sunrise.
Bukan pula soal betapa capeknya kaki saat mendaki.
Tetapi soal...
mencret di tengah gunung.
Iya.
Mencret.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, saya mengalaminya saat sedang mendaki bersama delapan teman yang semuanya punya bakat alami untuk menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan candaan.
Berangkat dari Jombang dengan Penuh Semangat
Kami berangkat dari Jombang dengan perasaan yang luar biasa ceria. Maklum, semuanya masih muda dan semangat mendaki sedang tinggi-tingginya.
Rasanya seperti anak sekolah yang baru saja dibebaskan dari ujian.
Saya naik motor bersama Faisal. Kami bergantian menyetir sambil menyanyi lagu-lagu rock yang entah kenapa masih kami hafal sejak zaman SMP.
Perjalanan sekitar dua jam terasa seperti dua tahun.
Bukan karena jalannya terlalu lama, tetapi karena kalau sudah bersama teman-teman yang super heboh, perjalanan sederhana pun bisa berubah menjadi acara komedi keliling.
Kami tertawa, bercanda, ngobrol ngalor-ngidul, sampai akhirnya tiba di lokasi awal pendakian.
Sesampainya di sana, kami berkumpul dan berdoa terlebih dahulu.
Doanya sederhana: semoga pendakian lancar, diberi kesehatan, cuaca bersahabat, dan tidak ada yang mengalami masalah selama perjalanan.
Terutama saya.
Maklum, ini adalah pendakian pertama saya.
Saat itu saya belum tahu bahwa beberapa jam kemudian saya akan menghadapi ujian yang sama sekali tidak tercantum dalam daftar perlengkapan pendakian.
Pendakian Dimulai, Saya Masih Sok Jago
![]() |
Awal pendakian berjalan lancar.
Saya bahkan sempat merasa seperti pahlawan pegunungan.
Langkah masih ringan.
Napas masih teratur.
Semangat masih 100 persen.
Sesekali kami berhenti untuk foto-foto. Maklum, kalau mendaki bersama teman, dokumentasi itu wajib.
Belum sampai puncak saja sudah banyak foto.
Kalau nanti sampai puncak, mungkin stok foto cukup untuk konten selama setahun.
Semuanya terasa sempurna.
Sampai kemudian...
perut saya mulai berbicara.
Awalnya hanya mulas kecil.
Saya pikir, “Ah, paling masuk angin.”
Saya lanjut berjalan.
Beberapa menit kemudian, perut kembali berbunyi.
Kali ini bukan lagi sekadar sapaan.
Ini sudah seperti peringatan resmi dari pemerintah pusat.
Saya mulai berkeringat dingin.
Langkah yang tadinya santai mulai berubah.
Saya mulai berjalan sambil menahan perut.
Dalam hati saya cuma punya satu pertanyaan:
“Di gunung ini ada toilet nggak, ya?”
Lalu saya sadar.
Ya jelas tidak ada toilet di tengah jalur pendakian.
Di situlah masalah sebenarnya dimulai.
Saat Perut Mengeluarkan Surat Peringatan Terakhir
Saya mencoba menahannya.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Semakin ditahan, semakin saya merasa bahwa keputusan saya untuk mendaki gunung mungkin merupakan keputusan hidup yang perlu dievaluasi kembali.
Akhirnya saya tidak kuat.
Saya mendekati Faisal dan berbisik pelan.
“Bro... aku butuh toilet.”
Saya berharap dia memahami situasinya dengan tenang.
Ternyata saya salah besar.
Faisal langsung berteriak:
“WOY! DIA MAU MENCRET!”
Saya langsung menatapnya dengan tatapan yang mungkin bisa membunuh nyamuk dari jarak lima meter.
Teman-teman yang lain spontan menoleh.
Ada yang bingung.
Ada yang tertawa.
Ada yang langsung memberikan komentar.
Saya yang tadinya sudah panik malah semakin malu.
Dan masalah belum selesai.
Persediaan air kami juga terbatas.
Dalam kondisi seperti itu, teman-teman mulai memberikan berbagai “solusi”.
Salah satunya datang dari Satria.
“Kalau sudah selesai, bersihin pakai batu, bro!”
Saya tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Dalam kondisi normal mungkin itu lucu.
Tapi ketika sedang benar-benar kebelet, mendengar kata “batu” justru membuat saya semakin stres.
Misi Mencari Tempat untuk BAB
Akhirnya saya memutuskan untuk mencari tempat yang aman dan jauh dari jalur.
Saya berjalan menjauh sekitar seratus meter dari teman-teman.
Setiap langkah terasa seperti sebuah perjuangan.
Bukan karena tanjakannya.
Tetapi karena saya sedang membawa “bom waktu” di dalam perut.
Saya mencari tempat yang cukup tersembunyi, jauh dari jalur pendakian dan tidak dekat dengan sumber air.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya saya menemukan sebuah pohon besar.
Dalam hati saya berkata,
“Ini dia... tempat yang telah dipersiapkan alam untuk menyelamatkan hidup saya.”
Saya kemudian menyiapkan tempat untuk BAB.
Dan begitu semuanya selesai...
LEGA.
Sulit menjelaskan rasa lega itu.
Rasanya seperti baru saja menurunkan carrier 20 kilogram setelah mendaki selama berjam-jam.
Bedanya, yang saya turunkan bukan carrier.
Tapi...
Ya sudahlah.
Kita tidak perlu membahas lebih detail.
Yang jelas, setelah itu saya merasa seperti manusia baru.
Tapi Ternyata BAB di Gunung Tidak Semudah yang Dibayangkan
Setelah urusan utama selesai, muncul masalah berikutnya:
bersih-bersih.
Persediaan air terbatas.
Saya pun teringat saran teman-teman tadi.
Batu.
Saya mencoba mencari batu yang cocok.
Tapi ternyata teori dan praktik adalah dua hal yang sangat berbeda.
Batu yang terlihat cocok dari jauh ternyata tidak selalu cocok digunakan.
Akhirnya saya menggunakan perlengkapan yang saya punya untuk membantu membersihkan diri.
Di situ saya belajar satu hal penting:
Jangan pernah meremehkan pentingnya membawa perlengkapan kebersihan ketika mendaki.
Tisu, air yang cukup, dan perlengkapan sanitasi sederhana bisa menjadi barang paling berharga ketika keadaan darurat datang tanpa pemberitahuan.
Setelah semuanya beres, saya berdiri dan menarik napas panjang.
Rasanya...
merdeka.
Kalau ada upacara kemerdekaan saat itu, mungkin saya akan ikut mengibarkan bendera.
Kembali ke Rombongan, Malah Jadi Bahan Candaan
Setelah merasa cukup aman dan semuanya sudah saya rapikan, saya kembali ke teman-teman.
Mereka ternyata masih menunggu.
Begitu saya datang, Aldi langsung menyambut dengan senyum penuh dosa.
“Kamu dari mana, bro?”
Saya diam.
Dia melanjutkan,
“Dari tadi radar kita kehilangan sinyal.”
Teman-teman langsung tertawa.
Saya cuma bisa pasrah.
Mau marah juga percuma.
Akhirnya saya ikut tertawa.
Bagaimanapun juga, kejadian itu memang konyol.
Dan justru karena itulah sampai sekarang masih menjadi salah satu cerita paling memorable dari pendakian pertama saya.
Setelah urusan perut selesai, pendakian terasa jauh lebih ringan.
Saya berjalan dengan perasaan seperti manusia yang baru mendapatkan kesempatan hidup kedua.
Kaki tetap capek.
Tanjakan tetap menanjak.
Tetapi setidaknya satu masalah besar sudah selesai.
Pelajaran Penting: BAB di Gunung Itu Ada Etikanya
Dari pengalaman tersebut, saya kemudian sadar bahwa BAB di gunung bukan sekadar mencari tempat sepi lalu selesai.
Kita juga harus memikirkan lingkungan, pendaki lain, sumber air, dan kebersihan kawasan.
Kalau suatu hari kalian mengalami keadaan darurat seperti saya, berikut beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.
1. BAB dulu sebelum berangkat
Ini adalah tips paling sederhana sekaligus paling penting.
Sebelum meninggalkan basecamp atau titik awal pendakian, manfaatkan toilet yang tersedia.
Jangan merasa, “Ah, nanti saja.”
Karena perut kadang punya rencana sendiri.
Kalau memang punya riwayat perut sensitif saat perjalanan, persiapkan diri sejak awal dan jangan menganggap remeh sinyal dari tubuh.
2. Selalu bawa perlengkapan BAB darurat
Masukkan perlengkapan sederhana ke dalam tas kecil yang mudah diambil.
Misalnya:
Tisu toilet atau tisu tanpa pewangi.
Hand sanitizer.
Kantong plastik atau ziplock untuk membawa kembali tisu bekas jika aturan lokasi mengharuskannya.
Sekop kecil untuk menggali cat hole bila memang diperbolehkan dan sesuai kondisi kawasan.
Air secukupnya untuk kebersihan pribadi.
Jangan menunggu sampai kebelet baru mencari perlengkapan.
Saat perut sudah “memberikan instruksi”, mencari tisu di dalam carrier bisa terasa seperti mengikuti lomba survival.
3. Jangan BAB dekat sumber air
Ini penting.
Jangan memilih lokasi yang dekat dengan sungai, mata air, danau, atau sumber air lainnya.
Kotoran manusia dapat mencemari lingkungan dan air.
Pilih lokasi yang jauh dari sumber air, jauh dari jalur pendakian, dan tidak berada di tempat yang kemungkinan besar akan digunakan orang lain.
4. Cari lokasi yang aman dan tidak terlihat orang
Privasi penting, tetapi jangan sampai karena mencari tempat tersembunyi Anda malah masuk ke area yang berbahaya.
Hindari tebing, jurang, lereng yang sangat curam, atau tempat yang licin.
Jangan sampai niatnya mau menyelesaikan masalah perut, malah pulang dengan masalah kaki.
Kalau memungkinkan, beri tahu satu teman terpercaya bahwa Anda sedang mencari tempat untuk BAB agar mereka tahu keberadaan Anda.
5. Untuk BAB padat, gunakan cat hole bila diperbolehkan
Di kawasan yang memperbolehkannya dan tidak memiliki fasilitas toilet, salah satu metode yang umum digunakan adalah membuat cat hole, yaitu lubang kecil untuk mengubur kotoran manusia.
Gunakan sekop kecil, bukan tangan.
Lokasinya harus jauh dari sumber air dan jalur, serta berada di tanah yang sesuai.
Setelah selesai, kotoran ditutup kembali dengan tanah dan kondisi lokasi dibuat semirip mungkin dengan keadaan sebelumnya.
Namun, aturan setiap gunung dan kawasan konservasi bisa berbeda. Jika pengelola mewajibkan penggunaan toilet atau fasilitas sanitasi tertentu, ikuti aturan tersebut.
6. Jangan meninggalkan tisu sembarangan
Ini kesalahan yang sering terjadi.
Jangan meninggalkan tisu bekas, wet wipes, pembalut, atau perlengkapan kebersihan lainnya di belakang pohon atau di dalam lubang.
Bawa kembali sampah tersebut.
Masukkan ke kantong tertutup dan buang di tempat sampah yang sesuai setelah turun.
Kalau ingin mendaki, prinsip sederhananya:
Apa yang kamu bawa naik, sebisa mungkin kamu bawa turun lagi.
Gunung bukan toilet umum.
7. Jangan mengandalkan batu sembarangan
Ini khusus berdasarkan pengalaman pribadi saya.
Teman boleh bercanda menyuruh menggunakan batu.
Tetapi dalam praktiknya, jangan asal mengambil batu untuk membersihkan diri.
Batu bisa tajam, kasar, kotor, atau melukai kulit.
Lebih baik membawa perlengkapan kebersihan yang memang disiapkan untuk kondisi darurat.
Percayalah.
Saya sudah pernah berada di posisi itu.
8. Jangan malu meminta bantuan
Kalau benar-benar kebelet, jangan memaksakan diri menahan terlalu lama hanya karena malu.
Beri tahu satu teman yang bisa dipercaya.
Teman yang baik bukan hanya teman yang mau menemani sampai puncak.
Teman yang baik juga adalah teman yang bersedia menjadi penjaga ketika Anda sedang menjalankan...
misi rahasia di balik pohon.
Dan tentunya, jangan biarkan teman mengambil foto atau menyebarkan lokasi Anda saat sedang BAB. Privasi tetap nomor satu.
Kalau Mencret, Jangan Dipaksakan Terus Mendaki
Satu hal yang baru saya pahami setelah kejadian tersebut: mencret di gunung bukan sekadar kejadian lucu.
Diare bisa menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Kalau terus dipaksakan mendaki, kondisi bisa memburuk, terutama ketika cuaca panas, jalur berat, atau persediaan air terbatas.
Jadi kalau diare terjadi berulang kali, tubuh terasa sangat lemas, pusing, muntah terus-menerus, atau muncul tanda-tanda dehidrasi, jangan memaksakan diri.
Lebih baik mempertimbangkan turun atau mencari bantuan dari teman, porter, petugas, atau pengelola jalur.
Keselamatan tetap lebih penting daripada memaksakan target puncak.
Pendakian Pertama yang Tidak Akan Pernah Saya Lupakan
Kalau ditanya apa yang paling saya ingat dari pendakian pertama ke Gunung Butak, mungkin orang akan mengira saya akan menjawab:
“Pemandangannya.”
“Atau sunrise.”
“Atau perjuangan mencapai puncak.”
Jawaban saya?
Toilet.
Karena ternyata pengalaman mendaki gunung tidak selalu tentang bagaimana kita berhasil mencapai puncak.
Kadang, pengalaman paling berkesan justru datang dari hal yang sama sekali tidak kita rencanakan.
Pendakian pertama saya mengajarkan bahwa gunung bisa memberikan banyak pelajaran.
Tentang fisik.
Tentang mental.
Tentang persahabatan.
Tentang mempersiapkan perlengkapan.
Dan tentu saja...
tentang pentingnya tidak meremehkan suara perut.
Jadi, buat kalian yang ingin mendaki:
Nikmati perjalanan.
Jaga lingkungan.
Hormati pendaki lain.
Bawa turun sampahmu.
Dan kalau perut mulai berbunyi aneh...
Jangan sok kuat.
Karena kalau sudah masuk fase,
“Bro... kayaknya gue mau mencret.”
itu bukan lagi waktunya diskusi.
Itu waktunya evakuasi.





0 Comments