Minggu lalu, aku menemani murid-muridku mengikuti lomba cerdas cermat di Kolese Kanisius Jakarta. Sebelum menuju tempat perlombaan, kami menyempatkan diri mampir ke Masjid Istiqlal. Di perjalanan, kami bertemu dengan seorang ibu yang sedang mencari rezeki di jalan. Kami tidak mengenalnya, tidak ada percakapan panjang, bahkan mungkin bagi beliau kami hanyalah orang-orang yang kebetulan lewat di hadapannya. Tapi tiba-tiba, beliau mendoakan kami, “Semoga belajarnya dilancarkan. Semoga berhasil.” Sesederhana itu. Kami mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan. Saat itu kami tidak pernah berpikir bahwa doa singkat tersebut akan terus teringat sampai perlombaan selesai.
Jujur, sejak awal kami tidak memasang target yang terlalu tinggi. Kami tahu siapa yang akan kami hadapi. Lomba ini diikuti oleh sekolah-sekolah yang sudah sangat dikenal, termasuk sekolah-sekolah Kristen dan Katolik dengan tradisi akademik yang kuat. Nama-nama besar, anak-anak yang tentu sudah terbiasa mengikuti berbagai kompetisi. Sementara kami datang dari SMP IT Orenz dengan membawa kemampuan yang kami punya. Kami tidak ingin membebani anak-anak dengan target yang terlalu tinggi. Kami hanya bilang, berikan yang terbaik, jangan takut, dan nikmati prosesnya.
Selama perlombaan berlangsung, aku juga berpesan kepada anak-anak untuk selalu menjaga wudhu dan terus membaca sholawat. Bukan karena kami menganggap itu sebagai jaminan kemenangan, tetapi sebagai ikhtiar untuk menjaga hati tetap tenang, pikiran tetap jernih, dan mengingat bahwa di balik semua usaha yang kami lakukan, tetap ada Allah tempat kami berserah.
Lomba berlangsung selama tiga hari. Hari pertama adalah babak penyisihan grup. Kami masuk ke arena dengan perasaan campur aduk. Anak-anak berusaha fokus menjawab setiap pertanyaan. Satu demi satu soal berhasil dilewati. Sampai akhirnya, kami melihat hasilnya: nilai kami menjadi yang tertinggi di babak penyisihan grup. Rasanya campur aduk. Senang, tentu saja. Tapi mulai muncul sedikit harapan. “Wah… ternyata kita bisa.”
Hari kedua adalah babak semifinal. Tekanan mulai terasa lebih besar. Satu kesalahan bisa membuat perjalanan kami berhenti. Anak-anak berusaha tetap tenang dan fokus. Dan alhamdulillah, lagi-lagi skor kami menjadi yang tertinggi. Saat itu aku mulai melihat sesuatu di wajah anak-anak. Ada keyakinan yang tumbuh. Ada rasa percaya diri. Dari yang awalnya datang tanpa banyak berharap, sekarang mereka mulai percaya bahwa mungkin kami memang bisa melangkah lebih jauh.
Sampailah kami di hari ketiga, babak final. Empat tim terbaik akhirnya bertemu. Ada kami, SMP IT Orenz, kemudian SMP Kolese Kanisius, SMP Budi Mulia, dan SMP Saint Joseph. Hanya tiga juara yang akan diambil. Artinya, dari empat tim yang sudah berhasil sampai ke final, pasti ada satu tim yang harus pulang tanpa gelar.
Sebelum final dimulai, aku sempat bilang kepada anak-anak, “Yang penting jangan sampai nomor empat. Kalian sudah keren bisa sampai final. Berapa pun juaranya nanti, kalian tetap keren. Kalian sudah membuktikan bahwa kalian mampu bersaing sampai tahap ini.” Kalimat itu aku sampaikan untuk membuat mereka lebih tenang. Karena sebagai guru, tentu aku ingin melihat mereka menang. Tapi aku juga ingin mereka tahu bahwa keberhasilan mereka tidak hanya ditentukan oleh posisi akhir.
Babak final dimulai.
Sistemnya ini babak rebutan. Siapa yang paling cepat menekan dan menjawab, dia yang punya kesempatan mendapatkan poin. Dan yang paling membuat tegang, skornya langsung ditulis dan terlihat di depan mata. Tidak ada menunggu pengumuman. Tidak ada waktu untuk menebak-nebak hasil. Setiap beberapa menit, kami bisa melihat sendiri posisi kami.
Awalnya kami unggul.
Lalu disalip.
Naik lagi.
Disalip lagi.
Setiap kali skor kami terkejar, rasanya jantung ikut berhenti sebentar. Anak-anak tetap berusaha fokus. Aku dari belakang hanya bisa memberi kode dan semangat. “Tenang… fokus… jangan buru-buru.”
Pertanyaan berikutnya datang. Rebutan lagi.
Kami mendapatkan poin.
Aku kembali melihat papan skor.
Masih berkejaran.
SMP Kanisius mengejar.
Budi Mulia mengejar.
Saint Joseph juga terus berusaha mendapatkan poin.
Dan di situ aku benar-benar merasakan bagaimana tegangnya menjadi pendamping.
Bukan karena takut anak-anak tidak mampu. Tapi karena aku tahu mereka sudah berjuang selama tiga hari. Aku tidak ingin perjuangan mereka berakhir di posisi keempat.
Di dalam hati aku terus berdoa.
“Ya Allah, tenangkan anak-anak ini. Jernihkan pikirannya. Berikan mereka ketenangan untuk menjawab.”
Sampai akhirnya, soal-soal terakhir mulai dibacakan.
Skor semakin dekat.
Kami sempat disalip lagi.
Tegang.
Kemudian mendapatkan poin lagi.
Naik.
Disalip.
Naik lagi.
Rasanya seperti naik roller coaster, tetapi tidak ada yang bisa turun sebelum permainan benar-benar selesai.
Sampai akhirnya pertandingan berakhir.
Kami melihat papan skor.
SMP Kolese Kanisius berada di posisi pertama.
Dan alhamdulillah...
SMP IT Orenz berada di posisi kedua.
Kami berhasil menjadi Juara 2 Cerdas Cermat tingkat Jabodetabek.
Saat itu rasanya bukan sekadar senang.
Ada lega.
Ada haru.
Ada sedikit rasa kecewa karena tentu kami ingin menjadi juara pertama.
Tapi rasa syukur jauh lebih besar.
Karena anak-anak ini sudah memberikan semuanya.
Mereka datang tanpa target yang terlalu tinggi. Mereka melewati babak penyisihan dengan skor tertinggi. Hari kedua, mereka kembali menjadi yang tertinggi di semifinal. Dan pada hari ketiga, mereka mampu bertahan sampai akhir di antara empat tim terbaik.
Dan di tengah semua itu, pikiranku kembali kepada seorang ibu yang kami temui di jalan sebelum perlombaan.
Aku kembali teringat pada doa sederhananya.
“Semoga belajarnya dilancarkan. Semoga berhasil.”
Kami tidak tahu apakah doa itu menjadi salah satu sebab Allah memberikan hasil ini. Kami tidak pernah bisa memastikan. Tapi rasanya terlalu indah untuk tidak mengingatnya.
Mungkin bagi ibu itu, doa tersebut hanya terucap beberapa detik.
Tapi bagi kami, doa itu menjadi bagian dari cerita yang akan selalu kami kenang.
Aku semakin percaya bahwa kita tidak pernah tahu doa siapa yang Allah dengar untuk kita. Bisa jadi doa orang tua, doa guru, doa teman, atau bahkan doa dari seseorang yang tidak pernah kita kenal.
Karena tidak ada doa yang sia-sia.
Tidak semua doa harus berakhir dengan menjadi nomor satu. Terkadang, Allah mengabulkan doa dalam bentuk keberanian untuk mencoba, kekuatan untuk bertahan, kesempatan untuk belajar, dan hasil yang mungkin jauh lebih baik dari apa yang sejak awal kita bayangkan.
Hari itu kami memang tidak menjadi juara pertama.
Tapi kami berhasil membuktikan bahwa SMP IT Orenz bisa berdiri di antara sekolah-sekolah terbaik yang bertanding.
Dan buatku, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat bangga.
Bukan hanya karena sebuah piala.
Tapi karena aku melihat sendiri bagaimana anak-anak itu berjuang, menahan gugup, saling menyemangati, menjaga wudhu, membaca sholawat, dan tetap berusaha tenang meskipun skor berkali-kali tersalip.
Mungkin inilah salah satu hal paling indah dari menjadi guru: melihat murid-murid yang kita dampingi ternyata mampu melampaui batas yang sebelumnya kita kira mereka miliki.
Terima kasih untuk para santri.
Kalian sudah keren.
Kalian sudah sampai final.
Dan seperti yang aku katakan sebelum final dimulai, yang penting jangan sampai nomor empat.
Ternyata Allah memberikan kita nomor dua.
Alhamdulillah.
Dan untuk ibu yang waktu itu mendoakan kami, mungkin Ibu tidak pernah tahu siapa kami. Mungkin Ibu juga sudah lupa pernah mendoakan kami.
Tapi kami akan mengingatnya.
Karena mungkin, doa yang Ibu ucapkan dengan sederhana itu adalah salah satu doa yang Allah jadikan penguat langkah kami.
Sebab kita tidak pernah tahu doa mana yang sedang Allah dengarkan.
Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha, terus berdoa, dan percaya bahwa tidak ada doa yang sia-sia.
.jpeg)
0 Comments