Ketika Hujan Turun Setelah Doa Para Santri

Hari ini saya berangkat dari pondok untuk mengantar beberapa santri mengikuti lomba di SMA Kanisius Jakarta. Namun, kami belum sampai di Jakarta. Perjalanan baru saja dimulai. Karena kegiatan lomba baru akan berlangsung besok, malam ini kami memilih bermalam terlebih dahulu di rumah salah seorang wali santri kelas 9 yang kebetulan rumahnya berada tidak jauh dari stasiun. Besok pagi, perjalanan akan kami lanjutkan menuju SMA Kanisius. Malam ini seharusnya menjadi malam sederhana. Istirahat setelah perjalanan dari pondok, makan malam, berbincang sebentar dengan keluarga wali santri, lalu tidur untuk mempersiapkan kegiatan esok hari. Tetapi ternyata malam ini Allah memberikan sebuah kabar yang membuat hati saya begitu tersentuh.

Sesampainya di rumah wali santri, grup pondok tiba-tiba ramai. Salah satu kabar yang masuk membuat saya langsung berhenti sejenak membaca. “Di pondok hujan deras.” Saya membacanya lagi. Hujan. Akhirnya hujan. Setelah berbulan-bulan. Entah kenapa, kabar sederhana itu langsung membuat hati saya terasa penuh. Saya terharu. Benar-benar terharu. Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya hujan. Turun sore atau malam, kemudian berhenti. Besok jalanan basah, udara menjadi lebih dingin, dan aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Tetapi bagi kami di pondok, hujan kali ini terasa sangat berbeda. Kami tahu bagaimana rasanya melewati kemarau panjang. Kami tahu bagaimana persediaan air di pondok semakin menipis. Kami tahu bagaimana air yang biasanya terasa begitu biasa, tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dijaga sedemikian rupa. Dan malam ini, Allah menurunkan hujan.

Beberapa bulan terakhir, pondok memang sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. Kemarau panjang membuat persediaan air semakin berkurang. Air menjadi salah satu hal yang harus benar-benar diperhatikan. Para santri tetap harus menjalani aktivitas seperti biasa. Mandi, wudhu, membersihkan lingkungan, dan berbagai kebutuhan lainnya semuanya membutuhkan air. Sementara hujan tak kunjung datang. Dalam kondisi seperti itu, kami hanya bisa berusaha menghemat dan berdoa agar Allah segera memberikan pertolongan. Dan beberapa hari yang lalu, para santri melakukan sebuah ikhtiar yang sederhana, tetapi bagi saya sangat menyentuh.

Hari Kamis kemarin, pondok mengadakan shalat istisqa. Beberapa warga sekitar juga ikut bergabung. Sebelum melaksanakan shalat istisqa, para santri menjalankan puasa sunnah selama tiga hari. Kemudian karena shalat istisqa dilaksanakan pada hari Kamis, mereka melanjutkan dengan puasa Kamis. Jadi totalnya mereka menjalankan puasa selama empat hari. Empat hari menahan lapar dan haus. Empat hari menjalani aktivitas sebagai santri sambil tetap menyimpan harapan yang sama: semoga Allah menurunkan hujan, semoga air kembali tersedia, semoga kemarau segera berakhir.

Saya membayangkan anak-anak itu menjalani puasa sambil tetap mengikuti kegiatan pondok. Mereka mungkin lelah. Mereka mungkin haus. Tetapi ada sebuah harapan yang membuat mereka bertahan. Dan setelah shalat istisqa selesai, muncul sebuah pertanyaan dari seorang santri. Pertanyaan yang sampai malam ini masih saya ingat. Seorang santri bertanya, “Kalau tidak hujan, berarti shalat istisqa sama puasa kita sia-sia, ya?” Saya terdiam sejenak. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Anak itu sedang mencoba memahami bagaimana doa bekerja. Mereka sudah berpuasa, sudah shalat, sudah berdoa. Lalu bagaimana kalau hujan tetap tidak turun? Apakah semua usaha itu sia-sia?

Saya mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa ibadah dan doa tidak pernah sia-sia. Jawaban dari Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung kita lihat. Kadang sebuah doa dikabulkan segera, kadang harus menunggu, dan kadang Allah memberikan jawaban dalam bentuk yang berbeda dari apa yang kita minta. Tugas kita adalah berdoa, berusaha, dan tetap percaya kepada Allah. Saat itu saya tidak tahu kapan hujan akan turun. Tidak ada yang tahu. Bisa besok, bisa minggu depan, bisa bulan depan, atau mungkin masih lama. Kami hanya bisa berharap.

Lalu malam ini, satu hari setelah shalat istisqa itu, saya sedang berada jauh dari pondok. Hari ini saya bersama beberapa santri sedang dalam perjalanan menuju Jakarta untuk kegiatan lomba besok. Malam ini kami baru sampai di rumah wali santri. Belum sampai ke tempat lomba. Belum masuk ke SMA Kanisius. Belum melakukan apa-apa terkait perlombaan. Kami baru saja memulai perjalanan. Dan justru di malam pertama perjalanan itulah kabar itu datang. Pondok hujan deras.

Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya tersenyum sambil menahan haru. Rasanya seperti mendapatkan kabar dari rumah bahwa seseorang yang selama ini kita tunggu akhirnya pulang. Hujan itu seperti tamu yang sudah lama kami nantikan. Dan malam ini, ia datang.

Saya langsung teringat pertanyaan santri beberapa hari lalu. “Kalau tidak hujan, berarti shalat sama puasa kita sia-sia, ya?” Malam ini rasanya Allah memberikan sebuah jawaban. Bukan lewat kata-kata, bukan lewat penjelasan panjang, tetapi lewat air yang turun dari langit. Hujan. Deras. Setelah kemarau panjang. Setelah persediaan air pondok mulai berkurang. Setelah para santri berpuasa empat hari. Setelah mereka melaksanakan shalat istisqa bersama.

Saya tahu, hujan adalah kehendak Allah. Kita tidak boleh merasa bahwa satu kelompok manusia bisa memaksa hujan turun. Tetapi sebagai orang yang menyaksikan rangkaian peristiwa ini dari dekat, saya tidak bisa memungkiri satu hal: hujan malam ini terasa begitu istimewa. Terasa seperti sebuah hadiah. Terasa seperti sebuah penghiburan. Terasa seperti Allah sedang mengajarkan kepada anak-anak itu tentang arti berharap.

Saya jadi membayangkan suasana di pondok malam ini. Mungkin para santri sedang berlarian kecil melihat hujan. Mungkin ada yang berdiri di teras. Mungkin ada yang membuka pintu dan merasakan dinginnya udara. Mungkin ada yang hanya diam sambil mendengarkan suara air. Dan mungkin ada satu atau dua santri yang tiba-tiba teringat pada shalat istisqa. Teringat pada puasanya. Teringat pada doanya. Teringat pada pertanyaan yang pernah ia lontarkan. Lalu mungkin dia tersenyum dan berkata kepada temannya, “Tuh, hujan.” Sederhana. Hanya dua kata. Tetapi mungkin di dalam hati mereka ada rasa bahagia yang jauh lebih.




Post a Comment

1 Comments