Dalam hidup, hampir semua orang pernah merasa tersakiti.
Dikecewakan.
Tidak dipahami.
Tidak dihargai.
Perasaan itu manusiawi. Luka itu nyata. Dan kita tidak sedang diminta untuk mengabaikannya.
Namun ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita:
Saat kita sibuk merasa menjadi orang yang paling terluka, bisa jadi tanpa sadar kita sedang menjadi luka bagi orang lain.
Izinkan saya bercerita sedikit.
Dulu, saya pernah hampir menikah dengan seorang perempuan. Hubungan kami sudah serius. Keluarga sudah saling mengenal. Rencana-rencana sudah mulai dibicarakan.
Namun pada akhirnya, kami tidak jadi menikah.
Beberapa waktu kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan laki-laki lain.
Saat itu, jujur, saya merasa sangat terluka.
Saya merasa dikhianati oleh keadaan.
Saya merasa menjadi orang yang paling tersakiti.
Saya bertanya-tanya, “Mengapa secepat itu?”
Perasaan itu memenuhi pikiran saya cukup lama.
Sampai suatu hari, saya berbicara dengan seorang teman. Ia juga teman dekatnya, tempat dia sering bercerita. Dari situlah saya mengetahui sesuatu yang membuat saya terdiam.
Ternyata dia sudah lama menunggu saya untuk melamarnya.
Dia berharap kepastian.
Dia ingin segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Sementara saya?
Saya merasa umur kami belum cukup.
Saya merasa finansial saya belum siap.
Saya merasa mental dan agama saya belum matang.
Bagi saya, itu adalah bentuk tanggung jawab.
Bagi saya, itu adalah kehati-hatian.
Tapi bagi dia…
Itu adalah penantian yang melelahkan.
Dia menunggu.
Dia bersabar.
Dia berharap.
Dan dia capek.
Di situlah saya sadar, mungkin saya bukan satu-satunya yang terluka.
Bisa jadi justru saya yang lebih dulu memberi luka.
Saya merasa ditinggalkan.
Padahal mungkin dia merasa digantungkan.
Saya merasa dikecewakan.
Padahal mungkin dia yang lebih dulu dikecewakan.
Dari situ saya belajar satu hal penting:
Kita sering melihat masalah dari sudut pandang luka kita sendiri, tanpa mau melihat luka orang lain.
Kita merasa sudah punya alasan yang baik.
Kita merasa sudah bersikap benar.
Tapi niat baik pun bisa melukai jika tidak disertai kejelasan dan keberanian mengambil keputusan.
Kadang kita terlalu lama menunda.
Terlalu lama menimbang.
Terlalu lama merasa “belum siap”.
Padahal dalam penantian yang panjang, ada hati yang sedang lelah.
Saya tidak menyesali kehati-hatian saya. Tapi saya belajar bahwa setiap keputusan—termasuk keputusan untuk menunda—tetap memiliki konsekuensi bagi orang lain.
Maka untuk kalian, para murid yang sedang belajar menjadi dewasa:
Jangan mudah merasa paling tersakiti.
Beranilah bertanya pada diri sendiri:
“Apakah ada bagian dari sikapku yang mungkin melukai?”
Kedewasaan bukan tentang siapa yang paling benar.
Kedewasaan adalah tentang siapa yang berani introspeksi.
Jika kalian berjanji, tepati.
Jika kalian belum siap, jujurlah dengan tegas.
Jika kalian ragu, jangan biarkan orang lain menggantung terlalu lama.
Karena ketidakjelasan sering kali lebih menyakitkan daripada penolakan.
Hari ini mungkin kalian belum memikirkan tentang pernikahan.
Tapi kalian sedang belajar tentang tanggung jawab, tentang komitmen, tentang keberanian mengambil keputusan.
Dan itu berlaku dalam banyak hal:
Dalam persahabatan.
Dalam organisasi.
Dalam amanah.
Dalam janji sekecil apa pun.
Jangan menjadi orang yang sibuk menuntut pengertian, tapi lupa memberi kepastian.
Jangan menjadi orang yang merasa paling terluka, tapi enggan melihat luka yang ia sebabkan.
Semoga kalian tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya berhati lembut saat disakiti,
tetapi juga berhati-hati agar tidak menyakiti.
Karena orang besar bukan yang tidak pernah membuat orang lain kecewa,
melainkan yang mau belajar dari kesalahan dan menjadi lebih bertanggung jawab setelahnya.

No comments:
Post a Comment