Showing posts with label pantai. Show all posts
Showing posts with label pantai. Show all posts

Monday, 4 November 2024

Hari itu, suasana di TK Cita Mandiri Bogor sangat ceria. Aku diminta untuk menemani siswa-siswa TK dalam rekreasi yang sudah ditunggu-tunggu. Bersama Rizqi, Jalu, dan Mbak Ella, kami bersiap-siap untuk petualangan seru menuju Pantai Ancol.


Kami naik bis yang sudah disewa oleh pihak sekolah. Yang paling menyenangkan, kami sebagai pendamping tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ya, gratis! Begitu bis melaju, suara riuh anak-anak memenuhi ruang, penuh tawa dan kegembiraan. Tidak sabar rasanya untuk sampai di pantai.

Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami tiba di Pantai Ancol. Saat melangkah turun dari bis, kami langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Pantai Ancol memang dikenal cukup estetik, meskipun secara kebersihan masih kalah dibandingkan pantai lain. Namun, pelayanan di sini patut diacungi jempol! Area yang ramai dengan banyak fasilitas membuat tempat ini sangat menarik.


Setelah membagi kelompok dan memberikan arahan kepada anak-anak, aku, Jalu, dan Mbak Ella langsung mulai mengabadikan momen-momen seru. Rizqi, si fotografer handal di antara kami, tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke segala arah. Dengan senyum ceria, anak-anak berlarian di sepanjang pantai, bermain air, dan berpose di tempat-tempat yang instagramable.

Salah satu hal yang paling menarik adalah fasilitas perahu yang ditawarkan di pantai ini. Dengan biaya hanya Rp15.000 per orang, kami sudah bisa berkeliling dan menikmati pemandangan dari tengah laut. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk menyewa perahu. Sambil berlayar, kami menikmati keindahan panorama laut yang memukau. Dengan latar belakang langit biru dan ombak yang berdebur, suasana menjadi semakin sempurna. Rizqi, yang tidak pernah ketinggalan momen, terus mengabadikan setiap detik perjalanan kami.


Setelah puas berkeliling, kami kembali ke pantai, di mana anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain pasir. Kami menghabiskan waktu dengan membuat istana pasir, berlari-lari, dan tertawa bersama. Momen-momen kecil ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Ketika hari mulai sore, kami pun bersiap untuk pulang. Meski lelah, wajah-wajah ceria anak-anak menunjukkan bahwa rekreasi ini sangat sukses. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali ke bis, siap untuk pulang ke TK. Hari itu benar-benar menjadi perjalanan yang seru dan tak terlupakan!

Thursday, 17 October 2024

  

Tenar sebagai Kota Proklamator, Blitar tak hanya memiliki tempat wisata yang sarat akan nilai kemerdekaan. Kota yang berada di bagian selatan Jawa Timur ini juga punya banyak banget wisata alam yang enggak kalah keren dengan kota-kota lainnya, loh.

Satu dari sekian banyak wisata yang ada di Blitar bernama Pantai Gondomayit. Serem banget sih memang kalau denger namanya. Mungkin itu juga yang membuat pantai berpasir putih ini masih sepi dari pengunjung asing. Padahal, pantai yang airnya jernih banget ini enggak kalah keren sama pantai-pantai yang ada di Bali.
Pantai Gondomayit terletak di desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pantai ini berlokasi enggak jauh dari Pantai Tambakrejo yang emang udah lebih terkenal.

Akses menuju Pantai Gondomayit memakan waktu cukup lama. Namun, pepohonan hijau dan perbukitan nan asri membuat sepanjang perjalanan yang terasa melelahkan menjadi terasa sangat nyaman.

Tidak ada angkutan umum di sana. Sehingga, harus membawa kendaraan pribadi atau sewaan.
Konon katanya, diberi nama Gondomayit karena pantai ini berbau mayat. Menurut cerita dari warga setempat, pada zaman penjajahan dulu, pantai ini digunakan sebagai tempat pembuangan mayat-mayat. Namun beberapa lagi menyebutkan kalau itu adalah bau dari Nyi Roro Kidul, sang penjaga laut selatan.

Tarif masuk menuju Pantai Gondomayit adalah gratis. Namun, untuk menuju kesana, harus melewati Pantai Tambakrejo terlebih dahulu, yang mana harus membayar tiket masuk sebesar Rp3.000,-

Pantai Gondomayit memiliki banyak banget spot yang instagramable kalau kata kids zaman now. Di tepi pantai, ada banyak pepohonan yang bisa dipakai buat berteduh.
Enggak perlu cemas kalau kelaparan pas lagi seneng-senengnya. Karena di sepanjang pantai ada banyak orang jualan dengan harga yang cukup terjangkau. 

Dekat dari pantai, ada mushola yang terletak di tengah pemukiman warga. Jadi, enggak perlu panik kalau mau berlama-lama di Gondomayit. Sebab semua kebutuhan sandang, pangan, dan papan sudah tersedia di sana. (Mau nikah kali ah)

   


Beberapa waktu lalu, aku dan teman-teman IRMA (Ikatan Remaja Masjid)  diajak oleh Pak RW untuk rapat. Katanya, beliau mau kasih hadiah karena kami telah berhasil mensukseskan kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di masjid. Hem ... mungkin makan-makan, pikirku waktu itu.

Oh tidak! ternyata, beliau mengajak kami untuk jalan-jalan ke pantai. Ada tiga opsi yang diberikan buat kami, yakni Pantai Sawarna, Pantai Anyer, dan Pantai Geopark Ciletuh. Akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar, kami memutuskan untuk memilih Pantai Ciletuh.


Rencananya kami berangkat pukul 15.30 WIB. Meski berangkat sore, tapi beberapa teman sudah berkumpul di rumahku dari pagi. Eh ... yang bener kontrakan.

Karena sepanjang sore hujan turun sangat deras, akhirnya kami baru bisa berangkat pukul 17.30. Ada dua sesi keberangkatan, yang pertama rombongan naik mobil bak terbuka (berangkat sore), yang kedua rombongan naik motor (berangkat malam). Karena kebetulan pajak motorku belum diurus, jadinya aku ikutan naik mobil. Rombongan pertama dipandu oleh Pak RW, sedangkan rombongan kedua dipandu oleh Pak Rahmat (Pembina IRMA).


Kawasan Geopark Ciletuh memiliki banyak destinasi wisata. Mulai dari pantai, curug, hingga bebatuan (ha? wisata bebatuan? Emang bener kok). Nah ... kebetulan yang kami kunjungi pertama adalah wisata pantai. Salah satu pantai paling terkenal yang akhirnya kami jadikan sebagai tujuan adalah Pantai Palangpang.

Pantai Palangpang terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.


Ada banyak jalur yang bisa dipakai untuk menuju kawasan Geopark Ciletuh.

Jika dari Bogor, maka bisa melalui jalur Cikidang. Namun jika lewat jalur ini, disarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali. Sebab jalanan di Cikidang sampai saat ini masih minim penerangan.


Selain minim penerangan, Jalur Cikidang juga berkelok dan menanjak. Sering terjadi kecelakaan di jalur ini.

Jika kepengin lebih aman, bisa lewat Kota Sukabumi. Hanya saja, jarak tempuhnya akan jauh lebih panjang.

Sebelum memasuki kawasan Geopark Ciletuh, tanjakan dini juga akan menemani perjalanan. Dari sekian tanjakan yang ada di lintasan jalan sepanjang 33 kilometer yang membentang mulai dari daerah Loji Kecamatan Simpenan hingga ke Pantai Palangpang, tanjakan ini adalah yang paling ekstrim.

Ternyata ada sejarah pahit di balik penamaan tanjakan dini tersebut. 

Sebelumnya, warga mengenalnya dengan nama tanjakan Legok. Namun suatu hari, ada seorang ibu muda yang sedang hamil mengalami kecelakaan di tanjakan tersebut hingga menewaskannya beserta jabang bayi dalam kandungan.

Meski sekarang tanjakan dini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya, namun tetap saja pengemudi harus ekstra berhati-hati.


Sampai saat ini, tidak ada biaya yang dipatok kepada pengunjung untuk memasuki kawasan Pantai Palangpang di Geopark Ciletuh. Hanya saja, selepas dari wilayah Plabuhanratu, biasanya akan ada orang-orang yang minta uang kepada pengunjung. Entah ini resmi atau tidak, sebab nominal yang diminta berbeda-beda. Kami yang naik mobil dikenakan biaya Rp10.000 per rombongan, sedangkan teman-teman kami yang naik motor dikenakan biaya Rp5.000 per motor.

Seperti di kawasan pantai selatan lainnya, Pantai Palangpang juga dihiasi dengan pemandangan gunung. Tak hanya itu, ada beberapa curug (air terjun) yang tampak mengalir di gunung-gunung tersebut.


Kawasan Geopark Ciletuh berada di Pantai Selatan. Salah satu mitos di Pantai Selatan adalah tidak boleh memakai pakaian berwarna hijau, karena nanti akan diculik Nyi Roro Kidul. Ehehe. Apakah kalian percaya dengan mitos ini?



Tapi yang lebih penting dari itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengunjungi pantai.

1. Menjaga kebersihan pantai
Ketika mengunjungi Pantai Palangpang kemarin, kami dikecewakan dengan tumpukan sampah yang ada di sana. Perjalanan jadi terasa sia-sia. Niat hati dari rumah ingin menikmati keindahan pantai selatan dengan keindahan gunung-gunungnya, sampai di lokasi malah disuguhi dengan sesampahan dimana-mana.

2. Tidak merusak fasilitas yang disediakan pantai
Saat ini, pengelola Pantai Palangpang menanam puluhan (atau mungkin ratusan) pohon kelapa di tepi pantai. Pengunjung diharapkan untuk menjaganya dan tidak merusak apalagi menginjaknya ketika sedang berwisata. Sebab beberapa tahun ke depan, pohon-pohon kelapa tersebut akan membuat pantai jauh lebih indah. Kira-kira apa lagi ya manfaat pohon kelapa di tepi pantai?

3. Menggunakan fasilitas di pantai sesuai dengan fungsinya

4. Saling menghormati antar sesama pengunjung dan tidak membuat keributan

5. Menjaga lisan dan ketertiban selama di pantai

  


Tahun lalu, salah satu komunitas daring yang kuikuti mengadakan kopdar nasional di Jogja. Ini merupakan kopdar akbar pertama yang mereka adakan. Coba deh bayangin, setelah sekian lama  ngobrol dan bersenda gurau hanya lewat grup whatsapp, akhirnya  kami dipertemukan di dunia nyata.

Aku terkejut saat pertama melihat wajah mereka. Ada yang biasanya banyak ngoceh, tiba-tiba jadi pendiam saat bertemu langsung. Ada yang pendiam di grup, tiba-tiba banyak bicara. Tapi memang begitu, kan? kepribadian di dunia maya dan dunia nyata tidak bisa disamakan. Bahkan tak sedikit yang bertolak belakang.

Wuehehe ... Baiklah, karena ini bukan blog yang membahas tentang kepribadian manusia, jadi kita lanjutkan lagi pembahasan tentang kopdar.

Aku bersama dengan Mas Fadhli, Irene, Alfian, Mas Tian, dan Mbak Sakifah sengaja datang satu hari sebelum kopdar dimulai. Kami berniat untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Aku, Irene, Mas Tian, dan Mas Fadhli berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta. Alfian berangkat dari Bandung. Sedangkan Mbak Sakifah sudah berada lama di Jogja.

Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Indrayanti. Kata orang, nama aslinya bukanlah Pantai Indrayanti, melainkan Pantai Pulang Syawal. Hmm ... lagi mudik kali ya? makanya pulang Syawal. Nah, karena ada nama Indrayanti terpampang di sebuah restoran pantai, akhirnya orang menyebut pantai tersebut dengan nama Pantai Indrayanti.

Pantai Indrayanti berada di Dusun Ngasem, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Oh iya, saat ini belum ada angkutan umum yang masuk ke wilayah tersebut. Jadi pengunjung diharuskan menaiki kendaraan pribadi atau mobil sewaan. Nah ... waktu itu kami naik mobil milik kerabat Mbak Sakifah. Aku yang tak tahan dengan aroma AC mobil, mati-matian menahan diri agar tidak mabuk kendaraan. Beberapa kali aku mencuri kesempatan agar kaca mobil terbuka dan angin jalanan bisa masuk, tetapi teman-teman yang lain meminta agar aku menutupnya. Baiklah ... akhirnya aku berusaha ikut ngobrol agar rasa mualku berkurang.

Biaya tiket masuk per orang adalah Rp10.000. Sepertinya ini belum termasuk biaya parkir. Wajar dong kalau aku enggak tahu, karena waktu itu kan kami ditraktir. Wehehehe ... 

Indrayanti merupakan salah satu pantai paling ramai di Jogja. Ini tak mengherankan, sebab Indrayanti punya daya tarik sendiri bagi pengunjung.


Pertama karena pasir di Pantai Indrayanti bersih banget. Kabarnya, ada denda sendiri bagi pengunjung yang buang sampah sembarangan. Keren banget, kan?

Nah ... karena putih dan bersih, pengunjung bisa bersantai-santai sambil tiduran di dekat pantai.


Minimnya sampah di Pantai Indrayanti membuat air jadi bersih dan tampak biru. Meski pengunjung berlimpah, namun kesadaran mereka untuk menjaga alam sangat tinggi.


Nah ... yang paling bikin nyaman ketika di pantai tentu saja makanan. Di Pantai Indrayanti, warung-warung dan tempat lesehan bisa dengan mudah ditemui di dekat pantai. Selain itu, pengelola juga menyediakan musholla.

***
Nah ... sepertinya segini dulu deh ceritanya. Kalau ada kesempatan, aku kepengin cerita lagi tentang tempat wisata yang kami kunjungi saat kopdar.

Monday, 27 May 2024

  

Liburan santri telah usai. Selama tiga pekan mereka menghabiskan masa liburan semester 1 di tempat tinggalnya masing-masing. Namun ada satu santri kelas 11 yang di liburan kali ini tidak pulang ke tempat tinggalnya. Santri ini bernama Khaleed. Ya ... santri dari Jambi ini adalah santri yang menyenangkan buatku. Kadang dia menjadi santri yang penurut, kadang juga bandel, kadang menjadi adik yang baik, kadang juga menjadi pendengar cerita yang menyenangkan, dan tentu saja menjadi teman jalan-jalan yang asyik.

Tiga minggu liburan ini dihabiskannya di pondok. Namun, ada kegiatan-kegiatan yang kemudian akhirnya membuat liburannya jadi terisi. Pekan pertama, dia full di pondok untuk bersih-bersih, potong rumput, dan tentu saja main game. Pekan kedua, dia diminta untuk menjaga toko frozen food milik pondok. Nah, pekan ketiga kebetulan dia ditunjuk oleh DKR (Dewan Kerja Ranting) untuk menjadi perwakilan dalam kegiatan di Kabupaten selama tiga hari. Masih ada sisa sehari liburan dia, akhirnya kuajak dia untuk mengunjungi salah satu kerabatku yang ada di Sukabumi.

Puluk 10.30 kami berangkat dari pondok. Dari Leuwiliang, kami mengambil arah Cianten untuk menuju ke Sukabumi.
Perjalanan terasa sangat melelahkan karena kami memilih jalur alternatif yang berkelok-kelok dan banyak bekas longsoran. Selain itu, hujan yang mengguyur sepanjang jalan membuat kami jadi lebih sering berhenti.

Khaleed sebenarnya mau menolak untuk ikut. Tapi, ya, akhirnya mau juga kupaksa. Meski kemudian di sepanjang jalan dia mengantuk dan kami harus mencari warung untuk beristirahat.
Karena kebetulan hari Jumat, jadi kami kemudian mencari masjid di daerah Cianten untuk melaksanakan sholat jumat.

Selesai melaksanakan sholat jumat, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Sukabumi. Karena temanku masih ada rapat di siang hari, jadi aku mengajak Khaleed untuk ke pantai dahulu. Dia sebenarnya udah mulai badmood karena kecapekan di sepanjang jalan. Tapi, ya, coba aja deh, karena barangkali dia butuh healing, jadi ke pantai dulu aja biar fresh. Ternyata setibanya di pantai, Khaleed malah makin pasang muka kusut. Haha ... emang enggak semua niat baik bisa diterima dengan baik.

Tiba di Pantai
Plabuan Ratu memiliki banyak pilihan pantai yang bisa dikunjungi. Salah satu pantai yang bisa dimasuki secara gratis berada di area Citepus.

Pantai Citepus memang tak seindah di pantai-pantai yang ada di Joga atau Pangandaran sana, tapi kalau kita dapat waktu yang pas, pantai ini terasa menyenangkan.

Di area pantai terdapat musholla, sehingga kita bisa sholat tepat waktu ketika lagi asyik-asyiknya bermanin di pantai.

Selepas dari pantai, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah temanku yang berada di daerah Parungkuda Sukabumi. Dari rumahnya, kami kemudian pulang menuju pondok pukul 20.00.
*penumpangnya tepar

Kami tiba di pondok pukul 22.30 WIB. Setibanya di pondok, Khaleed langsung tepar di kamarnya. Alhamdulillah, mumpung hari terakhir liburan, dimanfaatkan dulu dengan jalan-jalan ya, Led :)