Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah, sebuah perjalanan santai yang menjadi salah satu momen paling ditunggu oleh para santri. Setelah berhari-hari menjalani rutinitas pondok, belajar, mengaji, menghafal, dan mengikuti berbagai kegiatan, rihlah menjadi kesempatan bagi mereka untuk sejenak menghirup suasana berbeda.
Bagi para santri, terutama kelas VIII, kata rihlah sepertinya sudah cukup untuk membuat suasana menjadi lebih ramai. Begitu tempat tujuan diumumkan, berbagai pertanyaan langsung bermunculan.
“Berangkat jam berapa?”
“Nanti naik apa?”
“Airnya seger nggak?"
Antusiasme seperti itu justru menjadi bagian yang menyenangkan dari perjalanan.
Menuju Lembah Tepus, Pamijahan
Pada rihlah kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan, salah satu tempat wisata alam yang terkenal dengan suasana hijau dan aliran airnya yang jernih dan menyegarkan.
Sejak pagi, suasana pondok sudah terasa berbeda. Para santri sibuk mempersiapkan perlengkapan masing-masing. Ada yang membawa pakaian ganti, handuk, makanan ringan, dan tentu saja semangat yang sepertinya tidak ada habisnya.
Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, serta para pendamping kamar kelas VIII. Karena jumlah peserta cukup banyak, perjalanan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kami menggunakan angkot yang sudah disiapkan untuk mengangkut para santri.
Informasi Biaya Masuk Lembah Tepus
Untuk menuju lokasi, ada hal yang perlu diperhatikan oleh pengunjung. Saat kami datang, untuk masuk kami harus melalui gerbang utama wisata.
Pada saat itu, rombongan kami mendapatkan harga khusus atau diskon karena datang bersama 65 santri. Jadi, biaya yang kami bayarkan berbeda dari harga normal.
Sebagai gambaran, harga normal tiket masuk melalui gerbang utama adalah Rp15.000 per orang, sedangkan untuk masuk melalui Gerbang Lembah Tepus sebesar Rp10.000 per orang.
Jadi, bagi teman-teman yang berencana berkunjung, sebaiknya memperhatikan akses masuk yang digunakan dan menanyakan harga tiket terbaru sebelum berangkat karena harga dan kebijakan tiket dapat berubah.
Untuk rombongan besar seperti kegiatan sekolah atau pesantren, tidak ada salahnya juga menanyakan kemungkinan mendapatkan harga rombongan atau diskon khusus. Pengalaman kami saat membawa 65 santri, jumlah peserta yang banyak bisa menjadi pertimbangan tersendiri dalam memperoleh harga khusus.
Disambut Udara Sejuk dan Air yang Jernih
Begitu sampai, rasa lelah selama perjalanan seperti langsung terbayar.
Udara sejuk menyambut kami. Pepohonan yang rindang membuat suasana terasa teduh, sementara suara gemericik air terdengar dari berbagai arah.
Belum sempat terlalu lama menikmati pemandangan, para santri sudah mulai menunjukkan wajah tidak sabar.
Mereka ingin segera turun ke air.
Setelah mendapatkan izin, beberapa santri langsung berlari menuju sungai. Tawa dan teriakan mereka pun seketika memenuhi kawasan sekitar.
Air Lembah Tepus memang terasa sangat segar. Bahkan bisa dibilang cukup dingin untuk orang yang tidak terbiasa bermain air dalam waktu lama.
Beberapa santri sampai berteriak kecil ketika pertama kali mencelupkan kaki.
“Dingin!”
Tetapi anehnya, setelah berteriak kedinginan, mereka justru kembali masuk ke air.
Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada yang mencoba duduk di bebatuan sambil merendam kaki, dan ada pula yang sekadar bermain air bersama teman-temannya.
Yang paling menarik, hampir tidak ada yang terlihat ingin segera berhenti.
Namanya juga anak-anak.
Kalau sudah menemukan air jernih dan teman-teman, rasa dingin sepertinya menjadi urusan belakangan.
Sementara Anak-Anak Bermain, Kami Mulai Memasak
Di tengah keseruan para santri bermain air, kami para pendamping mulai memikirkan urusan berikutnya: makan siang.
Kali ini kami sengaja membawa perlengkapan memasak sendiri. Kami menggunakan kompor portabel dan menyiapkan makanan secara sederhana di lokasi.
Suasananya pun berubah seperti sedang piknik atau berkemah.
Bu Windy sibuk menyiapkan bumbu. Bang Jalu mulai mengatur kompor dan perlengkapan memasak. Saya membantu mempersiapkan bahan-bahan makanan sekaligus sesekali mengawasi para santri.
Tentu saja, kalau ada anak-anak di sekitar makanan, ada saja kejadian lucu.
Beberapa santri sesekali datang untuk melihat masakan.
Awalnya hanya melihat.
Kemudian bertanya, “Sudah matang belum?”
Lalu beberapa saat kemudian mulai ada yang mencoba mencicipi.
Belum selesai dimasak, sudah ada yang melakukan pemeriksaan kualitas terlebih dahulu.
Kami pun hanya bisa tertawa.
Semakin lama, aroma masakan mulai menyebar. Bau bumbu yang sedang ditumis bercampur dengan udara sejuk dan suara air sungai. Rasanya sederhana, tetapi justru suasana seperti inilah yang membuat kegiatan rihlah terasa istimewa.
Makan Bersama di Tepi Sungai
Setelah makanan selesai dimasak, kami mulai mengatur tempat untuk makan bersama.
Beberapa santri mencari tempat yang dirasa paling nyaman. Ada yang duduk di atas batu, ada yang memilih bagian yang agak teduh, dan ada pula yang berkumpul bersama teman-temannya.
Kemudian kami makan bersama di tepi sungai.
Makanan yang sebenarnya sederhana terasa jauh lebih nikmat ketika disantap setelah bermain air dan berada di tengah suasana alam.
Apalagi setelah melihat para santri yang sebelumnya begitu aktif berlarian, kini mulai duduk tenang sambil menikmati makanan.
Ada yang sibuk bercerita tentang kejadian saat bermain air. Ada yang membahas siapa yang paling basah. Ada yang saling berbagi makanan. Ada pula yang masih sempat bercanda meskipun mulut sedang penuh.
Momen-momen seperti ini mungkin terlihat biasa.
Tetapi justru dari hal-hal sederhana seperti inilah kebersamaan terasa.
Rihlah Bukan Sekadar Jalan-Jalan
Menjadi pendamping dalam kegiatan seperti ini selalu memberikan pengalaman tersendiri.
Rihlah memang pada dasarnya adalah kegiatan untuk bersantai dan menyegarkan pikiran. Namun, ketika dilakukan bersama para santri, ada banyak hal lain yang bisa dirasakan.
Kami bisa melihat mereka dalam suasana yang berbeda dari keseharian di pondok.
Di pondok, mereka dikenal sebagai santri yang belajar, mengaji, mengikuti aturan, dan menjalankan rutinitas. Tetapi ketika berada di alam terbuka, sisi lain mereka muncul. Mereka lebih bebas tertawa, bermain, bercanda, dan menikmati waktu bersama teman-temannya.
Di balik keramaian itu, ada pula hal-hal kecil yang membuat hati hangat.
Melihat mereka saling membantu ketika ada yang kesulitan.
Melihat mereka berbagi makanan.
Melihat yang lebih besar membantu temannya.
Melihat mereka tertawa bersama tanpa memikirkan hal-hal lain.
Dan melihat wajah-wajah bahagia setelah sekian lama menjalani rutinitas yang cukup padat.
Bagi kami para pendamping, mungkin perjalanan seperti ini cukup melelahkan. Mengawasi puluhan santri, memastikan mereka tetap aman, menyiapkan makanan, membawa perlengkapan, dan mengatur berbagai kebutuhan selama perjalanan tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Namun, semua rasa lelah itu terasa sepadan ketika melihat mereka menikmati hari dengan penuh kegembiraan.
Pulang Membawa Cerita
Pada akhirnya, rihlah ke Lembah Tepus bukan hanya tentang bermain air.
Bukan hanya tentang perjalanan menggunakan angkot, naik motor, memasak menggunakan kompor portabel, atau makan bersama di tepi sungai.
Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi sebuah pengalaman yang akan menjadi cerita bagi kami dan para santri.
Mungkin beberapa tahun lagi, mereka tidak akan mengingat secara detail makanan apa yang kami masak hari itu. Mereka mungkin juga lupa siapa yang paling dulu masuk ke sungai atau siapa yang paling banyak menyiram temannya.
Tetapi bisa jadi mereka akan mengingat suasananya.
Mengingat dinginnya air.
Mengingat suara teman-teman yang tertawa.
Mengingat perjalanan bersama.
Mengingat makan bersama setelah bermain air.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa dan menjalani kehidupan masing-masing, kenangan sederhana tentang rihlah bersama teman-teman di masa pesantren akan kembali muncul sebagai sebuah cerita yang membuat mereka tersenyum.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah.
Kadang, kebahagiaan cukup hadir dalam bentuk air yang jernih, udara yang sejuk, makanan sederhana, teman-teman yang ramai, dan waktu yang dihabiskan bersama.
Dan bagi kami, rihlah kali ini menjadi pengingat bahwa perjalanan yang sederhana pun bisa meninggalkan kenangan yang begitu berharga.

.jpeg)

.jpeg)
0 Comments