Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Thursday, 6 November 2025

Setiap tiga bulan sekali, Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah mengadakan kegiatan rihlah — perjalanan santai yang menjadi momen istimewa bagi para santri untuk sejenak keluar dari rutinitas pondok. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh santri kelas VIII yang terkenal paling antusias kalau sudah mendengar kata “rihlah.”


Kali ini, tujuan kami adalah Lembah Tepus, Pamijahan — tempat yang dikenal dengan airnya yang jernih dan menyegarkan. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat. Saya mendampingi para santri bersama Bu Windy, Bang Jalu, dan para pendamping kamar kelas VIII.

Kami berangkat menggunakan angkot yang sudah dibagi perkelompok, sementara saya sendiri memilih naik motor bersama salah satu santri bernama Fhajar. Sepanjang perjalanan, Fhajar tak henti bercerita — tentang pelajaran di pondok, tentang teman-temannya, dan tentu saja tentang rencana seru bermain air di Lembah Tepus. Obrolan di atas motor itu sederhana, tapi penuh semangat khas anak pondok yang polos dan jujur.


Sesampainya di Lembah Tepus, udara sejuk langsung menyapa. Pepohonan rindang dan suara gemericik air membuat suasana begitu tenang. Anak-anak tampak tak sabar ingin segera bermain air, dan benar saja, begitu izin diberikan, mereka langsung berlarian ke sungai. Tawa mereka terdengar di mana-mana.


Airnya memang sangat segar — sampai-sampai beberapa santri berteriak kecil karena kedinginan, tapi tetap enggan berhenti bermain. Ada yang berendam, ada yang saling menyiram, ada pula yang duduk di tepi batu besar sambil bercanda.

Sambil mereka bermain, kami para pendamping menyiapkan makan siang. Kali ini agak berbeda, karena kami masak sendiri dengan kompor portabel. Suasananya jadi terasa seperti berkemah. Bu Windy menyiapkan bumbu, Bang Jalu sibuk menyalakan kompor, sementara saya membantu memotong bahan dan mengawasi anak-anak yang sesekali ikut membantu (atau malah mencicipi duluan).


Aromanya semerbak ke mana-mana, apalagi saat mulai matang. Setelah semuanya siap, kami makan bersama di tepi sungai. Beberapa mencari tempat yang enak.


Menjadi pendamping di kegiatan seperti ini selalu memberi pengalaman berharga. Di balik tawa dan keseruan santri, ada momen-momen kecil yang menghangatkan hati — melihat mereka saling membantu, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan tanpa sekat.

Rihlah kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam kesederhanaan — dalam tawa santri, dalam udara segar, dan dalam seulas senyum setelah makan bersama di tepi air yang bening.

Monday, 16 December 2024

Pada tanggal 10 Desember 2024, saya melakukan kegiatan rihlah bersama para santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Rihlah sebelumnya diadakan di curug dan dipisah antara santri SMP dan SMK. Kali ini, saya mencoba untuk mengajak santri mengikuti hobi saya yang suka berpetualang, dengan mengadakan camping di alam terbuka. Melihat respon yang antusias dari para santri, saya semakin bersemangat untuk mewujudkan kegiatan ini.

Persiapan

Persiapan untuk kegiatan camping ini cukup panjang. Pertama, saya mulai dengan menghubungi teman-teman di wilayah Bogor dan beberapa siswa dari sekolah lain untuk memberikan rekomendasi tempat camping yang cocok untuk santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Dari berbagai rekomendasi yang saya terima, saya kemudian memutuskan untuk melakukan survei langsung ke lokasi-lokasi yang disarankan.

Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya saya jatuh hati pada sebuah lokasi bernama Seureuh Hejo. Meskipun fasilitas di sana lebih minim dibandingkan tempat lain, saya merasa tempat ini memiliki pesona tersendiri yang membuat saya yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk camping santri. Keputusan saya didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, seperti keamanan lokasi, akses air yang cukup, dan tentunya harga yang ramah di kantong. Oh iya, selain itu, adanya warung dengan harga yang standar juga memikat saya untuk memastikan Seureuh Hejo sebagai lokasi camping/

Setelah memastikan bahwa Seureuh Hejo aman digunakan untuk camping, saya langsung menemui pengelola tempat tersebut. Banyak hal yang saya pertimbangkan dalam memilih Seureuh Hejo, selain biaya sewa yang terjangkau, saya juga memastikan lokasi ini bebas dari ancaman bencana alam dan memiliki aksesibilitas yang baik. Setelah berdiskusi panjang dengan pengelola, saya langsung melakukan pemesanan untuk tanggal 10-11 Desember 2024.

Lokasi Seureuh Hejo

Seureuh Hejo adalah sebuah tempat camping yang terletak di Leuwisadeng, Bogor, dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Meskipun fasilitas di sana tergolong sederhana, keindahan alamnya sangat memukau. Pemandangan dari Seureuh Hejo sangat menawan, terutama pada malam hari ketika city light Bogor tampak jelas dari atas sana. Keasrian alam, udara sejuk, dan ketenangan tempat ini menjadikannya pilihan yang sempurna untuk kegiatan rihlah ini.

Tenda-tenda camping sudah disiapkan oleh pengelola dan juga beberapa anggota OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap. Keberadaan mereka sangat membantu mengingat cuaca yang sempat hujan deras menjelang kedatangan kami. Namun, meskipun fasilitas minim, tempat ini sangat cocok untuk memberikan pengalaman alam yang berkesan bagi para santri.

Biaya yang Dikeluarkan

Biaya tiket masuk dan camping ke Seureuh Hejo adalah Rp15.000 per santri dan kami mendapat gratis masuk untuk 10 pendamping. Selain tiket masuk, beberapa pengeluaran lain yang saya siapkan adalah untuk kendaraan, sewa tenda, dan juga konsumsi, serta beberapa perlengkapan lain.

Kegiatan Hari H di Seureuh Hejo

Hari yang dinantikan pun tiba. Pada tanggal 10 Desember 2024, setelah sholat Dhuhur, kami berangkat menuju Seureuh Hejo menggunakan 15 angkot dan 1 mobil pondok. Jarak dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah ke Seureuh Hejo sekitar 5 km. Para santri tampak bersemangat dan penuh kegembiraan.

Sebenarnya, sebelum berangkat, banyak pesan masuk dan peringatan yang datang. Mulai dari lokasi Seureuh Hejo yang katanya angker dan sering ada kesurupan di sana, cuaca hujan yang akan merusak acara, hingga ancaman pohon tumbang, semuanya sempat membuat saya down dan ingin membatalkan acara. Namun, semangat dan antusias santri sungguh membuat saya menjadi makin semangat dalam menyiapkan kagiatan camping ini.

Setibanya di lokasi, meskipun sempat turun hujan deras selama perjalanan, para santri tetap antusias melihat pemandangan alam yang begitu indah. Tenda-tenda sudah terpasang dengan baik, berkat bantuan pengurus OSIS yang datang lebih awal untuk memastikan semuanya siap sebelum kedatangan kami. Para santri pun segera menuju tenda masing-masing.

Saya mengumpulkan santri dan memberikan pengarahan kepada mereka. Para santri memahami dan siap mengikuti kegiatan dengan baik.

Pada malam hari, kami merencanakan pentas seni dan pembagian hadiah classmeeting. Namun, hujan kembali turun, sehingga kami memutuskan untuk menunda kegiatan tersebut dan mengarahkan santri untuk beristirahat di tenda mereka. Saat hujan reda, sekitar pukul 10 malam, pemandangan city light dari atas Seureuh Hejo begitu mempesona. Meskipun tidak ada pentas seni, suasana malam yang dingin dan pemandangan indah membuat semua santri menikmati malam itu dengan penuh kehangatan.

Keesokan paginya, saya membangunkan santri untuk sholat Subuh dan segera melanjutkan dengan pembagian hadiah classmeeting yang seharusnya dilakukan malam sebelumnya. Setelah itu, para santri bersiap-siap untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan outbond. Kegiatan outbond dibagi menjadi dua kelompok, yaitu santri SMP dan santri SMK. Berbagai permainan dan tantangan disediakan, dan para santri dengan antusias mengikuti setiap kegiatan yang ada.

Meskipun hujan sempat mengganggu, kebahagiaan dan kegembiraan para santri selama kegiatan berlangsung membuat semua perencanaan dan kerja keras kami terasa terbayar. Saya sangat bahagia melihat senyum mereka, dan saya tahu bahwa ini adalah momen yang saya harap akan mereka ingat selamanya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari pengelola Seureuh Hejo hingga para pengurus OSIS yang telah bekerja keras agar kegiatan ini berjalan dengan lancar.

Kegiatan camping ini benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa, baik bagi saya maupun para santri. Meskipun cuaca tidak selalu mendukung, semangat dan kebersamaan yang tercipta membuat semua rintangan terasa ringan. Kegiatan rihlah kali ini membuktikan bahwa berpetualang di alam terbuka tidak hanya memberikan pengalaman fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara santri Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung dan memberikan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Berikut adalah Tips melakukan kegiatan camping di alam terbuka.

  • Persiapkan Peralatan dengan Matang: Pastikan semua peralatan, seperti tenda, matras, dan perlengkapan lainnya, dalam kondisi baik dan sesuai kebutuhan.
  • Periksa Cuaca: Sebelum berangkat, periksa ramalan cuaca untuk mengantisipasi kondisi ekstrem seperti hujan atau angin kencang.
  • Pilih Lokasi yang Aman: Tentukan lokasi camping yang bebas dari ancaman bencana alam, memiliki akses air, dan fasilitas darurat yang memadai.
  • Kenali Potensi Bahaya: Waspadai hewan liar, tanaman beracun, atau potensi bahaya alam lainnya, serta selalu ikuti petunjuk pengelola lokasi.
  • Buat Rencana Keamanan: Siapkan rencana evakuasi dan pastikan setiap peserta tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
  • Jaga Kebersihan dan Lingkungan: Selalu bersihkan area camping setelah selesai, serta hindari merusak alam dengan membuang sampah sembarangan.
  • Monday, 4 November 2024

    Malam itu, suasana di pondok terasa tenang dan damai setelah semua santri sedang bersiap istirahat Aku merasa butuh sedikit angin segar dan waktu bersantai, jadi aku memutuskan untuk mengajak pengurus pondok keluar. Adnan, Rizqi, dan Izzah adalah teman-temanku malam ini—mereka adalah santri pengabdian yang baru saja lulus dari pondok pesantren tempatku mengajar. Tahun lalu, mereka adalah murid-muridku, tetapi kini mereka sudah menjadi pengurus yang hebat.


    Setelah memastikan semua siap, kami berangkat menuju tempat makan yang sudah terkenal di kalangan kami: Sambal Bakar Indonesia di Dramaga. Tempat ini terletak di sebelah Mie Gacoan, dan kami semua sudah tak sabar mencicipi menu yang ditawarkan.


    Setibanya di Sambal Bakar Indonesia, kami langsung disambut aroma menggugah selera. Menu yang beragam membuat kami semakin bersemangat. Tanpa ragu, aku memesan kulit ayam dengan sambal bakar bawang yang terkenal. Adnan, Rizqi, dan Izzah memilih berbagai menu ikan yang terlihat menggoda. 


    Saat makanan datang, rasa tak sabar kami langsung terbayar. Kulit ayam yang garing dan sambal bakar bawang yang pedas berpadu sempurna, membuatku tak berhenti mengunyah dengan penuh kenikmatan. Meskipun harga makanan di sana cukup menguras kantong, kebersamaan kami dan makanan yang enak membuat segala sesuatunya terasa sangat berharga.



    Tips Menikmati Makan Enak Meskipun Harganya Mahal

    1. Pilih Tempat yang Tepat: Temukan restoran yang dikenal dengan menu spesial. Makanan berkualitas sering kali sebanding dengan harga yang dibayarkan.


    2. Bagi Porsi: Ajak teman untuk berbagi porsi. Dengan cara ini, kalian bisa mencicipi berbagai hidangan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.


    3. Ciptakan Suasana: Nikmati suasana tempat makan. Diskusikan kenangan atau cerita menarik bersama teman-teman saat menikmati hidangan.


    4. Coba Menu Spesial: Jangan ragu untuk mencoba menu spesial restoran. Meskipun harganya lebih tinggi, pengalaman mencicipi makanan baru sangat berharga.


    5. Prioritaskan Kualitas: Ingat bahwa harga yang lebih tinggi sering kali mencerminkan kualitas. Makanan yang lezat dapat memberikan kepuasan tersendiri.


    6. Rencanakan Budget: Tetapkan anggaran sebelum pergi. Dengan anggaran yang jelas, kamu dapat memilih dengan lebih leluasa tanpa merasa khawatir.


    7. Fokus pada Kebersamaan: Nikmati momen bersama teman. Terkadang, pengalaman berbagi makanan enak lebih berharga daripada biaya yang dikeluarkan.


    Dengan semua kenangan indah dari malam itu, aku merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Adnan, Rizqi, dan Izzah. Makanan yang enak dan kebersamaan kami membuat malam itu semakin berarti!

    Hari itu, suasana di TK Cita Mandiri Bogor sangat ceria. Aku diminta untuk menemani siswa-siswa TK dalam rekreasi yang sudah ditunggu-tunggu. Bersama Rizqi, Jalu, dan Mbak Ella, kami bersiap-siap untuk petualangan seru menuju Pantai Ancol.


    Kami naik bis yang sudah disewa oleh pihak sekolah. Yang paling menyenangkan, kami sebagai pendamping tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun! Ya, gratis! Begitu bis melaju, suara riuh anak-anak memenuhi ruang, penuh tawa dan kegembiraan. Tidak sabar rasanya untuk sampai di pantai.

    Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya kami tiba di Pantai Ancol. Saat melangkah turun dari bis, kami langsung disambut oleh angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Pantai Ancol memang dikenal cukup estetik, meskipun secara kebersihan masih kalah dibandingkan pantai lain. Namun, pelayanan di sini patut diacungi jempol! Area yang ramai dengan banyak fasilitas membuat tempat ini sangat menarik.


    Setelah membagi kelompok dan memberikan arahan kepada anak-anak, aku, Jalu, dan Mbak Ella langsung mulai mengabadikan momen-momen seru. Rizqi, si fotografer handal di antara kami, tidak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke segala arah. Dengan senyum ceria, anak-anak berlarian di sepanjang pantai, bermain air, dan berpose di tempat-tempat yang instagramable.

    Salah satu hal yang paling menarik adalah fasilitas perahu yang ditawarkan di pantai ini. Dengan biaya hanya Rp15.000 per orang, kami sudah bisa berkeliling dan menikmati pemandangan dari tengah laut. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk menyewa perahu. Sambil berlayar, kami menikmati keindahan panorama laut yang memukau. Dengan latar belakang langit biru dan ombak yang berdebur, suasana menjadi semakin sempurna. Rizqi, yang tidak pernah ketinggalan momen, terus mengabadikan setiap detik perjalanan kami.


    Setelah puas berkeliling, kami kembali ke pantai, di mana anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain pasir. Kami menghabiskan waktu dengan membuat istana pasir, berlari-lari, dan tertawa bersama. Momen-momen kecil ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

    Ketika hari mulai sore, kami pun bersiap untuk pulang. Meski lelah, wajah-wajah ceria anak-anak menunjukkan bahwa rekreasi ini sangat sukses. Dengan hati penuh kenangan indah, kami kembali ke bis, siap untuk pulang ke TK. Hari itu benar-benar menjadi perjalanan yang seru dan tak terlupakan!

    Sunday, 3 November 2024

    Pada hari Sabtu, 2 November 2024, aku memutuskan untuk mengajak santri-santri di pondok untuk jalan-jalan ke kolam renang PASPOR, yang merupakan singkatan dari Pasir Pogor. Kolam renang ini terletak di Pabangbon, tak jauh dari Pondok Pesantren Orenz Miftahul Barokah, tempat kami tinggal.


    Aku mengajak santri karena ini adalah janjiku kepada mereka. Baru-baru ini, salah satu santri kami, Ahmad Fahzril, telah berhasil menyelesaikan ujian tasmi dua juz di kelompok hafalan kami. Tasmi adalah ujian hafalan Quran yang dilakukan sekali duduk bagi santri yang telah mencapai target hafalan minimal dua juz. Dengan jumlah 11 santri dalam kelompok kami, tentu saja kami perlu merayakannya!



    Awalnya, kami berniat untuk membuat ayam bakar, mengikuti kelompok hafalan lain yang juga merayakan keberhasilan mereka. Namun, salah satu santri mengusulkan ide untuk mengadakan acara yang lebih seru. Setelah berdiskusi, kami akhirnya sepakat untuk pergi ke kolam renang. Dia mengusulkan itu, karena di sana kami juga bisa sekalian makan-makan.


    Aku mendapatkan informasi mengenai kolam renang PASPOR dari internet. Dengan semangat, kami menyewa sebuah angkot untuk menuju lokasi. Tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp10.000 saja per orang. Setibanya di sana, kami langsung disambut oleh air kolam yang segar dan tanpa kaporit, karena airnya berasal dari aliran pegunungan. Rasanya benar-benar menyegarkan!

    Di kolam renang PASPOR, ada empat ukuran kedalaman: 50 cm, 100 cm, 170 cm, dan 75 cm. Karena lokasinya berada di daerah yang tinggi, hawanya pun terasa sejuk. Perjalanan menuju kolam renang melewati hutan dan jalan sempit, sehingga kami harus berhati-hati, tetapi pemandangan di sepanjang jalan sungguh menakjubkan.


    Kami berangkat dari pondok sekitar pukul 8 pagi, dan meski dekat, perjalanan kami memakan waktu setengah jam. Setelah sampai, kami sangat menikmati waktu di kolam renang hingga pukul 11 siang. Salah satu yang membuat betah di kolam renang PASPOR adalah banyaknya gazebo dan tempat duduk, jadi kami bisa bersantai sambil menikmati suasana. Ada juga colokan untuk mengisi daya HP, sehingga kami bisa tetap terhubung.


    Setelah selesai berenang, kami kembali ke pondok setelah menunaikan shalat dhuhur. Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing tanpa biaya yang besar. Melihat mereka ceria membuatku berharap agar ada rezeki lagi di lain waktu untuk mengadakan acara serupa. Kegiatan refreshing ini adalah langkahku agar mereka bisa lebih bersemangat dalam menghafal Quran. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa memberikan semangat baru bagi mereka!


    Santri-santri sangat senang karena bisa refreshing gratis. Melihat mereka ceria dan menikmati waktu bersama, aku berharap agar nanti ada rezeki lagi untuk mengadakan acara serupa. Refreshing ini adalah salah satu langkahku untuk memotivasi mereka agar semakin semangat dalam menghafal. Semoga setiap momen yang kami lewati bisa membawa berkah dan meningkatkan semangat mereka!


    Thursday, 17 October 2024

     

    Menjadi seorang pengangguran adalah hal yang tak diinginkan oleh semua orang. Begitu juga denganku. Sejak memutuskan untuk mundur dari dunia perkuliahan, kegiatan yang sering kulakukan agar tidak terlihat nganggur adalah jalan-jalan. Setidaknya, tetangga di rumah tak membicarakanku karena sering duduk diam di depan rumah. Atau bermain handphone di dalam kamar. Atau makan gorengan di warung kopi ibuku.

    Gunung adalah salah satu tujuan utama bagi diriku dalam setiap perencanaan wisata. Menurutku, ketika berada di atas gunung, semua permasalahan yang dialami, seketika hilang. Mereka tertinggal di bawah. Mungkin ingin ikut naik, tapi tidak kuat.

    16 September 2018, bersama teman-teman di Rumah Muda Indonesia, aku mencoba untuk menaiki salah satu gunung yang menjadi ikon di Kecamatan Ciampea Bogor. Namanya adalah Gunung Kapur.

    Gunung Kapur memiliki tiga puncak yang terkenal. Mereka adalah Puncak Roti, Puncak Lalana, dan Puncak Galau. Tepat setahun yang lalu, aku telah berhasil naik hingga ke Puncak Roti. Tahun ini, aku mencoba untuk naik ke Puncak Galau.

    Aku sempat mengira-ngira diberikan nama Puncak Galau  karena jalan menuju ke atas sangat susah. Jalanan batu kapur yang licin ketika hujan membuat para pendaki semakin galau ketika menaiki. Belum lagi, luas jalan yang ada tidak cukup untuk dilewati dua orang. Sudah pasti, pasangan remaja yang tengah kasmaran semakin galau karena tidak bisa bergandengan.

    Baiklah, mari kita kabur dari imajinasiku yang ngawur itu ...

    Gunung Kapur berada tepat di belakang Pasar Ciampea Bogor. Sebenarnya aku lebih senang menyebutnya Bukit Kapur karena, tingginya hanya sekitar 350 meter di atas permukaan laut saja. Tapi, baiklah, orang lebih suka menyebutnya sebagai gunung. Mau bagaimana lagi?

    Akses menuju ke Gunung Kapur tidak terlalu susah. Bisa ditempuh dengan menggunakan angkot biru jurusan Ciampea atau Leuwiliang. Ketiga jalur menuju puncak juga saling berdekatan. Jadi kalau ada yang ingin mencoba ketiga puncaknya langsung, tidak perlu cemas.

    Pintu masuk menuju Puncak Galau berada di tengah perkampungan warga. Ada warung kopi yang menyambut perjalanan kami pagi itu. Sepasang suami istri berusia senja siap meracik minuman pesanan kita. Senyumnya yang ramah, mampu membuat kita duduk berlama-lama di sana.

    Jalan menuju ke Puncak Galau sangat terjal. Belum lagi, ketika musim hujan, sudah pasti medan yang ada lebih menyeramkan. Kita harus berpegangan ranting-ranting yang kuat jika ingin selamat.

    Di puncak, ada halaman luas yang masih dipakai untuk tempat pendaratan helikopter. 

    Walau terbilang pendek, pemandangan yang disajikan tidak kalah menarik dengan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Ciptaan Tuhan memang selalu indah. Dia tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya. Sebagai manusia, memang selayaknya kita selalu bersyukur.

     

    Gunung Kapur adalah sebuah bukit tinggi yang terletak di Kecamatan Ciampea, Bogor. Memiliki tiga puncak utama dengan karakter uniknya masing-masing. Puncak tertingginya adalah Puncak Galau, biasanya digunakan untuk berkemah. Kemudian yang kedua adalah Puncak Lalana, paling bagus dijadikan untuk tempat berfoto. Dan yang terendah adalah Puncak Roti, terkenal dengan bebatuannya yang berbentuk unik. Yups ... namanya memang Puncak Roti. Dinamakan puncak roti karena banyak batu-batu yang mirip potongan roti.

    Kali ini, aku bersama teman-teman naik ke Puncak Roti. Terletak di belakang Pasar Baru Ciampea.
    Harga tiket menuju Puncak Roti adalah Rp5.000. Harga ini belum termasuk biaya parkir motor. Kalau ingin parkir gratis, bisa titipkan kendaraan ke warga setempat.

    Karena tidak terlalu tinggi, jadi waktu yang dibutuhkan hanya berkisar antara 10-30 menit untuk menuju puncak.
    Pepohonan jati yang tumbuh di sepanjang jalan menyambut kedatangan kami menuju Puncak Roti. Biasanya jalur ini digunakan untuk berfoto, karena memang instagramable banget.
    Mendaki di Gunung Kapur tak perlu perlengkapan khusus. Jaket, sleeping bag, kaos kaki, sepertinya tak terlalu dibutuhkan. Di hari weekend, biasanya jumlah pengunjung Gunung Kapur meningkat tajam. Selain karena terbilang rendah, spot Gunung Kapur juga tak kalah indah dengan gunung-gunung tinggi lainnya.