Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Saturday, 28 September 2024

 

#Cerpen

Namaku Roby. Sejak pertama kali bertemu Alisa, aku tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kami. Dia adalah sosok yang ceria, dengan senyum yang selalu bisa membuat hariku lebih baik. Kami berjalan cukup lama, sering bertemu di kampus dan bercanda, hingga hubungan kami terasa lebih dari sekadar teman. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatiku—Alisa adalah seorang Kristen, sedangkan aku seorang Muslim.


Kami sering menghabiskan waktu bersama, dari belajar bareng hingga sekadar menikmati secangkir kopi di kafe favorit. Suatu malam, saat kami duduk di bawah cahaya bintang, Alisa dengan lugu bertanya, "Roby, kamu percaya sama cinta sejati, nggak?" Pertanyaan itu membuatku terdiam. Tentu saja, aku percaya. Tapi bagaimana aku bisa menjelaskan perasaanku yang rumit ini, di tengah perbedaan keyakinan yang mendasar?


Seiring waktu, rasa sayangku semakin dalam. Namun, rasa takut juga menghinggapi. Aku tidak berani untuk maju, namun tidak bisa juga mundur. Setiap tawa yang kami bagi, setiap cerita yang kami tukar, semakin memperkuat rasa nyaman itu. Namun, di balik semua kebahagiaan itu, aku tahu ada batasan yang tidak bisa kami lewati.


Hari-hari berlalu, dan ketegangan itu semakin nyata. Kami berdua menyadari bahwa perbedaan keyakinan ini bisa menjadi masalah di masa depan. Di satu sisi, aku ingin terus bersamanya, tetapi di sisi lain, aku juga tidak ingin membuatnya merasa tertekan dengan keyakinanku. Kami berusaha untuk mempertahankan hubungan ini, meskipun dengan penuh kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kami ubah.


Akhirnya, momen itu tiba. Kami duduk di taman, di tempat yang selalu menjadi saksi bisu tawa dan canda kami. Alisa menatapku dengan mata yang penuh arti. "Roby, kita perlu bicara," katanya pelan. Hati ini berdebar kencang, merasakan ada sesuatu yang berat akan diungkapkan.


Dalam percakapan yang panjang itu, kami sama-sama mengerti tanpa harus mengedepankan ego. "Aku mencintaimu, tapi kita tidak bisa terus begini," ucap Alisa. Kata-katanya menusuk hati, namun aku tahu dia benar. Kami harus memilih jalan yang benar-benar terpaksa.


Perpisahan itu terjadi dengan baik-baik saja, namun rasa sakitnya tak terelakkan. Kami berpelukan, menyimpan semua kenangan indah yang telah kami bagi. Saat itu, aku merasa seolah separuh jiwaku hilang. Alisa adalah bagian dari diriku, dan sekarang aku harus melepaskannya.


Seiring waktu, aku belajar untuk menerima kenyataan. Meski perpisahan ini menyakitkan, aku tahu bahwa cinta kami tidak pernah sia-sia. Alisa dan aku adalah dua orang yang bertemu di saat yang tepat, meski dalam perjalanan yang berbeda. Dalam hatiku, dia akan selalu menjadi kenangan manis yang tak akan terlupakan.


Beberapa bulan setelah perpisahan itu, aku mendengar kabar bahwa Alisa telah menikah. Dengan siapa? Ternyata, dia menikah dengan tetanggaku sendiri. Rasa sakit itu kembali menghujam hatiku. Melihat mereka bersama, aku merasakan campuran rasa bahagia dan sedih. Di satu sisi, aku senang Alisa menemukan kebahagiaan, tapi di sisi lain, aku merasa hancur karena tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya.


Dan begitulah, perjalanan cinta kami berakhir di titik yang tak terduga. Meski jalan kami kini terpisah, aku akan selalu menghargai setiap detik yang kami lalui bersama. Cinta kami mungkin tidak bisa bersatu, tetapi rasa sayang itu akan selalu ada, terpatri dalam hati masing-masing. Sebagai seorang Muslim, aku yakin bahwa setiap hubungan memiliki tujuan, dan mungkin, hubungan kami adalah pelajaran berharga tentang cinta yang tulus, meskipun dalam batasan yang ada.

Friday, 19 May 2023


Mahfuzhat, Kumpulan Kata Mutiara Islam-Arab yang diajarkan di Pondok Pesantren dan Madrasah merupakan salah satu judul buku yang diterbitkan oleh Tim Rene Islam. Buku ini berisi kumpulan kata-kata bijak, peribahasa, pepatah islam maupun Arab yang disusun sedemikian rupa sehingga mudah dalam dihafal oleh kalangan santri.

Pengertian Mahfuzhat
Secara bahasa, Mahfuzhat berarti 'kalimat-kalimat yang dihafal'. Dinamakan demikian karena memang kalimat-kalimatnya berisi kata-kata bijak yang harus diketahui dan dihafal.

Setelah dihafal, kalimat pada mahfuzhat seolah memberikan suntikan semangat dan energi positif terutama kepada para santri di pondok pesantren. Proses pembelajaran yang pada mulanya terasa seperti siksaan, berubah menjadi hal positif yang menyenangkan dikarenakan kalimat-kalimat pada mahfuzhat tersebut.

Salah satu ungkapan yang paling populer terutama di dunia pondok pesantren adalah Man Jadda Wa Jadda, yang berarti "Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti berhasil".


Peran Mahfuzhat Bagi Santri
Di dunia pondok pesantren, pelajaran mahfuzhat diajarkan untuk memperkenalkan kata mutiara, gaya bahasa, dan susunan kalimat (uslub) bahasa Arab yang indah kepada para santri, seraya memberikan asupan yang bermutu untuk jiwa mereka.

Bagi para santri, belajar di pondok pesantren adalah sesuatu hal berat yang harus dijalani. Para santri harus bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan tahajud, kemudian dilanjut dengan ibadah-ibadah dan kegiatan pembelajaran lainnya hingga malam tiba.

Belajar di pesantren merupakan pilihan berat yang nantinya akan mendatangkan kebagahiaan. Santri percaya bahwa di balik susahnya belajar di pesantren, ada hal besar yang akan datang pada mereka. Para santri rela meninggalkan kesenangan dunia dan belajar di pesantren, demi menuju masa depan di akhirat yang gembira.

Orang yang mengejar dunia itu seperti orang yang meminum air laut. Semakin banyak dia minum, semakin bertambah rasa hausnya. (Buku Mahfuzhat hal. 129)


Dari kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa mengejar dunia itu tidak akan ada puasnya. Semakin dunia dikejar, semakin kita tidak akan merasa puas dengan yang didapat. Hal itulah yang menjadi salah satu penyemangat santri bahwa mempelajari ilmu dunia (saja), tidak akan pernah ada habisnya. Pondok Pesantren adalah kunci untuk membatasinya.



Mengintip isi Buku 'Mahfuzhat',
Buku Best Seller-nya Penerbit Rene Islam
Dalam buku ini, terdapat banyak kata-kata mutiara indah yang dapat dibaca dengan santri. Buku ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni :

1. Bagian Pertama berisi ribuan kata-kata mutiara yang disusun secara alfabetis.
Penyusun telah dengan rapi menyusun kata-kata mutiara dan telah diurutkan sesuai dengan urutan alfabetis huruf hijaiyah. Dimulai dengan kata mutiara yang diawali dengan huruf alif, kemudian dilanjut dengan kata mutiara berawalan huruf ba', ta' tsa', dan seterusnya.
Tinggalkanlah keburukan, niscaya keburukan itu akan meninggalkanmu (Buku Mahfuzhat hal. 23)

2. Bagian Kedua berisi ratusan entri mahfuzhatdari ayat al-Qur'an, hadits, dan bait-bait hikmah yang disusun secara tematik.

3. Bagi Ketiga, berisi ratusan entri mahfuzhat dari nasihat-nasihat para ulama dan syair para pujangga yang disusun sesuai nama tokoh.

Di dalam buku ini juga diberikan tips belajar, cara mempelajari dan mengajarkan mahfuzhat. Hal ini karena mahfuzhat adalah mata pelajaran yang sangat khas.

Berbagai Tema yang ada
di dalam Buku Mahfuzhat
Di dalam buku mahfuzhat ini terdapat kata-kata mutiara yang tersusun dari berbagai permasalahan sehari-hari. Ada banyak tema yang ada pada buku ini, misalkan tentang mencari ilmu, keluarga, cara bersahabat, percintaan, dan berbagai tema lainnya.

Sesungguhnya hati bila kasih sayangnya ternodai, laksana kaca pecah yang pecahannya sukar untuk dipadukan lagi. (Buku Mahfuzhat hal. 58)

 

 Keistimewaan Buku Mahfuzhat

Buku Mahfuzhat terbitan Rene Islam sangat layak dan wajib dimiliki oleh semua kalangan, khususnya kalangan pelajar. Beberapa alasan yang membuat buku ini istimewa adalah :

  1. Lengkap. Memuat ribuan entri mahfuzhat yang tersusun secara alfabetis dan tematik
  2. Sistematis. Tersusun sesuai dengan tema dan tokoh sang penutur
  3. Edukatif. Dilengkapi tips belajar menghafalkan mahfuzhat serta cara mengajarkannya kepada siapapun
  4. Praktis. Desain simpel dan mudah dibaca ke manapun
  5. Inspiratif. Penuh dengan beragam nasihat ulama yang indah secara bahasa dan enak dibaca, serta diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Cara Pembelian Buku
Buku Mahfuzhat dapat dibeli langsung melalui website toko Reneturos.
Mau dapat diskon pembelian sebesar 20%?
Sertakan kode refferal berikut pada saat pembelian : LUTFIYULIANTO

Sunday, 3 January 2021

 


Abrahah merupakan nama seorang raja yang konon pada masa kelahiran Nabi Muhammad, memimpin 'pasukan gajah' untuk menghancurkan ka'bah di Mekah.

Peristiwa tersebut diceritakan dalam surat al-Fiil (jamak fiyalah, fuyul, dan afyal) yang dalam Bahasa Arab berarti gajah.

Banyak yang menceritakan bahwa pada masa sebelum itu, terjadi pembunuhan besar-besaran orang Nasrani oleh Zu Nuwas. Mendengar hal itu, raja Abisinia mengirim sebuah pasukan besar yang dipimpin oleh Aryat dan Abrahah sebagai wakil raja. Pasukan tersebut kemudian dapat menaklukkan Yaman.

Setelah kejadian tersebut, terjadi pertarungan antara Aryat dengan Abrahah yang kemudian menyebabkan Aryat terbunuh. Dengan terbunuhnya Aryat, maka kemudian Yaman berada di tangan Abrahah.


Setelah dipercaya menjadi gubernur di Yaman, Abrahah kemudian membangun sebuah katedral (gereka) besar di Shan'a yang konon terbuat dari barang-barang mewah. Pualam (marmer) yang dibawa dari peninggalan istana Ratu Saba', salib-salib terbuat dari emas dan perak, serta mimbarnya terbuat dari gading dan kayu hitam.

Tujuan dibangunnya gereja tersebut adalah untuk menarik perhatian dari raja. Selain itu, ia juga ingin mengubah pusat masyarakat Arab yang setiap tahun berziarah ke ka'bah, beralih ke gereja di Shan'a.

Karena Abrahah merasa bahwa ka'bah telah membuat masyarakat Arab tidak mau beribadah ke gereja di Shan'a, akhirnya ia memiliki niat untuk menghancurkan ka'bah.

Abrahah beserta pasukannya menaiki gajah untuk menuju ke Mekkah, dimana bagi masyarakat Mekkah, hal itu sangat asing.

Sebelum mewujudkan niatnya, Abrahah mengumumkan kepada masyrakat Mekah, khususnya suku Quraisy, untuk tidak takut kepada mereka, sebab mereka hanya berniat menghancurkan ka'bah, bukan untuk perang. Namun meski begitu, pasukan Abrahah melakukan perampasan harta dari kaum yang lemah.

Salah satu harta rampasan Abrahah adalah dua ratus ekor unta milik Abdul Muthollib bin Hasyim. Penduduk setempat tidak berani melawan, sebab pasukan Abrahah berjumlah sangat banyak.

Abdul Muthollib bin Hasyim pada saat itu merupakan pemimpin Mekah. Ketika pertama melihatnya, Abrahah langsung tunduk hormat kepada Abdul Muthollib bin Hasyim.

Abdul Muthollib bin Hasyim mendatangi markas perang Abrahah. Tujuannya tak lain adalah untuk mengambil hartanya yang dirampas, yakni dua ratus ekor unta.

Abrahah merasa tersinggung, sebab tujuannya untuk menghancurkan ka'bah tidak dibahas sama sekali oleh Abdul Muthollib. Namun setelah Abrahah membahasnya, Abdul Muthollib hanya menjawab bahwa dia pemilik unta, bukan pemilik ka'bah. Ka'bah milik Allah.

Abdul Muthollib kemudian menawarkan harta lain kepada Abrahah supaya keinginannya untuk menghancurkan ka'bah dibatalkan. Namun ternyata keinginan tersebut sudah sangat kuat. Abrahah tetap bulat tekadnya untuk menghancurkan ka'bah.

Pada saat Abrahah mengerahkan pasukannya, tiba-tiba saja mereka merasa dihujani batu yang dibawa oleh kawanan burung besar. Burung itu seperti menyebarkan virus yang sangat mematikan. Pasukan Abrahah mendapati kulitnya mulai mengeluarkan letupan-letupan. Tidak sedikit pasukan Abrahah yang tewas akibat hal itu, bahkan Abrahah sendiri pun tewas. Peristiwa ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam surat al-Fiil juz 30.

Sebagai umat muslim, seharusnya kita bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas. Dari cerita tersebut, kita tentu saja harus menghindari beberapa sifat dari Abrahah berikut ini:


1. Sombong
Abrahah merupakan seorang raja yang sombong. Ia merasa bahwa dirinya adalah raja yang kuat dan berkuasa. Abrahah merampas harta kaum-kaum yang lemah.

Tak hanya itu, ia juga merasa bahwa yang dimilikinya-lah yang harus dikagumi dan dihormati.

Allah SWT berfirman pada surat Luqman ayat 18 : "Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."

Sifat sombong harus kita hindari. Lawan dari sifat sombong adalah rendah hati (tawadhu'). Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memiliki sifat rendah hati.

2. Iri
Iri adalah sifat yang timbul pada seseorang ketika tidak senang melihat keunggulan yang lain.

Sifat iri Abrahah bisa kita lihat ketika dia tidak senang terhadap ka'bah yang selalu ramai dikunjungi oleh umat muslim setiap tahun.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. an-Nisa ayat 32)

3. Dengki
Rasa iri Abrahah berbuah kepada dengki. Beda antara iri dengan dengki adalah, iri hanya rasa cemburu terhadap nikmat yang lain, sedangkan dengki adalah sikap yang berharap agar kenikmatan terhadap yang lain hilang.

Dari Anas ra. yang berkata bahwa Nabi saw. bersabda, "Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling memalingkan muka, dan saling memutuskan ikatan, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah bersaudara. Tidaklah halal bagi seseorang muslim untuk mengabaikan dan tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari." (Muttafaq 'alaih)


Saturday, 2 January 2021

 


Judul Buku : Mengutamakan yang Lebih Utama
Penulis : KH. Moch. Djamaluddin Ahmad
Penerbit : Pustaka Al-Muhibbin
Tebal Buku : 49 halaman
ISBN : 978-602-9253-43-6
Cetakan II : Rajab 1440 H/Maret 2019

Banyak hal baik yang bisa dikerjakan di dunia ini. Sungguh beruntung jika kita bisa mengerjakan semua hal baik tersebut. Namun jika disuruh memilih salah satu, apakah kita bisa menentukan mana yang paling baik?

Dalam beribadah, kita sering dihadapkan pada sebuah pilihan untuk diprioritaskan salah satunya. Kebenaran dalam pemilihan ini menjadi penentu atas keabsahan pada ibadah yang lain.

Mengutamakan yang Lebih Utama merupakan salah satu buku karangan KH. Moch. Djamaluddin Ahmad. Dalam buku ini, kita  diajak menelaah untuk mengambil sikap yang harus didahulukan antara dua hal yang sama-sama baiknya.

Salah satu contoh pembahasan dalam buku ini adalah perbandingan antara adab dengan ilmu. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa adab jauh lebih utama dibandingkan ilmu. Namun apakah semua orang tahu mengapa adab harus didahulukan? Penulis akan secara rinci menjawab pertanyaan tersebut.

Selain perbandingan antara adab dengan ilmu, dua hal utama lain yang ditulis dalam buku ini adalah Amal Sholeh dan Akhlak Karimah. Kira-kira manakah yang lebih utama?

Buku ini berukuran kecil dan tidak terlalu tebal, sehingga bisa diselesaikan dengan sekali duduk saja. Tidak perlu cemas, bahasa yang ditulis juga tidak terlalu berat. Hal ini membuat kita tidak usah terlalu berpikir berat dan memakan waktu yang lama dalam menyelesaikannya.

"Tidak cukup bagi orang alim hanya memiliki ilmu saja tanpa disertai akhlak (yang mulia) dan adab tata krama". (as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani)

Sunday, 2 August 2020


Judul Buku : Narasi Gurunda
Penulis : Jihan Mawaddah
Penerbit : Wadah Baca Masyarakat Sanggar Caraka
Tebal Buku : 162 halaman
ISBN : 978-623-92548-1-0
Cetakan Pertama : Desember 2019
Cetakan Kedua : Februari 2020

Dunia ini adalah tempat bersusah payah. Jika ingin istirahat, sebaik-baik tempat peristirahatan adalah akhirat yang kekal. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi. -Narasi Gurunda, halaman 159

Narasi Gurunda adalah sebuah buku biografi yang ditulis oleh Jihan Mawaddah. Dia tak lain adalah teman satu komunitas menulis saya yang bernama One Day One Post. Bagi saya, ada kepuasan tersendiri ketika membaca buku karya teman. Pertama, kita jadi punya semangat agar bisa memiliki karya seperti dia. Kedua, kita juga bisa belajar banyak darinya.

Sejak awal mengenalnya di komunitas, saya merasa bahwa Kak Jihan Mawaddah adalah seorang yang benar-benar tekun dalam dunia kepenulisan. Blog 'JEYJINGGA' yang rutin diisi tulisan olehnya adalah salah satu bukti bahwa dia adalah seorang yang tak pernah lupa untuk menulis, menulis, dan menulis. Anggapan saya tersebut semakin diperkuat dengan lahirnya Narasi Gurunda.

Pertama kali tahu Kak Jihan memulai pre-order untuk bukunya tersebut, yang ada di pikiran saya adalah, "Gila sih ... keren banget udah bisa nulis buku." Itu saja! Sama sekali saya tidak tertarik untuk membeli bukunya. Sebab, dari dulu saya bukanlah penikmat buku biografi.

Beberapa hari setelah masa pre-order ditutup, saya melihat banyak sekali ulasan positif dari pembaca Narasi Gurunda. Membaca ulasan-ulasan tersebut, saya pun ngiler kepengin baca juga. Karena ternyata, biografi dalam buku tersebut disuguhkan dalam bentuk novel.

Dua bulan setelah cetakan pertama, Narasi Gurunda pun naik cetak lagi. Kebayang dong gimana bagus dan larisnya buku ini? Beruntung, saya masih dapat slot untuk pesan.




Buku ini diterbitkan oleh Sanggar Caraka pertama kali pada bulan Desember 2019. Setelah membaca isi di dalamnya, saya baru tahu bahwa Gurunda yang dimaksud pada judul adalah ayah si penulis sendiri.

Narasi Gurunda menceritakan tentang sosok Taufiq yang memang sangat layak untuk dicontoh. Bagaimana beliau menerima segala kekurangan hidupnya, bagaimana beliau berjuang dalam menghadapi ujian Allah, dan masih banyak lagi.

Dua puluh halaman pertama buku ini berisi sambutan dan testimoni beberapa tokoh. Ini membuktikan bahwa banyak orang yang mengenal baik Sang Gurunda.

Saya sangat suka tulisan Kak Jihan dalam menceritakan sosok Taufiq. Bahasa yang dipakai sederhana dan tentu saja mudah dipahami. Kisah awal tentang sabar dan qonaahnya seorang Taufiq berhasil membuat saya terenyuh. Semakin ke belakang, Narasi Gurunda akan semakin membuat penasaran.

Meski disajikan dengan bahasa yang ringan dan sederhana, namun pesan yang disampaikan dalam buku ini kaya banget. Dari buku ini, saya belajar bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk kita mencapai mimpi. Buku ini cocok dibaca mulai dari usia remaja hingga dewasa.