Saya menuliskan kisah ini bukan untuk menjelekkan siapa pun, apalagi teman saya sendiri. Saya menuliskannya sebagai pengingat—bahwa hidup sering kali memberi kita pelajaran melalui orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan kita.
Tahun 2017, saya mengikuti sebuah program di Bogor. Program itu menggabungkan dua hal yang sangat saya cintai: tahfidz dan bisnis. Saya tinggal di sebuah asrama kecil bersama tujuh teman dari berbagai daerah di Indonesia. Kami muda, penuh semangat, dan datang dengan harapan besar untuk memperbaiki diri.
Hari-hari kami padat. Pagi kami sibuk dengan hafalan Al-Qur’an, sore hingga malam kami belajar bisnis—baik offline maupun online. Kami pernah berjualan bubur ayam, es lilin yogurt, stiker dinding, buff, hingga susu sapi. Tidak ada yang mudah, tapi setiap usaha kecil itu mengajarkan kami arti perjuangan: mencari modal, membangun strategi, hingga mengelola uang seadanya.
Di bisnis online, kami belajar Facebook Ads, Google Ads, dan digital marketing lainnya. Semua terasa baru, tapi kami belajar bersama—bertumbuh bersama. Lambat laun, usaha kami menghasilkan sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan. Di usia 18 tahun, kami mampu mendapatkan omzet dan profit yang sangat besar, bahkan pernah mencapai seratus juta sebulan. Kami merasa bangga, bukan karena uangnya, tapi karena kami bisa bermanfaat untuk orang tua dan orang-orang di sekitar kami. Itu benar-benar di luar nalar kami.
Setelah program selesai, tersisa empat orang yang tetap melanjutkan perjuangan: saya, Roni, Adam, dan Aris (nama samaran). Aris adalah yang paling tua di antara kami. Karena kami percaya dia paling dewasa, kami sepakat menyimpan seluruh tabungan bisnis di satu rekening, rekening Aris. Setiap bulan kami hanya mengambil sedikit untuk keperluan pribadi, sisanya ditabung untuk masa depan.
Hingga bertahun-tahun, saldo itu terus bertambah. Bahkan tak pernah kurang dari lima ratus juta. Kami sering berbagi kepada orang lain, membantu teman, dan itu membuat kami bahagia. Kami merasa perjalanan kami diberkahi.
Akhir 2019, kami berniat membeli rumah bersama. Rasanya luar biasa bisa punya rumah di usia yang masih belasan. Aris yang mengurus DP rumah itu. Kami percaya penuh.
Awal 2020, muncul kesempatan umrah. Kami ingin pergi bersama, tapi Aris selalu punya alasan. Saat itu pandemi Covid-19 mulai muncul dan akhirnya umrah batal. Namun, di tengah semua itu, rasa curiga muncul pelan-pelan. Ada sesuatu yang terasa janggal.
Kami setiap bulan selalu membuat laporan keuangan kami. Mulai dari pengeluaran untuk keluar, kebutuhan kami bersama, dan lain sebagainya. Aris tak pernah mau memberi password untuk masuk ke mobile banking rekening yang isinya tabungan kami tersebut. Meski rekening tersebut atas nama Aris, tapi isi di dalamnya adalah uang kami bersama dan Aris memang sebelumnya bilang akan memberikan password ke kami.
Kami akhirnya meminta rekening koran untuk melihat tabungan terakhir. Rekening koran adalah laporan tertulis dari bank yang memuat ringkasan seluruh transaksi keuangan—pemasukan, pengeluaran, saldo awal, dan akhir. Aris sempat menolak, tapi akhirnya menyerah. Saat kami melihat angkanya, dunia serasa runtuh: saldo kami tinggal kurang dari lima puluh juta. Kemana larinya semua uang kami?
Air mata saya hampir keluar waktu itu. Bukan hanya uangnya yang hilang. Bukan itu. Yang lebih menyakitkan adalah kepercayaan yang patah.
Aris mengakui bahwa ia mengirim uang setiap minggu kepada keluarga dan calon istrinya, tanpa sepengatahuan kami. Ia membutuhkan dana besar untuk menikah di kampung halamannya. Kami terdiam. Antara marah, kecewa, namun juga iba. Kami berusaha menahan nafsu selama ini untuk masa depan, namun ia justru menggunakannya dengan seenaknya.
Saat kami sibuk mengurus pondok yang baru kami kelola bersama yayasan, Aris tetap tinggal di tempat lama. Hingga suatu hari, saat kami datang ke sana… dia sudah pergi. Pulang ke Sumatera. Membawa semua sisa uang kami.
Awalnya kami ingin menuntut kembali uang itu, tapi lama-kelamaan, rasa marah itu berubah menjadi diam. Kami memutuskan mengikhlaskan. Bukan karena kami kaya, tapi karena kami tahu hidup harus terus berjalan. Kami mulai semuanya dari nol. Trauma itu ada, luka itu ada, tapi hidup tidak memberi kita pilihan selain melangkah lagi.
Dan di situlah pelajaran besar itu tertanam:
Dari kejadian itu, saya belajar:

Ya Allah, pengalaman pahit banget. Semoga diganti yg lebih lebih ya Ust
ReplyDeleteaamiin aamiin ya robbal alamin ...
Deleteassalamualaikum ustadz lutfi, ceritanya ngalir banget dan bikin haru, sedih banget ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Semoga dikasih pengganti yg lebih lebih lebih dari Allah
ReplyDeletewaalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Aamiin terima kasih sudah mampir
Deleteselalu suka sama cerita mas lutfi, walaupun kali ini sedih
ReplyDeletehehe masyaAllah terima kasih sudah mampir
Deletecerita yang menginspirasi. Salam kenal ustadz lutfi, dari wali santri
ReplyDeleteSalam kenal kembali bapak. Terima kasih sudah membaca
DeleteYa Allah, sedih banget bacanya. Moga dibalas dengan yang berlipat ya kak lut
ReplyDeleteYa Allah Ust Lutfi. IKHLAS dan RIDHA insya Allah diganti berlipat lipat. Amin. Thank's sharingnya dan tulisannya indah sekali
ReplyDelete